
Sebenarnya Doni malas menerima panggilan telepon dari Tiwi, berkali-kali dia me- Rejeck
"Doni, berisik!" sentak Farrel.
Membuat Doni berdecak, dengan terpaksa Dia mengangkat panggilan tersebut.
'Apa sih? ganggu tahu gak!'
'Kau ini! Kenapa baru mengangkat teleponku!?'
'Terserah aku mau mengangkat ataupun tidak, itu bukan urusanmu,"
'Aku ini lagi ha--'
'Cepatlah, katakan apa mau mu! Aku tidak ada waktu mendengar basa-basi mu,"
'Iihhh ... kau ini! Aku ingin kau mengantarku pulang, aku pusing,'
Doni memutuskan sambungan teleponnya, dia berdecak dengan menyandarkan punggungnya dengan kasar pada sandaran sofa. Kedua matanya memandang nanar langit-langit ruangan.
Farrel yang menghentikan aktifitasnya, melihat ke arah Doni, "Lebih baik kau selesaikan dengan cepat masalahmu! Jangan dibiarkan berlarut-larut,"
"Kau tidak akan faham, masalah ini bukan hanya sekedar bertanggung-jawab, tapi bagaimana dengan orang tua ku? Aku ini harapan mereka, dan sekarang aku mengecewakan mereka!" ucapnya lalu menghela nafas panjang.
Farrel kembali berdecak, "Apa kau memikirkan hal ini saat kau melakukannya? Tidak bukan, sudah sana bersikap gentle lah, kedua orang tua mu juga nanti akan mengerti, apalagi jika mereka tahu kalau kau itu sangat bodoh! Sampai melakukan hal itu,"
"Sudah sana, selesaikan masalahmu, kalau perlu aku akan memberikan ijin untukmu, agar kau bisa pulang dan menceritakan semuanya pada kedua orang tuamu." ucap Farrel.
Doni lantas keluar dari ruangan itu dengan merenggut, dia bahkan menghiraukan Mac yang berjalan ke arahnya.
Mac pun terheran, namun dia juga enggan bertanya apa-apa. Dia berjalan ke ruangan kerja Tiwi, melihat wajah Tiwi yang pucat pasi, juga terlihat lesu.
Doni berdecak, Aku tidak percaya padanya, dan aku akan mencari tahu sendiri, apa benar dia hamil karena kecebongku.
Tiwi tersenyum lebar ketika melihatnya berdiri diambang pintu. Dia lantas menyambar tas kecilnya lalu menghampirinya.
"Kau sudah datang?"
"Sudahlah tidak usah banyak basa-basi." ujarnya dengan berlalu.
Tiwi berdecak, "Kau boleh menyepelekan ku hari ini, tapi kita lihat nanti!"
Tiwi menyusulnya, menyamakan langkahnya keluar dari gedung. Lalu masuk kedalam mobil.
Saat itu, bertepatan Dinda yang juga keluar dari gedung dan melihat mereka.
Mobil yang dikendarai oleh Doni melaju dengan kecepatan tinggi, entah sengaja atau tidak tapi Doni ingin memberinya pelajaran, dia merasa yakin bahwa anak yang dikandung Tiwi bukanlah anaknya.
"Doni, kau bisa pelan-pelan? Kau membuatku semakin pusing!"
Doni tidak menjawabnya, dia hanya diam melihat ruas jalan yang saat itu terlihat lenggang, hingga dia leluasa mengendarainya dengan cepat.
"Doni!! Kau dengar aku tidak?" sentak Tiwi.
"Jadi kau mau aku antar kemana? Rumah sakit atau ke neraka sekalian?" ujarnya kesal.
"Sayang, kenapa kau bicara seperti itu padaku? Ingat aku ini tengah hamil anak mu ... dan kau harus segera menikahi ku,"
"Kalau tidak, aku akan melaporkan mu ke polisi, kau akan masuk penjara!"
__ADS_1
'Kau ikuti dulu apa mau nya! selagi kita mencari tahu kebenarannya.'
Ucapan Farrel ada benarnya, Aku harus menahan diri, sampai aku benar- benar yakin kalau dia tidak berbohong, jika anak yang dia kandung adalah anakku,
"Oke, oke ... kau mau kemana sebenarnya?" ujar Doni memperlambat laju kendaraannya.
"Nah, gitu dong papah Doni." ujar Tiwi dengan mata yang berbinar saat mengucapkannya.
Dia mengelus perutnya yang masih rata, "Lihat nak, papah mu sangat baik kan? Dia juga tampan, kalau kamu calon anak laki-laki, kamu pasti setampan papah Doni."
Membuat Doni tiba- tiba terhenyak.
Papah ... miris sekali, aku bahkan belum menyelesaikan kuliahku, astaga!
" Cepat kau mau aku antar kemana? Aku masih banyak pekerjaan, tugas kuliahku juga banyak!"
ujarnya dengan tangan mengeras di setir kemudi.
"Aku ingin makan di restoran Jepang, anakmu ingin makan sashimi juga udon." ujarnya dengan wajah yang cerah.
"Jangan membawa-bawa anak itu, dia bahkan masih sebesar biji kacang hijau! Mana mungkin dia menginginkan makanan itu." ujar Doni kesal
"Isshh kau ini kenapa kasar sekali, dia kan anakmu! Kau lupa?"
"Iya aku lupa, lebih tepatnya ingin lupa ." gumamnya dengan pelan sekali.
Doni kembali melaju, dia mengarah pada restoran Jepang sesuai keinginan Tiwi.
Sial banget hidupku
Tiwi terus melonjak kegirangan, saat mobil berhenti di sebuah restoran Jepang, Doni memarkirkan mobilnya.
Dia bilang tadi ingin aku mengantarnya pulang karena merasa pusing, sekarang malah ke tempat ini. Benar- benar gila.
Tiwi menunggu Doni membuka pintu mobil, namun dia tak juga membukanya, dia hanya berdiri tak jauh dari mobil, menunggu Tiwi yang tak kunjung keluar dari mobil.
Tok
Tok
"Kau mau keluar tidak? Kalau tidak kita kembali saja," serunya dengan mengetuk kaca mobil.
Tiwi yang berharap Doni membuka pintu lantas keluar dengan mulut yang mengerucut.
"Kau memang sengaja kan tidak mau membuka pintu untukku! Menyebalkan." sungutnya.
"Sudahlah ayo masuk!" Doni kembali berjalan masuk ke dalam restoran itu.
"Doni ...!" ujar Tiwi dengan menghentakkan kakinya.
Tiwi pun akhirnya masuk menyusul Doni, yang sudah duduk di meja tak jauh dari pintu keluar.
"Kenapa kau meninggalkanku? bagaimana jika aku terpeleset dan jatuh." ujarnya dengan menarik kursi kemudian duduk.
Doni memutar malas kedua matanya, "Tidak usah manja, jangan selalu menjadikan anak itu menjadi alasan, aku masih belum percaya atas apa yang kau katakan!"
Tiwi mendengus, "Apa lagi yang tidak kau percaya? Aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya padamu."
"Berikan aku bukti yang kuat agar aku percaya, kalau perlu kita akan melakukan tes DNA!"
__ADS_1
Tiwi terkesiap, " Kau memang brengsek!? Kau ingin mencari alasan? Dengan mengatakan hal itu? Agar kau tidak perlu bertanggung jawab Doni?"
"Kenapa kau marah? Santai saja jika memang anak itu benar anakku." ujar Doni dengan tenang.
Sialan, aku juga belum tahu siapa ayah dari anak yang aku kandung ini. Ternyata bocah ini tidak sebodoh yang aku pikir. Tenang Tiwi ... tenang.
"Oke, kalau begitu kita akan melakukan tes DNA nanti, setelah anak ini lahir! Tapi kau harus menikahiku dulu,"
"Cih, kau memang licik!"
"Kalau tidak, aku akan tetap melaporkanmu ke polisi atas pemaksaan yang kau lakukan padaku."
"Benar- benar licik, kau bahkan sangat menikmatinya."
Tiwi tiba- tiba ingin muntah, perutnya terasa mual, dia lantas berlari ke toilet, meninggalkan Doni begitu saja.
Doni hanya bergeleng menatap Tiwi yang berlari. Ini benar- benar gila, bagaimana bisa ini terjadi, bodoh! Bagaimana jika benar- benar anakku.
Sedangkan Tiwi masuk kedalam toilet, lalu memuntahkan isi perutnya di wastafel. Namun tidak ada yang keluar, hanya muntah dari gejala kehamilan nya saja.
Lantas Tiwi masuk ke dalam bilik toilet untuk buang air kecil, tak lama kemudian dia keluar.
Brukk
Tiwi bertubrukan dengan seorang perempuan, dia hampir terpeleset, namun untung saja dia sempat berpegangan pada handle pintu bilik toilet Hinga tidak terpeleset.
"Heh...punya mata gak? dipake matanya kalau jalan!" sentak Tiwi.
" Maaf mbak, aku tidak sengaja! temanku mendorongku." ujar perempuan itu.
"Tidak sengaja - tidak sengaja, kalian tahu aku ini sedang hamil. Bagaimana jika aku jatuh terpeleset."
"Maafkan kami mba, untung saja kan mba tidak jadi terpeleset." ujar temannya.
"Kalian itu benar- benar bodoh apa?"
"Mba temanku kan sudah minta maaf, kenapa mba nya masih marah- marah saja! Orang hamil itu tidak boleh marah- marah, nanti anaknya jadi pemarah, harus banyak senyum,"
"Halah, sok tahu! Kalian pikir kalian siapa? dasar bocah aneh!" ujar Tiwi lantas keluar dari toilet.
Mereka bertiga saling berpandangan, lalu tergelak.
"Lo sih, dorong- dorong! marahkan!"
"Gak apa- apa! untung dia tidak jadi keguguran kan!" ujar teman yang diduga mendorong temannya saat masuk itu.
"Dah ayo ah, aku lapar!"
Tiwi kembali dengan tersungut, lalu kembali menduduki kursinya.
"Kamu tahu gak aku tadi hampir terpeleset gara- gara tiga setan tidak tahu diri."
Doni menautkan kedua alisnya, "Makanlah cepat, aku masih banyak urusan!"
"Ihh... kau memang tidak peduli pada anakmu sendiri." ucap Tiwi dengan tersungut.
Doni berdecak, dia muak dengan kata- kata anak yang selalu jadi alasan Tiwi. Namun dia juga hanya bisa menahannya sekarang, sampai saat nya tiba dia tahu sebenarnya.
Mereka pun larut dalam makannya masing- masing, meskipun Doni hanya mengaduk- aduk mangkuk udon miliknya.
__ADS_1
Tiba- tiba aku ingat Nissa ya, ini makanan kesukaan nya, dia harus tahu restoran ini.