Berondong Manisku

Berondong Manisku
Perdebatan pertama setelah menikah


__ADS_3

^^^Terima kasih untuk yang kasih gift, vote, like nya yang gak ketinggalan. Komen apalagi, lope-lope deh...❤^^^


^^^(Walaupun author suka telat balas komen atau gak sempat balas..hu hu..Maafkan)^^^


............


"Kau ....?"


"Yes i'am...." ucapnya dengan tergelak.


"Aku tadi melihatmu didalam pesawat, tapi aku ragu, kamu tampak berbeda dari terakhir kita ketemu." ujarnya kemudian.


Doni menyenggol Mac, "Siapa dia? bening amat...."


Namun Mac tidak menggubris Doni, dia terus menatap gadis bermata hazel itu dari arah samping.


"Kau Chaira bukan?" tunjuk Farrel padanya.


"Yes, finally you remember me, aku fikir kau lupa!"


"Oh ya Chaira, kenalkan ini istriku!" ucap Farrel bangga.


Chaira tersentak, "Oh ... kamu sudah menikah ternyata?"


Farrel mengangguk, sementara Metta mengulurkan tangan padanya. Namun Chaira menatapnya sekilas lalu menyambut tangan dan melepaskannya begitu saja.


"Mettasha...." Ujar Metta mengulum bibir.


Jangan main-main dengan ku.


"Kalau begitu, selamat tinggal Chaira, kami pergi dulu!" ujar Farrel merengkuh kembali bahu sang istri kemudian berbalik.


"Seharusnya kan sampai jumpa," gumam Chaira dengan langkah menyusul.


Namun langkahnya terhenti karena Mac menghadangnya, "Lebih baik anda cari jalan lain! Jalan masih lebar untuk kaki kecilmu nona."


Doni hanya menatapnya, lalu kembali menggeret koper milik Farrel yang menjadi 3 kali lipat banyaknya dibanding saat dia menggeret koper saat mereka berangkat.


"Koper juga ikut beranak apa ya? Berat banget...." gumamnya.


Lalu menyamakan langkahnya dengan Mac, "Mac kau tahu siapa dia?"


"Tidak ...."


Doni mengerdikkan bahu, "Kirain ...."


"Siapa dia? Mantan pacarmu?" ujar Metta saat mereka berjalan menuju mobil.


"Bukan, dia temanku saat kompetisi desain arsitektur di negara P dulu, dan dia memang begitu!" jawab Farrel dengan tangan yang masih melingkar di bahu Metta.


Metta mengernyit, "Begitu gimana?"


"Ya begitu ...." Farrel terkekeh.


"Seperti nya kamu mengenalnya dengan baik, sampai tahu dia begitu." Metta mengerdikkan bahu.


Sesungguhnya, dia tidak ingin peduli sama sekali. Namun hatinya malah diliputi oleh rasa penasaran.


"Tidak juga, kami bertemu hanya saat kompetisi akhir dan acara penutupan disebuah klub."


"Klub?"


Farrel mengangguk, "Hanya pas penutupan saja,"


Metta memicingkan matanya, "Benarkah? Hanya bertemu dengannya saat kompetisi akhir dan acara penutupan disebuah klub, dan kamu sudah mengenalnya dengan baik. Wow hebat sekali." Metta menepis tangan Farrel dari bahunya.


"Bukan begitu sayang!" Farrel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Tadi bilang begitu, sekarang bilang bukan begitu!Mana yang benar?" ujar Metta menghentikan langkah.


Mac melangkah membuka pintu untuk Metta dan Farrel, Lalu dia bergegas membuka bagasi.


"Terima kasih Mac." ujar Metta dengan masuk ke dalam mobil.


Farrel menyusul masuk dan Metta menggeser tubuhnya. "Maksudku bukan itu, aku tidak mengenalnya dengan baik. Tapi aku memang sempat mengobrol dengannya, sekilas."


"Percaya sama aku yaa." imbuhnya lagi dengan meraih tangan Metta.


"Percaya kok, malah percaya banget!" ketus Metta dengan nada bicara yang terlihat kesal.


"Sayang...."


"Apa? Aku tidak marah...."


Farrel menggaruk tengkuknya, "Astaga,"


"Kenapa bilang astaga segala, memangnya aku marah? Enggak tuh!"


Farrel merengkuh bahunya, "Sayang, jangan berfikir yang aneh-aneh, aku tidak mengenalnya seperti yang kamu fikir! Terserah mau percaya atau enggak, aku sudah bilang."


"Kenapa kamu yang sepertinya kesal coba!"


Farrel meraup wajah, "Aku gak kesal, cuma kita baru saja landing dan harus berdebat dengan hal yang tidak penting, karena Chaira."


"Kau bahkan mengingat namanya." gumam Metta.


"Astaga, lalu aku harus bagaimana? Dia juga hanya menyapa kita kan?"


"Menyapa kita? Dia hanya menyapamu.." Metta membuang wajahnya menatap ruas jalan disampingnya.


Kenapa aku sekesal ini coba?


Sementara Farrel menghembuskan nafas menatap istrinya dari belakang. Astaga kenapa harus bertemu Chaira sih, hanya jadi masalah saja kan.


"Kita pulang kemana Mas?"


"Rumahku!"


"Apartemen."


Jawaban berbeda dari mereka berdua membuat Mac bingung. Dia menatap Doni yang hanya mengerdikkan bahunya.


"Ke apartemen saja Mac!" ujar Farrel kemudian.


Metta membalikkan tubuhnya, "Aku mau pulang ke rumah El, kenapa ke apartemen?"


Farrel menyandarkan punggungnya, "Besok baru pulang kerumah, hari ini kita pulang ke apartemen."


"Mac, kita ke rumah ibuku!" ujar Metta kesal.


Mac kembali bingung, perintah siapa yang mesti dia jalankan? Kedua-duanya sangat beresiko. Doni menggelengkan kepala heran.


Perkara pulang kemana saja jadi rumit begini, ini semua berawal dari gadis cantik tadi, batin Doni.


"Sayang, aku lelah. Aku ingin istirahat!" ujar Farrel meraih tangan Metta.


"Istirahat dirumah ku kan bisa! Kenapa gak mau? Karena rumahku jelek dan kecil?"


Farrel memejamkan matanya, dia berdecak, "Apa yang kakak katakan? Aku tidak mempermasalahkan hal itu."


"Lantas kenapa kamu menolak pulang ke rumahku!"


"Sayang, astaga!"


"Mac kita pulang ke rumah ibu Sri." ujar Farrel mengalah, dia menyandarkan kembali punggungnya, lalu memejamkan mata.

__ADS_1


Perjalanan yang melelahkan ditambah malasnya berdebat hal yang tidak penting membuat nya memilih untuk diam saja.


Metta yang melihatnya kesal, malah semakin kesal karena Farrel bersikap seolah terpaksa menurutinya. Dia mendengus dengan kedua tangan yang melipat di dadanya.


"Mac kita pulang ke apartemen saja!" ucap Metta.


Mac menatap Metta dari spion lalu beralih pada Farrel yang tengah memejamkan matanya.


"Kak... Kenapa sih?" Ujar Farrel dengan kedua mata yang memerah.


"Aku lelah kak, sudahlah! Kenapa malah meributkan hal yang tidak penting." ucap Farrel mulai kesal.


"Aku juga lelah, bukan cuma kamu!"


"Jadi kakak ingin kita pulang kemana?"


"Terserah...!"


"Astaga ...!!"


Mac kembali bingung, alih-alih melajukan mobil, dia pun menepikan mobilnya.


" Jadi kita mau pulang kemana?"


Hening


Farrel maupun Metta tidak ada yang menjawab.


Dreet


Dreet


Ponsel Farrel berdering, nama Bunda ada disana! namun Farrel enggan menjawabnya, dia hanya memandangi layar putih yang masih menyala itu.


"Bunda pasti menyuruh kita pulang ke rumah utama!" gumamnya.


Hingga dering ponsel berhenti sendirinya,


"Kenapa tidak kamu angkat?" ujar Metta.


"Memang kakak mau kalau kita pulang ke rumah utama?"


"Kenapa malah tanya aku, kamu kan seorang suami!"


"Jadi kakak tidak keberatan kalau kita langsung ke apartemen?" tanyanya kemudian.


"Kenapa harus ke apartemen, disana tidak banyak orang, kenapa tidak kerumah ku! Besok baru ke apartemen atau ke rumah utama." ucap Metta masih dengan kesal.


Farrel menghembuskan nafas, rasanya sudah tidak ingin berkata apa-apa lagi. Namun kemarahan Metta yang tidak jelas itu lama-lama membuat nya kesal.


"Itu juga kalau kamu tidak terpaksa!" imbuhnya lagi.


"Kamu itu kenapa sih sebenarnya?"


"Kamu yang kenapa?" Ucap Metta tidak mau kalah.


"Mac kau mendengarnya kan?" seru Farrel dengan suara keras.


Mac mengangguk lalu kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju kerumah Ibu Sri.


Ponsel Farrel berdering kembali, lagi-lagi bunda meneleponnya. Menanyakan mau kemana hari ini mereka akan pulang, sementara semua orang tengah menunggunya.


"Besok saja bun, hari ini kita pulang ke rumah ibu Sri dulu, tidak apa-apa kan?"


Metta sendiri merasa bersalah, harusnya dia menuruti apa kata Farrel, karena bagaimanapun sekarang dia sudah menjadi suaminya.


El ... kamu tidak terpaksa kan pulang ke rumah ku?"

__ADS_1


"Jangan memancingku untuk marah! Aku sudah mengikuti kemauanmu!" ujarnya dengan mata terpejam.


__ADS_2