
"Eh ...bang Gimana rasanya bekerja?"
Farrel terlihat mengusap dagunya, bak menjelma sebagai orang serba tahu, dan jelas dirinya merasa lebih unggul dari mereka. Meskipun dia tidak banyak mengerti istilah-istilah yang dipakai 3 sekawan itu.
Dan diamnya kini membuat Irfan dan Jaka menatapnya tak jemu, hanya untuk menunggu jawaban yang sengaja digantung. Sementara Andra rasanya ingin berlari menghindar seolah tidak pernah mengenal duo rusuh itu.
Bukan temen gue ya.
"Etdah, lama banget kayak nunggu ayam jantan bapak gue yang bertelor,"
"Dimana-mana jantan gak bertelur bego!" Jaka menoyor kepala Irfan dengan omongannya yang konyol. "Kiamat yang ada, dah punya bekel lu emang?"
Mac yang duduk berjarak 1 meja menggelengkan kepalanya, remaja jaman sekarang fikirnya dengan tetap memasang mata waspada.
"AYo dong bang, elah lama banget! Kayak kopaja nge-tem!"
"Bisa sehariaan gak sih,"
Hahahha...
Gelak tawa kembali terdengar, kali ini Farrel menatap tajam hingga keduanya terkesiap dan Mac sudah mengambil ancang-ancang hendak mengambil tindakan.
Tiba-tiba
Boom
Hahaahah
Farrel tertawa hingga nyaris membuat semua orang ingin melemparinya dengan sesuatu. Namun membuat Ketiga sekawan itu tiba-tiba menghentikan tawanya.
"Telat lo bang!" ujar Andra.
"Tahu nih, abang lo Ndra!" Jaka mengerdikkan bahu, yang disusul anggukan dari Irfan tanda setuju.
"Seru juga main sama kalian, kapan-kapan kita main lagi ya," Ucap Farrel.
"Wah, wah ...Jangan bilang lo mau masuk genk kita nih bang bro!"
"Ikut mentereng dah kita, iya gak?" Timpal Jaka.
hahhaha
"Awas aja lo-lo pada ngajarin dia gak bener!" ancam Andra.
"Dih, gak bener apa!? Kunci jawaban?" ledek Irfan, dan kembali menyikut Jaka.
Mereka terus meledek yang diakhiri dengan tawa keduanya.
"Benar-bener lo berdua biang rusuh tahu gak, cepetan tulis pesenan kalian! Bacot mulu dari tadi, mau makan apa mau numpang ngaso doang!"
"Dih, sok-sok an...."
"Hooh, tau nih!"
Ketiga nya lalu kembali pada buku menu, membulak balik lembaran demi lembaran.
"Gue ini aja, Sssscch...apa dah susah amat!"
__ADS_1
"Langsung tulis aja, mereka ngerti kok!" ucap Farrel lalu Jaka dan Irfan terlihat mengangguk-ngangguk.
"Kapan lagi kita ngerampok orang gampang kayak gini!"
"Diem lo!" ucap Andra mencebikkan bibirnya.
"Maafin teman-teman aku bang, mereka emang kayak gitu, otaknya kurang seons,"
"Gak apa-apa Ndra, santai aja! Aku memang harus tahu dunia pertemanan adik ku," Ucap Farrel penuh percaya diri.
Andra hanya memutar mata malasnya dan enggan menjawabnya. Hingga waiters menghampirinya dan menanyakan pesanannya, Jaka menyerahkan selembar pesanan yang dia fikir akan membuat Farrel merasa itu perampokan.
"Yakin lo bakal habisin semua? pesenan lo banyak banget lagi."
"Udah sih biarin aja, mungpung ada yang nanggung!" bisiknya dengan mengedarkan matanya mengelilingi isi cafe itu.
Dan mata jeli Jaka menangkap 4 orang perempuan yang tengah berbisik-bisik dengan menatap kearahnya.
"Wah banyak yang bening disini ngab" sontak membuat ketiganya mengikuti pandangan Jaka.
"Coba tebak, mereka ngeliatin siapa?"
"Dah tahu lah ...yang paling mentereng cuma dia disini!" Ucap Irfan yang menunjuk Farrel dengan dagunya.
"Hooh...dia sama gue udah pasti!"
"Lihat ...lihat yang pake sweater merah kayaknya senyum-senyum ke gue deh!" Ketiganya sontak menatap kembali 4 orang gadis yang tengah cekikikan itu.
"Yang rambutnya gelembung-gelembung gitu tuh tipe gue banget!" ucap Jaka
"Curly bego itu namanya!"
"Lo tanyain aja sono, maaf mau tanya ku-tang lu warna apa?Bego lo!" Irfan menoyor kepala Jaka hingga hampir terjengkang dari kursi, dan ke 4 gadis semakin cekikikan.
Mereka tergelak kembali, dan itu membuat Farrel yang tengah mengotak-ngatik ponselnya menatap mereka, lalu mengikuti arah pandangan mereka.
"Apaan sih?"
"Bang... mau ikutan kagak?" Farrel menautkan kedua alit tebalnya.
"Apaan?"
"Jangan mau bang! dia gila ...jangan mau!"
"Apaan?"
Seketika Jaka bangkit dari duduknya dan terlihat mendekat pada meja ke 4 gadis yang masih semakin seragam sekolah sepertinya, namun dengan logo sekolah yang berbeda.
Terlihat Jaka berdiri memunggungi teman-teman nya hingga tidak terlihat raut wajahnya seperti apa, namun dari ke 4 gadis yang dari awal terlihat ketus menatap Jaka, kini berubah menjadi sumringah dengan senyum masing- masing dan menatap ke arah meja Jaka.
Jaka berjalan kembali dan duduk ke kursinya, dengan senang dia meletakkan secarik kertas berisi digit nomor beserta nama dipinggirnya.
"Apaan nih, nomor telepon?"
Irfan hingga terbelalak, Andra menggelengkan kepalanya sedangkan Farrel sama sekali tidak mengerti.
"Hum ... gue dah berhasil! Hebat kan, sekali dapet 4 nomor! ayo dah pilih mau yang mana? tapi punya gue tetep yang pake cur-cur apa?" Jaka.
__ADS_1
Irfan dan Andra silih menatap tak percaya sahabatnya karena dengan mudahnya mendapatkan nomor telepon.
"Lo gak aneh-aneh kan?" Jaka tertawa lepas.
Tak berselang lama, waiterpun datang, membawa semua pesanaan yang kemudian meletakkan semua pesanannya dia atas meja. Malah pesanan nya terus datang dengan waiter yang berbeda.
Mereka benar-benar merampok ku, tapi aku senang, jadi tidak masalah.
Mereka diam seketika, hanyut didalam hidangan mereka masing-masing. Farrel menatap ketiganya yang terus mengunyah dengan sesekali melirik lirik.
Gak berselang lama ke 4 gadis itu melewati meja dan dengan terus melirik kearah mereka.
"Kak, aku tunggu calling nya yaa!"
"Save My number," Ucap yang lainnya.
Farrel menatap jengah pada mereka, "Kenapa dengan pengunjung cafe ini?"
"Sialan lo Jak! Dasar brengsek...." Andra menoyor Jaka yang tengah terkikik.
"Apaan Ndra?"
"Lo gak tahu bang, nih biang rusuh pasti pake nama lo buat minta nomor ponsel mereka, ngaku gak lo?"
"Iya ...sorry-sorry Bang! gue iseng doang sumpah!"
Namun tak disangka, Farrel hanya tersenyum.
"Dah cepetan makannya, aku harus balik ke kantor! Abis ini kalian berdua diantar pulang Mac! biar Andra jemput Nissa,"
"Terus lo gimana?"
"Gampang," ucapnya kemudian.
.
.
Setelah melakukan semua pembayaran, Farrel kembali menghampiri mereka. Andra terlebih dahulu keluar karena harus menjemput Nissa ke sekolah, sementara dua biang rusuh diantar pulang oleh Mac, meskipun Mac terlihat keberatan namun dia tidak mampu menolaknya juga.
"Lalu Mas pulangnya gimana? Biarkan mereka naik bis saja, udah biasa ini!"
"Mac... tugas mu hanya menuruti kata-kata ku!"
Mec mengangguk, Jaka dan Irfan terkesiap menatap Farrel yang berubah seserius ini, dan mereka saling pandang.
"Serem juga,"
"Rasain lo, dia baik karena ada Andra. Adiknya... lah kita apanya?"gumam Irfan.
Farrel kembali menatap keduanya, "Kalian pulanglah, jangan sampai aku berubah fikiran!"
Glek
Irfan dan Jaka menelan ludah, "Maaf bang, kalau kita udah ngerampok dengan pesanan yang banyak tadi, ta--p."
Ucapannya menggantung, karena Farrel menggebrak meja, " Itu masalah kecil buat gue!"
__ADS_1
" Jangan pernah sesekali memakai nama orang lain atas perbuatanmu yang tidak baik itu!!"