
Hari berlalu begitu saja, saatnya Doni dan Tia kembali ke ibu kota, mereka memilih penerbangan malam itu juga, selain semua sudah selesai, Fara maupun Farrel memang ingin mereka segera kembali.
Apalagi Farrel, dia menjadi sangat overprotektif terhadap orang-orang yang dekat dengannya, termasuk Doni.
Dia tidak ingin sahabatnya itu kembali melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, sehingga selalu bersikap berlebihan jika berkaitan dengan hubungan Doni dan Tia.
Tia yang memang menyukai Doni sejak lama itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Terlihat wajahnya berseri semenjak keluar dari kamar hotel tempatnya menginap.
Meski dia tahu, cinta itu belum bersemi untuknya, jangankan bersemi, tumbuh saja belum di hati Doni.
Berbeda dengan Tia, Doni bersikap biasa saja, meskipun hari itu adalah dimana dia mulai berkomitmen dengan Tia.
Setelah perjalanan selama 8 jam, akhirnya, mereka tiba kembali bandara. Mac terlihat sedang menunggunya di terminal kedatangan.
"Mac ...." sapa doni saat melihat Mac sudah berdiri menyambutnya.
Seketika Tia menggenggam tangan Doni, walaupun dia berusaha menepisnya dnegan lembut, namun Tia tidak juga melepasnya. Mac hanya mengangguk ke arahnya.
"Kau tidak aneh-aneh kan disana?" ujar Mac dengan menatap tangan Tia yang masih bergelayut manja.
Doni berdecak, "Mana berani aku Mac! Bisa-bisa masa depanku semakin hancur."
Mac mengangguk, "Baguslah kalau kau faham, setidaknya lakukan itu untuk dirimu sendiri."
"Aku faham Mac ... sungguh!" ujarnya dengan menggeret kembali koper miliknya, sementara Tia masih bergelayut pada lengan Doni sementara ranselnya tersampir di bahunya.
"Kau tidak keberatan jika kita antarkan Tia terlebih dulu, Mac?" tanya Doni.
"Hem..."
"Tapi aku ingin ikut ke tempatmu saja!" Bisik Tia.
"Enggak Tia, lo ..., maksudnya kamu pulang ke tempatmu sendiri." ujar Doni.
__ADS_1
Tia merengut, namun tidak juga melepaskan tangannya dari Doni.
.
.
Mereka berdua masuk ke mobil, sedangkan Mac masuk ke kursi kemudi. Tia menarik tangan Doni hingga mengikutinya dan masuk ke kursi belakang.
"Aku bukan supir kalian," ujar Mac jengah dengan menatap tajam Doni.
Doni berpindah ke kursi disamping Mac tanpa keluar dari mobil, dengan tersenyum kecut pada Mac, membuat Tia kesal dan menatap Mac tak kalah tajam.
"Dasar kepala botak, kerjaan nya memang seorang supir, sok berlaga bukan supir." gumam Tia.
Doni menatap Tia dari spion dalam dan menghela nafas. "Jaga bicaramu Tia, dia memang bukan supir, dan kita juga bukan bos, kita sama-sama bekerja, jadi tolong bersikaplah sewajarnya."
"Kenapa kau malah membelanya, bukan membela pacarmu ini!" tukas Tia kesal.
"Jalan saja Mac, maafkan Tia."
Mac hanya melirik sekilas, dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tia mencebikkan bibirnya, "Lihat saja, sebentar lagi aku yang kau utamakan dibandingkan si kepala botak yang menyebalkan itu." gumamnya pelan.
Mac mengemudikan mobil dan mengarah pada pada jalan dimana rumah Tia berada, sedangkan Tia masih dengan bibir yang dia cebikkan, berharap malam ini dia bisa ikut dengan Doni dan menghabiskan malam bersamanya.
Doni bertugas sebagai navigator, mengarahkan Mac hingga akhirnya mobil berhenti tepat di depan rumah Tia.
"Tia, sudah sampai." ujar Doni dengan menolehkan kepalanya ke arah belakang.
"Iya aku tahu, aku akan turun!" ujarnya dengan menggeser tubuhnya dan membuka pintu.
"Kau mau mampir ke rumah?" tanya dengan tangan yang masih menempel di handle pintu mobil.
__ADS_1
Doni menggelengkan kepalanya, "Tidak, lain kali saja!" ujar Doni.
Tia membuka pintu lalu turun dari mobil, menutup pintu dengan keras dan langsung pergi berlalu begitu saja.
"Kau yakin menyukai gadis semacam itu?" tanya Mac tiba-tiba.
Doni menghela nafas berat, " Entahlah Mac, dia memberiku waktu 3 bulan, jika dalam waktu itu aku tidak juga mempunyai rasa terhadapnya, dia akan pergi dari hidupku!"
"Kau berharap 3 bulan itu lewat begitu saja, aku merasa Tia...."
Tok
Tok
Kaca mobil tiba-tiba di ketuk dari luar. Doni melihat Tia yang berdiri menghadapnya.
Serrrttt
"Ada apa lagi Tia?" ujarnya dengan menurunkan kaca mobil.
"Aku lupa berpamitan!" ujarnya dengan mencium pipi Doni lalu kembali masuk ke dalam rumah.
"Menyebalkan!" gumam Doni dengan kembali menutup kaca mobil.
"Dasar wanita aneh! Bisa-bisa nya dia mengelabuimu sepertinya itu." tukas Mac dengan kembali melajukan mobilnya.
Doni hanya mendengus kasar.
.
.
Hai ...jangan lupa mmapir ke novel ke 3 author yaa, baru sih, chapnya juga belum banyak, jangan lupa masukin rak paforite kalian yaa, makasih❤❤
__ADS_1