
"Kak Doni hanya mencium ku, tapi itu waktu di rumah, bukan di hotel!"
Nissa terkesiap setelah menyadari bahwa dia keceplosan bicara. Seketika menatap kearah Doni yang tengah menatapnya nanar.
Kedua manik hitam wanita yang tengah hamil muda itu membulat ke arahnya. Darahnya tiba-tiba mendidih.
"Doni benar yang apa yang dikatakan Nissa?" bentaknya dengan satu tangan berada di pinggang.
Farrel yang merasa keadaan tidak akan terkendali itu mencoba menenangkan sang isteri yang tengah emosi, lalu menyuruh Mac membawa Doni untuk pengurusan jaminan.
"Sayang, kendalikan dirimu! Sudah yang penting tidak terjadi sesuatu pada Nissa. Iya sayang," Ujarnya dengan mengusap-usap punggung Metta.
"Mac, aku belum selesai dengannya!"
"Kau ... semua gara-gara ide konyol mu itu, kau yang harus nya diberi pelajaran agar otakmu berfungsi dengan baik, dan berhenti melakukan hal yang konyol."
"Sayang maafin aku, yaa ...sudah yaa ... "
Nissa yang menunduk kini menatap kakaknya,
"Kak, kak Doni gak salah, ii--itu karena tidak sengaja, benar-benar tidak sengaja."
"Jangan membela nya Nissa, kakak tidak suka, lagi pula kamu masih terlalu kecil!"
"Ta--tapi kak!"
"Tidak ada tapi -tapi Nissa!!" bentaknya lagi.
"Sayang, udah jangan marah-marah!"
Mac yang membawa Doni pun tak kalah kagetnya, "Bisa-bisa nya kau melakukan hal itu! Carilah yang lain jika kau mau. Dasar bodoh, kau menggali lubang untuk kuburanmu sendiri!"
"Heh ... lampu taman, kau tidak tahu apa-apa, jangan asal nyamber tuh mulut!"
Mac menyalang padanya, dengan merangsek kerah bajunya
"Kau sudah kuperingatkan berkali-kali, tapi kau masih bandel juga, mau ku tebas kepalamu hah?"
Doni terkesiap, dia menundukkan kepalanya, "Aku sudah bilang aku tidak melakukan apa-apa padanya, memang benar aku menciumnya tapi itu karena dia mengigau sewaktu tidur dan menarik ku hingga terjatuh diatasnya,"
"Kau fikir aku akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi? Setelah kebodohanku yang pertama sampai aku kehilangan anakku sendiri dan ibunya?"
Perlahan tangan Mac mengendur sendirinya, dia kembali merapihkan baju Doni,
"Bagus, aku tahu kau tidak sebodoh itu." ujarnya dengan menepuk pipinya sebanyak dua kali.
"Ayo selesaikan urusan ini, kita pulang!" sambungnya lagi dengan kembali berjalan.
.
.
"Kakak jangan marah, Nissa minta maaf." ujar Nissa yang masih terisak dipelukan Metta.
Dia menghela nafas panjang, dengan terus mengusap punggung Nissa.
"Iya ... kakak gak marah! Nissa gak tahu kan?"
Gadis berusia lima belas tahun itu mengangguk,
"Tapi sekarang Nissa sudah tahu, Nissa belum waktunya untuk berciuman!"
"Nissa tidak boleh punya pacar?" tanyanya polos.
Metta menahan tawa karena kepolosan adik bungsunya itu, "Belum ... nanti ada waktunya Nissa."
Sementara Farrel yang duduk disamping Metta menggelengkan kepalanya.
Dia penasaran juga karena melihat kita.
Farrel menghela nafas, dia lantas bangkit menyusul Mac dan juga Doni.
__ADS_1
"Sayang, aku mau lihat Doni dulu!"
Sementara di ruang pemeriksaan.
"Kami membawanya karena menemukan mereka di dalam satu kamar, meskipun mereka terlihat berpenampilan berbeda dari yang lain, kami harus memastikan."
"Banyak dari mereka yang terjaring mengaku adik-kakak, saudara, bahkan ayah. Itu sebab nya kami menunggu pihak keluarga yang menjemput."
"Dan mohon maaf, jika kami berlaku keras, pada adiknya,"
"Sudah aku katakan berkali-kali kita ini hanya menginap karena mobil mogok,"
Farrel pun memasuki ruangan itu dan petugas yang ternyata adalah AKBP di kantor polisi tersebut mengenalinya.
"Kau Farrel bukan?" tanyanya.
Farrel mengangguk, " Betul, anda mengenaliku?"
"Tentu saja, aku juga mengenal kakakmu."
"Kakakku?"Farrel mengernyit.
"Hm ... Alan Alfiansyah, seorang pebisnis muda. Dan ku dengar kau sama hebat dengannya."
Farrel memicingkan kedua matanya, membuatnya waspada.
"Sudah selesai kan?" ujarnya.
AKBP yang terlihat bernama Ilham itu mengangguk,
"Silahkan." ucapnya dengan tangan yang mempersilahkan mereka.
Farrel, Doni dan Mac pun akhirnya keluar dari ruangan pemeriksaan. Seorang polisi wanita berpapasan dengan mereka dan masuk keruangan.
"Kau tahu siapa dia?" tanya komandan Ilham.
"Siap tidak pak!"
"Jangan terlalu resmi, ini sudah malam, santai lah sedikit."
"Keluarga Adhinata," gumam komandan ilham.
"Alan Alfiansyah?"
Dia mengangguk.
"Perlu aku cari tahu?"
"Tidak usah, dia bersih!"
Polisi wanita itu pun mengangguk, dan menyimpan beberapa berkas diatas meja,
"Yang terjaring malam ini cukup banyak, dan mereka berdua paling special, aku jadi tahu sosok Farrel Adhinata yang muda yang berkarya, dari dekat."
"Apalagi kakaknya, kau akan melotot jika bertemu."
"Aku sudah tidak sabar untuk hal itu."
Komandan Ilham tergelak, "Belum waktunya!Kita tunggu kabar dari pusat."
.
.
Mereka akhirnya bisa keluar juga dari kantor polisi, dan bisa pulang malam itu juga.
"Lebih baik kalian pulang ke apartemen saja, jarak nya lebih dekat, daripada ke rumah Ibu atau ke apartemen kalian Mac." ujar Farrel.
"Lebih baik aku pulang saja," gumam Doni.
Sedari tadi dia merasakan aura tidak bersahabat dari Metta, sudah dipastikan istri dari sahabatnya itu masih marah padanya dan kemarahannya belum tertuntaskan.
__ADS_1
Sementara gadis yang terlampau polos itu sudsh terlelap dengan menyandarkan kepalanya dibagi sang kakak.
Doni yang duduk disamping Mac yang tengah mengemudi itu hanya berani menatapnya dari spion dalam.
"Aku juga sudah menghubungi bang kumis untuk mengurus mobil besok pagi." ucap Doni.
Farrel terhenyak, mendengar Doni mengatakan bang kumis, montir langganannya sedari dulu, dan teringat saat dia menyimpan motor Metta selama seminggu disana, dan hanya di pakainya alibi agar dapat mengantar jemput wanita yang sekarang menjadi istrinya itu.
Tidak kebayang jika kakak mengetahui akal-akal busuk ku selama ini.
Dia menggelengkan kepalanya, membuat Metta yang duduk ditengah-tengah itu menoleh, "Kenapa?"
"Enggak sayang, aku hanya merasa pegal saja."
Metta mengangguk, kemudian menguap.
"Tidurlah ... nanti aku bangunkan saat sampai!" ujar Farrel menarik kepalanya.
"Tidak usah!" ketusnya.
Metta memilih menyandarkan kepalanya pada kepala Nissa yang berada dibahunya. Dia masih kesal pada pria yang selalu bersikap konyol itu, dan anehnya dia tengah mengandung Anak dari pria konyol tersebut. Aneh bukan dasar konyol
.
.
"Sayang, kau masuk duluan bersama Nissa saja, aku mau bicara dengan Doni sebelum dia pulang."
"Terserah...." jawab Metta dengan masuk ke dalam apartemen mewahnya.
Farrel menghela nafas, dia segera keluar dan menemui Doni.
"Istrimu masih marah ya padaku?" ujar Doni lesu.
"Apa yang kau dan Nissa tempo hari sembunyikan itu adalah karena kau menciumnya?"
"Asal kau tahu, bukan hanya kamu, tapi aku juga terkena imbasnya. Dia sangat marah! Wanita hamil yang merepotkan."
Mac mengulum bibirnya, sementara Doni menghela nafas dengan berat.
"Aku sudah katakan, itu karena ketidak sengajaan saja. Dia masih sangat polos dan merepotkan!"
Farrel menghela nafas, "Kau memang cari mati Don. Anak itu benar-benar polos. Kau harus hati-hati bersikap padanya."
"Semua juga gara-gara ide mu, membawa mereka ke villa,"
"Kau yang salah karena membawa ke hotel!"
Doni kembali mengalah, percuma saja jika Farrel sebagai atasannya selalu benar.
"Iya ... aku yang salah! Semua orang sudah marah padaku, belum ibunya, mati lah aku."
"Kau selesaikan sampai tuntas, jangan mencari masalah lagi."
Masalahnya kan kau juga yang menyuruhku. Astaga, kenapa nasib asisten selalu saja tidak beruntung, seperti ini.
"Jangan memberikan harapan jika kau tidak mau, aku tidak mau terlibat dalam masalah, jika istriku marah padamu, dia akan marah padaku.
"Sudah pulang sana!"
Sementara Farrel kembali masuk kedalam platnya, plat itu memiliki dua kamar, dan sudah di pastikan, jika Nissa akan tidur di kamar itu.
Namun ternyata dia salah,
"Astaga sayang, jadi aku tidur di mana?" gumamnya saat membuka pintu kamar dan menemukan Metta sudah tidur dengan memeluk Nissa.
Metta tidak menjawab, meskipun sebenarnya dia belum benar-benar tertidur. Pasalnya dia masih kesal pada suaminya itu yang selalu bersikap seenaknya itu.
Farrel mendekat dan membenarkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu mencobdongkan tubuhnya untuk mengecup kening Metta.
Tak lama Farrel menghela nafas danbkeluar dari kamar.
__ADS_1
Metta membuka kedua netra nya.
"Rasain...."