
Tia masuk ke dalam sebuah bangunan yang berfungsi sebagai kantor sementara, dengan mendengus kasar dia mendudukkan dirinya di ruang tunggu yang tidak besar itu.
Dia benar-benar kesal dengan perkataan Doni padanya, hingga dia meninggalkannya begitu saja, dan melupakan bagaimana caranya nanti dia kembali ke hotel dimana dia menginap.
Bagaimana jika Doni meninggalkannya begitu saja, dia bahkan sama sekali tidak berniat meminta maaf, bahkan menghampirinya pun juga tidak.
Sementara Doni yang kesal hanya memukul-mukul stir kemudi, entah kenapa dia bisa semarah itu, padahal ini bukan hal yang besar.
"Sialan memang ....!"
Doni meraih ponsel di atas dashboard, mendial nomor telepon bos sekaligus sahabatnya itu, berniat mengadu karena keterlibatan Tia tidak membantu apa-apa, bahkan malah mengacau.
Namun berkali-kali ponsel itu berdering, tidak juga membuat Farrel mengangkatnya.
Lama dia berdiam diri sendiri, mengingat, dan memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa aku bisa semarah itu padanya?"
Doni menatap bangunan tidak jauh dari sana itu, dan memutuskan untuk masuk ke dalam.
Mata nya beredar mencari Tia, dan tak lama kemudian menaatap Tia yang juga tengah menatapnya kembali.
"Tia ...?"
"Mau apa? Menghina gue lagi?"
"Sudah... maafin gue ya...."ujar Doni pada akhirnya.
Tia menatap pria yang tengah berada dihadapannya itu dengan datar.
"Gue bener-bener minta maaf, dan harusnya kita bisa kerja sama supaya pekerjaan ini cepat kelar dan kembali ke kota B tepat waktu. Kita tidak bisa ribut terus seperti ini kan, ini malah memperlambat pekerjaan kita saja."
Namun Tia masih tidak bergeming.
"Ti ... ngomong dong, jangan diam saja! Gue udah minta maaf."
Tia berdiri dari duduknya dan keluar begitu saja, membuat Doni terperangah ditempatnya berdiri.
Tia yang sudah berada diambang pintu menoleh ke arah Doni.
"Heh ... buruan! katanya pengen cepat balik! Emang cepet beres kalau lo diam begitu kayak orang cacingan? enggak kan!" tukas Tia dengan tergelak lalu keluar.
"Sialan tuh cewek, dikasih hati minta jantung!"
Mereka berdua masuk kedalam mobil, Doni melajukan mobil dengan kecepatan sedang, masih ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan.
__ADS_1
Tia menyalakan tape mobil dan memutar lagu.
Dia mulai menjentikkan jari tangannya,
"Walau kau jauh cinta ku takkan hilang
Walau kau disana tapi cinta ini takkan sirna Meski banyak cobaan kini kian menerpa ooohhh janganlah kau bersedih ku yakin kau tak mengerti... jangan kau berkecil hati."
Tia menirukan sang vokalis, dan membuat Doni terpana, "Suara lo oke juga."
Tia hanya mengerling padanya, lalu kembali bernyanyi.
Sesekali Doni diam-diam melirik Tia dengan ekor matanya, dan tidak dia pungkiri, Tia sangat manis, dia juga cantik. Gadis yang dulu berkaca mata tebal dan pendiam itu berubah menjadi cantik dan menyenangkan. Tentu saja jika sedang tidak marah-marah seperti baru saja terjadi.
"Ti ..."
"Ti...."
Tia mendengarnya, namun diacuhkan begitu saja.
"Ti ..."
Tia berdecak, dan memukul lengan Doni, "Ta Ti ...Ta Ti... lo pikir nama gue kunti, panggil nama yang bener! Jangan asal."
"Sorry Tia...." ujarnya tergelak.
Doni mengulum senyum, dengan pandangan tetap kurus pada jalan di di depannya.
.
.
Dreet
Dreet
Ponsel Farrel berdering beberapa kali di atas Meja, sedangkan dia tengah asik mengusap-usap perut buncit sang istri. Dengan kepala yang dia tenggelamkan di atas paha Metta dan berkali-kali menciuminya.
"Ponselmu berdering papa El...." ucap Metta yang tengah sibuk menusuk buah dan memakannya, dengan menonton film favorit nya.
"Biarin, palingan juga si Doni."
"Sayang, hari ini papa baru meeting sama pak Imran, pak Eko, dan terakhir bertemu uncle Al."
"Harga saham juga sedang bagus!"
__ADS_1
Farrel asik sendiri dengan kegiatan baru nya, mengajak bicara anak yang masih berada di dalam kandungan. Apa saja bisa dia ceritakan, kegiatannya di kantor, tempat-tempat yang dia kunjungi, bahkan nama-nama rekan yang hari itu dia temui.
"Sayang ..." Metta tertawa geli,
"Apa? aku hanya menceritakan kegiatanku hari ini padanya, agar dia tahu papa nya itu pekerja keras, dia pasti bangga punya papa keren, ganteng seperti aku, iya kan Sayang?" ucapnya dengan pandangan beralih pada perut buncitnya.
"Saham ... mana paham dia sayang, kalau bangga tentu saja dia bangga, tapi gak mesti membicarakan pekerjaan, terlalu berat untuknya."
"Kenapa juga bawa-bawa bapak-bapak," ujarnya lagi dengan terpingkal. Hingga kepala Farrel ikut bergerak naik turun karena tawa Metta.
"Ya tidak apa-apa, biar dia mengenal siapa saja rekan-rekan bisnis papanya."
Farrel bersikekeh, membuat Metta akhirnya menyerah, "Iya... iya terserah kamu saja Sayang!"
Metta kembali Fokus pada tayangan televisi, namun telinganya tetap mendengar apa saja yang Farrel bicarakan dengan anak yang belum saatnya melihat dunia. Membuatnya lagi-lagi terpingkal.
"Sayang udah ah, ganti topik, jangan tentang bisnis yang setiap hari kita geluti, membosankan!"
Farrel menyusupkan tangannya dibalik baju tidur, memijat pelan punggung Metta, membuatnya nyaman dan akhirnya tertidur begitu saja,
"Sayang, malah tidur!" keluhnya.
Farrel memandangi wajah Metta, ia menyibak selimut dan kembali ke sofa dimana Metta tertidur, dengan lembut dia menggendong tubuhnya dan merebahkannya di atas ranjang, menyelimutinya hingga batas dada.
Setelah memastikan Metta tidur dengan nyaman, Farrel keluar dari kamar, tidak lupa dengan ponselnya yang dia ambil dari atas nakas.
"Banyak banget si Doni!" Gumam Farrel, dengan memeriksa beberapa pesan singkat dari nomor yang sama.
Dia kembali mendial nomor Doni.
'Apaan, jangan bilang kalian mengacau!'
'Astaga, enggak lah Rel. Mana mungkin!'
'Terus ngapain kau kirim pesan sebanyak itu, mengganggu saja!"
'Sorry ...'
'Kerja yang bener, jangan mengacau lagi!"
Farrel mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali masuk kedalam kamar.
"Bikin mood papa rusak sayang, dan obatnya malah sudah tidur!" ucapnya pada perut buncit yang tengah dia elus- elus itu.
.
__ADS_1
.