Berondong Manisku

Berondong Manisku
Obat manjur 2


__ADS_3

"Kamu beneran udah gak kesel lagi?" Tanya Metta saat Farrel menutup pintu Apartemennya.


"Udah enggak, sedikit sih!" Farrel mengeratkan gigi putihnya yang berjejer rapi ke arah Metta


Metta mencubit pelan pipi Farrel, "Apa sih? Udah engga tapi sedikit lagi!"


"Hari ini aku sepertinya bakal pulang terlambat, Jangan tunggu aku yah! kakak makan dan tidur duluan saja," ucap Farrel teramat serius mengacak pelan rambut Metta.


"Hah ... apa? gimana...."


Farrel tergelak, "Aku hanya sedang latihan, kita bangun di ranjang yang sama, aku turun saat bau harum dari sarapan yang kakak buat dibawah, terus aku dapet morning kiss, terus lagi kita sarapan bareng sambil tertawa, Lalu akan keluar bersama dan pergi ke kantor juga bersama, terus i-iitu...."


Metta menginjak kaki Farrel hingga meringis, "Kakak...."


"Syukurin, jam segini masih ngayal aja," Metta menghentakkan kaki kemudian berbalik pergi namun bibirnya bergetar menahan senyum.


"Memangnya kenapa? gak ada yang salah juga...." ucap Farrel menggelengkan kepalanya dengan gelak tawa.


Ada bagusnya dia kesel seperti tadi, gak banyak ngomong dan juga konyol seperti itu. Pake latihan segala, benar-bener deh. Metta buru-buru berbalik agar Farrel tak melihat wajahnya kian merona dan tersipu.


"Sayang jangan marah dong," ucap Farrel menyamakan langkahnya.


"Tau ah ... Nyebelin!" Metta mencebikkan bibirnya namun tak juga menolak rengkuhan Farrel di bahunya.


Mereka berdua kembali masuk kedalam mobil, menyusuri ruas jalan yang ramai menjelang sore hari, rentetan kendaraan yang saling memancing amarah karena bunyi klakson yang memekik telinga.


Kecuali satu kendaraan yang sepertinya menikmati perjalanan melelahkan raga ini menjadi perjalanan yang teramat menyenangkan.


Rasa kesal sedari tadi sudah berubah kembali, menguap bersama angin yang menggantikan nya menjadi rasa bahagia.


Berbanding terbalik dengan sosok yang kini lamat-lamat mengerucutkan bibirnya karena mulai kesal.


"EL ... udah deh jangan ngeliatin aku terus!" ucap Metta dengan tangan yang dia dekap di atas dadanya.


Dengan hati yang berdetak lebih kencang dari biasanya karena tatapan yang dia dapatkan dari Farrel yang semakin membuatnya salah tingkah. Ya betul meski mereka saling mengenal dan bertunangan hingga saat ini, perasaan itu semakin lekat dirasakan.


Berbeda perasaan yang dirasakan oleh Farrel, perasaan semakin dalam merongrong hatinya dan tak menyisakan ruang kosong disana. Metta, Metta, Metta, hanya di isi oleh Mettasha. Tak ada yang lain dan tidak akan bisa.


Metta ? Ah ... Perempuan berego tinggi itu tidak pernah bisa mendefinisikan apa yang dia rasakan. Yang dia tahu adalah akan kesal jika ada orang lain yang mencuri perhatian kekasihnya, akan marah jika tidak mendapat kabar, akan nangis diam-diam jika merasa kesal, dan akan bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Apa hal itu bisa dikatakan sama? Hanya Metta yang tahu, dia masih jago dalam kepura-puraan nya. Meski begitu Farrel lah orang yang paling mengerti keadaan, lebih peka dengan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh kekasihnya. So who is the most mature?( Siapa yang lebih bersikap dewasa).


"Aku gak sabar menunggu aku dan kamu jadi kita," imbuh Farrel menggenggam tangan Metta.


"Apaan sih!?" tangan nya kembali memukul lengan kekar nan keras itu, namun sudut bibirnya lagi-lagi terangkat ke atas.


"El mau ikut aku meeting atau langsung pulang!"


"Menurut kakak enaknya bagaimana?"


"Terserah kamu maunya apa?"


"Ya Sudah kalau gitu aku mau ke atas saja, sambil nunggu kakak selesai meeting biar nanti kita pulang sama-sama."


Metta mengerdikkan bahunya."Oke...."


Kalau aku ingin kamu ikut meeting bagaimana? Batin Metta.


Farrel hanya terkekeh lalu kembali menatap jalan lurus yang membentang di depannya. Sementara Metta masih merengut dalam diamnya.

__ADS_1


Mobil berhenti tepat didepan kantor divisi, "Aku turun ya, tempat meeting ku juga tidak jauh,"


Farrel mengangguk, "Aku tahu sayang...."


"Bye...."


Metta pun turun dan segera masuk kedalam ruangan dengan bergegas karena waktu meeting nya tidak lama lagi.


"Cx ... Gimana sih, kerja ditinggal-tinggal melulu," ucap Dinda yang sedari tadi sudah resah menunggunya.


"Kayak yang enggak pernah aja sih!"


"Males banget! udah gak, lagi...." Dinda mengerdikkan bahunya.


"Benarkah? Gak mungkin...." ucap Metta tak percaya.


"Terserah, udah gak penting lagi!"


"Wow... apa aku harus percaya? Sementara aku lihat tadi dia masuk kesini?"


"Dia!? Hellow Who is 'Dia' Sha? gak penting...." sungut Dinda dengan bola mata yang memutar malas , ditambah kerdikan di bahunya lalu bibir yang dicebiikannya.


"Duh segitunya... Dulu aja sesuka itu, sekarang dibenci ini, Sardin- Sardin!"


"Bodo amat ah, dah nih file yang kamu titip tadi sama berkas yang dari gudang udah ada dimeja!"


"Wow... tumben! Sepertinya memang kamu tuh harus bekerja dibawah kebencian, kerjaan kamu malah makin rapi dan beres tepat waktu,"


Dinda memukul lengan sahabatnya, "Sialan emang lu...."


Flash back on


Namun Farrel tak peduli, dia menggenggam tangan Metta dan terus menariknya.


Dinda yang tak sengaja melintas didepan mereka bergeleng kepala melihatnya,


"Ya tuhan...."


"Kau, bisakah kau handle pekerjaan nya sebentar aku ada sedikit urusan," ucap Farrel saat berpapasan dengan Dinda.


"Mau ada urusan besarpun aku tak peduli, pergilah. Kalian memang tidak peduli dengan perasaan aku yang masih sendiri ini!"


"Din ... nanti aku kembali! titip file sedang load yaa!" ucap Metta yang berjalan sedikit terseret.


"Terserah...." ucapnya malas lalu berbalik.


Namun sudut matanya menangkap sekelebat sosok. tegap yang baru saja masuk, Dinda menggelengkan kepalanya.


"Enggak Dinda, please Don't be stupid anymore!!" ( Jangan lagi bersikap bodoh)


"Tarik nafas, buang perlahan, tarik lagi." ujar nya dengan kembali ke meja kerjanya.


Sementara sepasang mata nyalang kearahnya, menatapnya dari jauh lalu pergi begitu saja dengan rahang yang mengeras.


"Bodoh...!" gumamnya sambil menutup pintu mobil dengan keras.


Flash back Off


"Ya udah aku meeting dulu ya...." pamit Metta dengan menjumput hidung Dinda dengan gemas.

__ADS_1


"Ishh...apaan sih! aneh banget...." menggosok hidungnya yang terasa gatal.


"Jangan cemberut aja, jodoh lewat gak kelihatan!" Metta terkekeh sambil berlalu meninggalkan sahabatnya yang semakin merengut.


Metta keluar dengan berkas yang dia bawa, berjalan melewati bahu jalan, Ya cafe tempat dia meeting masih satu area dengan perusahannya, masih bisa berjalan dan tidak memakan waktu lama.


Bayangaan sosok tegap terlihat mengikuti dari belakang. Metta memperhatikan bayangan itu dengan ujung matanya.


"Apaan sih iseng banget ...." gumamnya dengan kesal.


Hingga bayangan itu terus terasa semakin dekat dan terus mendekat. Dengan amarah yang membuncah Metta menoleh kebelakang.


"Gak usah iseng yaa!" ucapnya dengan tangan mengepal yang dia tinju kan.


"Ih... Nyebelin!" Metta semakin memukul lengan dan bahu yang ternyata orang yang mengikutinya itu adalah Farrel.


Farrel tergelak dan menangkap tangan Metta, " Iya...iya ini aku, maaf yaa...."


"Nyebelin tahu gak, gimana kalau tadi aku pukul kamu pake benda tajam atau apa gitu!" sungutnya.


"Katanya tadi mau keatas?"


Farrel mengangguk, "Aku mau nemenin kakak meeting! Mau kan aku temenin. Hem?"


Metta gelagapan saking senangnya, "Iya...mau..."


"Terus kerjaan kamu sudh beres semua?


"Sudah dong...."


"Alan?" Farrel menggeleng.


"Doni?"


"Enak saja! Emang udah aku beresin sebelum ke sekolah Andra kok. Alan cuma handle meeting, "


Metta menarik bibirnya keatas dan beroh ria. Farrel merengkuh bahu Metta dan berjalan masuk kedalam cafe. Lalu bertanya pada waiters mengenai apakah ada seseorang yang sudah menunggunya atau belum.


"Sudah Mba Sha, dia menunggu disebelah sana."


"Terima kasih yaa Anna." ucap nya pada Anna yang memang dia kenal sejak lama.


Mereka lantas kembali berjalan semakin masuk ke dalam hingga sampai pada meja dengan seseorang yang terlihat membelakangi.


"Permisi, dengan pak Ricko??"


Pria itu menoleh, "Betul, itu saya!"


Metta dan Farrel terbelalak saat mereka bertemu pandang.


"Kau...."


.


.



Cuma mau bilang terima kasih buat lope lope nya aku... tanpa kalian aku hanya sesuwir ayam dalam semangkuk bubur. Tanpa bubur apalah jadi nya suwiran ayam ini. Yang dilengkapi dengan bawang dan kecap manis..Uuuhh jadi laperr.

__ADS_1


__ADS_2