
Farrel keluar dengan perasaan yang tak karuan, kemarahan Metta tak beralasan baginya, hingga Farrel terpancing dan ikut emosi juga.
Doni membuka pintu mobil namun Farrel tak juga masuk. Doni pun enggan berbicara, dia takut terkena imbas emosi sepasang kekasih yang tengah memanas.
Farrel kembali masuk kedalam kantor, melewati para karyawan yang tengah bekerja, dia melirik kearah Metta seketika, namun Metta memalingkan muka nya dengan cepat saat mereka beradu pandang.
Doni hanya menggelengkan kepalanya, melihat sepasang kekasih itu saling mempertahankan egonya masing-masing.
Farrel masuk kedalam ruangan, mencari berkas yang dia butuhkan.
"Shitt..." Ucap Farrel, dia bahkan lupa kalau meeting hari ini seharusnya dia kerjakan dengan Metta.
Farrel membuka pintu kembali, wajahnya datar tanpa ekspresi, "Hei kemari " tunjuknya pada Tiwi.
"Saya Pak"
"Iya kamu!"
Tiwi menghampiri Farrel, "Ada apa Pak,"
"Siapa namamu?" ucapnya dingin.
" Tiwi Pak."
"Oke Tiwi ikut saya meeting hari ini, bawa berkas yang saya butuhkan dari Mettasha," ucapnya angkuh. Lalu berlalu begitu saja.
Tiwi mengangguk, setelah sekian lama Farrel bekerja baru kali ini dia berhadapan langsung dan dapat melihat wajah paripurnanya dari dekat. Tiwi pun segera menghampiri Metta, "Sha mana berkasnya?"
"Tumben Sha, dia biasanya meeting bareng kamu!" lanjutnya lagi.
Metta mengerdikkan bahunya, "Entahlah, sudah sana!" ucapnya dengan kesal.
Tiwi menyambar berkas dari tangan Metta, "Ih, biasa aja kali, kok sewot!" Dia berbalik dan pergi bergegas menyusul Farrel.
Doni membukakan pintu untuk Tiwi, namun Farrel lebih dulu masuk kedalam mobil dan menutupnya.
"Suruh dia duduk didepan." titahnya.
Doni mengangguk dan membuka pintu depan, lalu Tiwi masuk kedalam, mengangguk pada Mac yang setia dibelakang kemudi.
Doni berjalan memutar dan masuk disamping Farrel.
"Mana berkasnya?" ucap Farrel pada Tiwi.
Tiwi menolehkan kepalanya, "Maaf Pak, saya harus mempelajari dulu berkasnya. Karena Mettasha yang biasanya ikut meeting bersama Pak Farrel."
__ADS_1
"Berikan berkasnya!" sentak Farrel tanpa peduli alasan Tiwi.
Tiwi terhenyak, dia langsung menyerahkan berkasnya, " I- i- ni Pak,"
Farrel mengambil berkas itu dari tangan Tiwi lalu dia berikan pada Doni.
"Kau pelajari berkas ini " ucapnya datar.
"Baik Pak," ucapnya dengan senyum simpul.
"Mac jalankan mobilnya, sebelum meledak!" gumam Doni dibelakang kursi kemudi.
Mac mengangguk, lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun Farrel tidak juga mengeluarkan suara.
Hingga mereka sampai ditempat meeting, tempat yang dipilihkan oleh Metta, dan seharusnya saat ini dia juga hadir disini.
Sampai mereka terduduk Farrel tak juga mengeluarkan sepatah katapun. Hatinya terus merasa bersalah pada Metta namun juga emosi datang bersamaan.
Hingga perwakilan dari klien datang, barulah Farrel bersikap biasanya, bahkan terlihat luar biasa.
Metta memejamkan matanya sesaat, harusnya memang mereka bersikap professional dalam bekerja, namun dialah gadis berego tinggi.
Melihat Farrel pergi dengan Tiwi membuat emosinya kembali memuncak.
"Inikah yang dia katakan tidak akan pernah bosan?" gumamnya.
"Heh, tuh jidat kenapa mengkerut begitu!" ucapnya heran.
Metta hanya diam tak menjawab, dia kembali berkutat pada pekerjaannya.
"Heh Sha, tuh dia kenapa pergi bareng Tiwi? bukannya harusnya sama kamu?"
"Biar saja, suka-suka dia. Nih kantor punya nenek moyangnya." ucap Metta tanpa mengalihkan pandangannya pada monitor di depannya.
Tatapan Dinda menelisik, dia paham betul bagaimana sahabatnya itu, " Sha, sha masih aja tuh ego dipiara," ucapnya sambil berlalu.
Metta berbalik melihat Dinda yang sudah mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Heh, harusnya kamu tuh belain aku, bukan berpihak pada dia yang gak bisa menjaga ucapannya."
Dinda berdiri kembali, mencondongkan tubuhnya dan berbisik pada Metta, " Harusnya kamu bicarakan baik- baik sayang, dia itu bocah."
"Kamu gak tahu dia habis ngelakuin apa?" Dinda menggelengkan kepalanya.
" Enggak, memangnya kamu bilang? aku hanya tahu dia pergi bareng Tiwi,"
__ADS_1
" Aku menamparnya, karena dia udah bayarin semua biaya sekolah kedua adikku, tanpa bicara apapun padaku!"
"Tapi malah dia yang balik marah," Metta menekuk wajahnya.
Dinda menggelengkan lagi kepalanya, "Harusnya kamu bicara baik- baik juga, sampai dia paham Mettasha!"
"Dan jangan sampai keseringan pergi berdua dengan gadis lain, kamu akan menyesal," Dinda terkikik kemudian kembali duduk di tempatnya.
Metta mencoba mencerna perkataan Dinda, Metta memang marah, dan seharusnya dia bisa menjelaskan, bukan ikut marah juga.
Metta menyambar tasnya lalu pergi tanpa bicara apapun, membuat Dinda menggelengkan kepalanya berulang kali. "Drama banget hidup mu Sha!"
Metta menyetop taksi yang lewat, namun tak ada juga yang berhenti, dia melirik jam tangannya,
Meeting nya mungkin telah usai, harusnya sebentar lagi Farrel sampai ke kantor. Namun mendengar perkataan Dinda, hatinya kini gundah, ingin segera menemuinya dan meminta maaf karena sudah menamparnya tanpa penjelasan apapun.
Metta mencoba menghubunginya, namun tidak juga diangkatnya. Hingga sebuah taksi berhenti Di depannya, lantas Metta masuk kedalamnya.
"Pak, maaf bisa lebih cepat lagi?"
"Ini sudah di batas wajar, saya tidak berani mengemudi lebih cepat lagi, karena saya nanti yang terkena Suspen dari perusahaan" ucap nya kemudian.
Metta mengangguk, dia tidak dapat memaksakan kehendaknya. Namun hati nya semakin tidak tenang. Ditambah dengan perkataan yang dikatakan oleh sahabatnya Dinda.
Setelah beberapa waktu mereka akhirnya sampai dicafe tempat dilaksanakannya meeting. Metta keluar dari mobil nya lalu berlari, masuk kedalam cafe tersebut.
Matanya menyapu mengelilingi ruangan cafe, mencari sosok yang telah dia tampar tadi, Metta menarik nafasnya lega, saat melihat Farrel yang tengah bercengkrama dengan klien, Metta pun duduk menunggu di meja yang menghadap kearah Farrel, hingga dia bisa menatap kekasihnya itu dengan leluasa.
Metta menghela nafas, memandang Farrel yang tengah fokus menjelaskan, sikapnya memang keterlaluan, seharusnya dia bisa ĺebih bijak lagi dalam menghadapi masalah.
"Tunggu Tiwi kemana? bukankah dia ikut tadi..?
.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi🤣 karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.
Hayo siapa yang belum like🤭 sana ulangi lagi.🤣
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..
Semoga kita saling bersinergi ❤ dalam kehaluan ini.
__ADS_1
Terima kasih😘