Berondong Manisku

Berondong Manisku
Salah memilih lawan ( Astaga, mimpi)


__ADS_3

"Farrel.."


" Aahhkk..


" Farrel...


"Aaaahhkkk..kakaaak"


Suara Metta terdengar semakin jelas.


" Farrel.."


" Farrel, hei "


Bruukk...


Tubuh Farrel terjungkal, dengan posisi tengkurap, menekan sesuatu dibawah sana yang menegang hingga terasa sangat sakit.


" Aawww.."


" Astaga.."


" Farrel..."


Kedua manik itu mengerjap ngerjap melihat sekeliling, Metta kaget dan langsung berhampur mendekati nya,


" Kamu kenapa, mimpi apa sih?"


Mimpi....


" Jadi hal luar biasa yang terjadi barusan hanya mimpi?, serius hanya mimpi?"


Farrel hanya mematung, sungguh tak bisa di mengerti. " Bisa bisanya semua itu hanya mimpi, tapi rasanya... "


" Astaga, hanya mimpi!"


Farrel mulai melihat kearah Metta yang ikut berjongjok, memegang bahunya dengan mulut komat kamit, apa yang kakak....?


" Erangan tadi, ******* kakak tadi, tubuh yang meliuk liuk, deru nafas kakak "


Farrel seperti sedang berada di dimensi lain, dengan dikelilingi putaran mimpi nya yang baru tiba tiba buyar begitu saja.


Metta mengacungkan tiga jari nya tepat berada di depan wajah Farrel.


" Hei, lihat jari ku? ada berapa jari ku? "


" Lima "


" Bodoh!"


"Kalo ini berapa?" melipat dua jarinya dan mengacungkan sisanya.


" Tidak ada"


Metta mendesis mendengar jawaban Farrel yang seenaknya, bahkan wajah nya masih terlihat tak karuan dengan pandangan yang kosong.


" Ini berapa?" Metta mengulang pertanyaannya, hanya ingin memastikan Farrel.


" Tiga " Farrel menjawab pertanyaan Metta dengan asal.


" Bodoh malah kebalik!"


" Kau mungkin bermimpi bertemu setan yang menyedot jiwa mu sampai kamu gila seperti ini"


"Iyaa benar aku mimpi bertemu setan yang sangat cantik." sahutnya masih dengan mata yang masuh tetap kosong.


" Kau benar benar sudah gila "


" Iyaa dan kakak yang membuatku gila." batin Farrel.


" Sialan cuma mimpi "


Metta terlihat mengibas ngibaskan tangan di wajah Farrel.


" Apa sih kak?"menghempaskan jari Metta, kemudian beranjak dari posisinya, menahan rakit yang teramat mendaratkan tubuhnya di sofa.


Entah kenapa dia merasa kesal, mengacak ngacak rambutnya yang sudah berantakan.


" Kamu mau terus begitu, cepat bangun aku hampir telat "


Namun Farrel masih betah dengan posisinya.


" Cx Dasar aneh.." Metta meleos dari hadapan Farrel.


Farrel memijat lembut keningnya sendiri, bayangan mimpi nya berputar dikepala.


" Kak.."


" Hem..ada apa? "


" Enggak.." Farrel ragu untuk mengatakan nya. Sungguh Farrel merasa menjadi orang bodoh.


" Hari ini aku ada pekerjaan dan ini hampir terlambat, semua gara gara kamu! Tidur sudah seperti mayat saja, berkali kali aku bangunin.

__ADS_1


" Aku tertidur?"


" Iya tidur, kamu pikir apa? Tamasya.."


" Kakak ini galak sekali, semua juga salah kakak!"


" Salahku..?"


" Kalo aja kakak tidak menggodaku, aku tak akan begini."


" Kapan aku menggodamu, kau sudah gila"


" Aku benar benar gila padamu kak" Batin Farrel yang berlalu ke kamar mandi.


.


.


"Astaga, gue bener bener sudah gila "


Farrel membasuh wajahnya dengan kasar, hingga membasahi baju nya sendiri.


Cukup lama Farrel berada di kamar mandi, dirinya hanya diam memandangi bayangan diri didepan kaca.


" Kau bodoh atau apa hah?" Farrel bertanya pada dirinya sendiri.


" Apa kau sungguh mencintainya?"


" Hanya karena ini mimpi, kau begitu kesal"


" Kau ingin semua jadi kenyataan?"


Farrel menghembuskan nafas.


" Oke Farrel ini hanya mimpi, ingat hanya mimpi!"


Dor..


Dor..


" Hei, kau masih hidup?"


Suara Metta mengedor pintu kamar mandi.


Farrel membuka pintu tepat saat Metta hendak menggedor pintu lagi, hingga tangan Metta akhirnya menggedor tepat di dada Farrel.


" Ah, kakak sakit sekali"


" Kakak akan ke kantor?"


" Hem, urusan ku belum selesai disini "


" Mungkin besok aku bisa pulang."


" Apa kakak yakin?"


" Yaa, mau bagaimana lagi! ini tanggung jawabku"


" Apa kakak ingin aku semangati"


Metta mengernyit kan dahinya saat melihat Farrel mengangkat tangan nya ke udara.


" Kakak ayo semangat" ucap Farrel dengan semangat.


Metta menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat apa yang dilakukan Farrel.


.


Sementara ditempat lain, Alan murka setelah mendapat laporan tentang apa yang terjadi dari anak buahnya.


Giginya bergemelatuk menahan amarah, mengepal tangannya yang ditekannya diatas meja


" Panggil dia kemari "


" Baik bos.."


.


.


Hendra tersentak, melihat 2 orang tak dikenalnya menghadang pintu saat dia keluar dari kamar.


" Siapa kalian?"


" Mau apa kalian?"


" Cx, kami tidak suka orang yang banyak bertanya "


Mereka pun menggiring Hendra, membawanya ke hadapan Alan.


" Bos, dia sudah datang "


Alan yang sedang memeriksa pekerjaan nya berhenti dan berdiri dengan tatapan tajam.

__ADS_1


" Rupanya kau sudah bosan hidup."


" Aaa...pa...?" Hendra tergagap.


" Kau mau bermain main dengan ku?" ucap Alan dingin.


" Ap.. a..pa Mak..maksud anda "


" Cih, masih tidak mau ngaku "


" Katakan sendiri atau ku bongkar semua?"


" Ak..aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan Pak."


" Cih, brengsek "


Alan melempar berkas tepat diwajah Hendra.


Sementara Hendra terlihat ketakutan, terbongkar sudah kelicikan nya selama ini.


"Lihat itu semua brengsek, masih belum mengaku juga?"


Hendra terperanjat kaget, ditekuknya wajah nya sedalam dalamnya.


" Sialan, aku katahuan secepat ini"


Dengan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku, Alan berjalan mendekati Hendra. Tepat berada didepan Hendra tangan Alan terulur merapihkan kerah kemeja Hendra.


" Kau salah memilih lawan" ucap nya dingin.


Tubuh Hendra bergetar, dia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.


Sementara salah satu anak buah yang di utus mencari Farrel kini kembali.


" Bos, " panggilnya.


" Katakan" ucapnya dengan dingin.


Terlihat Anak buah nya mendekati dan berbisik di telinga nya.


" Ternyata orang ini juga yang memberi masalah pada tuan muda"


Darah Alan semakin bergetar setelah mendengar laporan Anak buahnya tersebut.


" Kau bahkan mencari masalah dengan adikku?"


Bugghh...


Alan memukul Hendra tepat di wajahnya.


" Katakan brengsek?"


Brug...


Hendra meringis, memegangi wajahnya yang semakin perih, luka yang diberikan Farrel saja belum sembuh, kini harus bertambah dengan pukulan tanpa ampun dari Alan.


" A..aku minta maaf!"


" Cih, kau pikir ini akan selesai??"


Alan mengelap tangan nya yang terkena darah Hendra.


" Seret dia dari sini " teriak Alan pada anak buahnya yang sedari tadi diam mematung, menanti perintah.


" Anak- anak akan senang hari ini ". Alan berseringai.


" Tidak..tidak kumohon maafkan aku "


" Aku akan memperbaikinya"


Sementara anak buah Alan yang berjumlah 3 orang itu benar benar menyeretnya.


" Hei, lepaskan aku aku mohon"


Mereka enggan mendengarkan Hendra dan terus menyeretnya keluar.


Henda begitu takut, jauh sebelum nya memang sempat terdengar santer bahwa Alan yang kejam itu sering kali menjadikan orang yang bermain main dengan nya menjadi makanan buaya, yang dia sering sebut anak anak.


Namun desas desus itu menghilang sendiri nya dan dianggap sebagai lelucon diantara karyawan yang menganggap Alan berlebihan. Namun kini Hendra tau bahwa mungkin saja desas desus itu benar adanya.


.


.


🍁🍁


Gimana..gimana😂


Maafin yaa🤗 cuaca berubah😂


Jangan lupa like dan komen nya yaa supaya aku tambah semangat.


Terima kasih😘

__ADS_1


__ADS_2