
"Memangnya orang yang buruk, tidak boleh dapet yang baik?"
"Kenapa ngomong begitu?"
"Lupakan!" Ucapnya lalu beranjak meninggalkan Tia yang masih bingung.
"Apa maksud dia bicara seperti Itu? Selalu saja membuat mood ku jelek." gumamnya.
"Gimana Ti? Udah?"
Tia mengangguk, "Dia memang sudah menikah, dan gue kenal juga orangnya, tapi gue baru tahu kalau dia istrinya Farrel.
Gue juga sudah tahu, tapi masih berharap kalau dia hanya mengaku-ngaku, itu sebabnya due nyuruh lo buat tanyain.
"Udah gue mau pulang!" Tia beranjak meninggalkan kedua gadis Itu, dan menghampiri Brian, "Bri, gue pulang duluan!"
"Thanks Tia,"
Tia mengangguk, lalu dia keluar dari ballroom tersebut dan berjalan ke arah parkiran, dia berjalan menuju mobilnya. Namun saat berada di depan mobilnya, dia menyadari ada yang aneh dari mobilnya,
"Kok kempes sih! Elah, selalu saja begini! Padahal berkali-kali masuk bengkel, penyakitnya masih saja sama." gumam Tia yang terus menggigiti ujung kukunya.
Tia mengotak-ngatik ponselnya, dia menghubungi temannya yang bekerja disangkal yang menjadi langganannya, namun tidak juga di angkatnya.
Tia berdecak, "Kemana sih ni Orang! Tiap dibutuhkan selalu saja tidak ada."
Tin
Tin
Klakson mobil memecahkan lamunannya, dia menoleh ke arah mobil yang kini lampu mobil menyorot ke arahnya. Doni menyembuhkan kepalanya, "Kenapa mobil lo?"
"Tahu nih, tapi sepertinya ban dalamnya kempes lagi."
"Lagi? Berarti udah sering dong!"
"Ya gitu deh,"
Doni turun dari mobilnya, dan menghampiri Tia, " Makanya ganti pake yang original, jangan yang abal-abal kayak gini."
Tia mengepalkan tangannya, "Lo mau bantu apa mau meledek."
Doni tergelak, "Dua-duanya."
"Udah ayo, gue antar lo pulang, biar temen gue yang urus mobil lo ini."
Tia memicingkan mata, " Lo gak lagi cari-cari kelemahan gue kan? Yang bisa lo manfaatkan suatu hari nanti!"
"Jangan ngaco lo, kalau lo gak mau juga, gue gak maksa!" ujarnya kembali berjalan, dan masuk kedalam mobilnya kembali.
Tia mengerjap, dia tidak mungkin menyia-nyiakan bantuan yang ditawarkan Doni begitu saja.
"Tunggu...." ujarnya dengan masuk ke dalam mobil.
.
.
"Jadi lo beneran gadis kutu buku yang selalu duduk paling ujung?"
Tia mengangguk,
__ADS_1
"Terus kenapa lo bisa berubah kayak gini sekarang?"
"Hah... cerita panjang! Bakal butuh berhari-hari buat dengerin cerita gue yang satu itu!"
"Berasa penting banget!" gumam Doni.
"Mau di antar kemana nih, cepetan! Gue bukan taxi online,"
"Dih ... gitu doang, biasa aja kali." sungutnya.
"Ke jalan xx, dari depan tinggal belok kiri, terus belok kanan, belok kiri lagi, sampe habis terus lurus." tukas Tia.
"Yang benar saja, jangan bikin gue pusing!"
"Memang gitu kok!"
"Terserah lo deh!"
Langit dengan gemerlap bintang menjadi saksi dua manusia yang lagi-lagi berdebat itu. Tidak ada yang mau mengalah dari mereka.
"Nyesel gue bantuin lo,"
"Ya udah sih, tanggung nih didepan belok kiri sekali lagi!"
Doni menoleh dengan geram, dengan tangan yang mengepal di udara, "Lo ... dari tadi ngomong belok kiri udah berapa kali, lo kerjain gue?"
"Stop...! Dah sampai. Tuh rumah gue, paling pojok."
Doni mengedarkan pandangan ke area perubahan berkavling Itu, tampak sepi, ditambah posisi rumah Tia yang terletak paling ujung,
"Serem amat!" gumamnya.
Tia mendengar gumaman Doni, dia lantas turun. "Thanks yaa, hati-hati, di depan sana suka ada pocica yang gangguin yang lewat." ujarnya tergelak dan meninggalkan Doni yang masih tersentak mendengarnya.
.
.
Tok
Tok
Doni tersentak saat kaca mobilnya ada yang mengetuk, dia menolehkan kepalanya.
"Apa lagi?"
"Lo benaran takut, gue perhatiin lo gak balik-balik dari tadi!"
"Gara-gara lo ngomong sembarangan, gue takut benaran!"
Tak disangka Tia terbahak, "Gue gak nyangka, cowok modelan lo ternyata takut setan!"
"Berisik lo, anterin gue pulang!"
"Dih, gue nganterin lo balik, terus gue nanti baliknya gimana be go!"
"Lo bawa mobil gue deh!"
Tia berdecak, "Nambah-nambah kerjaan lo!"
"Udah buruan masuk, lo emang mesti tanggung jawab, udah bikin gue nganterin lo sejauh ini, plus gak bisa balik karena omongan lo yang gak masuk akal."
__ADS_1
Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Tia berjalan mengitari mobil, namun dengan cepat Doni berpindah ke jok sebelahnya.
"Eh ... ngapain lo duduk di sini?"
"Lo yang nyetirlah, masa gue!"
Tia kembali berdecak, "Lo emang benar-benar. bikin emosi gue memuncak!"
"Ter se...rah!!" jawab Doni dengan sengaja memakai jeda.
Akhirnya Tia masuk ke dalam kursi kemudi, dia melajukan mobil itu keluar dari perumahan berkavling di mana rumahnya berada, dia menginjak pedal gas dan melaju dengan kencang.
"Rumah lo dimana? Cepat bilang, gue bukan taxi online!" Tia membalas perkataan seperti yang Doni katakan tadi.
"Cih... lo sengaja membalas gue!"
"Ter se rah...." ucap Tia tak peduli.
Tak lama kemudian mereka sampai di pelataran apartemen milik Doni.
"Cieh... anak apartement nih! Pantesan sombong."
"Gue gak jadi pinjemin mobil buat lo, Dah sana turun!"
Tia terkesiap, "Ya ampun, lo itu serius banget, gue bercanda--bercanda doang!"
Doni keluar dari mobil, dia lantas mencondongkan tubuhnya dan menghadap ke arah Tia, "Besok gue ada meeting terakhir dengan Fara, lo jemput gue disini lagi! Kalo enggak liat aja, apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
"Dih galak banget Sih!" ujar Tia dengan menginjak pedal gas secepat mungkin, dengan segera melajukan mobilnya, dia sangat takut Farrel tiba-tiba menelepon. Dan Doni merubah fikirannya.
Keesokan Hari
Tia sudah berada di tempat parkir, bahkan dari pagi sekali, dia tidak ingin berbuat masalah yang akan membuat menjadi masalah pada pekerjaan nya dan juga atasannya. Bu Fara.
Namun orang yang ditunggunya tidak juga terlihat, akhirnya dia merogoh ponselnya dan berusaha menghubungi Doni.
Namun tak sekalipun Doni mengangkatnya,
"Aaahhkk..." Tia melemparkan ponsel di kursi sebelahnya,
Tak lama dari kejauhan Doni terlihat buru-buru, dengan kemeja yang masih belum terpasang sempurna. Dia membuka pintu mobil dan melihat ke arah Tia.
"Sorry ... gue kesiangan!"
Tia yang masih terkesiap karena tatapan Doni dengan jarak wajahnya yang terlalu dekat dengannya. Jantungku, sepertinya mulai terganggu.
"Elah... lo malah melamun, kenapa lo? aneh, cepet jalan, gue udah terlambat!"
Tia mengangguk, dia segera menyalakan mobil dan melajukannya dengan kencang.
Dreet
Dreet
Ponsel Tia berdering, dia mencari ponselnya, namun tak juga ketemu. Ponsel yang tadi dia lempar begitu saja.
Doni meraba kursi jok yang dia duduki, yang merasa kursi jok nya bergetar. Dia meraih Ponsel yang dicari Tia, sekilas dia melihat wallpaper ponsel yang tengah menyala itu.
"Iini...."
Tia menoleh, dia lantas merebut paksa ponsel miliknya dari tangan Doni. Sementara Doni masih terperangah dengan apa yang dia lihat di wallpaper ponsel nya.
__ADS_1
"Itu...."