Berondong Manisku

Berondong Manisku
Masalah terurai bebas


__ADS_3

Angin berhembus lebih hangat, musim pun berganti dengan cepat. Dan waktu berputar tanpa bisa dicegah apalagi dikembalikan. Sementara sifat manusia bisa berubah dalam hitungan detik saja.


Sepasang sepatu mengkilap teronggok disudut ruangan menunggu sang tuan memakainya. Sementara dia masih berkutat dengan ponselnya dan sesekali menggertakan giginya hingga garis rahang terlihat lebih tegas.


"Cari tahu tentangnya, sekarang juga!!"


Setelah mendial salah satu kontak diponselnya itu, lalu ponsel dia tempelkan di telinganya. Dan tanpa menunggu jawaban seseorang diujung telepon sana, Alan menutup sambungan teleponnya. Dengan cepat dia keluar dari kamar.


Setelah beberapa hari ini hanya masalah tentang kecebong itu saja yang selalu mengganggu fikirannya, pembicaraan beberapa hari yang lalu dengan Farrel yang terus mengusik hatinya. Tapi berbagai masalah ke- 2 perusahaan yang tidak juga bisa dia tinggalkan membuat hal ini terunda dan terus terunda lagi.


Alan bersiap keluar dari plat-nya, dengan setelan jas lengkap dan sepatu mengkilap khasnya membuat daya tariknya semakin terlihat. Wajah asia yang dimiliki dengan rahang tegas dan kedua mata tajam bak elang namun tak pernah bisa menatap orang lain lebih dari 3 detik saja, tapi jika sudah mengunci lawan bicara nya, sorot mata itu bak menghujam lurus sampai ke ulu hati. Membuat lawan bicara tak mampu membalas tatapannya seakan terbunuh dalam diam.


Tak membutuhkan waktu lama dia telah sampai di perusahaan. Entah kenapa setelah pengangkatan Farrel menjadi CEO di perusahaan, orang-orang menyebutnya dengan ketua asisstan. Yang bahkan dia sendiri tidak peduli akan hal itu.


"Ketua..." ucap seseorang yang berada di kursi sekertaris sejak Cintya dipindahkan, namun tak sedikitpun Alan menatapnya.


Alan masuk kedalam ruangannya, namun saat hendak menutup pintunya, seseorang mendorongnya. Dia menoleh dan melihat Farrel yang masuk.


"Apa...?"


"Selesaikan masalah mu sebelum aku menikah!" ucapnya lalu Farrel kembali keluar dari ruangan Alan.


"Cih, datang hanya mengatakan hal macam itu!" Alan menggelengkan kepalanya, lalu mendudukkan tubuhnya dikursi kebesarannya.


Drett


Drett


Ponselnya bergetar, Alan merogoh ponsel dari saku celananya. Dan kali ini menatap layar putih yang menyala itu sebelum menempelkannya di telinga.


"Katakan."


"Aku akan segera kesana,"


Alan kemudian keluar dengan cepat dan dia melangkah menuju lift khususnya. Rasanya ingin berlari agar cepat sampai dan membawanya ketempat yang akan membantu mengurai satu persatu benang yang kusut.


Tak lama dia sampai di pelataran parkir dan segera masuk kedalam mobil, kemudian melaju dengan cepat sesuai alamat yang diberikan oleh orang suruhannya.


Alan bajakan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membuat pengendara yang lainnya membunyikan klakson dengan keras dan berteriak kesal padanya. Namun dia tidak peduli sama sekali. Hanya menatap spion yang yang menempel di badan kiri dan kanan mobil nya.


Tak lama kemudian dia sampai, Alan menepikan mobilnya tepat didepan gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi, bangunan rumah bermode eropa klasik yang membuatnya semakin penasaran. Apa benar ini alamatnya.


Alan turun dari mobil dan terlihat security menghampiri ya, "Aku mau bertemu dengan Tasya."


"Maaf apa tuan sudah ada janji sebelumnya?"


"Tidak, katakan saja padanya aku datang!"


Security itu menatap dengan heran namun dia kembali ke pos tempatnya berjaga dan menelepon majikannya


"Suruh dia masuk," ucap Tasya dari ujung telepon.


Security itu pun membuka gerbang dan membiarkan Alan masuk, lalu kembali menutupnya.


Alan melemparkan kunci mobil padanya, "Jika mobil ku menghalangi jalan, pindahkan saja!"


Dengan gelagapan security itu menangkap kunci mobil yang dilemparkan oleh orang yang sama sekali tidak berekspresi itu.


Pintu terbuka, seorang maid mempersilakan dia masuk,


"Tunggu sebentar Tuan, nona akan segera turun kemari menemui Tuan." ucapnya lalu menghilang kembali kedalam.


Sementara Alan duduk disofa ruang tamu yang hampir sama dengan luas rumah kediaman Adhinata.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, sepasang sendal berbulu itu menuruni tangga dengan perlahan, Tasya dengan memakai dress pendek dengan rambut terurai sangat cantik dengan wajah yang merona."


"Ada apa kau mencariku? Kita ada urusan Tuan?" Ketus nya pada Alan.


Alan yang memandang perut Tasya hampir tak berkedip itu terkesiap. Dia bangkit dari duduknya.


"Katakan, apa dia anakku?" Alan menatap nyalang pada Tasya. Namun berakhir dengan tatapan nanar pada perut buncit miliknya.


"Katakan ... aku akan bertanggung jawab jika iya," ujarnya lagi.


Tasya mengernyit, " Apa yang kau katakan?"


"Apa saat itu ... aku ... apa aku melakukannya?" tanya nya tergagap.


Masih dengan wajah yang heran Tasya menatap Alan, "Kenapa kau mengira ini anakmu?"


"Katakan saja itu anakku atau bukan? Jadi tidak usah menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan lagi."


Tasya mendengus kasar. " Dasar Tuan arogan!"


"Jadi kau kesini hanya untuk bertanya? Apa ini anakmu atau bukan?" Alan tak menjawab.


Tasya mendaratkan tubuhnya disofa, "Aku masih berharap ada seseorang yang mencariku karena memang dia mencariku, bukan karena anak ini!" ucapnya lirih.


"Tapi tenang saja, aku cukup tahu diri. Bahkan aku benar-benar sudah berubah," imbuhnya kemudian.


Pelahan Alan ikut mendaratkan dirinya disofa hingga mereka saling berhadapan.


"Aku menyesal jika memang aku melakukan hal yang buruk dimasa lalu, dan harus menanggung akibatnya seumur hidup. Aku minta maaf!"


"Bukan itu yang ingin aku dengar, jawab saja pertanyaanku."


"Kau ini tidak menghargai tuan rumah yang sedang bicara! Tenang saja, kau bisa bernafas lega sekarang. Karena ini bukan anakmu! Apa kau bodoh, kita tidak melakukan apa-apa malam itu,"


"Hah...."


"Maksudku kita malam itu, tidak melakukan itu....?" Alan mengusap tengkuknya.


Tasya terkekeh, "Tuan arogan ternyata juga bisa bodoh, tentu saja tidak ..., apa kau merasa mengeluarkan sesuatu dari senjatamu?"


Alan mengernyit, dan tak mampu menjawabnya, dia memang tidak paham sama sekali, dan senjata apa yang dia maksud? Apa dia tahu aku punya senjata?


Tasya mendecak, "Kita hanya melakukan skin to skin, meskipun aku mencoba menggodamu, tapi kedatangan Farrel menggagalkan rencana ku. Apa kau tidak ingat?"


"Bahkan kau belum mengeluarkan apa-apa!" imbuhnya lagi dengan terkekeh.


"Jadi... jadi itu bukan kecebongku?


"Hah...."


"Maksudku bukan anakku?" ralatnya lagi.


"Jelas bukan...." ucap nya dengan seutas senyum.


"Dan aku juga tidak berharap kau adalah ayahnya, jadi kau tenang saja." imbuhnya lagi.


"Lalu itu anak siapa? Maaf jika pertanyaan ku membuatmu tidak nyaman."


Tasya menggelengkan kepalanya, " Eric...." lirihnya.


"Eric...?" Tasya mengangguk. "Tapi aku juga tidak ingin dia mengetahuinya...."


Alan mengernyit, "Kenapa...? Bukankah seharusnya dia bertanggung-jawab."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa membesarkannya sendiri. Karena Eric mencintai sepupuku, aku tidak ingin merusak hubungan orang lain lagi." ucapnya dengan lirih.


Dan mata indah miliknya kini basah, perlahan bulir bening itu turun bebas meski selama ini dia menahan nya.


"Apa kau menangis...."


Tasya menangis namun juga tergelak, " Tidak aku sedang berlari."


"Maaf...."


"Kenapa kau minta maaf, kau kan tidak bersalah." Tasya menyeka air mata dengan ibu jarinya.


Maafkan aku karena sering berlaku jahat padamu, dan menganggap mu gadis yang licik dan jahat. Tapi kau ternyata sudah berubah.


"Terima kasih,"


"Kenapa kau berterima kasih, aku tidak memberikan apa-apa padamu! Kau ini ternyata kaku sekali. Sangat berbeda sekali dengan adikmu," Alan hanya menarik tipis bibirnya.


"Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan meminta bantuanku,"


"Jadi sekarang kau berlaku baik padaku karena aku sedang hamil? Dan bukan anakmu, begitu...?"


Alan menggelengkan kepalanya, "Aku pernah berlaku buruk padamu, dan saatnya aku juga berubah bukan!"


"Jadi ceritanya kita berdamai?"


"Ya... semacam itu." Alan bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, kalau kau mau, aku akan menyeret Eric kesini!" Alan mengulurkan tangannya pada Tasya.


"Boleh aku memanggilmu kakak?"


Alan menautkan kedua alisnya namun sedetik kemudian menarik sudut bibirnya "Tentu, kau bisa menganggapku sebagai seorang kakak."


Tanpa diduga Tasya berhambur memeluknya dan menangis sejadinya didalam pelukan Alan. Sementara Alan hanya menepuk-nepuk pelan bahunya.


"Terima kasih kakak...."


Alan hanya mengangguk dalam diam.


.


.


Alan kembali ke kantor dengan perasaan lebih baik, masalah yang mengusik itu telah terurai bebas, meskipun dia tidak tahu bagaimana cerita Eric dan Tasya, namun dia juga tidak ingin terlalu jauh kecuali Tasya yang meminta bantuan padanya.


Saat hendak masuk kedalam ruangannya, dia menatap gadis yang sedang menatap layar monitor dengan ekor matanya lalu setelah itu barulah dia masuk kedalam ruangan.


"Kau dari mana saja? Aku mencarimu," Tanya Farrel yang kini tengah duduk disofa, dengan Mac yang berdiri disampingnya dan juga Doni yang duduk takut di ujung sofa.


"Menemui Tasya...."


"Hah...kau benar-benar bertanya padanya?"


"Hm...." Jawab singkat Alan mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.


"Dan itu bukan kecebongku!" tukasnya seaya melemparkan bolpoin ke arah Farrel.


Membuat Mac maupun Doni tergelak, "Kau juga, info macam apa yang kau berikan padaku Mac! Sialan kau membuatku malu."


"Info apaan Rel?" bisik Doni di telinga Farrel.


"Kecebong terbang, melesat sampai jadi anak! Benarkan Mac!"

__ADS_1


"Kecebong?"


__ADS_2