Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kembali bekerja


__ADS_3

"Sudah sampai" Farrel menghentikan mobil nya tepat didepan kantor.


" Sudah kubilang turunkan aku di sana" Metta menunjuk ke arah belakang, " Kau ini" memukul lengan Farrel.


Farrel terkekeh" Kakak malu, diantar oleh aku yang ganteng ini hem?"


Metta tidak menjawab, dia hanya mencebikkan bibirnya.


" Sudah aku turun yaa" ucap Metta.


" Kakak, apa kakak tidak ingin mencium tangan ku sebelum pergi" Farrel masih terkekeh.


" Enggak," Metta turun dari mobil dengan kesal.


Farrel menggeleng, menaikkan sudut bibir nya ke atas melihat Metta yang kesal dan menggemaskan itu.


Sampai kantor, Metta berjalan masuk keruang divisi umum.


" Kenapa pada ngeliatin gue kayak gitu" saat orang orang dikantornya memandang Kearah Metta dengan berbisik bisik dan memandang Metta dengan tatapan tidak suka.


Metta tak perduli, dia berlenggang masuk kedalam ruangan nya, seketika langsung di serbu oleh sahabatnya Dinda, " Sha.." Dinda memeluk melepas rindu.


" Tumben lo baru dateng, gue kira lo ambil cuti lagi sekalian. Gue kangeen banget..." menggoyangkan tubuhnya hingga tubuh Metta ikut bergerak.


Tubuh Dinda yang lebih tinggi dari Metta membuat Dinda leluasa memeluknya, hingga Metta terhimpit.


" Din, lepas gue udah sesak ini" menepuk nepuk punggung sahabatnya.


"Lo gak kangen sama gue?"Dinda mengurai pelukannya dengan telunjuk yang mengarah tepat diwajah Metta.


" Iya gue kangen kok, kangen kantor , kangen meja gue" Metta terkekeh.


" Sialan lo, gue kira lo kangen sama gue" Dinda mengerucutkan bibirnya.


" Iya gue kangen juga sama lo" menepuk bahu Dinda.


Mereka berjalan beriringan ke dalam, Metta langsung mendaratkan tubuhnya dimeja kerja, mengelus meja dan menghirup udara di ruangan.


"Eum Gue kangen suasana kerja" gumamnya dengan mata terpejam.


" Sha, lo tau gosip terbaru gak?" seru Dinda yang sudah bersandar pada meja.


Metta terbelalak, " Emang ada gosip apa?"


" Jadi lo gak tau?"


Metta menggelengkan kepalanya, " Padahal lo yang juga ikut kan ke kantor itu" bisik Dinda.


"Heh, gue??"


Dinda mengangguk, mengedarkan pandangan lalu mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Metta. Dinda berbisik ditelinganya.


" Pas lo pergi jadi perwakilan Pak Bas ke kantor managemen" menutup pergerakan mulut dengan tangan nya.


Metta membulatkan matanya menatap Sahabatnya yang kini mengangguk " Maksudnya?" bibir Metta mengatup.


" Katanya lo anak emas pak bas, anak anak pada heboh Sha gara gara pak Hendra tiba tiba ngundurin diri!" Dinda berbisik.


Tanpa sadar Metta menggebrak meja kerja nya,


" Gila aja,mana gue tau!" Metta gelagapan menutupi sesuatu.


" Suuthh, lo mau cari ribut apa sekalian cari mati"


" Lo percaya gue penyebabnya"


" Iya enggak, tapi gue gak bisa terus belain lo pas mereka gosipin lo dibelakang"


" Pantesan aja pada ngeliatin gue dari tadi" Metta mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan.


" Tapi gue gak peduli, terserah mereka mau bilang apa tentang gue"

__ADS_1


" Bebel amat si otak lo Sha!, loe gak penasaran apa?"


" Kagak lah,udah biarin aja!mereka ngomongin ini juga di belakang gue"


"Ekhem.." suara bariton mengagetkan mereka, kedua sahabat itu menoleh ke arah suara.


" Pak Bastian, pagi pak"


" Mettasha, keruangan saya sekarang" Bastian berlalu tanpa memperdulikan sapaan mereka.


" Cerita lo entar sama gue"


Bibir Metta bwrgumam pelan mengisyaratkan kata oke pada sahabatnya itu.


.


" Kamu nanti ikut saya rapat divisi ke gedung utama" ucap Bastian saat Metta baru saja menutup pintu.


" Heh, tapi pak"


" Gak ada tapi, Hendra gak bisa dihubungi"


" Baik pak" ucap Metta masih berdiri.


" Kamu tau sesuatu? ucap Bastian lagi.


" Tau apa pak maksudnya" Metta menautkan jari jemarinya.


" Hendra"


Deg...


Metta tersentak, sesaat kemudian yang dia ingat hanya kejadian yang menimpanya saat itu.


" Aku..tidak tau pak"


" Apa kau yakin?" Metta mengangguk.


Metta menggangguk lagi, " Iya pak"


"Tapi jika kamu sudah merasa terganggu, kamu bilang saya"


lagi lagi Metta hanya mengangguk." Ya sudah kamu boleh pergi"


" Baik pak"


" Saya tidak tau penyebabnya apa, yang jelas sampe saat ini Hendra menghilang"


Deg..


Metta menghentikan langkahnya,dia berbalik menoleh ke arah Bastian yang tengah duduk tanpa melihatnya. Lalu Metta kembali melangkah,"Memang apa yang terjadi setelah kejadian itu" Metta berusaha mengingat ngingat.


.


.


Di Kantor utama


Farrel memasuki ruangan nya dengan wajah yang berseri, kebahagian terpancar jelas di wajah imutnya " Wah, wah semakin dewasa aja lo sekarang" Alan bertepuk tangan.


"Sialan lo" sahut Farrel mendaratkan tubuhnya di sofa.


" Ada untungnya juga lo punya kekasih dikantor sebelah, lo makin rajin datang kesini" cibir Alan.


" Sekali lagi lo ngomong gue timpuk juga lo"


Alan tertawa, tak lama cyntia sang sekretaris datang "Pagi pak Alan, mas Farrel " cyntia menganggukkan kepalanya pada Alan dan farrel.


" Apa jadwal ku hari ini?"


" Baik pak, hari ini ada rapat bulanan dengan para kepala divisi, siangnya ada meeting dengan PT Cemerlang" Cyntia menutup agenda nya.

__ADS_1


" Oke " sahut Alan datar.


" Kalo gitu saya permisi pak," Cyntia tersenyum.


" Jadi lo mau kemana sekarang?" Seru Alan saat Cyntia sudah berlalu meninggalkan ruangan.


" Gue ke PT cemerlang aja, gila aja rapat bulanan yang ada nanti ketemu kakak" sahut Farrel.


" Jadi selama ini dia belum tau juga lo siapa?"


Farrel menggelengkan kepalanya " Belum saatnya, gue masih takut kakak marah terus pergi"


" Tapi sampai kapan?"


" Gue juga gak tau" Farrel mengherdikkan bahu.


" Semakin lama semakin rumit El, inget itu"


" Bunda juga gak suka gue sama kakak"


" Gue tau"


" Cx apa sih yang gak lo tau,"


Alan tergelak, " Gue tau semuanya El,"


" Jadi menurut lo, gue mesti gimana?"


" Kenalin sama bunda lah, biar bunda bisa nilai sendiri"


" Kalau itu gue juga udah tau, masalahnya bunda gak mau gue kenalin" Suara Farrel meninggi.


" Yaa lo fikirin lah sendiri caranya, gue gak tau mesti gimana, hanya masalah ginian yang gak bisa gue handle buat lo" tukas Alan.


" Cx kalau gitu ngapain gue cerita sama lo, bego!"


Alan terkekeh, " Gue lupa, lo kan belum pernah pacaran."


" Sialan lo," tukas Alan kesal.


Farrel terkekeh, dia memang belum berniat memberi tahu Metta tentang segala nya, takut kekasih yang masih belum memberikan hati sepenuhnya itu semakin menjauh, namun entah sampai kapan bom waktu itu dia simpan.


Sesuai rencana, Farrel akan pergi meeting dengan Pt Cemerlang eorang diri.


" Lo yakin lo gak butuh asisten,?"


" Cari yang kayak lo, gue gak mau yang lain" ucap Farrel.


Alan mangut mangut," Tapi gak bakal ada yang kayak gue tuan muda Farrel adhinata.


" Ya sudah lo ikut gue, ribet amat"


" Rapat divisi?"


" Jadwal ulang" sahut Farrel.


" Gak bisa, udah deadline"


" Atur ulang semua nya Alan Alfiansyah"


" Baik lah sesuai apa yang lo perintahkan tuan" Alan terkikik.


" Sialan emang lo"


.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yah, ingat aku udah bilang kan kalau like dan komen dari kalian itu sangat berarti buat karya aku yang hanya remahan ini..Jadi mohon dukungan nya yaa🤭

__ADS_1


Makasihh😘


__ADS_2