
Aku sudah memilihmu,
Maka aku akan perintahkan diriku,
Mengalahkan rasa takutku,
Keraguanku, dan
Menukarnya dengan keberanian
^Farrel Adhinata^
.
.
Farrel masih memainkan ujung rambut Metta saat Dinda berlalu meninggalkan mereka berdua. Berharap waktu dapat dia kendalikan, menghilangkan semua rintangan yang menghadang, restu bunda saja belum juga dia dapatkan, kini harus bertambah dengan datangnya seseorang dari masa lalu kekasihnya itu.
" Apa aku kasih tau kakak tentang Faiz?, tidak..itu akan membuat kakak mengetahui siapa aku!"
" Apa kakak masih akan terima aku jika kakak tau sebenarnya"
Farrel tersentak dalam lamunannya saat Metta menyentuh tangannya.
" Emm..Kamu kenapa? "
" Heh..memangnya kenapa? Farrel gelagapan.
" Ditanya malah balik nanya"
Farrel terkekeh," Kakak jangan marah marah terus, mau ku cium?"
" Apa sih kamu" Metta berdiri lalu berlalu.
Farrel setengah berteriak "Kakak, mau kemana?"
" Toilet, mau ikut?"
" Memang boleh?" Farrel tertawa,
" Ih..gak lucu" Metta menghentakkan kakinya kembali menuju toilet.
" Astaga gue berasa kayak bocah kalo lagi sama dia " gumam Metta saat melihat pantulan dirinya di cermin. Seutas senyum terlihat kini dibibirnya,
" Hanya saat dengan nya, gue sampai senyum senyum sendiri kayak gini." Metta menggelengkan kepalanya.
Mencoba mengatur kembali nafasnya, Metta menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskannya.
"Oke Sha, Dinda emang bener lo harus mulai buka hati lo sepenuhnya"
Metta keluar dari toilet dengan perasaan yang lebih baik, menatap Farrel yang tengah memainkan ponsel ditangan nya, terlihat lebih dewasa ketika dia bersikap begitu serius. Membuat jantung Metta berdetak tak karuan kembali.
" Pesonamu itu " gumam Metta. Kini kedua maniknya beralih pada 2 orang wanita muda yang berpakaian serba mini, yang satu berwarna merah yang memperlihatkan lehernya yang jenjang dengan rambut panjangnya, sementara yang satu nya lagi memakai mini dress dengan belahan dipahanya. Memperhatikan Farrel dengan lekat, berbisik bisik seolah tengah membicarakan Farrel.
" Ganteng banget, lihat"
" Seperti nya Esmud, bener gak"
Samar samar Metta mendengarnya, dia menghentakkan kaki, dengan sorot mata yang menajam.
" Udah makin sadar kan kalau pacar kakak ini tampan! sampai diliatin terus begitu" ucap Farrel saat Metta kembali duduk.
"Pede amat sih" Metta masih bersikap tak perduli.
__ADS_1
"Aku memang tampan kan ka?" Farrel menghentakkan jas nya dengan mata yang mengedip kearah Metta.
" Duh meleleh gue" ucap salah satu wanita itu.
" Biasa aja" Metta tak ingin menatap ke arah Farrel.
" Kalo biasa aja kakak lihat sini dong" Farrel mendekatkan kursinya, dengan menopang dagu melihat ke arah Metta yang terlihat salah tingkah.
" Ayo pulang,"
" Panggil sayang dulu"
" Farrel..!"
" Panggil sayang atau mau ku cium disini?"
" Farrel gak lucu tau gak" Metta memundurkan wajahnya saat Farrel mendekat.
" Ok..ok..sayang ayo kita pulang" ucap Metta dengan cepat dan sedikit keras. Tanpa sadar membekap mulutnya sendiri saat 2 wanita tersebut melihat ke arahnya.
" Aku mau dong dipanggil sayang" sindir perempuan tadi secara terang terangan.
" Mati gue," Metta menundukkan kepalanya.
Farrel menahan tawa lalu menarik lembut kepala Metta hingga terlihat bersembunyi di balik dadanya. Dengan sengaja mencium lembut pucuk kepala Metta.
"Wah..gak ada kesempatan lo" bisik teman wanita dibelakangnya dengan terkikik.
" Ayo kita pulang"ucap Farrel yang dibalas anggukan dari Metta.
.
.
Membuat Farrel yang membuka pintu lift terhenti, "Kakak, sakit"
"Biar tau rasa bikin malu saja" Metta mencebikkan bibirnya.
"Tapi aku suka" Farrel menatap lekat kekasihnya yang masih terlihat acuh.
" Iya kamu suka bikin aku malu, iyaa?
" Aku suka semua dari kakak, termasuk sikap kakak yang seakan tak perduli itu" batin Farrel.
Tring..
Mereka pun masuk kedalam lift, namun tak disangka kedua wanita itu sudah berdiri didepan lift yang hendak tertutup. Dengan pakaian yang serba mini mereka.
Farrel dengan cepat menekan tombol agar pintu tetap terbuka " Terima kasih Mas" ucap mereka dengan centil.
" Mas..mas ..pala lu mas" gumam Metta.
Farrel mengangguk, bersikap dingin dan tak perduli pada kedua orang itu, " Cool banget, apa cuma pura pura cool" batin Metta.
Kedua wanita itu mencuri pandang secara terang terangan pada Farrel, salah satu dari mereka bahkan dengan sengaja mengedipkan matanya ke arah Farrel, membuat Metta yang awalnya tidak mau perduli berubah menjadi jengah melihatnya.
" Sayang, habis ini kita mau kemana?" ucap Metta lembut dengan memegang lengan Farrel.
Farrel tersentak melihat perubahan Metta menarik bibirnya keatas, meraih pinggang Metta dengan erat, "Memangnya mau kemana hem"
"Kita kerumah ku yaa, atau ke apartemen kamu gimana?" tangan Metta sudah berada di pipi Farrel.
" Apartemen?" batin Farrel, pikirannya melanglang buana.
__ADS_1
"Kakak jadi aneh"
Fareel mengikuti permainan yang sedang diperankan kekasihnya itu sekarang.
" Sayang.."
suara Metta terdengar sangat lembut ditelinga Farrel, membuat hasrat nya menyeruak dengan cepat, menegangkan bagian tertentu ditubuhnya.
Metta mengalungkan tangannya di leher Farrel, membuat bulu bulu halus milik farrel meremang,
"Astaga kakak, bagaimana aku bisa menahan nya kalau seperti ini" batin Farrel.
" Cih dasar wanita penggoda" gumam salah satu wanita yang berbaju merah.
" Sayang, apa aku salah menggoda kekasihku sendiri" ucap Metta tak mau kalah, dengan bergelayut manja pada lengan Farrel.
" Persaingan wanita.." pikir Farrel namun dengan salah satu sudut bibir yang sudah terangkat.
Kedua wanita yang berada di sampingnya itu menatap dengan tajam, mengerlingkan matanya dengan cebikan dibibirnya. Tak tahan melihat tingkah sepasang kekasih itu. Dan rasanya ingin cepat pergi dari sana.
Tring
Pintu lift akhirnya terbuka, mereka keluar dengan tatapan bengis kepada Metta, dan melenggang keluar dengan cepat.
"Huh..hah..huh" seketika Metta melepaskan diri dari Farrel, dengan tawa yang terdengar puas dari bibir mungilnya.
" Kamu lihat mereka barusan..haha"
" Mereka kepanasan seperti cacing tanah" masih dengan tawanya,
" Syukurin makanya jangan macam macam dengan ku" Metta berkacak pinggang.
Seketika Farrel menarik pinggang Metta hingga menabrak tubuhnya sendiri " Lalu bagaimana dengan ku?
Metta tersentak " Aa...apa?"
"Kakak" suara Farrel terdengar berat, hembusan nafasnya mengenai wajah metta.
Jarak mereka semakin dekat, entah siapa yang memulainya duluan kini mereka saling memagut, dua benda kenyal itu menempel saling menyisir, semakin lama semakin dalam mengabsen setiap inci didalamnya.
" Eeugh.."
Metta melengguh lembut, membuat hasrat semakin membakar keduanya.Tanpa sadar Metta mengalungkan tangan nya keleher Farrel, tangan Farrel berada dipinggang memeluk erat Metta. Ciuman berubah semakin lembut, dengan nafas menderu dikeduanya.
Tidak adanya orang lain disana membuat mereka semakin leluasa, tangan Farrel menyusup dicelah bagian atas Metta, menyentuh dua benda bulat kenyal miliknya.
Tring...
Pintu lift terbuka..
"FARREL "
Mereka sontak melepaskan diri dan menoleh ke arah suara.
.
.
Segitu dulu..hahaha
Jangan lupa terus dukung aku dengan cara like, komen, bintang tujuh eeh lima, ( gak bosen ngingetin🤭) karena apa??..udah tau kan ya..
Makasih udah selalu setia nungguin aku up( pede)
__ADS_1
Makasih😘