
"Aku sedang mencari orang." Ujar Doni dengan menenggak minumannya.
"Ooh...." Tiwi hanya ber-oh ria.
"Kalau gitu aku pulang dulu," Tiwi bangkit dari kursinya,
"Tunggu, biar aku antar! ucap Doni
"Tidak usah, lagi pula kau juga mabuk,"
Doni ikut bangkit, "Tidak apa-apa, aku tidak mabuk."
Namun seseorang mencekal tangan Tiwi tiba-tiba, " Dia pulang bersamaku!"
Tiwi terkesiap, "Apaan sih, lepas." ucapnya menepiskan tangannya.
"Tiwi kita harus bicara, ayo ikut aku," pria itu menarik Tiwi.
Awalnya Doni tidak ingin ikut terlibat dalam urusan mereka, dia hanya mengerdikkan bahunya. Dan kembali duduk.
"Sudah ku katakan, urusan kita sudah selesai brengsekk!!" umpat Tiwi berusaha melepaskan cekalannya.
Namun cekalan di tangannya semakin mengerat dan membuatnya meringis, "Aku memang brengsekk, begitu juga denganmu!" ucap pria itu.
Dia terus melangkah membawa Tiwi, menjauh dari club malam itu, namun Doni tak berkeinginan untuk membantunya maupun mencampuri urusan nya. Dia terus menenggak minumannya.
Hingga beberapa saat kemudian Tiwi berlari kearahnya dan menarik tangannya. "Bawa aku pergi dari sini!"
Sekilas Doni memejamkan matanya lalu menarik tangan Tiwi dan membawanya berlari.
"Hah...Huh...hah, kau sudah gila ya! Membawaku lari seperti ini," ucap Tiwi terengah-engah dengan memegang lututnya.
"Hah...lututku sakit!" imbuhnya kemudian.
Doni tergelak, "Itu karena lemas...." menggantung ucapannya.
"Hei...kau sedang tidak berurusan dengan orang jahat kan? Aku tidak mau terlibat apapun," ucapnya dengan kedua tangan keatas.
"Kau ini...."
"Ayo cepat kita pergi dari sini," Doni meraih kembali tangan Tiwi dan mengajaknya berlari.
"Kau tahu...huh..., aku bahkan sudah lupa kapan aku berlari seperti ini!" ujarnya dengan terus berlari.
Sampai akhirnya mereka sampai di ujung jalan yang tampak sepi, meski pria itu tak lagi mengejarnya.
"Kita pergi ketempat ramai, kesana!" ucap Doni menunjuk sebuah mini market yang buka 2 4 jam.
"Aku harus kembali untuk membawa mobil ku, kau harus bersembunyi dulu, nanti aku kembali menjemputmu." ucap Doni saat mereka masuk kedalam mini market tersebut.
__ADS_1
Doni kembali ketempat dia memarkirkan mobilnya, dan langsung menancap pedal gas dan melaju ke tempat Tiwi menunggu.
"Sial..., masalah ku saja belum selesai malah sekarang menambah masalah lagi dengan nya!" ucapnya memukul stir mobil nya.
Doni tiba di mini market tempat Tiwi menunggu, Tiwi langung berlari masuk saat Doni membuka jendela mobil dan memanggilnya. Mereka langung pergi dari sana.
"Menegangkan sekali, memacu adrenalin ku," Seru Tiwi.
"Kau gila, aku bisa mati konyol! Kemana nih kita..."
"Aku tidak bisa lagi pulang ke rumah, dia pasti mencariku kesana, kita ke rumah sepupuku saja."
"Sebenarnya kau terlibat masalah apa dengannya?"
"Dia tidak ingin bertanggung jawab, Dan tidak merasa sedikit bersalah sedikitpun." lirihnya.
"Benar-benar brengsekk." imbuhnya lagi.
Doni hanya mengernyit tidak mengerti, "Apa yang dia lakukan?"
"Tidak penting, kau tahu juga tidak akan membantu apa-apa," cibir Tiwi.
"Terserah, yang jelas kau mengganggu tugasku mencari seseorang."
"Sudahlah, kau antarkan aku dulu. Setelah itu kau boleh pergi!"
"Jangan banyak bicara, ayo cepat!"
"Iya dimana? memangnya aku tahu...." ujar Doni dengan kesal.
"Kita lurus ke jalan Xx setelah itu nanti aku beri tahu lagi." ucap Tiwi kemudian.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Doni hanya ingin ini selesai dengan cepat, dan segera pulang kerumah. Sial
Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah dengan gerbang tinggi menjulang, "Benar ini rumahnya?"
"Hmm...."
Mobil berhenti tepat didepan gerbang, hingga seorang penjaga rumah menghampiri. Setelah melihat Tiwi yang datang, petugas itupun membuka gerbang nya, Doni pun memasukkan mobil nya, Masalah sih ini udah!
Tiwi pun masuk kedalam, sedangkan Doni mengekor dibelakang. "Aku pulang aja deh!"
"Tunggu sebentar, "
Tak
Tak
Bunyi dari sepasang sendal berbulu menghentak lantai marmer, seorang perempuan turun dari atas tangga,
__ADS_1
"Hati-hati...." seru Tiwi padanya.
Perempuan itu berdecak, "Kau ini..., Oh iya tumben kesini malam-malam," lalu menutup mulut dan hidungnya.
"Astaga, kau minum lagi?" ujarnya dengan memukul tangan Tiwi.
Sedangkan Doni terperangah melihatnya, "Tasya...?"
Tasya beralih menatap nya. "Doni..., kau disini?"
.
Sementara Farrel yang tengah berada di Apartemennya, entah kenapa tidak bisa memejamkan matanya.
"Aaagghhkk....lebih baik aku pulang kerumah! Tempat ini tidak menyenangkan jika hanya sendirian." ucapnya seraya turun dari ranjang.
Farrel meriah kunci mobil diatas nakas lalu keluar dari Apartemennya. Masuk kedalam lift yang mengarah langsung ke basement dimana mobilnya terparkir.
Lalu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meski jalanan sebenarnya lenggang, karena malam semakin larut. Menyalakan tape mobil nya lalu ikut bersenandung guna menemani kesendiriannya.
Namun alangkah terkejutnya dia saat mobilnya bersenggolan dengan satu mobil berwarna hitam,
Brakk
"Astaga...." ujarnya sambil menginjak rem tiba-tiba.
"Sial woi...bisa nyetir gak sih!" ucap seseorang yang mengendarai mobil hitam itu dengan marah.
Dan dipastikan orang itu memang setengah tak sadar akibat minuman keras.
Farrel membuka kaca pintu mobil nya, "Sorry....!!!"
Orang tersebut pun membuka kaca mobilnya dan ikut menyembulkan kepalanya. " Hei...kau Farrel kan?"
Farrel mengernyit, lalu memicingkan matanya, "Ricko...?
Lalu mereka sama-sama turun untuk memeriksa kondisi mobilnya massing- masing. Sekaligus saling menyapa.
"Mau kemana?" Ucap mereka dengan berbarengan.
"Aku mau pulang, kau sendiri? baru mau pulang atau baru keluar nih!" tanyanya pada Ricko.
"Aku sedang mengejar seorang wanita yang kabur bersama seorang pria, hahhaha..., bukan kah itu lucu?"
.
.
Episode ini bakal sedikit membosankan, karena gak ada Metta nya yaa..mohon bersabar. Tapi jangan bosan kasih author dukungannya yaa... lope lope.
__ADS_1