
Uhuk
Alan terdesak, Farrel menyodorkan minuman kearahnya, Apa yang dimaksud bunda?
Apa bunda tahu tentang sesuatu? batin Farrel.
Farrel melirik ke arah ayahnya yang tengah tersenyum kecut. Ayah aku sudah memperingatkan mu, jangan sampai ayah membiarkan bunda mengambil keputusan yang akan membuat Alan marah.
"Bunda!" ujar Alan datar.
Fernand melirik sosok Alan yang terkenal dingin namun juga jago dalam berbisnis, di usia nya yang cukup dewasa itu, dia berhasil membuat perusahaan Adhinata cukup di segani.
Pencapaainnya pun lebih banyak di bidang bisnis, namun ada sesuatu yang misterius darinya yang membuat Fernand terus melihat kearah nya.
"Dad, jangan konyol, aku bukan barang yang bisa Daddy jadikan hadiah untuk orang lain," gumam Chaira kesal.
Daddy selalu tidak mengerti, daddy fikir aku tidak mampu melakukan nya sendiri, pantas saja kakak tidak ingin tinggal di rumah.
"Sudahlah, lebih baik kau diam saja. Ini urusan daddy, kamu menurut saja." ujar Fernand.
Suasana makan malam itu tampak tidak nyaman, membuat semua orang tambah kesal, tanpa kecuali Alan dan tentu saja Farrel sendiri.
"Bagaimana Al? Apa kau mau memulai perkenalan dengan Chaira?" tanya Ayu.
Alan menatap sang bunda tanpa ekspresi, lalu membuang wajah nya ke arah lain. Dia menyeka mulutnya lalu beranjak,
"Maaf, jika aku berlaku tidak sopan malam ini, tapi aku harus mengurus sesuatu. Permisi." ujarnya dengan berlalu pergi.
Iya kan aku bilang apa, dia pasti tengah menahan marah.
"Maaf Fernand, seperti nya kita memang harus pergi lebih dulu, suasana hati anakku sedang kurang baik, maafkan keluarga kami." ujar Arya lalu ikut beranjak dari duduknya,
Ayu yang belum faham dengan situasi mengangguk pada Fernand dan Chaira, lalu menyusul suaminya. Menyisakan Farrel dan juga Metta yang kini menyoroti Fernand.
"Kau masih belum menyerah rupanya Mr Fernand, apa kau ingin sedikit saran dariku?"
Metta mencekal lengannya, namun Farrel melirik dan tersenyum padanya, Tidak apa-apa.
Jangan konyol El, ini waktu yang tidak tepat.
Fernand menatap Farrel, begitu juga Chaira.
"Gunakanlah rancangan anakmu, dan berhenti mengganggu keluargaku, kau belum tahu dengan siapa kau berurusan Mr Fernand."
Farrel bangkit dari duduknya, "Ayo sayang kita pergi."
"Permisi...."
Chaira menatap tajam pada Metta, sementara Metta tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan keluar dari gedung,
"El, apa yang terjadi pada Alan?"
"Kakak tidak tahu?"
__ADS_1
Metta menggelengkan kepalanya, "Alan tidak mau dijodohkan, karena dia sudah punya kekasih."
"Benarkah?"
"Hm ... tentu saja, dia itu tampan. Siapapun akan jatuh cinta padanya, tapi masih kalah dengan ketampananku. Iya gak?" Ujarnya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Metta mencubit pinggang suaminya, "Iihh ... kau ini, aku sampai kaget melihat semua orang yang tegang, kamu masih bisa bercanda begitu!"
"Kita lihat sampai dimana dia berani melangkah!"
.
.
"Dad, kau lihat bukan? Kenapa daddy terus memaksa kehendak Daddy sendiri," ujar Chaira dengan mengepalkan tangannya.
"Daddy hanya semakin mempersulit langkah ku!" ujarnya lagi lalu beranjak dari sana.
Chaira berjalan tergesa menyusul Farrel dan juga Metta yang hendak masuk kedalam mobil mereka.
"Farrel ... Tunggu!"
Farrel menoleh, begitu juga dengan Metta.
"Ada apa?"
Metta memicingkan kedua matanya, saat Chaira berjalan mendekat.
"Aku hanya ingin meminta maaf, tolong sampaikan maaf pada keluargamu, maafkan Daddy ku."
"Akan aku sampaikan." ujarnya dengan kembali berbalik.
Farrel menatap Metta, dia hanya tersenyum tipis,
"Bukankah kita memang rekan kerja? Dan akan begitu seterusnya." ujar Farrel lalu berbalik dan masuk kedalam mobil.
"Sialan, ini semua gara-gara Daddy!" gumam Chaira dengan tangan yang mengepal.
Sementara Mac melajukan mobil dengan kecepatan sedang, mereka kini menuju rumah utama, dan dipastikan Alan juga berada di sana.
.
.
Mobil yang dikemudian mang ujang sampai di rumah utama, sepasang suami istri itu turun lalu masuk kedalam rumah.
Alan yang duduk di ruang tamu telah menunggu mereka, Ayu masuk terlebih dahulu, disusul oleh Arya dari belakang.
"Astaga kau membuat bunda kaget Al." ujar Ayu yang terkejut melihat Alan duduk termenung disofa.
"Kenapa bunda melakukan hal ini? Apa bunda tidak bertanya dulu padaku?" ujar Alan datar.
"Bunda hanya ingin kau juga bahagia Alan!" ujar Ayu.
"Kenapa kamu marah seperti ini?"
__ADS_1
"Karena bunda tidak bertanya dulu padaku!"
"Al ... "
"Ayah juga, kenapa ayah diam saja?"
"Lalu ayah harus bilang apa? Apa ayah harus bilang kau tidak tertarik pada wanita, begitu?"
"Ayah!!" seru Ayu.
Ayu menggeser tubuhnya, mendekati Alan dan memegang lengannya ,"Mana mungkin itu, enggak kan sayang? Katakan itu tidak benar!"
"Apa sih bun!"
"Kata-kata Ayahmu tidak benar kan?"
Alan menghela nafas, " Bunda, udah deh jangan melakukan hal itu lagi, aku ini sudah dewasa, bukan anak kecil lagi."
"kalau begitu carilah pacar! Jangan menghabiskan waktu hanya bekerja saja." ucap Arya yang mengulum senyum.
"Kalau kau tidak juga mencari pacar, kau harus menerima keputusan bunda, dengan perjodohan, kalau kau tidak suka dengan Chaira, bunda akan mencarinya lagi." ucap bunda Ayu dengan menggenggam tangan Alan.
"Kenapa kalian ingin sekali melihat anak-anaknya segera menikah, dulu Farrel sekarang aku!" ujar Alan yang menangkup wajahnya dengan sikut yang bertumpu pada kedua kakinya.
"Bunda benar, jika kau tidak menemukan pacar sendiri, biarkan kami membantumu."
"Kau ini tinggal mengatakannya, kenapa susah sekali? Katakan kau sudah punya tambatan hati." seru Farrel yang baru saja tiba.
Alan memejamkan matanya, kemudian mendelik pada adiknya itu, "Awas kau!"
"Apa? Kau sudah punya pacar? siapa, dimana? Kenapa kau tidak mengatakannya?" tanya Ayu memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Bunda, dia malu mengatakannya," Ujar Farrel yang langsung duduk disamping ayahnya, dan juga Metta yang duduk disamping suaminya.
"Berisik, jangaan ikut campur!! " ujar Alan yang kini menatapnya dengan mata yang terus menyoroti Farrel.
"Kau ini memang keras kepala. " Timpal Farrel.
Metta menyentuh lengan Farrel, " Kenapa kalian ini tidak ada yang mau mengalah?"
"Dia yang keras kepala, tinggal mengatakan sudah punya kekasih, ribet, dengan begitu bunda dan ayah tidak akan repot- repot mencarikan jodoh untukmu." ujar Farrel kesal.
Namun Alan tetap diam, "Kalau bunda dan Ayah tetap melakukan hal itu, aku akan pergi dari rumah!
"Cih...." gumam Farrel.
Alan bangkit dari kursi lalu naik tangga menuju kamarnya sendiri.
"Bunda yakin dia sudah punya kekasih, tapi malu untuk mengakuinya."
"Kenapa harus malu bun? Aneh!" Metta terkikik.
Farrel menjumput hidung mancung istrinya, " Dia itu hanya malu mengakuinya, malunya lebih dari kakak."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ayah sudah bilang pada Fernand, Jangan mengganggu kita lagi. Kalau tidak aku yang akan menghancurkannya." ujar Farrel kemudian.
Membuat Metta menelan ludah. El, apa yang kau akan lakukan kali ini.