Berondong Manisku

Berondong Manisku
Tuan bercelana merah


__ADS_3

"Lebih baik kakak tidak usah melihatnya," sergah Farrel.


Namun Metta semakin penasaran, lalu menyingkap kain hitam yang menjuntai.


"Ini...."


"Sudah ayo kita keluar, nanti di cariin bunda!" dengan segera Farrel meraih tangan Metta yang terlanjur menjulur kearah kain yang menjuntai, dia segera menariknya dari sana dan keluar dari kamarnya dengan segera.


"Ayo Sayang nanti keburu bunda dateng!"


"Tapi El, itu tadi apa? kenapa aku tidak boleh melihatnya?"


"Tidak penting, itu hanya tugas sketsaku yang belum selesai!"


"Kamu tidak sedang berbohong kan?"


"Mana berani aku kak."


Mereka beriringan menuruni tangga, Farrel menggenggam tangan Metta, "Kakak ikut aku ketaman belakang yah,"


"Mau ngapain, jangan aneh-aneh! kamu baru sembuh!"


"Aku bosan ... yah yah!"


Astaga, rumah sebesar ini saja bosan, padahal bisa diem dimana kek, disana, disana, dimana, kalau rumah seperti rumahku baru bisa bilang bosan, dudukpun disitu-situ saja.


Farrel menggiring Metta ketaman belakang, taman-taman bunga yang tengah bermekaran, dengan rumput hijau, kolam ikan berada disudut ruangan dengan hiasan batu-batu alam yang tinggi disertai air terjun buatan.


Untuk seorang Metta bukankah rumah itu luar biasa? Dia terus mendecak kagum, matanya kian beredar pada pohon palem tinggi juga taman bougenville 7 warna menyegarkan matanya.


"Wah... taman ini indah sekali!" gumam Metta namun masih terdengar oleh Farrel.


"Kakak mau aku buatkan?"


"Sudah seperti membuat rumah-rumahan saja kau ini!"


"Aku serius, kalau kakak mau, aku akan membuatnya,"


Metta mendusel kedua pipi Farrel dengan gemas, "Iya...iya tuan jenius, aku percaya kau bisa melakukan apa saja,"


"Ih ...kakak sakit!" Metta terbahak.


"Lagian kalau baru sembuh itu diem, istirahat, minum obat! Bukannya kesana kemari." Metta mendudukkan dirinya disebuah sofa digazebo, tampak teduh dengan suara gemericik air dari air terjun buatan dibelakangnya.


Farrel mencondongkan tubuhnya dan mencuil hidung kekasihnya itu, "Kakak sudah sangat cerewet sekarang, aku makin cinta,"


"Ih nyebelin." Metta menepis tangan Farrel yang terkekeh.

__ADS_1


"Oh iya, seminggu lagi hari ulang tahunku! kakak sudah menyiapkan kado?"


"Ih mana ada yang begitu!"


Sebenarnya juga apa yang mesti aku kasih, dia udah punya segalanya! huh


"Pokoknya aku mau kado paling special dari kakak!"


Metta tengah berfikir, "Memang kau mau apa?"


"Kalau aku yang minta, memang kakak akan memberikannya?" Metta mengerdikkan bahunya,


"Nanti saja, aku akan mengambil hadiahku tepat dihari ulang tahunku,"


Metta kembali berdiri dan mendekati Farrel, "Memangnya tuan jenius mau apa hadiah apa dariku?" melingkarkan tangan dilengan Farrel,


"Jangan panggil aku begitu! aku gak suka,"


"Iya baiklah, tuan celana merah," Metta menutup mulutnya sendiri. Menahan diri untuk tidak tertawa.


Farrel melebarkan iris coklatnya, "Kakak, sengaja kan memancingku," meraih pinggang Metta.


"El, lepas itu ada Doni!" Metta memang melihat Doni yang baru saja masuk.


"Jangan main-main denganku! karena aku akan membalasnya berlipat-lipat,"


Metta melihat Doni semakin berjalan mendekat, mengarah kearah mereka, terlihat menggelengkan kepalanya saat Farrel mendekap erat pinggang Metta, meski dia berusaha terus memundurkan tubuhnya.


"Kalian ini, gak dimana-mana! gak dirumah sakit, gak dirumah," ucap Doni dengan nafas yang terengah.


"Shi't, mengganggu saja!" umpat Farrel, mengurai dekapannya,


"El, jangan mengumpat!" Metta kembali duduk dan membiarkan mereka berdua.


"Akhirnya!" Doni mengatur nafasnya pelan.


"Kenapa sih?" Tanya Farrel. "Ganggu orang lagi pacaran aja."


"Heh Rel ta api, aku kerumah sakit buat jemput kamu sama tante!" Doni masih menghela nafas.


"Tapi kalian sudah tidak ada, eh malah enak-enakan pacaran disini!"


"Kelamaan, kalau nungguin kamu beres kelas! lagian aku bosan dirumah sakit terus!"


"Lantas untuk apa kau meneleponku? kau tahu tidak tugasku belum kuserahkan semua." ucap Doni kesal.


"Bukan urusanku, kau saja yang tidak bisa membagi waktu!"

__ADS_1


"Hei, bagaimana aku bisa membagi waktu, waktuku habis hanya untuk mengawasimu!"


Perdebatan sengit dari mereka membuat Metta ingin segera keluar, meski suasana taman sore itu sangat menenangkan, namun suara keributan dari keduanya merusak segalanya.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang saja!" ucap Doni, namun dia belum beranjak juga.


"El apa aku boleh ikut pulang bersama Doni, kita kan searah, dia bisa mengantarkanku pulang,"


Farrel menatap tajam pada Metta, "Kakak berani pulang dengan pria lain didepanku?"


Doni menggelengkan kepalanya, " Jangan drama deh!" gumamnya.


Memangnya kenapa? toh kita juga searah,


"Astaga, dia itu temanmu!" Farrel menatap tajam.


"Tetap tidak boleh!" Farrel duduk menghadap kolam, membawa botol berisi makanan ikan lalu melemparinya sedikit-sedikit.


"El ...."


"Apa kakak! kubilang tidak ya tidak, kakak menurut saja."ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya pada ikan.


"Ribet banget sih, lagian juga aku mana mungkin menggoda kekasih tercinta mu itu,"


"Diam saja, dan cepat pergi dari sini, sebelum aku melemparimu dengan sendal!" Farrel terlihat emosi.


"El jangan begitu! lebih baik memang aku pulang bersama Doni."Farrel menghentikan gerakkan tenaganya.


"Kakak memang harus dihukum," melemparkan botol berisi pakan ikan.


Dengan cepat Farrel menyambar bibir Metta, dia menutup mulut kecil yang tengah berkicau itu dengan menggunakan mulutnya,


"Itu hukuman, karena kakak tidak menurut padaku!" ucap Farrel melepaskan bibirnya.


Metta terperangah, dengan apa yang dilakukan Farrel secara tiba-tiba.


"El ....!"


"Astaga, kalian merusak kesucianku!" ucap Doni yang sedari tadi tak bergerak dari tempatnya.


"Apa ...."


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Terima kasih atas dukungannya


__ADS_2