
Beberapa hari berlalu begitu saja, rasa bahagia yang tengah dirasakan oleh Farrel dan Metta beserta keluarga besar Adhinata, karena kehamilan Metta tentu saja.
Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Doni, karena Tiwi masih berada di ruangan ICU, dan tidak ada perubahan sedikitpun, keadaan nya masih kritis.
Doni hanya bisa menatapnya dari luar, beberapa hari ini dia bahkan tidak meninggalkan rumah sakit, Mac yang menjadi tetangga Apartemennya lah yang sering mengantarkan pakaian ganti atau pun makanan untuknya.
Farrel yang kerap datang pun hanya bisa menghela nafas, melihat sahabatnya yang terlihat sedikit murung, kedua matanya bahkan terlihat cekung, dan menghitam, akibat Doni kurang istirahat dan kelelahan.
Berkali-kali Farrel menyuruh nya untuk pulang, namun tidak sekalipun digubrisnya. Doni sangat merasa bersalah, dia takut jika dia pulang, Tiwi akan bangun dan mencarinya. Atau Tiwi akan pergi selamanya tanpa pamit.
"Kamu juga harus istirahat, lihat wajahmu, sudah seperti panda saja! bagaimana jika Tiwi bangun dan melihatmu seperti ini? Dia pasti akan kecewa dan sedih." ujar Farrel.
Dia bahkan mengatakan akan pergi dan tidak menginginkanku lagi.
"Aku merasa jika aku pergi dari sini, dia juga akan pergi Rel." ujarnya dengan kepalanya yang tertunduk.
"Kau ini bicara apa? Kau harus yakin, dia akan sadar. Kau mencintainya bukan?"
Doni menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apa ini cinta atau hanya rasa bersalah saja, yang jelas rasa penyesalan yang teramat besar karena perlakuan nya pada Tiwi disadarinya terlalu kasar, padahal dia sendiri yang membuka peluang bagi Tiwi, dia yang membuat dirinya sendiri terseret dan terjebak, sedangkan Tiwi hanya tidak bisa menolaknya.
"Tanpa kau sadari, kau cinta sama dia!"
"Entahlah, aku tidak tahu!"
Farrel hanya mengernyitkan dahi, "Kalau begitu aku ke kantor dulu, jika kau butuh sesuatu bilang padaku!"
"Rel... jika ada pekerjaan yang bisa aku lakukan disini, berikan padaku! Aku membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit!" ujar Doni ragu.
Farrel berdecak, "Apa kau tidak pernah mengecek mobile banking - mu?"
Lalu Farrel kembali berjalan, "Jangan khawatirkan masalah pekerjaan!"
"Terima kasih!" ujarnya.
Doni pun merogoh ponsel dari dalam saku celananya, beberapa pesan yang dia hiraukan begitu saja, panggilan telepon yang dia abaikan pula. Dan beberapa notifikasi masuknya sejumlah uang kedalam rekeningnya.
__ADS_1
Tasya berinisiatif mendatangi keluarganya, yang berada di sudut kota, setelah beberapa kali teleponnya diabaikan oleh bibinya, alias ibunya Tiwi.
Namun Donu bersikeras akan pergi sendiri karena Taaya tengah hamil besar, dia tidak ingin mengambil resiko
Tasya sudah memberikan alamat padanya, dia juga sudah memberi tahukan pada ibu Tiwi, namun ibunya Tiwi seakan tidak peduli lagi padanya, dia bahkan langsung menutup telepon saat dia menelepon nya untuk segera datang.
Dan hari ini, rencana nya dia akan pergi dan Tasya ada di depan mobilnya, bersikeras untuk ikut menemaninya, karena dia rasa Doni tidak mungkin datang seorang diri, Erik sebenarnya ingin sekali ikut serta, namun karena dia menjaga perasaan Tasya, dua juga mengurungkan niatnya, baginya sekarang yang terpenting adalah calon anak yang dikandung Tasya dan juga Tasya sendiri, meskipun rasa cinta masih belum dirasakan padanya, namun lambat laun dia mulai menerima keadaannya.
Perjalanan cukup melelahkan, Doni yang memang kelelahan dan kurang tidur itu beberapa kali berhenti hanya untuk beristirahat ditambah membawa seorang ibu hamil. Dia harus bersikap lebih hati- hati.
Tasya bahkan menemaninya untuk mengobrol, bahkan berkelakar hingga Doni ikut tertawa. Menceritakan masa-mas kuliahnya dan kebodohan-kebodohan yang dilakukannya.
Dan berakhir sama-sama menjalani kelas online karena pilihan hidup yang dipilihnya masing-masing.
"Ini tempatnya Sya?" ujar Doni dengan menghentikan laju mobilnya.
"Huum... ini rumahnya! Ayo...."
Tasya turun lebih dulu, sementara Doni memarkirkan mobilnya agar tidak menghalangi jalan, suasana pedesaan dengan jalan yang tidak terlalu lebar itu cukup menenangkannya.
Lagi-lagi dia mengingat Tiwi.
Doni turun dan menyusul Tasya yang sudah berada di depan pintu rumah. Mengetuk nya beberapa kali namun tidak ada orang yang menyahutinya.
Seorang pria paruh baya baru saja datang, dan terlihat menatap Tasya dan Doni dengan heran.
"Kau, bukankah kau anaknya Dewi? Fiere?" tunjuknya pada Tasya.
"Paman? iya paman ini Aku? Tasya,"
"Oh ... ada apa orang kaya datang ke kampung ini?" tanyanya ketus.
"Aku mau bertemu bibi, apa dia ada di sini?"
"Ada apa mencariku?" ujar seseorang yang baru saja tiba,"
__ADS_1
"Bibi? Apakabar?" tanya Tasya menyalami tangan sang bibi. Ibu dari Tiwi.
Dia menepisnya, "Untuk apa kau kemari? Untuk memberitahu kan tentang anak pembawa sial itu? Aku harap dia mati saja!"
Tasya terhenyak, begitu juga Doni. Bertanya-tanya ada apa dengan Tiwi dan ibunya hingga dia mengucapkan kata-kata tersebut pada anaknya sendiri.
"Bibi, kenapa bicara seperti itu. Harusnya bibi segera datang ke rumah sakit! Jangan menunda-nunda, mungkin dengan datangnya bibi dan paman, Tiwi akan segera sadar."
"Aku tidak sudi melihatnya, biarkan saja dia. Aku sudah menganggap nya mati dari dulu. Dia itu pembawa sial." ujarnya dengan menggebu-gebu.
"Bibi, tolonglah! Tiwi membutuhkan Bibi, setidaknya lihatlah dia keadaan nya,"
"Aku tidak peduli lagi dengannya, semenjak dia berlaku kurang ajar padaku, dia bahkan bermain -main dibelakangku dengan menggoda suamiku, ayah sambungnya sendiri."
Doni terhenyak, seburuk itukah Tiwi, hingga dia juga melakukan hal yang menjijikan tersebut.
"Bibi, tidak kah bibi pernah mendengar alasan dia melakukannya? Paman yang menggodanya duluan, dan paman juga yang nyaris memperkosanya. Benarkan paman?" ujar Tasya dengan menyorot tajam pada ayah sambung Tiwi.
"Selain tukang judi dan main perempuan, paman juga hampir menodai putri sambung paman sendiri, dan bibi malah menyalahkannya Tiwi," ujar Tasya membeberkan semuanya.
Doni semakin terhenyak, dia tidak mengira hidup Tiwi sudah rumit sejak dulu, dan semua berawal dari rumahnya sendiri.
Tiwi yang mengetahui ayah sambung nya gemar berjudi dan bermain perempuan, sementara ibunya harus membanting tulang menghidupinya dengan terus bekerja siang dan malam.
Hingga saat ayah sambungnya mabuk, dia kerap mendatangi kamar Tiwi dan berusaha menodai Tiwi. Hingga dia berlari keluar dan bersembunyi.
Namun saat ibunya pulang, justru dialah yang disalahkan, dianggap menggoda suaminya hingga rela menyerahkan dirinya sendiri.
Tiwi yang masih muda dan berjiwa pemberontak itu mengiyakan segala tuduhan ibunya, dia dengan sengaja menggoda kembali sang ayah sambung, melakukan one night stand dengan pria-pria yang di temuinya.
Semua adalah bentuk kekecewaan pada ibunya, pada dunia yang tidak pernah berlaku adil padanya,
'Ibu tidak akan mengerti sampai aku melakukan kehancuran padamu seperti yang kau lakukan padaku.'
Dia mengingat ucapan Tiwi saat dirinya mengusirnya dari rumah, karena perlakuan nya yang menurutnya diluar batas.
__ADS_1
"Tiwi hanya ingin bibi sadar, siapa pria yang bibi nikahi itu."