Berondong Manisku

Berondong Manisku
Mengantar Nissa 2(Semakin penasaran)


__ADS_3

"Bagaimana rasanya berciuman?"


Uhuk


Doni tersedak kuah pedas, tenggorokan nya terasa perih dan panas. Nissa segera menyodorkan minuman ke arah Doni.


"Kak, nih minum dulu!"


Nissa lalu duduk bangkit dengan cepat dia menepuk-nepuk pelan punggung Doni.


"Pake keselek segala sih! Gak suka makan pedes yaa." ucapnya kemudian.


Aku keselek karena pertanyaanmu


Doni segera menyuruput lemon tea miliknya hingga setengahnya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.


Kemudian dengan cepat menepis tangan Nissa,


"Udah duduk lagi disana, kak Doni udah gak apa-apa."


Nissa berdecak, lalu kembali duduk ditempatnya. "Kalau gak suka pedes, kak Doni bisa pesen yang original, kuah kari atau pesan yang lain."


Anak ini benar-benar polos, dia benar-benar tidak mengerti apa yang di tanyakan nya tadi.


"Kak... Kak Doni? Ye... malah ngelamun!"


"Enggak kok, kak Doni gak ngelamun, kak Doni gak bisa ngomong, tenggorokannya seret!" sanggah Doni.


Nissa terlihat mengangguk, "Oh...."


"Nissa jangan bertanya hal yang aneh seperti pertanyaan tadi" ucap Doni saat tenggorokannya sudah lebih baik.


Nissa mendongkak kearahnya,


"Aku hanya bertanya, kalau kak Doni tidak tahu ya sudah!"


Aku bahkan tahu segala teknik.


Doni mengangguk, lalu menghela nafas. Namun Nissa malah terkekeh, " Aku bisa bertanya pada orang lain."


"Astaga, Nissa!!"


Nissa kembali diam, menyeruput es boba miliknya dengan sesekali matanya beredar. Sementara Doni menghela nafasnya dalam.


Nissa mencebik bibirnya, "Jangan bilang kak Doni belum pernah berciuman!"


Fikirannya melayang pada saat adegan yang tidak sengaja dilihatnya.


"Tapi mana mungkin, pasti udah pernah kan? Aku tidak percaya kalau kak Doni belum pernah berciuman." selorohnya.


"Astaga Nissa, kenapa membahas itu lagi! Itu bukan hal yang baik untuk ditanyakan pada orang lain, terlebih bertanya pada seorang laki-laki." jelas nya pada Nissa.


"Memangnya kenapa? Tinggal jawab saja, kak Doni malah bikin aku makin penasaran tahu gak!"

__ADS_1


"Pokoknya jangan! Nissa belum boleh memikirkan hal seperti itu ya, fokus saja belajar."


"Kak Doni gak asik!" ujarnya kemudian.


"Aku akan bertanya pada ibu saja! Tidak ... tidak, pada bang Andra juga tidak mungkin, dia akan marah! Pada Ka Sha...." Nissa menggelengkan kepalanya.


Mana mungkin aku bertanya pada orang nya langsung.


Doni melambaikan tangan pada seorang pelayan yang melintas, "Nissa sudah selesai kan?"


Nissa bersorak, "Aku tahu... harus bertanya pada siapa?"


Doni tersentak, "Siapa?"


"Rahasia...Wee!" Menjulurkan lidah kearahnya.


"Jangan bertanya pada orang yang tidak Nissa kenal, berbahaya! Nissa paham....?


"Tidak... makanya Nissa tanya kak Doni karena Nissa tidak paham."


Doni berdecak kembali, "Nissa, lupakan masalah hal itu, Nissa tidak perlu tahu rasanya bagaimana. Tidak ada rasa sama sekali, hambar! Nissa tahu kan gimana rasanya hambar?"


"Hambar? " Doni mengangguk.


"Kalau hambar kenapa orang-orang melakukannya?"


Doni mengernyit, "Orang-orang?"


Seketika Nissa menutup mulut embernya, Celaka keceplosan.


Doni terhenyak, "Apa? Kakakmu dan Farrel? Nissa melihatnya? kapan... dimana?"


Nissa mengangguk, dengan bibir yang mengerucut. Doni melihatnya namun juga tidak ingin membahasnya lagi.


"Lupakan, Nissa salah bicara!"


Doni meraup wajahnya kasar. "Nissa...."


"Kak Doni jangan bilang-bilang!" sungutnya dengan kepala yang tertunduk.


Doni menghela nafas, "Si bayi besar yang berbuat ulah ini pasti, pantas saja Nissa sepenasaran ini." gumamnya.


"Iya kak Doni tidak akan bilang siapa-siapa! Ini rahasia, tapi Nissa juga tidak usah memikirkannya lagi." ujarnya lagi.


"Nissa udah kan makannya? Yuk pulang!"


Nissa mengangguk lemah, Doni juga terlihat menghela nafas, terlebih lagi mengingat seseorang pasti mengawasinya dari jauh saat ini.


Pelayan datang menghampiri dengan bill yang diberikan pada Doni, Doni menatap nya sekilas lalu merogoh dompetnya dari saku celana.


Setelah selesai melakukan pembayaran mereka keluar dari restoran. Dengan tangan yang menenteng kantong berisi buku, Nissa berjalan dengan langkah gontai, Sementara Doni menghela nafas berat saat melihatnya.


"Dia tidak merasakan apa-apa setelah bertanya hal itu padaku! Tidak ada sedikitpun rasa malu? Dasar anak kecil. Si Rel ta api juga benar-benar gila, " gumam Doni bergeleng kepala seraya menyamai langkah Nissa.

__ADS_1


"Kak Doni...."


"Hm... Apa? Kalau bertanya hal begitu, kak Doni tidak mau jawab lagi!"


"Iihh... pelit!"


"Biarin ...! Karena hal itu tidak cocok dijadikan bahasan anak kecil sepertimu." ujar Doni berjalan mendahului Nissa.


Gadis polos itu menghentakkan kaki, "Aku ini sudah besar!"


Doni sampai di pelataran parkir lalu menoleh pada Nissa yang masih tertinggal dibelakang yang berjalan tersungut-sungut,


"Lama banget sih, kak Doni mesti balik ke kantor nih!" ujarnya saat Nissa menghampirinya.


Nissa merebut helm dari tangan Doni lalu memakainya dengan kesal. Doni bergeleng kepala melihat tingkah Nissa. Ampun deh.


Masa sih rasanya hambar, maksud nya hambar bagaimana coba? kan aku jadi tambah penasaran, hambar tapi banyak dilakukan orang dewasa, aku harus bertanya lagi. Atau melakukannya sekalian? Tapi mana mungkin, aku juga takut ahh.


"Ayo buruan naik, kak Doni hampir terlambat lagi ke kantor!" ujarnya dengan menyalakan mesin motor.


Nissa naik dengan tangan yang memegang bahu Doni, lalu mendudukkan dirinya. Doni melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang lumayan ramai.


"Kak Doni seru juga cara bawa motor nya, tidak seperti bang Andra," gumam Nissa dengan berpegangan pada ujung kemeja yang di kenakan Doni.


Tak lama kemudian motor berhenti di pekarangan rumah Nissa, Doni mematikan mesin motornya. Sementara Nissa turun dan membuka helm nya.


"Kak Doni mau mampir dulu?" tanya nya.


"Kayaknya Kak Doni langsung berangkat ke kantor lagi, nanti kak Doni di pecat lagi sama abang mu itu!" kelakarnya dengan terkekeh.


Nissa ikut terkekeh, menyerahkan helm padanya, "Makasih ya kak, inget jangan bilang-bilang apa yang tadi Nissa katakan!"


"Oke tapi janji, jangan memikirkan hal itu lagi!"


Enggak janji.


Doni kembali menyalakan mesinnya, dan mengibaskan tangan pada Nissa yang mematung. "Sudah sana masuk, salam sama ibu ya!"


Cup


Nissa berjinjit dan mencium pipi Doni, lalu tergelak dan berlari menuju rumah,


"Bye kak Doni." teriaknya.


Membuat Doni terkejut seketika dengan apa yang dilakukan Nissa, "Astaga... Nissa!!"


Dia mengedarkan pandangannya, kearah depan dan belakang.


"Mati aku!!?" gumamnya saat melihat mobil hitam terparkir tak jauh dari sana.


Dengan cepat dia melajukan motornya, melesat dengan kecepatan maksimal. Sementara Nissa masuk kedalam rumah dengan terkikik-kikik.


"Nissa ... apa yang baru saja kau lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2