Berondong Manisku

Berondong Manisku
Calon tunangan


__ADS_3

"Jadi kakak sudah siap kan bertunangan denganku?" bisik Farrel di telinga Metta.


Membuat wajah Metta merona seketika, Astaga aku gak pernah semalu ini, kenapa aku yang malah yang kikuk, ini beneran kan? Metta bermonolog.


Wajahnya masih bersembunyi di balik dada Farrel, "Kak kenapa sih, ih... geli tahu!"


"Udah ah jangan terus dibahas, aku malu!"


"Dih, Kakak sangat pemalu dalam hal begini ternyata, hahaha ... ya ayo kita kembali kedalam."


Merekapun kembali kedalam, membuka handle pintu, terlihat Arya juga Ayu yang kelabakan, berpura-pura sibuk saat Farrel dan Metta berada diambang pintu.


Arya terlihat berjongkok seperti tengah mencari sesuatu di bawah kursi. Sedangkan Ayu membuka majalah yang berada di rak kecil, dan berpura-pura membacanya walaupun dengan terbalik.


"Sudah lah Ayah dan Bunda tidak usah berpura-pura lagi, aku sudah tahu, kalian sengaja kan menguping pembicaraan kami?" Sentak Farrel.


Ini Direktur Utama PT Adhinata yang terkenal sebagai pebisnis ulung, juga terkenal dimana-mana tapi bisa begini kelakuannya dirumahku, oh kamera mana kamera ingin sekali aku memotretnya. Metta menyunggingkan seutas senyumnya.


"Hey, Ayah dan Bunda tidak melakukan hal seperti itu." imbuh Ayu.


"Sudahlah, walaupun iya juga tidak apa, untuk apa juga memata,-matai anak sendiri, toh nanti juga tahu!" Arya silih menatap dengan Ayu,


"Iya ...iya... kami memang mengintip kalian tadi," Ayu terkikik.


.


Farrel menarik tangan Metta, kini mereka berkumpul kembali diruang tamu, Sri, kedua orang tua Farrel, dan juga Andra. Sementara Nissa sudah tertidur akibat kekenyangan.


"Bagaimana sudah kalian putuskan?" ucap Arya to the point


Semua menunggu jawaban, Metta menatap ibunya lalu beralih pada Andra. lalu menatap pria kecilnya yang tengah berdehem.


Ekhem


"Seperti yang Ayah dan Bunda dengar tadi,"


Arya dan Ayu silih menatap lalu tersenyum,


"Jadi beneran kamu sudah siap bertunangan Nak?"


Farrel mengangguk, lalu dia meraih tangan Sri, "Ibu, ijinkan aku menjaga kakak dan keluarga ini dengan sepenuh hati, restui kami bu," Farrel mencium punggung tangan Sri, dan seketika pelupuk mata Sri menghangat.


"Ibu sudah merestui kalian, terima kasih Nak!" mengelus bahu Farrel.


"Yah, anak kita ini dewasa sekali," gumam Ayu, Arya hanya mengangguk.


Sementara wajah Metta sudah memerah bak kepiting rebus menahan malu, juga perasaan bahagia yang bercampur haru. Melihat Farrel bersikap seperti itu dihadapan ibunya.


"Baiklah, kapan waktunya yang pas kira-kira?" tanya Ayu antusias.


"Minggu ini bagaimana Jeng?" imbuhnya lagi.


Sri menatap Metta, dia malah semakin menunduk menahan malu, sementara Farrel menarik bibir keatas, melihat Metta yang semakin malu-malu dan menggemaskan.

__ADS_1


"Bunda ini selalu ingin cepat, mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik Bun!" celetuk Arya.


"Emh... Baiklah bagaimana kalau bulan depan saja?"


Sri mengangguk, "Baiklah, saya setuju Jeng, bulan depan."


Astaga, waktu sebulan itu cepet banget! Ibu maen setuju-setuju aja, gak nanya aku dulu, gimana ini.


Akhirnya setelah diputuskan bersama, mereka sepakat acara pertunangan diadakan bulan depan. Mengingat segala sesuatu banyak yang harus dipersiapkan, Farrel menatap lekat wajah Metta yang masih merona, sesekali dia menaik turunkan alisnya saat Metta melihat kearahnya, membuat Metta mendengus dan membuang wajah kearah lain menahan malu. Sementara Farrel terkekeh melihatnya.


Kedua orang tua Farrel berpamitan pulang, sementara Farrel akan pulang dengan Mac yang sedari tadi hanya menunggu diluar saja. Merasa ikut lega dan sudah pasti melaporkannya pada Alan.


"Aku pulang yah, calon tunangan," goda Farrel saat berpamitan pada Metta,


Membuat Andra menatap malas kearahnya, "Inget tempat, disini ada aku yang masih jomblo,"


"Lho, bukannya pacarmu 3 Ndra?" ejek Farrel.


"Udah kuputuskan semua!!"


Farrel mengernyit, "Kenapa? ketahuan....?"


Andra mengangguk, " Yah payah, kalau selingkuh itu harus pinter makanya."


"Kenapa memangnya, kamu mau selingkuh juga?" Ucap Metta membulatkan kedua matanya.


"Boleh juga ...hehehe."


Farrel terkikik melihat Metta yang menatapnya kesal.


"Tahu ahk ... Nyebelin banget!"


"Bercanda sayang, mana mungkin aku begitu!"


"Jangan kebanyakan bercanda bang, hati-hati nanti macannya ngamuk. hahhaa" Andra bangkit lalu berlari masuk sebelum Metta yang sudah mengambil sandal hendak melempari kearah nya.


"Adik sialan awas kamu yaa!"


"Sudah kak, jangan marah!"Mengelus bahu Metta.


"Kamu juga sama saja!?" Farrel hanya menaikkan telunjuk dan jari tengahnya.


"Sudah ayo katanya mau pulang?" Sungut Metta.


Gadis yang tengah kesal itu mengantarkan Farrel sampai kedepan pagar rumahnya, mereka bergandeng tangan berjalan perlahan, seolah tak ingin berpisah.


"Aku jadi ìngin menginap ...." Farrel lagi-lagi terkekeh, sesaat kemudian meringis karena Metta memukul bahunya dengan keras.


"Galak banget sih calon tunanganku ini," Mencuil hidung mancung Metta.


"Sumpah demi apapun, kamu nyebelin banget!"


Farrel tergelak, "Tapi kakak sayang aku kan?hem...Ah rasanya aku tidak sabar ingin cepat bulan depan."

__ADS_1


Metta mencubit pinggangnya, "Iiih... bisa diem gak!" Mengedarkan pandangannya, pasalnya mereka kini berada ditepi jalan.


"Buruan sana pulang, besok harus kekantor pagi-pagi!"


"Siap calon tunangan," mendekatkan pipinya,


"Apa?"


Farrel menepuk-nepuk pipinya, " Aku gak akan pulang kalau kakak gak cium aku,"


"El... jangan aneh deh!" mendengus kasar.


Namun Farrel tetap berdiri dengan mencondongkan kepalanya agar Metta mudah menciumnya. "Ayo cium dulu,"


"Iih... nyebelin banget!"


"Nyebelin, ngeselin, tapi ngangenin kan?" menaik turunkan kedua alisnya. Metta menahan tawanya.


"Ayo kak...bukannya ingin aku cepat pulang?"


Metta sedikit berjinjit, hendak mencium pipi Farrel, namun Farrel membalikkan wajahnya hingga ciuman itu mendarat di bibirnya.


Cup


"Iiiihh... kebiasaan banget sih bikin kesel aja!" menghentakkan kaki berlalu meninggalkan Farrel yang semakin tergelak.


"Kakak menggemaskan sekali." gumam Farrel lalu masuk kedalam mobil.


"Mac kita pulang!" Pandangannya mengarah pada Metta yang berjalan masuk kedalam rumah.


"Nyebelin, ngeselin, ngangenin!" gumam Metta mengulangi perkataan Farrel saat menutup pintu.


Sri tengah membereskan piring- piring kotor, Metta datang untuk membantunya, dia membawa piring kotor itu ke dapur.


"Bu... apa tidak terlalu cepat kalau bulan depan?"


Sri yang tengah mengelap meja makan menoleh, "Memangnya kamu mau tunggu kapan lagi? Lebih cepat lebih baik, ibu rasa bulan depan bagus kok,


Metta mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Sri mengusap bahunya, "Sudah kamu mikirin apa lagi?"


"Enggak kok bu, aku masih tidak percaya saja akan bertunangan dengannya,"


"Jodoh kan ditangan Tuhan Sha, kita tidak tahu kapan dan siapanya, bahkan yang kita kira baik belum tentu baik, begitupun sebaliknya, menurut kita tidak baik ternyata sebaliknya."


"Iya bu," Metta terkekeh.


""Ibu doakan yang terbaik buat kamu Sha,"


"Makasih yaa bu." mengalungkan kedua tangannya pada Sri yang tengah berdiri disampingnya.


"Sudah, kita istirahat yah, besok kamu kerja juga kan?" Metta mengangguk.


"Ibu juga ya, dah ibu."

__ADS_1


__ADS_2