
Suara musik menggema disebuah hotel berbintang lima, pesta ulang tahun seorang CEO muda yang kian bersinar di kancah nasional dan tengah merambah ke internasional, walaupun usianya tergolong masih muda, 20 tahun.
Suasana pesta yang dihadiri para pegawai, dan seluruh rekan bisnis Arya dan juga Farrel. Hadir disana, tanpa kecuali.
Metta turun dari sebuah mobil yang dikemudikan oleh Mac, meskipun dia sudah mengatakan akan pergi bersama Dinda, namun Farrel bersikekeh, Mac akan menjemputnya.
"Terima kasih Mac," ucap Metta dengan merengut, saat turun dari mobil. Dirinya gagal pergi bersama teman-temannya.
Mac hanya mengangguk, lalu kembali melajukan mobilnya dan masuk ke hotel dari arah lain.
"Sha, cantik banget kamu!" ucap Dinda saat melihat sahabatnya itu berubah drastis setelah berdandan, dengan dress berwarna putih tulang yang membalut tubuhnya dengan indah.
"Biasa aja perasaan," jawab Metta dengan mendudukan dirinya diatas kursi dengan kesal.
"Karena kamu jarang berdandan seperti ini, makanya pangling, sumpah kamu cantik banget," goda Dinda dengan kekehan.
"Udah deh, gak usah menjilat segitunya juga kali...."
"Sialan emang lu," Mereka terkikik-kikik.
Kemudian Metta mengedarkan bola matanya ke sana dan kemari, mencari sosok Farrel, namun tak juga dilihatnya.
"Mungkin lagi siap-siap Sha...." tukas Dinda sudah dapat menduga apa yang tengah dicari sahabatnya itu.
Metta mengangguk, Farrel dan keluarganya memang menginap di hotel sejak kemarin, sebenarnya dia pun seharusnya ikut menemani namun karena hubungannya yang masih jadi rahasia, lagi-lagi Farrel hanya bisa mengalah untuk yang satu itu.
Suara Arya Adhinata kini terdengar dari pengeras suara, semua orang tertuju kepadanya, termasuk Metta dan juga Dinda. Tak lama kemudian Farrel muncul di atas panggung dengan penampilan tak kalah dari biasanya, dengan tubuh semakin tegap dia mengucapkan banyak sambutan dan juga ucapan terima kasih dengan lantang, begitu mempesona dan membuat para wanita berdesir hebat.
Metta menatap dari satu sudut kursi paling belakang. Dia berada ditempat yang tidak terlalu mencolok dan juga perhatian orang-orang disana, menatap Farrel yang mempesona dari kejauhan.
Semua orang yang disini tidak pernah tahu betapa konyolnya dia dan menyebalkan tingkahnya, dan mereka juga tidak tahu betapa manisnya kamu El.
Batin Metta lalu cekikikan.
Metta menggenggam tas kecilnya, didalamnya tersimpan kado kecil untuk dia berikan pada kekasihnya nanti diakhir acara, Metta tersenyum membayangkan hal itu akan sedemikian romantisnya atau bahkan menjadi konyol karena dia tak pandai bicara.
Hingga di pertengahan acara musik pun berubah, pembawa acara menyesuaikan acara sedemikian rupa sesuai dengan usia pemilik pesta, hingga sampailah di acara permainan dengan peraturannya.
Farrel akan melempar bunga kearah meja mereka, maka siapa saja yang mendapatkan bunga tersebut dapat kesempatan berdansa dengannya, sampai waktu yang sudah ditentukan.
Riuh tepuk tanganpun kini semarak, para undangan perempuan bersorak karena kesempatan itu tidak akan mereka sia-siakan. Sementara Metta mulai mengerucutkan bibirnya.
Lucu sekali, permainan macam apa itu? Dia juga tidak mungkin dapat melemparkan bunganya kearah sini, jauh banget. Batin Metta.
Farrel bersiap melemparkan bunga di tangannya, dan tamu undangan yang berada disana pun bersiap menangkapnya. Dengan iris cokelat itu menyisir ruangan mencari Metta dan tersenyum saat menemukannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Farrel melemparkan dan bunga itupun jatuh tepat pada Tiwi yang menangkap dengan gesit. Tiwi bersorak, akhirnya kesempatan itu datang juga. Sementara Metta mulai menyorot kearahnya, diapun tidak dapat melakukan apa-apa karena hubungan rahasia bodohnya itu.
Akhirnya pesta dansa dimulai, Farrel turun dari panggung dan menghampiri Tiwi, sang pemenang bunga, musik sudah berubah, Semua turun untuk berdansa, dengan pasangan mereka sendiri maupun pasangan dadakan.
"Aku sudah menantikan ini dari lama." gumam Tiwi saat kedua tangan Farrel sudah berada dipinggangnya.
"Oh ya...."
"Aku menyukaimu, aroma tubuhmu, dan aku bisa memberikan lebih padamu," Ucap Tiwi tanpa rasa malu sedikitpun.
"Terima kasih." ucap Farrel.
Tiwi semakin tersenyum, dia mengira dengan salah ucapan Farrel. Farrel berseringai, dia menatap Tiwi sekilas lalu bola matanya beralih pada Metta yang kini berdansa dengan Doni.
"Hai kakak yang hanya boleh dipanggil kakak oleh si bayi saja...." ucapnya meledek.
"Ish ...ada-ada saja!"
Mereka berdansa sesuai waktu yang diberikan, suara pembawa acara pun kembali terdengar.
"Waktu kalian mengenal pasangan dansa kalian 3 menit lagi habis, kalian boleh mengganti pasangan ataupun tetap dengan pasangan kalian yang sekarang, bersiap- siaplah."
"Permainan apa ini Don!" ucap Metta,
"Kita ikuti saja, ini benar-benar seru, kau lihat wajah tegang dari pacarmu itu!" ucap Doni yang melirik Farrel. Metta hanya tersenyum tanpa arti.
Dem
"Doni, tetep disini!" ucap Metta yang masih memegang Doni.
Namun satu dorongan dari arah samping membuat Metta terlepas begitu saja dari Doni. Metta pun panik, sampai akhirnya dia merasa ada yang menarik lengannya.
"Doni ... hampir saja! astaga permainan ini sangat merepotkan begini."
"Hm..."
Hanya terdengar deheman dari orang yang kini memegang tangan Metta.
"Bagaimana sudah cukup atau masih kurang?" kelakar pembawa acara itu kembali.
Orang- orang terdengar tertawa namun ada juga yang ada yang terdengar mengumpat.
"Wah, kalian tidak sabaran ternyata, baik-baik aku akan menyalakannya kembali."
Dem
__ADS_1
Lampu kembali menyala, ada yang tertawa namun banyak juga yang kecewa, bahkan ada pula yang terbahak karena pria dengan pria maupun sebaliknya.
"Kau, kenapa tiba-tiba disini?" Metta kaget karena kini yang di hadapannya sekarang bukan Doni, melainkan Farrel.
"Aku akan selalu menemukan kakak, walau dari jarak jauh sekalipun." Farrel mengembangkan bibirnya.
"Jangan tersenyum begitu, kau mau membuat mereka curiga?"
"Kenapa mesti terus ingin merahasiakan hubungan kita dari mereka, tidak akan ada yang berfikir buruk selama ada aku," Farrel masih menyunggingkan senyumnya.
Metta tersipu, "Selamat 20 tahun El ..."
Hingga musik kembali menggema, mereka kembali berdansa, Farrel merekatkan tangannya dipinggang Metta, sementara Metta mengalungkan kedua tangan padanya.
"Kakak sangat cantik!"
Mereka terus berdansa hingga posisi mereka berada ditengah-tengah ruangan. Satu persatu pasangan tumbang dengan sendirinya, hingga menyisakan beberapa pasangan saja, hingga mereka mengalihkan pandangannya pada Farrel dan juga Metta. Ada yang memuji, ada juga yang mengiri.
"Sialan, dia pergi begitu saja." ucap Tiwi mengepalkan tangannya, melihat Farrel yang kini berdansa dengan Metta.
"Biarkan saja merela, kau kan bisa denganku, aku tidak kalah menarik darinya," Doni berseringai dengan alis yang sengaja turun naik.
Tiwi menghentakkan kakinya berlalu dari sana, dia menghempaskan bokongnya di kursi dengan kesal. Sementara Doni tergelak melihatnya.
Suara pembawa acara kembali terdengar.
"Pemilik doble pesta ini sudah menemukan pasangannya, mari suruh mereka naik ke atas panggung."
Suara-suara yang menyuruh mereka naik kini terdengar, membuat Metta kelabakan, namun tidak untuk Farrel. Dia menarik tangan Metta naik keatas panggung.
Farrel mengambil mic yang diberikan oleh pembawa acara, lalu kembali menatap Metta yang terlihat panik.
"Mettasha Kalyna maukah kamu menjalani hubungan ini lebih serius lagi, memberikan aku kesempatan untuk lebih menjagamu dan keluargamu dengan baik, hingga menjadikanku untuk tempat mu bersandar hingga nanti kita sama- sama berlayar dalam perahu yang sama."
Tirai dibelakang panggung terbuka, menampilkan gambar- gambar lukisan wajah Metta yang dibuat oleh Farrel sendiri. Hingga berakhir terbukanya layar itu, dan sketsa sebesar layar muncul didalamnya.
Glowing skecthes, sketsa wajah Metta yang dibuat dengan ketelitian dan teknik menggambar yang mahir. Hingga cahaya dalam sketsa wajah Metta yang dihasilkannya tampak nyata. Padahal semua dibuat hanya dengan permainan pensil warna.
Metta memaku tak percaya, "Ini... sketsa yang aku lihat ada dikamarmu?"
Farrel mengangguk, "Itu hadiah pertunangan dariku, dan aku akan mengambil hadiahku sekarang juga."
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen, terus dukung karya receh ini ya.
Terima kasih.