
Pemilik surai hitam itu menggeliat didalam selimut, ketenangan, kedamaian kini dirasakannya, meski luka itu masih membekas, dan tak akan pernah hilang, namun ketika hati mulai mengiklaskan semuanya. Luka itu perlahan sembuh, tertutup puluhan bahkan ribuan hujaman cinta darinya. Dia.
Dia yang membawa cinta yang baru, tanpa lelah berdiri disampingnya, menunggunya, dan tak pernah meninggalkannya.
Metta membulatkan mata saat sinar mentari menerobos masuk dari jendela, bibir tipisnya kini melengkung saat melihat daun jendela itu, teringat kejadian manis semalam, sentuhan lembut dari orang yang sekitar 3 bulan lagi akan menjadi suaminya,
"Suami?" gumamnya lalu terkekeh.
Ini memang seperti mimpi, dia... bocah itu mampu membuatku jadi begini, dan sepertinya memang menular, aku bahkan merasa lebih muda dibandingkan dia. batin Metta dengan senyuman di bibirnya namun menggelengkan kepalanya.
Tak lama Metta beranjak dari kasur, mengambil handuk lalu di lingkarkan di bahunya, kemudian membuka handle pintu kamar dan keluar.
"Pagi..." ucapnya saat Andra yang tengah memasukkan sesuatu kedalam tasnya.
"Riang amat kak, lagi seneng yah!"
"Iya dong," ucapnya sambil mengacak rambut Andra.
"Apaan sih ah! Gila lu yah...."
Sementara Nissa baru saja keluar dari kamar nya dengan menguap, "Kak... cepetan mandi, aku juga mau mandi, atau kita barengan aja mandinya biar cepet,"
Metta berlari kecil menuju kamar mandi satu-satunya di rumahnya, "No... kamu nanti terakhir saja yah,"
Pagi itu juga mereka mengantarkan Andra yang akan terbang ke negara M guna mengikuti pelatihan atlet Esport, dengan diantar oleh Ibu Sri, Nissa, dan Metta sementara Farrel tengah mengobrol dengan perwakilan dari pelatih dan managemen yang menaungi tim atlet-atlet baru pemenang turnamen tempo hari, Dan tentu saja tidak mau ketinggalan sahabat Andra,
"Awas lu kalau lupa sama gue?" tunjuk Jaka pada Andra yang tengah berpelukan dengan Irfan,
"Lebay lu, dia pergi juga cuma 3 bulan, habis itu dia lupa ma kita Jak!" seloroh Irfan setelah mengurai pelukannya.
"Berisik banget sih kalian, nanti diusir security baru tahu rasa." pangkas Nissa dengan mata sembab,
"Udah De jangan nangis terus ah, abang juga nanti pulang!" ucap Andra yang kini menyeka air bening di pipi adiknya.
Sementara Ibu Sri tidak sedikitpun menangis, dia tetap tegar, namun acapkali menyusut kedua matanya sebelum bulir itu turun.
"Doain Andra bu!" ucapnya saat memeluk sang ibu,
"Tidak usah diminta nak, nama kamu selalu ada dalam doa-doa ibu," ucapnya memeluk anak laki-laki satu-satunya.
Sedangkan Metta beberapa kali mengelus punggung Nissa yang tak berhenti menangis.
"Usah De jangan nangis lagi,"
"Kalau kamu kangen, kan bisa ditelepon," imbuhnya lagi.
"Penumpang pesawat Dolfin air dengan nomor penerbangan xxxx tujuan negara M, dimohon untuk segera masuk di ruang tunggu."
Suara seorang public information service sudah menggema, dan Andra beserta rombongan pun segera masuk.
Akhirnya mereka berjalan keluar dari bandara, Farrel membukakan pintu depan mobilnya
"Ayo bu masuk," ucapnya
"Biar Sha saja yang didepan, Ibu dibelakang sama Nissa," ujar Ibu Sri sambil melangkah.
"Ibu aja, biar kakak yang dibelakang bersama Nissa, gak apa-apa kan kak,"
Metta mengangguk, "Gak apa-apa,"
"Ibu, kak, Nis, bang kita duluan ya, parkir motornya juga disana," ucap Jaka dan Irfan.
"Makasih yaa Jaka, Irfan "
Mereka mengangguk lalu melangkah dari sana namun langkahnya terhenti kala Farrel memanggil mereka.
"Sini dulu,"
__ADS_1
"Mati kita Fan," bisik Jaka.
"Mmm-hm...."
"Kenapa bang?" ujar keduanya sambil mendekat.
Farrel memasukkan sesuatu kedalam saku baju jaka, "Bagi dua sama Irfan," bisiknya lalu menepuk bahu Jaka. "Makasih...." imbuhnya lagi.
Mereka berdua mengangguk, "Makasih bang,"
Farrel kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dari sana,
"Hati-hati bang dijalan, selamat sampe tujuan dan sering-sering aja kayak gini," ucap Jaka, dan Irfan yang sedetik itu juga menoyor kepalanya.
"Setan, nanti balik lagi nyamperin lu!!dan ayo pulang gue laper,"
"Kita buka dulu isinya berapa, kalau gede kita ke cafe kemaren yuk, kali aja ketemu cewe idaman gue lagi, yang rambutnya gelembung-gelembung itu," ujar Jaka dengan melingkarkan tangannya dibahu Irfan.
"Ogah, gue trauma!" ucap Irfan menepis tangan Jaka.
.
.
Sementara Mobil Farrel tiba dirumah Metta, semua orang turun, Ibu Sri diapit oleh Nissa, sedangkan Metta beriringan dengan Farrel dibelakanganya.
"Kak, bunda ada kirim pesan gak?"
"Kenapa memangnya? gak ada tuh...."
"Cek dulu deh ponsel nya," ucap Farrel dengan tersenyum.
"Lalu Metta merogoh ponsel nya didalam tas selempangnya.
"Eeeh ada ternyata,"
"Tuhkan! apa katanya?"
"Hem, bunda gak kreatif amat,"
"Kenapa memangnya? ke kamu juga kirim pesan?" Farrel mengangguk,
"Yuk, kita pergi kesana,"
"Memang kamu tahu bunda kemana?"
"Mac yang akan membawa kita,"
"Mac? bukankah dia tidak ikut?"
"Tuh...." Farrel menunjuk Mac yang tengah duduk di kursi depan rumah Metta.
"Astaga...udah disini aja si om!" ucap Nissa
"Huss... gak boleh gitu ngomongnya!" sela Ibu Sri menepuk lengan Nissa,
"Ibu...."
"Ya sudah bu kita pergi dulu ya, udah di tungguin bunda,"
Sri tersenyum, "Iya, salam kan sama bunda ya,"
Akhirnya mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil, Mac melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Farrel duduk disamping Metta dibelakang.
"Mac, kau tahu bunda dimana?"
"Tau Mas," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Dimana?"
"Kata ibu nanti saja, nanti juga tahu!"
Tak lama kemudian mobil berhenti tepat di sebuah Wedding planner. Farrel turun disusul oleh Metta yang memegang lengannya,
"Tunggu, ini kita mau ngapain?"
Farrel meraih tangan nya, "You know what my mom mean!"
Dadanya tiba-tiba berkecamuk, "Itu artinya?"
"Yes My Cherry, bunda tengah mempersiapkan pernikahan kita."
"Tunggu, tapi kan...."
"Ragu lagi? Hem...." tanya Farrel yang masih menunggu Metta turun, namun dia tetap tak bergerak.
Metta menggelengkan kepalanya, " Aku malu...."
"Astaga, sayang! kenapa malu hem... kita mau nikah bukan di arak telanjang," Farrel terkikik.
"Ih...nyebelin! Aku serius...."
"Udah yuk, kita malu berdua kok, apalagi kita nanti tela--n"
Metta memukul keras bahunya," Ih...kebiasaan!"
"Iya sayang maaf,"
Mereka masuk kedalam gedung Wedding planner yang penuh dengan decoran, contoh pelaminan, gaun, dan lainnya yang berkaitan dengan wedding organizer.
"Kalian sudah datang?" tanya bunda saat mereka masuk.
"Ini dia pengantin kita,"
"Uuucchhh lala... ketemu lagi kita bebs," sapa seseorang disamping bunda.
"Jangan gitu, kamu mau bikin anak-anakku takut!"
"So sorry mommy, kebiasaan!" ucapnya dengan tangan yang gemulai.
"Iihh... dia lagi!"
"Yuk sayang kita pilih yang kamu mau?" ucap bunda Ayu pada Metta.
"Udah deh lepasin dulu, gantian sama bunda yang pegang, kamu pegang-pegangnya nanti saja, kalau udah sah," seloroh bunda Ayu yang membuat wajah Metta merona.
"Bunda, Ih tahu aja!" ucap Farrel terkekeh.
Bunda Ayu menuntun Metta untuk duduk disebelahnya lalu memberikan buku sample untuk dia lihat. Foto-foto pelaminan dan juga gaun.
Tak hentinya Metta mengucap syukur, atas apa yang dia dapatkan dari orang-orang yang dia sayang, yang begitu memberinya banyak kasih sayang serta cinta untuknya.
"Kamu suka? kenapa malah diam saja," Metta menggelengkan kepalanya dengan mata yang kian mengabur, ada yang mulai menganak di pelupuk matanya.
"Don't cry baby, be happy. (Jangan menangis sayang, berbahagialah." Ayu mengelus punggungnya.
"Sayang, bunda benar. jangan nangis yaa! Nanti kita beli permen oke," celoteh Farrel membuat Metta menitik air mata namun juga tertawa.
Akhirnya setelah melihat-lihat dan memilah berbagai sample, mereka menemukan pilihan yang cocok, bernuansa outdoor yang santai untuk resepsi, sementara untuk akad nya akan diselenggarakan di rumah Metta.
"Wedding organizer selesai, kalian sekarang tinggal beli cincin," ujar Bunda Ayu, setelah mereka kembali duduk di sofa.
"Untuk yang satu itu, bunda gak bisa ikut. Kalian pergi berdua ya, dan pergi sekarang juga!"
Farrel dan Metta silih beradu pandang.
__ADS_1
"Gak bisa besok bun?"
"Pergi sekarang,"