Berondong Manisku

Berondong Manisku
Hari Terakhir di negara B


__ADS_3

"Kau curang, kenapa pulang besok?" ujar Metta dengan suara serak khas bangun tidur.


Farrel tersentak karena Metta yang tiba-tiba bangun. "Sayang, kau sudah bangun?"


"Sudah, makanya aku tahu kau menelepon Doni untuk menjemput kita besok." Metta mengucek-ngucek mata.


"Memang kita harus pulang besok kan!Kita sudah 2 minggu berada disini,"


"Iya, nyebelin, kau mengurungku di kamar ini seminggu, seminggunya kita hanya keluar untuk melihat museum dan makan malam saja!"


Farrel merengkuh kepalanya dan meletakkannya dilengannya sebagai bantal, " Kan 3 hari terakhir kakak kelelahan, lalu saat malam kita terjebak karena ada badai, baru hari ini cuaca kembali cerah."


"Alasan ..." ucapnya membalikkan tubuhnya.


Farrel tergelak, dia semakin leluasa menciumi tengkuk Serta leher Metta turun ke bahu polos, "Memangnya kakak mau kemana? Hem...."


"Iihh... geli!"


"Cuaca berubah drastis, badai ada dimana-mana, makanya kita tidak bisa kemana-mana."


Farrel kembali mencium pipi dan leher lalu beralih ke telinga Metta.


"Iiihh...."


Metta membalikan tubuhnya kembali, lalu memukul dada suaminya dengan geli- geli yang menyerangnya.


"Kau kan yang mengajakku, kenapa malah bertanya padaku."


Farrel melingkarkan tangannya, "Bagimana kalau kita mengulangi yang semalam saja, hem?"


"Astaga ... Apa kau tidak lelah?"


Metta menyibakkan selimut lalu dinaikannya hingga menutupi wajah Farrel, yang hanya tergelak lalu menyusup ke ceruk leher Metta.


"Iiihh...El ayo dong! Aku mau jalan-jalan. Ini hari terakhir kita disini, ayo!"


Metta bangkit terduduk, menarik-narik tangan Farrel yang masih terbaring.


"Ayo ... tapi kita periksa dulu tempat yang tidak ada badai ya!"


Metta mengangguk, lalu sekilas mencium bibir Farrel, "Aku mandi dulu."


Sementara Farrel menarik bibirnya tipis, "Kakak jadi sangat manja setelah menikah? Lucu sekali."


Lalu dia menyusul istrinya masuk kedalam kamar mandi dengan desain sengaja tidak ada kunci di pintunya. Dan dipastikan mereka akan mandi dengan lama.


.


.


Setelah mencari tahu cuaca hari ini dipastikan akan cerah, mereka baru turun dari kamar hotel, menuju tempat yang wajib dikunjungi oleh turis jika datang negara ini. Namun mereka harus menggunakan kereta agar bisa sampai kesana.

__ADS_1


"Aku akan menukar dulu uang, takutnya disana kita kesulitan." ujar Farrel yang berjalan menuju money changer yang terletak tidak jauh dari hotel mereka menginap.


Farrel kemudian mengantri, sedangkan Metta menunggunya di kursi yang berjejer. Sesekali Farrel menoleh pada Metta yang tengah bermain ponsel, Hingga akhirnya dia selesai menukar uang dan menghampiri Metta yang tengah asik bermain game cacing.


Farrel meletakkan dagunya di bahu Metta, "Main apa sih? Seru banget ...."


"Kau sudah selesai? Ayo kita pergi!" Metta berhambur keluar sementara Farrel menggelengkan kepalanya, lalu menyusulnya.


Mereka berjalan menyusuri jalan dengan penuh bangunan artistik yang luar biasa. Memanjakan mata dengan keindahannya.


Mereka tiba di salah satu bangunan bersejarah yang cantik dan unik, dengan ukiran-ukiran dan patung yang sangat unik, yang dibangun sekitar tahun 1888 untuk suatu pameran dan menjadi landmark negara itu hingga sekarang.


Metta terperangah, kota ini hanya menjadi angan-angan saja dulu, namun sekarang dia ada disana. Luar biasa bukan?


"Ini belum seberapa!" Ucap Farrel dengan mencium pipi Metta lalu berlari dengan berteriak.


Mettashaaaa i looovvee youuuu


"Astaga memalukan sekali."


Lalu Farrel tergelak, dia menyusulnya dengan ikut berlari, mencubit pinggang suaminya itu hingga meringis, "Malu tahu iiih...."


"Masih malu aja!" Tangan Farrel melingkar dipinggang.


"Iya ... malu dan tetap malu, iihh!!" menggusel kedua pipinya.


Mereka kembali berjalan, memasuki pusat kota yang dipenuhi pepohonan sepanjang 1,2 meter, kawasan distrik dengan banyak gerai toko dan bangunan unik membentang disepanjang jalan ini, berbagai jenis camilan dan makanan beragam ada disana, souvenir, dan kebanyakan produk lokal banyak dijual di sini.


"Aku mau lihat itu?"


Metta berlari kecil menghampiri salah satu gerai souvenir. Dia memilih dan memilih souvenir hingga kebingungan sendiri menentukan pilihannya sendiri.


Sementara Farrel berada dibelakangnya dengan membawa camilan dan menyuapkan nya kedalam mulut Metta.


"Apa itu? Rasanya mirip kentang," ujarnya dengan mengunyah.


"Namanya patatas bravas, dan ini memang keripik kentang yang dilumuri oleh saus spesial. Enak?"


Metta mengangguk dengan kembali membuka mulutnya saat Farrel menyuapkan nya. "Enak sekali!"


"El ... aku pilih ini atau ini?" Ujarnya sambil menunjukan satu gantungan berbentuk huruf dan satu lagi bergambar kucing yang menjadi khas dengan tulisan dibawahnya.


"Ambil dua-dua nya saja!" Farrel yang terus memasukan camilan nya kedalam mulut Metta yang tengah bicara.


"Iihh...Kau ini malah membuatku semakin bingung." Mengunyah lagi.


Farrel membuka bungkusan kedua yang berisi camilan yang tak kalah enak dari yang pertama.


Metta meletakkan kembali lalu menghampiri pelukis jalanan yang tengah membuat karikatur wajah seseorang. Farrel menyuapkan tusukan pertamanya ke dalam mulut Metta.


"Aa aa..."

__ADS_1


"Kakak ingin dilukis?" tanyanya.


Metta menggelengkan kepalanya, lalu menjumput hidung Farrel. "Aku sudah punya pelukis pribadi."


Mengunyah lagi,


"Apa ini?"


"Jadi kakak ingin aku melukis wajah atau ....." Goda Farrel.


"Aku tanya ini apa? Jawab dulu, malah mikirin yang enggak-enggak." ujarnya dengan mencubit pinggang.


Farrel lagi-lagi tergelak, "Xipirons... Enak kan?"


"Hmm..seperti cumi rasanya."


"Istri siapa sih, pinter banget. Ini Memang cumi kecil yang digoreng sampai renyah."


Metta menusuk sendiri camilan itu, "Ini enak sekali," lalu menyuapkan kedalam mulut Farrel, dia membuka mulutnya menyambut suapan, namun Metta dengan sengaja menariknya dan menyuapkan nya sendiri.


"Aku duluan," lalu tergelak sambil mengunyah.


"Iihh dasar sengaja balas dendam!" ujar Farrel yang terus merengkuh bahu Metta.


"Makanya jangan ngomong sembarangan terus!"


"Aku gak sembarangan, aku hanya bertanya kakak mau dilukis wajah atau...."


Metta berkacak pinggang, " Iya setelah kata atau apa? Kau membuat imajinasi kearah situ kan?"


Mereka berdua tertawa,


"Kakak senang?"


Metta mengangguk, lalu kembali menyuapkan camilan kedalam mulutnya dan mengunyahnya.


"Kalau gitu, cium pipiku!" goda Farrel dengan gemas.


"Tidak mau, mulutku bau cumi." ujar Metta dengan mengunyah.


Farrel kembali tergelak, " Kalau gitu kakak ganti 2 kali lipat nanti malam!"


Kedua manik Metta membulat seketika, lalu dengan paksa memasukkan camilannya kedalam mulut Farrel. "Dua kali lipat apa maksudmu!"


Lalu melepaskan diri dengan tertawa. Perjalanan mereka sampai di Air mancur terkenal, yang konon sering dipakai atau disebut air minum kucing, dengan beberapa bangunan artistik lainnya yang tidak kalah unik.


Sepanjang perjalanan, mereka terus tertawa, dengan saling menggenggam, merengkuh dan Farrel yang sering mencuri ciuman di wajah Metta meski pun dia risih, perlakuan didepan banyak orang yang membuat nya malu sendiri.


"Tidak ada yang peduli juga, kenapa malu!" ujar Farrel.


"Tetap saja, iiihh ..."

__ADS_1


"Ya udah, kita kembali ke hotel." Goda Farrel yang membuat Metta kembali membulatkan kedua matanya.


__ADS_2