
Farrel mengerutkan dahi, panggilan tak terjawab dari Alan dan Mac yang memenuhi ponselnya, namun dia seolah tidak peduli dan kembali duduk di meja makan. Sementara Metta baru saja keluar dari kamar dengan rambut yang setengah basah dan polesan natural dari wajahnya.
"Cantiknya istriku,"
"Sudah kubilang, jangan memanggil ku begitu!" sergah Metta.
Namun Farrel hanya tergelak lalu masuk untuk berganti pakaian.
Seorang pelayan mengetuk pintu dan Metta membukanya, "Permisi, kami mengantarkan barang anda yang tadi dikirimkan oleh keluarga anda kemari."
Metta mengernyit melihat dua koper sedang yang dibawa oleh pelayan itu, "Ini kan koperku."
Lalu pelayan itu pun keluar, dan menutup pintu. Farrel yang baru saja keluar dari kamar terheran melihat istrinya itu hanya berdiri didepan pintu.
"Kenapa?"
"Ini koperku, kenapa ada disini ya ... pelayan tadi bilang koper ini diantarkan oleh keluarga kita kesini. Siapa?" ujar Metta yang masih kebingungan.
Farrel menarik koper itu kedalam kamar, lalu menumpuknya disudut kamar. Tanpa membuka bahkan memeriksa isinya.
"Mac tadi yang mengantarkan, bahkan menunggu lama didepan pintu. Karena menjadi jamuran menunggu kita, jadi dia menitipkannya." ucapanya kembali keluar kamar.
Mereka lalu duduk di sofa diruangan tengah, Metta pun mengecek ponsel yang sedari kemarin diabaikannya, puluhan pesan dan panggilan juga ada, ucapan selamat foto- foto saat acara resepsi dan masih banyak lagi dia terima. Metta hanya senyum dan menggeleng kan kepalanya tanpa ingin membalas pesannya.
Sedangkan Farrel membuka pintu saat pelayan hotel mengantarkan makan siang yang diantar lebih cepat.
Pelayan mengganti menu sarapan pagi yang belum tersentuh itu dengan makanan yang baru saja dia bawa.
"Sudah selesai, silahkan menikmati." ucapnya pada Farrel.
Farrel mengangguk dan memberikan tips pada nya sesaat kemudian, lalu dia berjalan mendekat pada Metta yang tengah memeriksa kopernya.
"El, kita mau kemana sih? Kenapa banyak sekali, dan ini astaga. Kenapa ada barang begini didalam koperku." ujar Metta mengeluarkan kain tipis seperti jaring ikan.
"Pasti bunda yang menyiapkannya," ucap Farrel.
"Bunda? Kenapa bunda yang menyiapkan semua, bahkan baju untukku?"
"Hem, tentu saja!" ucap Farrel.
"Ayo lebih baik kita makan dulu, yuk."
Farrel menarik tangan Metta yang masih mau melihat baju-baju baru bahkan yang barcode tag nya masih terpasang.
Mereka kini terduduk menikmati makan siang yang terlalu cepat, setelah adegan demi adegan dari semalam yang membuat tubuhnya merasa lemas dan lapar.
"Sayang pelan-pelan," ujar Farrel, tidak akan ad yang merebutnya dari mu.
"Aku lapar El ...kau yang membuat ku tidak bisa makan tepat waktu." sungutnya pada Farrel.
Farrel tergelak, "Apa kakak tidak menyukainya? Kulihat kakak juga menikmatinya,"
Farrel kembali tergelak, sementara Metta sudah mendelik kearahnya, "Benar kata Nissa, kakak ini emosian!"
Farrel kembali tergelak, kali ini mencubit oioo Metta dengan lembut, "Aku bercanda sayang."
Metta mendengus kasar lalu menyambar tissue dari tempatnya, namun kali ini tissue itu tidak selembut biasanya,
"Apa ini? Kenapa ada ditempat tissue," ujar Metta yang menarik terus tissue keras itu.
Lalu dia membalikkan bagian yang satu nya lagi, dan terbelalak, " Apa ini El?"
__ADS_1
Kedua bola mata Metta terbelalak, "Tiket perjalanan honeymoon?" Farrel mengangguk,
"Ke negara A?"
Farrel kembali mengangguk, "Surprise...."
"Astaga ...." Metta menutup mulutnya tidak percaya.
"Surprise lagi? Astaga kamu terlalu berlebihan El, semua ini pasti menguras habis uang mu," imbuhnya lagi.
Farrel tergelak, "Itu hadiah dari bunda,"
"Benarkah?"
Farrel kembali mengangguk lagi, "Benar, jadi kita harus siap- siap karena waktu keberangkatan 2 jam dari sekarang."
Metta kembali membelalak, "Kau bener -bener konyol El, mana mungkin, sedangkan kita saja belum apa-apa! Aku bahkan belum memberitahu ibu,"
Farrel meraih tangannya, lalu mengecupnya, "Tenang lah, semua sudah beres, jadi kita tinggal berangkat saja dari sini."
"Kau benar-benar konyol ... bahkan sangat konyol."
Farrel terkekeh, "Sekarang habiskan makananmu! Setelah itu kita bersiap-siap,"
Tak lama kemudian seseorang terdengar mengetuk pintu, Farrel membukanya, Mac dan Doni terlihat berada disana lalu Farrel mengajaknya masuk kedalam.
"Masuklah...."
Mac dan Doni pun masuk, terlihat kedua mata Doni menyusuri ruangan demi ruangan dengan mulut menganga.
"Heh... ini sih udah gak usah lagi pergi honeymoon, disini saja juga cukup." ujarnya dengan mata yang tak berkedip.
Lalu Doni menganggukkan kepala pada Metta, "Hai, kakak istri nya El."
Lalu Mac menyerahkan amplop kuning kepadanya, Farrel membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kunci. Dia memberikan nya pada Doni.
"Berhubung kamu sudah berhasil, nih janji ku." Ucap nya dengan menyodorkan nya pada Doni.
Doni menatap heran, "Apa ini Rel?"
"Buka saja? Kau juga tahu ... nanti setelah kalian mengantarkan mu, Mac akan mengantarmu." ujarnya.
Doni membuka nya dan kembali terbelalak, "Ini kursi apa?"
"Pura-pura bo doh!!" kata Mac dengan ketus.
Doni menatapnya nyalang, "Kau diam saja! aku tidak bertanya denganmu, dasar lampu taman!!"
Mac hanya berdecih, dia sama sekali tak berniat meladeni Doni. Mac memilih untuk duduk di sofa single yang menghadap kaca besar, hingga menampilkan gedung-gedung tinggi.
"Tapi ingat, jangan berbuat macam-macam di Apartemen itu." Sentak Farrel memberi peringatan dengan tegas.
"Siap bos!!" ucap Doni.
Metta yang sedari tadi hanya diam memperhatikan suaminya dengan Doni. Dia tetap terduduk.
Tak lama kemudian, Mac yang sedari tadi melirik jam yang berada di tangannya, "Waktu nya pergi Mas."
Farrel mengangguk, lalu menghampiri Metta, "Ayo pergi."
Metta terperangah, "Ini beneran?"
__ADS_1
"Tentu saja, ayoo." menggandeng tangannya.
.
.
Mereka berjalan keluar dari hotel, lalu masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh Mac. Doni berada disamping kemudi bersama Mac, sedangkan Farrel dibelakang dengan Metta.
"Aku mau telepon bunda dulu, habis itu ibu!" ujar Metta saat dirinya baru saja mendaratkan dirinya.
Farrel mengangguk, "Oke kita telepon mereka sebelum take off."
Dreet
Dreet
Ponsel Metta berdering, dia merogoh ponsel didalam tas, menampilkan nama Bunda disana.
"Bunda..., aku baru saja mau menelepon."
"Sha, sudah mau pergi yaa?"
"Iya Bun, terima kasih banyak bun."
"Sama-sama, semoga kalian pulang bawain bunda cucu yaa, bilang sama suami mu ....hehe anak nakal itu sudah jadi suami! Oh iya sampai lupa, mau bilang apa ya bunda...."
'Bunda kebiasaan, udah deh mereka mau pergi. Jangan di bebani hal-hal berat dulu, belum juga sehari!'
Suara Ayah Arya terdengar disebrang sana.
Membuat Farrel terkikik lalu menggelengkan kepalanya, "Dasar bunda...."
"Ya sudah kalau begitu, take care disana yaaa... kalau anak itu macam-macam bilang bunda yaa,"
"Iya bun...."
Tut
Sambungan teleponpun berakhir, Metta kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
"Oh iya Doni, aku mau tanya. Kemaren itu kan pelatihan Andra dipercepat katanya karena tim mereka diikut sertakan di ajang kompetisi nasional ya? Kok bisa....?"
Glek
Doni menelan saliva, begitu juga Farrel yang berada disamping Metta, dia menatap Doni yang meliriknya dari spion.
"Iy--iya itu karena ...."
"Kakak aku ngantuk, usap-usap kepalaku yaa." sela Farrel dengan menyandarkan kepalanya di bahunya.
Metta mengusap kepala Farrel, "Doni? Jadi katanya kenapa tim kalian...Ya aneh aja! Soalnya di prosedur nya kan jadwal sudah ada, bahkan tiket pulangpun sudsh disediakan, masa panitia merubahnya begitu saja, rugi dong Doni, iyaa gak sayang?"
"Hah...kok tanya aku, aku gak tahu apa-apa sayang!"
"Tapi kan kamu yang mendanainya? Memang nya kamu gak rugi? Enggak hah...."
Glek
.
.
__ADS_1
Jangan lupa yang belum tahu, mampir juga ke novel ke 2 author yaa, Dinda sama Alan ada disana. eh