
"Apa ini sudah benar semua Mac? tidak ada yang terlewat satu pun?" lirih Doni.
Mac mengangguk, "Sudah benar semua, orangku tidak pernah salah."
Doni meraup wajahnya kasar, semua bukti memperkuat jika memang anak itu memang anaknya,
"Ada satu jalan sebenarnya yang ingin aku lakukan, dan ini mungkin jalan terakhir," ujarnya lemah.
Farrel menghela nafas, "Apapun itu, lakukanlah, aku akan mendukungmu ... tapi, jika hasilnya memang dia anakmu, bertanggung jawabkanlah perbuatanmu!"
Doni mengangguk kecil, meski didalam hatinya tetap saja berharap semua ini tidak benar.
Setelah beberapa saat, Doni sudah mulai tenang, dia berangsur duduk dengan menopang dagu dengan kedua tangannya,
"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan! Anggap saja ini proses pembelajaran dihidupmu, agar kau bisa lebih mawas diri lagi."
Doni mengenadahkan kepalanya, menatap Farrel yang berbicara bak seorang yang bijak,
"Setelah menikah kau seperti orang tua, ucapanmu itu...." Doni berdecak.
"Aku baru dua puluh tahun, tapi aku sudah menjadi seorang suami, mungkin sebentar lagi menjadi seorang ayah, lantas apa bedanya denganmu?"
"Caranya saja mungkin yang salah!" sambungnya lagi.
Doni semakin berdecak, dia bahkan tidak percaya Farrel mengatakan hal yang membuatnya geli seperti itu.
"Sok tua kau!!"
Namun di dalam hatinya, dia membenarkan apa yang di ucapkan sahabatnya itu, meskipun masih berharap banyak dari tes DNA yang akan dilakukannya.
Tok
Tok
Metta menyembulkan kepalanya di balik pintu,
"El ... Kau masih sibuk atau tidak?"
"Sayang, ngapain ... ayo masuk!" ujar Farrel menarik tangannya.
Metta terkikik, "Aku takut kamu masih ada tamu! Ternyata Doni."
"Hai ...istri orang!" sapa Doni.
Dia terlihat sedikit murung dengan menyandarkan tubuhnya di sofa,
"Kenapa dia?" bisik Metta, di telinga suaminya.
Namun Farrel dengan segera membalikkan wajahnya, hingga bibir Metta mengenai pipinya.
Metta membulatkan kedua maniknya,
"Iih ... kamu, jahil banget deh!" ujar Metta memukul lengan Farrel.
Farrel yang hanya terkekeh itu menjumput hidungnya, "Habisnya kakak gemesin."
Metta mendelik, "Kamu, ih... ada Doni tahu!"
"Biarkan saja, dia juga mengerti. Iya kan Doni!"
"Hm..., sudahlah aku pergi dulu, aku harus ke rumah sakit sore ini!" Ujar Doni yang langsung beranjak dari kursinya.
"Bye bos, bye istri bos!" ujarnya sambil berlalu, dan menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Kamu masih suka marah kalau Doni panggil aku kakak?"
Farrel mengangguk.
"Kenapa? Aku lebih gak suka denger dia panggil aku istri bos atau istri orang!"
Farrel merengkuh pinggangnya, "Kakak kan memang istri bos nya Doni, kenapa gak suka hm?"
Metta membalikkan tubuhnya hingga menghadap Farrel, "Risih aja, kesannya tuh ak-- hhhmmmpptt...."
Farrel langsung ******* bibir Metta yang masih berbicara itu dengan cepat.
"Farrel ih ... aku masih mau ngomong! Selalu gitu deh! Nyebelin tahu gak!" ujarnya dengan kesal.
Dia mendorong dada Farrel hingga mereka menjadi berjarak. Farrel terkekeh, sementara dia mencebikkan bibirnya.
"Nyebelin...."
Farrel menggelengkan kepalanya, dengan telunjuk yang bergerak ke kiri dan ke kanan, "No...no..., orang nyebelin biasa nya ngengenin kan? Iya kan...."
Metta mengatupkan bibirnya, menatap pria berusia dua puluh tahun yang menjadi pria yang berhasil mencuri hatinya itu dengan lekat.
"Kamu benar sayang, kamu itu nyebelin, tali ngangenin,"
"Nah, benarkan? Akhirnya kakak mengakuinya," ujar Farrel dengan mata gemasnya.
"Sampai pengen cubit yang kenceng tahu gak!" ujarnya dengan mencubit kedua pipi Farrel dengan gemas.
Farrel meringis, "Sayang...sakit!"
.
.
"Kita makan dulu sebelum pulang yaa," ujar Farrel saat mereka baru saja keluar dari lift.
"Sayang, tidak perlu memikirkan hal itu, masalah biaya biar aku yang fikirkan." membuka pintu mobil, dan Metta masuk ke dalamnya.
Farrel berlari kecil menuju pintu kemudi, lalu masuk,
"Tapi kita harus berhemat, iya kan?" tukas Metta.
Farrel menghidupkan mesin mobil, "Ya ampun, sayang kamu itu istri aku, tidak perlu berhemat-hemat, apapun yang ingin kamu beli, beli saja. Tidak usah khawatirkan soal uang oke!"
"Dan kakak tidak menggunakan kartu yang aku kasih tempo hari kan?"
Metta merekatkan gigi putihnya, "Tidak...eeumm belum." ujarnya.
"Astaga!"
"Karena aku lebih suka cash, dari pada kartu yang tidak terlihat nominalnya,"
"Sayang, jangan aneh deh, dimana-mana kartu itu memang tidsk kelihatan nominalnya, tapi kartu yang aku berikan itu tidak ada batasan."
Metta terkekeh, "Jadi aku boleh nih beli sesuatu yang mahal,"
"Tentu saja, beli yang ingin kakak beli!"
"Kalau aku habiskan semua gimana?"
"Habiskan saja, besok aku cari lagi."
"Ahh...manisnya suamiku!" ujarnya dengan menjumput hidung Farrel.
__ADS_1
"Baru sadar sekarang, kalau aku memang manis? Hem...." ujarnya dengan melajukan kendaraan.
Metta mengangguk, dia memang mengakui bahwasanya, Farrel memang manis, cara memperlakukannya, mengimbanginya bahkan cara berpikirnya, jauh dari kata usia yang sesungguhnya, bagaimana dia bisa membuatnya jatuh cinta, dan yang paling penting, dia mampu mengobati luka yang selama ini di simpannya.
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu, jangan bilang kakak makin cinta sama aku!" ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Siapa juga yang ngeliatin kamu. Orang aku ngeliatin jalan kok!" kilah Metta yang gelagapan karena ketahuan.
"Sayang masih malu-malu aja, walaupun mau ngeliatin aku tanpa berkedip juga gak apa-apa, kakak bahkan sudah melihat semuanya...."
"Farrel...!"
Tiba-tiba saja dia mengingat tingkah liarnya tempo hari yang membuat wajahnya memerah bak keriting rebus.
Tak lama mereka sampai di restoran seafood, Farrel membuka seat belt nya.
"Kita makan seafood?"
"Hm...aku pengen makan kepiting tiba-tiba, kakak mau kan?"
"Baiklah, Mr Farrel kita makan kepiting,"
"Oke Mrs Farrel." ujarnya terkekeh.
Mereka akhirnya masuk kedalam resto seafood itu, memilih duduk di kursi yang terletak di ujung.
"Aku mau udang saus tiram, kepiting mentega saus padang dan cumi madu." ujar Farrel pada pelayan resto itu.
Metta terperangah, bagaimana dia bisa memesan makan malamnya sebanyak itu.
"Kakak pesan apa?"
"Aku pesan Cumi goreng saus pedas,"
Pelayan itu terlihat menuliskan menu pesanan mereka, "Lalu untuk minumnya?"
"Ice lemon tea saja," ujar Metta yang di ikuti anggukan oleh Farrel.
Pelayan itu mengangguk, dan berlalu pergi.
"El ... kamu gak salah? Pesan segitu banyaknya?"
"Gak apa-apa, aku pengen makan semuanya!" ujarnya.
Setelah memesan, mereka menunggu berapa saat hingga akhirnya pesanan mereka tiba. Wajah Farrel tiba-tiba berbinar melihat menu yang dia inginkan, dan berkali-kali menelan ludah, karena harus menunggu Metta kembali dari toilet."
Tak lama Metta kembali duduk, dia yang heran melihat Farrel yang hanya diam, "Kenapa malah diam, bukan nya makan,"
"Kau nunggu kamu Sayang, biar kita makannya barengan."
Nyess
Sesuatu yang menyejukkan masuk tiba-tiba kedalam relung hatinya, merasa dihargai, merasa dicintai, membuatnya benar-benar bahagia, hanya karena hal kecil itu.
"Maafkan aku El,"
Farrel mengusap lembut pipi Metta, "Gak apa-apa, ayo makan."
Lalu mereka makan dengan tenang, namun tiba-tiba Farrel mendorong makanan ya, "Aku sudah kenyang!"
Membuat Metta terperangah, "Kenapa udah lagi, kamu bahkan makan hanya berapa suap saja!"
"Tapi aku kenyang!"
__ADS_1
"Ada-ada saja, terus bagaimana ini."
"Kakak yang habiskan, gak mau tahu! pokoknya habiskan."