Berondong Manisku

Berondong Manisku
Obrolan Tiga perempuan


__ADS_3

"Bu, sudah siap?" Tanya Metta yang menyembulkan kepalanya dibalik pintu kamar ibunya yang tengah bersiap-siap di kamarnya.


Sri yang tengah memoles wajahnya yang ayu menolehkan kepalanya, "Sebentar lagi sayang."


Metta masuk kedalam kamar ibunya, dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Memperhatikan ibunya yang kali ini tengah mengoleskan lipstik tipis-tipis pada bibirnya.


Lalu Sri tersenyum pada kaca yang memantulkan anak sulungnya yang tengah menatap kearahnya. "Apa yang kau fikirkan Sha?"


Metta menghela nafas, padahal dia belum mengucapkan apa-apa namun sang ibu seolah dapat menebak apa yang tengah berseliweran difikirannya.


"Bu, apa yang ibu rasakan saat pertama kali melihat ayah dulu?"


Sri berbalik dan bersandar pada meja rias, "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"


Metta mengerdikkan bahunya, "Aku hanya ingin tau, seberapa yakin Ibu saat menerima pinangan ayah!"


"Ibu ini dijodohkan Sha, mau tidak mau, yakin tidak yakin Ibu harus menjalaninya, meskipun pada awalnya sangat berat, karena ibu tidak mengenalnya," ucap Sri yang kembali berbalik dan merapihkan kembali riasannya.


Metta kembali menghela nafas, Sri tersenyum melihatnya, "Apa yang kau risaukan Nak, apa kamu tidak yakin dengan nak Farrel?"


"Dia itu masih kekanak-kanakan bu, sikapnya kadang tidak aku mengerti, apa aku bisa kedepannya?"


Sri menghampirinya dan duduk disamping Metta, "Tapi sifatnya itu hanya dia tunjukan padamu saja Sha, dan keluarganya saja, harusnya kau juga melihatnya, bagaimana mungkin dia bisa berada diposisinya saat ini jika dia pun bersikap seperti itu dikantor, ketika bertemu dengan banyak orang ataupun saat dia mengurus pekerjaannya!"


Metta memicingkan matanya,"Ibu ternyata lebih jauh mengenalnya daripada aku,"


"Dari awal Ibu sudah bisa melihat kepribadiannya Sha, dia itu anak baik, dan sangat menghormati orang lain, bahkan dia meminta maaf pada ibu atas prilaku kedua orang tuanya jauh sebelum orang tuanya sendiri yang meminta maaf," Sri mengelus bahu Metta.


Metta mengernyit,"Benarkah? kenapa ibu tidak mengatakannya padaku?"


Sri bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke lemari dan membukanya, " Dia memperlakukanmu dengan baik Sha, dan yang paling penting dia menerima kamu dan juga kami dengan baik, tidak kah itu cukup untuk meyakinkanmu?"


"Iya bu ...."


"Lantas apa yang kau takutkan lagi? sifatnya yang kekanak-kanakan?"


Metta tertawa, "Dia sangat manja bu!"


Sri menggelengkan kepalanya, " Memangnya kamu mau dia manja sama teman-teman kamu juga?" goda Sri.


"Iiih...Ibu!"

__ADS_1


Tok


Tok


Nissa masuk setelah mengetuk pintu, "Bu, kak ayo gimana sih malah mengobrol disini berdua, aku nungguin didepan sampe kering ini,"


Metta bangkit dan merangkul adiknya, " Memangnya kamu cucian dek, kering segala!"


"Kak... bang Farrel diajak gak?"


Metta menggeleng, "Enggak, udah biarin aja! memangnya kenapa harus diajak segala,"


"Iiih, kakak! Kan gak boleh gitu, dia kan calon kakak ipar aku," Nissa terkikik.


Metta menyenggol adiknya, "Apaan sih, adik kakak ini segitunya belain dia,"


"Kakak tahu gak, gimana bang El ingin kakak bahagia, bahkan dia ingin mengajak kakak ketempat yang kakak belum pernah kunjungi, hahahha padahal waktu itu juga aku dan bang Andra sempat mengerjainya! Kurang baik apa coba dia pada kakak yang pemarah ini," Seketika Nissa menutup mulut embernya.


Metta membelalakkan matanya, teringat sel yang mengajaknya ke tempat-tempat yang memang ingin dia kunjungi.


"Jadi kalian, sumbernya?" Pekik Metta, dan Nissa berlari keluar dari kamar dengan berteriak.


Sri menggelengkan kepalanya. "Ayo kita pergi ...."


.


.


Mereka bertiga akhirnya berangkat ke gedung studio game tempat diadakannya ajang kompetisi Esport yang diikuti oleh Andra, mereka ingin melihat sekaligus memberi dukungan penuh pada satu-satunya laki-laki dalam keluarga mereka.


Mereka masuk kedalam setelah beberapa pemeriksaan dipintu masuk. Ajang bergengsi yang cukup besar ini diikuti oleh banyak orang dari berbagai kota. Olahraga elektronik yang sedang berkembang pesat ini selalu menghasilkan calon-calon atlet yang akan direkrut oleh IeSPA (Indonesia esport association) salah satu Atletnya adalah Doni, dan Andra memang sangat berharap bisa masuk dalam kategori dengan kemampuan yang terus dilatih.


Mereka bertiga duduk, menyaksikan jejeran layar monitor di depannya bak layar bioskop, yang menampilkan gamer-gamer yang tengah diikutkan dalam ajang tersebut. Dan disatu sudut ada Andra yang tengah fokus dengan game Free fire.


Dan Donipun ada disana, berada dijajaran Atlet yang menjadi salah satu juri. Tengah sibuk berbicara melalui Headphone yang terpasang di telinganya. Dengan sesekali melirik kearah Andra yang tengah fokus.


Sorak sorai mulai terdengar memberikan dukungan dan semangat pada masing-masing peserta yang mereka dukung. Semarak dengan memanggil nama-nama mereka. Begitu pula dengan ketiga perempuan berbeda generasi itu, mereka memanggil Andra memberikan semangat.


Hingga Andra melihat kearah mereka dengan senyuman yang mengembang tercetak dalam bibirnya, lalu mengangguk dengan haru.


Nissa yang berdiri heboh meneriakkan nama kakak laki-lakinya seketika terhenti saat ada yang menepuk pelan bahunya, saat dia menolehkan kepalanya, dia melihat Farrel yang sudsh berada disampingnya dengan telunjuk yang ditempelkan di mulutnya.

__ADS_1


"Sutthhh...."


Nissa melirik kearah Metta yang tengah fokus melihat layar di depannya, lalu dia kembali melihat Farrel.


"Abang ada disini juga, sejak kapan?" bisiknya.


"Baru saja! kamu geser kesini gak apa-apa yah, kita tukar tempat duduk!" ucap Farrel.


"Iiih, Abang mau bikin kaget kak Sha ya...."


Farrel mengangguk lalu mereka bertukar tempat tanpa disadari oleh Metta. Hingga Farrel duduk disampingnya, Nissa kembali heboh dengan meneriakkan nama Andra.


"Nis ... minum!"


Metta memberikan botol minum pada Nissa tanpa melihatnya, hingga Farrel terkikik menerima botol minum itu dari tangan Metta.


"Kak, minta camilan!" teriak Nissa disamping Farrel,


Mettapun memberikan camilan yang berada di tangannya kearah samping, Farrelpun juga menerimanya, lalu diberikan pada Nissa.


"Terima kasih bang," Farrel mengangguk.


Setelah beberapa saatpun Metta masih belum menyadari keberadaan Farrel, begitupun ibunya, mereka berdua terlalu fokus dengan layar monitor di depannya.


Jari-jemari Andra dengan lihai bergerak mengandalkan motorik halusnya, intelektual dan juga logikanya saat memainkan game tersebut.


"Nis antar kakak ke toilet, kakak mau pipis." ucap Metta yang langsung menarik tangan adiknya dan langsung bangkit dari duduknya. Namun Metta menolehkan kepala saat tangan yang dia kira Nissa itu terlalu kuat dan juga lebih kekar daripada tangan adiknya.


"Kau....?"


Farrel terkekeh menatap Metta yang kaget. "Hai ...sayang,"


Metta mengedarkan kepalanya, "Sejak kapan kau berada disini?"


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa.


Terima kasih buat semua dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2