
"Maaf ...."
Seketika air mata Metta meluncur dengan deras, tubuhnya merosot ke tepian kursi, dengan sigap Doni menangkap bahunya.
Doni tak kalah terkejutnya, "Dokter ... lakukan sesuatu untuk menyelamatkan sahabat saya! Lakukan apa saja Dok!! Doni setengah berteriak.
Dokter itu terlihat menghela nafas berkali-kali, membuat Metta dan Doni semakin cemas.
Sri datang beserta Nissa dan juga Andra, mereka segera datang setelah Doni memberitahunya.
"Sha ....?" lirih Sri melihat anak sulungnya yang menangis sesegukan.
Metta menoleh, "I- Ibu ...."
Sri mendekap anaknya dengan erat, mengelus punggungnya, namun air bening itu semakin lancar turun dalam dekapan sang ibu.
Dokter masih terdiam ditempatnya melihat kecemasan dan raut kesedihan pada wajah mereka, Nissa yang ikut menangis memeluk kakak dan ibunya, sementara Andra terduduk dengan menundukkan kepalanya.
"Dokter lakukan sesuatu! Jangan hanya diam saja disini, lakukan sesuatu!!" Doni kini mencengkram kerah Dokter itu.
Andra bangkit dari duduknya lalu menghampiri Doni yang terlihat emosi. "Bang lepaskan, jangan begini!"
Doni mendorong Dokter itu hingga terhuyung kebelakang menabrak pintu UGD.
"Aku tidak akan memaafkanmu!" Ucap Doni dengan tangan yang menunjuk kearah Dokter yang tengah membenahi jas kedokterannya.
Tak lama kemudian Ayu dan Arya tiba disana, Arya memapah Ayu yang shock setelah mendapat kabar dari Doni. Sedangkan dibelakangnya menyusul Alan yang berjalan dengan tergesa-gesa ditemani Mac disampingnya.
Dokter melihat kearah Ayu dan juga Arya, "Masuklah ...."
Metta melihat kearah Ayu dengan sendu, "Bunda ...." lirihnya.
Namun diapun seakan tidak mampu bangkit, tubuhnya terasa lemah dengan lutut yang bergetar hebat, tubuh Doni yang menempel pada tembok kini merosot kelantai.
"Apa yang terjadi?"
Suara bariton Alan seakan menggema diseluruh ruangan itu. Namun semua tidak ada yang mampu menjawabnya, semua larut dalam kesedihannya masing-masing.
Alan menghampiri Doni dan mencekal bahunya,
"Kau tidak becus bekerja hah!!"
Lalu cekalan dibahu Doni dia hempaskan begitu saja,
Lalu dia masuk kedalam ruangan UGD menyusul kedua orang tuanya.
"Cepat katakan jangan bertele-tele!" Ucap Alan kesal saat baru saja masuk kedalam ruangan Dokter.
Dokter menghela nafas, "Anakmu yang satu ini semakin tempramen saja! Duduklah dulu," titahnya kemudian.
Sementara diluar ruangan UGD, Metta semakin cemas karena keluarga Adhinata sudah lumayan lama berada didalam.
"Bu, bagaimana ini?" ucap Metta dengan isakan.
__ADS_1
"Berdoalah Nak," Sri hanya mampu menenangkan anaknya.
"Aku harus kedalam untuk melihatnya Bu, aku ingin melihatnya," ucap Metta kembali.
Rasanya waktu berputar sangat lambat, keluarga Farrel tidak kunjung keluar, dokterpun tidak memberikan penjelasan yang pasti. Metta dan Doni hanya mampu menunggu.
"Bu ... kenapa mereka lama sekali didalam?Apa yang terjadi?"
Metta terus terisak, kini matanya menjadi sembab, karena menangis, fikirannya kacau, membayangkan hal terburuk yang terjadi pada kekasihnya itu.
"Bu ... ayo kita kedalam, aku ingin melihat El!" ucapnya dengan lemah.
"Tenangkan dirimu Sha, berdoalah! mungkin Dokter sedang melakukan upaya menyelamatkannya."
"Tapi aku ingin melihatnya Bu ..." Tangisannya semakin menjadi,
"Tenanglah sayang, Nak El pasti baik-baik saja,"
"Ta- tapi Dokter tadi bi- bilang ...."
Metta terus saja terisak, dia tak mampu membayangkan apa yang terjadi jika sampai kehilangan.
Hingga pintu terbuka, 2 perawat terlihat mendorong Brankar, dan sosok yang tertutup kain putih terbujur kaku diatasnya, dengan darah yang terlihat masih segar dibagian kepalanya.
Metta terhenyak, dia bangkit dari duduknya dan memburu Brankar yang tengah didorong itu.
"Enggak ... Enggak ... El." pekiknya memegangi besi Brankar.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Tuhanlah yang menentukan." ucap salah satu perawat yang menarik besi Brankar dibagian depan.
"Kami akan membersihkannya terlebih dahulu sebelum masuk kamar jenazah, kalian bisa kesana setelahnya." lalu mengangguk pada rekannya dan kembali mendorong Brankar itu.
"El ...."
Tubuh Metta seketika ambruk dilantai, Sri menggantinya namun ternyata malah ikut ambruk, Doni menjambak rambutnya frustasi. Dengan buliran bening membasahi pipinya.
"Bu, ini mimpi kan? katakan ini hanya mimpi ...." Metta menangis sejadi-jadinya.
Andra ikut memegangi kakaknya, sementara Nissa sudah meraung dalam duduknya.
"Ndra ... kakak sedang bermimpi kan? iya kan ... "
"Ayo, antar kakak kesana! Dia harus bangun dan kembali Ndra!"
Hatinya perih, teriris, tak mampu lagi dia bayangkan rasanya. Baru beberapa jam yang lalu Farrel menggodanya, tersenyum padanya, namun kini, Metta tak merasakan apapun. Dia terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
"Kak, bangun!"
Andra mengguncangkan tubuh kakaknya, Doni pun ikut berhambur kearah Metta, meski perasaannya kini juga tak karuan. Antar percaya dan tidak kalau itu benar-benar sahabatnya.
Perawat yang tak sengaja melintas melihatnya, lalu dengan sigap membawa Metta keruangan yang berbeda untuk diperiksa.
.
__ADS_1
.
Metta kini berada diruangan inap, setelah Dokter memeriksanya, dia hanya diharuskan beristirahat, Sri mengelus kepala Metta yang masih belum siuman juga, sementara Nissa berada ditepi ranjang masih dengan sesegukan.
"Tenanglah, jangan terus menangis kamu hanya membuat kakakmu nanti semakin sedih nanti!" Ucap Sri.
Nissa terlihat mengelap wajahnya yang penuh dengan air mata. Sementara Andra terduduk disofa kecil yang ada diruangan inap tersebut.
Sementara Doni terlihat mengakup kepalanya dengan kedua tangannya, terduduk di kursi panjang didepan ruangan tempat Metta istirahat.
"Bagaimana keadaannya Don?" tanya Arya pada Doni.
Doni yang mendongkak seketika berdiri saat kedua orang tua dari sahabatnya itu menghampirinya,
"Belum sadar om, mungkin dia shock saat melihat Brankar keluar," ucapnya.
"Kita semua Shock om, tante." lirihnya kemudian.
Arya hanya memegangi bahu Doni, "Terima kasih ya...."
"Ayo Yah kita lihat dia," lirih Ayu, yang dijawab suaminya dengan anggukan.
Merekapun masuk kedalam ruangan, melihat Metta yang masih terpejam tak sadarkan diri.
"Jeng Sri ....?" ucap Ayu.
Sri menoleh, "Jeng ...." seolah menahan air mata yang ditahannya.
"Bagaimana? apa kata Dokter....?" tanya Arya.
"Dia hanya kelelahan dan shock Pak Arya. Dokter menyuruhnya istirahat saja dulu sampai dia siuman."
Arya mengangguk, "Kita tunggu disini sampai dia sadar yah Bun," Ayupun mengangguk.
Tidak lama kemudian terlihat Metta mengerjap-ngerjapkan buku mata lentiknya. Perlahan matanya terbuka lemah, ingatannya langsung pada Farrel kekasih hatinya.
Dan dia kembali menangis, dilihatnya semua anggota keluarganya berada disana.
"Bunda, Ayah ...." lirihnya pelan.
"Iya Nak ... ini kami!"
Metta kembali menangis, memegangi tangan Ayu dengan erat. Dan menatap Ayu dan Arya bergantian.
"El ... Bunda ...."
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa,
makasih
__ADS_1