Berondong Manisku

Berondong Manisku
Pemilik rasa ( Kecewa)


__ADS_3

Cinta akan semakin kuat jika sudah bertemu dengan pemiliknya, tanpa melihat tentang apa dan siapa, karena cinta hanya dapat di ukur oleh hati, bukan tentang siapa yang mencintaimu, namun tentang siapa yang membuat mu bahagia.


Bersifat menyembuhkan dan juga melukai, tak hanya menerima namun juga memberi, tidak terencana namun terjadi begitu saja. Dan terapi penyembuhan paling mujarab adalah dengan jatuh cinta.


Saat luka perlahan sembuh, dan rasa itu mulai tumbuh, meski dia belum tahu rasa itu akan singgah atau hanya sekedar menepi lalu pergi.


Dua insan yang tengah mabuk cinta saling merasai. Menemukan diri nya berada di diri kita. Dengan sejuta kata yang diwakilkan oleh pergerakan hati, melalui sentuhan begitu lembut namun memabukkan, membawa diri melalui dimensi yang tak kita kenali.


.


.


"FARREL "


Suara perempuan terdengar menggelegar saat pintu lift terbuka, memperlihatkan adegan yang membuat darah perempuan itu mendidih seketika. Tak dinyana, amarah membuncah dalam dirinya kini.


Saling melepaskan pagutan saat terkaget karena pintu kotak besi itu terbuka, Farrel terhenyak saat melihat seseorang yang memanggil namanya dengan suara lantang.


" Bunda.." lirihnya.


Farrel merasa ditelanjangi saat itu juga, oleh tatapan bak ibu elang melihat mangsa kecilnya.


Dengan menggenggam erat tangan Metta, Farrel menghampiri sang bunda dengan nafas tersengal,


" Bunda? apa dia ibumu? gumam Metta yang mendapat anggukan sebagai jawaban dari Farrel.


" Mati gue"


Plak...


Tamparan keras mengenai pipi Farrel, tangan yang biasanya memberi kelembutan saat dia bermanja manja, tangan yang kemarin masih menyuapi nya ketika sakit, tangan yang selalu memberinya kehangatan, namun tangan itu kini memberinya rasa sakit, bukan fisik. Tangan itu kini bergetar hebat, seiring tubuhnya yang ikut menegang.


"Apa yang kamu lakukan El? mau membuat bunda malu?" suara Ayu bergetar, mengepalkan tangan nya menahan marah, tak bisa menahan riak yang sebentar lagi terjun bebas dari pelupuk mata.


Metta terkejut dengan reaksi perempuan yang dipanggil bunda oleh kekasihnya itu, memegang pipi Farrel yang memerah. "Kamu gak apa apa.." gumamnya.


" Jangan khawatirkan aku kak," Farrel menggenggam tangan Metta, melihat kekhawatiran terlihat jelas di wajah cantiknya yang justru dia khawatirkan kini.


" Astaga.." Ayu memejamkan matanya, sungguh tak dapat percaya anak yang selalu menjadi prioritasnya, anak yang selalu di banggakannya, anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati, anak kesayangannya, melakukan hal yang membuatnya kecewa dengan tindakan yang tidak patut dicontoh itu.


" Bunda kecewa sama kamu El!"


" Dan kamu..?" Ayu menunjuk tajam ke arah Metta.


" Apa kamu tidak bisa menahan diri hah, tak sepantasnya kamu melakukan ini dengan anakku"

__ADS_1


Bulir bening lolos begitu saja dari Metta yang kini tertunduk malu, merasa bersalah, merasa berdosa atas apa yang dilakukannya, namun semua di luar kendalinya sendiri. Penyesalan lah kata terakhir yang mampu dirasakannya kini.


" Bunda, ini semua salah El, jangan menyalahkan kakak" Farrel meraih tangan Ayu, namun dengan cepat Ayu menghempaskannya.


" Maafkan aku tante" ucap Metta masih dengan tertunduk.


" Aku yang salah, maafkan Farrel"


Ayu berdesis" Tante, cih..aku bahkan tak sudi mendengar bibirmu memanggilku"


" Bunda.." cegah Farrel agar bunda yang sangat dicintainya itu tidak terus menyalahkan wanita yang dicintainya pula, karena diapun ikut andil didalamnya.


" Ini salah El bunda, bukan salah kakak, El mohon"


Ayu tak bergeming sekalipun Farrel memohon, rasa kecewa dan marah meliputi dirinya, tatapan matanya semakin menajam melihat mereka.


"Kalian berdua sama saja ternyata, apa cinta membuat kalian buta hah?"


Untunglah keadaan basement kala itu sudah terlihat sepi, hingga mereka tidak memjadi pusat perhatian.


Farrel dan Metta sama sama tertunduk, namun Farrel meraih tangan Metta, menggenggam kuat tangan nya meski Metta terus berusaha melepaskan diri.


"Tolong maafkan Farrel tante, aku akan lakukan apapun agar tante memaafkan Farrel" ucap Metta dengan tegas.


" Apapun..?" Ayu merasa tertantang.


" Kakak?" Farrel menatap wajah kekasihnya itu dengan lekat.


" Termasuk jika aku menyuruhmu menjauh dari anakku?"


Metta terhenyak, begitu pun Farrel. Ucapan Ayu bak bom waktu yang meledak sudah, Farrel tak bisa menghindar, apalagi membantah atas peringatan yang selama ini dia abaikan.


Metta mengangguk lagi, hatinya terasa perih saat mendengarnya, hancur luluh lantah kini dirasakannya, atas cinta yang belum sama sekali diungkapnya. Namun tak ada pilihan yang harus dipilihnya, sebab ucapan Ayu terdengar mutlak ditelinganya.


"Mungkin ini yang terbaik" batinnya.


Kata kata Ayu menukik tajam,"Apa aku bisa percaya ucapan dari wanita sepertimu,"


" Bunda, El mohon, aku mencintai Kakak, jangan pisahkan aku dari kakak,jangan menyuruh kakak menjauh," Farrel bertekuk lutut dihadapan Ayu, memohon kepada sang bunda, berusaha dengan apapun untuk memperjuangkan cintanya.


" Kamu sampai melakukan hal ini El sama bunda, berdiri.." sentak ayu melihat anaknya bertekuk lutut demi seorang wanita yang bukan dirinya. Ada rasa perih di hatinya.


" El akan terus begini sampai bunda merestui El sama kakak"


" Farrel sudahlah, turuti semua yang dikatakan ibumu, aku akan pergi " Metta menarik lengan Farrel agar berdiri. Tak sanggup rasanya, seperti melihat ibunya sendiri ketika memohon pada keluarga Faiz saat itu.

__ADS_1


" Jangan buat ini semakin rumit" Ucapnya dengan lirih.


.


.


Sejauh mana rasa ini menyelami hati,


Sudah pasti akan jatuh jua,


Saat restu tak menghampiri.


Hati yang baru saja menghangat,


Kini kembali memucat.


.


.


Jatuh sejatuh jatuhnya, lagi. Metta menahan sesak di dadanya, belum sempat dia ucapkan bahwa hatinya kini bersemayam satu nama yaitu "Farrel ", kini harus terpaksa melepaskan cinta yang baru saja dia sadari.


Jika dengan keputusan nya pergi, dia menyelamatkan cinta seorang ibu kepada anaknya, maka dia akan melakukannya. Karena satu alasan.


"Mencintai "


Metta membalikkan tubuhnya, tekad nya sudah bulat, dia akan mundur, lebih baik sakit sekarang daripada nanti. Dengan derai air mata Metta membelakangi Farrel, tak sanggup lagi melihat wajah memelas dari kekasihnya itu.


Namun baru saja melangkahkan kaki, langkah Metta terhenti saat satu suara bariton menghentikannya.


"Tunggu, apa kamu akan pergi begitu saja setelah membuat semua kekacauan ini?"


Metta bergeming, tak mampu memperlihatkan raut wajahnya," Apalagi ini, tak cukup kah bunda nya saja yang tidak merestui," batinnya.


Langkah kaki terdengar mendekat, "Bunda, apa belum cukup memberi mereka tentang pelajaran nya hari ini?"


Sepasang netra menatap ke arah Metta dengan sendu.


.


.


.


Jangan lupa like, komen , rate 5 , apapun untuk terus dukung aku, ajak sodara ,temen, suami, pacar, selingkuhan eeh.. 🤭buat baca karya remahan rengginang ini.

__ADS_1


Makasih buat yang selalu nunggu dengan setia dari awal bab hingga sekarang, karena kalian lah aku bisa.😘


__ADS_2