
Farrel berseringai, dengan jari yang mulai me remass benda yang kini berada dalam genggamannya.
"Katakan, kalau tidak! aku akan berhenti."
Astaga kenapa mesti ditanya, tinggal lakuin juga iiihh...
Tangan Farrel merayap-rayap ke daerah strategis yang membuat suara merdu khas keluar dari mulut Metta.
"El ... ihh!"
"Apa hem? Katakan mau atau tidak,"
Farrel sengaja bermain-main di dua gundukan dengan sesekali memilin ujungnya hingga rintihan Metta yang tercekat ditenggorokannya.
Suhu ruangan mulai memanas, Farrel mencecap benda bulat dengan tangan yang terus me remass benda yang satunya.
"Sa--sayang!"
Harum sabun dari tubuh Farrel menyeruak hingga membuat Metta keranjingan, dia menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh Farrel.
"El ...."
"Yes my Cherry,"
"Lakukan sekarang, atau aku yang akan melakukannya!" Ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Farrel tersenyum, "Lets go my Cherry."
Farrel mulai merapatkan tubuhnya, menyusup dengan dengan sesekali mendaratkan kecupan-kecupan di leher, tak lupa meninggalkan jejak kemerahan, membuat tubuh Metta kembali menggelinjang, namun juga mereka harus berhati- hati karena perut yang mulai membuncit itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Sa--sayang,"
"Hm....Ahhhkkk!"
Perlahan senjata yang tegak berdiri itu melesak masuk, memberikan sensasi hangat, kemudian perlahan bergerak, mengalun dengan irama gerakan tubuh mereka, membuat manik hitam Metta membola dengan sendirinya, saat benda keras itu menerobos masuk.
"Aaahhh...sayang, kenapa rasanya semakin sempit!" Farrel menggeram.
Sesuatu yang hangat kembali mencengkeram didalam sana, membuatnya semakin ingin meledak.
Kedua tubuh yang menyatu itu berguncang hebat, dengan iringan merdu keduanya, membawa mereka melambung dengan pasti ke puncak nirwana, meloloskan benih-benih cinta di tempat yang seharusnya,
"El ... ah .... aku mau .... "
"Yes...ahhhh sayang ... Faster!"
Dreett
Dreett
Ponsel berdering begitu saja, mereka mengabaikan dunia nya, dering yang terus terdengar semakin nyaring itu mengiringi pergumulan penuh peluh mereka, hingga gerakan menghentak perlahan dengan geraman panjang, serta de sa han dari sang lawan membuat peraduan mereka kian panas, melambung untuk kedua kalinya,
"Saya---nggg... eeeughhhhh! Teleponnnya....Aahkkk!"
"Hhmmppt ... Biarkan saja!"
"Sayang, my Cherry eeuhhhggg aku datang!!"
"Sayang.... Aaahh"
Tubuh Mereka melemah, Farrel berguling ke samping, kemudian dia mengusap perut nya, dengan nafas yang masih berderu.
"Istirahatlah, karena sebentar lagi aku akan kembali menyerang." terkekeh.
__ADS_1
"Memangnya kau tidak cape?" ucap Metta mengusap pipi suaminya.
"Aku masih kuat sampai tiga atau empat kali lagi."
Metta membulatkan mata, "Sayang ... ini bukan cicilan kan?"
Farrel tergelak, dia menarik tubuh polos itu dengan sesekali mencium bahunya.
"Rasa nya semakin enak."
Metta menggusel kedua pipinya, "Dasar ....!"
Ponsel Farrel kembali terdengar nyaring berbunyi di atas nakas, namun dia mengabaikannya begitu saja. Tidak mau mengganggu aktifitas yang menyenangkannya itu.
Ponsel terus saja berbunyi, membuat Farrel berdecak berulang kali.
"Angkat dulu sayang, siapa tahu penting!"
"Kalau tidak penting, aku akan membunuh siapa pun yang menelepon itu." Ujarnya lalu bangkit dan mengurai pelukannya,
Farrel meraih ponsel miliknya, yang diletakkan bersebelahan dengan ponsel istrinya. Dia mengernyit saat tahu yang menelepon itu adalah Mac.
"Kurang ajar, awas saja kalau dia meneleponku untuk sesuatu hal yang tidak penting."
'Apa, cepat katakan!'
'Cepat datang ke rumah utama.'
'Ada apa Mac?'
'Pokoknya datang saja, nanti kau juga akan tahu sendiri.' ungkap Mac.
"Ada apa El?"
"Aku ikut!"
.
.
Tak lama kemudian Farrel sudah sampai di depan rumah utama, Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah,
"Mana bunda?" tanya nya pada Mimah yang membuka pintu.
"Dikamarnya Mas Alan."
"Apa Alan juga ada?"
"Tidak ada Mas, bunda hanya sendirian di kamarnya."
Farrel lantas naik ke lantai dua, dia sedikit berlari dengan khawatir.
Apa bunda sudah tahu apa yang terjadi pada Alan? Celaka.
Ceklek
"Bunda?" panggilnya dengan kedua manik yang mengedar ruangan kamar.
Bunda Ayu yang baru saja keluar dari dalam in closed terkaget karena melihat wajah Farrel yang mengkhawatirkan.
"Sayang ... kalian kesini? Kok gak bilang-bilang Mau datang?" ucap Bunda Ayu dengan menyusup air yang menganak dipelupuk mata.
"Bunda tidak apa-apa?" tanya dengan merengkuh bahunya.
__ADS_1
Bunda Ayu mengernyit, " Memangnya bunda kenapa?".
Farrel menatapnya dengan nanar, wajah sendu bunda mengganggu fikirannya. Namun sepertinya bunda tidak ingin mereka tahu apa yang tengah dikhawatirkannya.
"Bunda baru saja merapikan baju Alan yang masih ada di sini, anak nakal itu tidak pernah pulang walau bunda memaksanya pulang!" ujarnya lagi.
Farrel pun mengatupkan bibirnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa pada bunda, yang jelas dia merasa bunda menyembunyikan sesuatu.
"Cucu Oma apa kabar?" ucapnya dengan mengelus perut Metta.
"Baik-baik saja Oma, besok baru jadwal kontrol lagi." jawab Metta.
Bunda Ayu mengangguk, "Jangan terlalu lelah, makan yang banyak ya sayang!"
"Iya Bunda."
"Bunda, aku kok gak di ingetin makan? Aku juga kan mau."
Bunda Ayu memukul punggungnya, "Kau ini! Ada istrimu yang selalu mengingatkanmu!"
Farrel memeluk bunda tiba-tiba, dan itu justru membuat air bening itu kembali berkumpul, namun bunda Ayu menyusutnya dengan cepat, dia tidak ingin mereka tahu apa yang tengah dia rasakan.
"Bunda baik-baik saja kan?"
Bunda Ayu mengangguk, dengan mengurai pelukan nya, "Ayo keluar, kita makan malam bersama, sebentar lagi ayah kalian juga akan pulang."
"Bunda belum menjawab pertanyaanku."
Dia mengusap kedua pipi Farrel, "Bunda tidak apa-apa sayang,"
"Tapi mata bunda sembab dan merah begitu? Ada apa bun ... katakan!"
"Sudah bunda bilang, bunda tidak apa, kau ini kenapa?"
.
.
Semua saling terdiam di meja makan, Arya sudah bergabung dengan mereka, dia juga terlihat sangat cemas, dengan sesekali melirik istrinya.
Farrel yang memperhatikan mereka berduapun semakin curiga,
Ayah dan bunda sepertinya sudah tahu masalah ini, tapi mereka bersikap seorang tidak tahu apa-apa.
"El ... bagaimana dengan perusahaan?"
"Tidak ada masalah kok yah, ayah tenang saja,"
Arya mengangguk dan kembali diam. Sementara bunda Ayu hanya mengaduk- masuk makanannya.
Arya terpaksa menyenggol lengannya, membuat Ayu mengerti dan kembali menyuap makanan.
"Kalian mau menginap?"
"Enggak bun, kita mau pulang, besok pagi kunjungan ke dokter, jarak dari sini lumayan jauh, lebih baik kita pulang ke apartemen saja."
"Ya sudah kalau begitu," ucap Ayu.
Bunda biasanya memaksa kita untuk menginap, kali ini tidak,
"Bun .... apa---"
Metta menyentuh punggung tangannya, memberi kode untuk tidak mengatakan apapun saat ini, hingga Farrel mengurungkan niatnya untuk bertanya pada mereka. Menunggu mereka yang mengatakan, karena takut justru karena Farrel mereka jadi tahu.
__ADS_1