Berondong Manisku

Berondong Manisku
Dipecat secara tidak hormat


__ADS_3

"Maaf aku terlambat"


Farrel datang saat semua tengah selesai. Dia datang menggunakan speedboat yang disewanya. Cara yang sempat tidak terpikirkan olehnya. Semua orang menoleh ke sumber suara, tak terkecuali Alan sendiri.


"El, astaga kau mengagetkan kami"


"Maafin El bun, yah"


"Akhirnya lo pulang juga El" Alan menarik Farrel dan merangkul nya.


"Kalau lo mau nangis, nangis saja lah gue gak akan kasih tahu siapapun." Bisik Farrel saat mereka saling merangkul.


Begh


"Sialan lo" Alan meninju perut Farrel. Namun Farrel hanya terkekeh.


"Ada yang mesti kita bahas" ucap mereka berbarengan.


Mereka saling pandang, seolah saling menelisik melalui batin masing masing. Lalu saling mengangguk. Dan hanya mereka sendiri yang mengerti bahasa tubuhnya satu sama lain.


Acara tabur bunga sudah selesai, dan doa doa serta petuah dari pemuka agama sudah selesai pula. Mereka kini berkumpul di deck paling atas, acara dilanjutkan dengan ramah tamah seperti biasanya.


"Bagaimana urusan mu El?"tanya Arya tanpa basa basi.


"Sukses dong yah, ayah nanti tinggal cek laporan nya," ucap Farrel sambil menyuap makanannya.


Arya mengangguk "Kalau kamu Lan?,"


"Ayah tidak usah khawatir, perusahaan akan selalu baik baik saja, ditambah nanti El juga turun secara langsung"


Bunda mendelik "Apa ada hubungan nya dengan perempuan itu, yang membuat kamu jadi berubah fikiran- fikiran dan ingin terjun ke perusahaan?"


"Bunda.."Arya mengusap tangan istrinya.


"Bunda bersyukur karena dia perempuan baik baik, tapi tidak lantas mengubah keputusan bunda El." Ayu tidak menggubris kode yang diberikan suaminya.


"Bunda jangan membuat aku jadi anak durhaka karena melawan bunda"


Farrel terdiam saat bunda terus mencerca, dia menahan dirinya untuk tidak terpancing dan hingga akhirnya membuat semuanya menjadi lebih kacau lagi.


Arya menenangkan istrinya dengan terus mengusap punggung nya.


"Sudah bun, sudah saatnya tidak tepat membahas hal ini disini"


Ayu mendelik kearah Arya."Bunda gak peduli, sudah kamu tidak usah ikut ikutan"


Farrel menatap sang bunda dengan lirih "Bunda udah dong,"


Meski Ayu tak tega melihat anaknya namun dia tetap bersikeras.


Farrel mengambil lap dan mengelap mulut nya, meski makanannya masih tersisa, namun suasana hatinya malah memburuk. Lalu Farrel beranjak dari duduknya.


"Sepertinya aku sudah selesai, permisi aku duluan" Farrel berbalik dan berlalu menuju ke deck bawah.


Ayu merem'as tangannya "Yah, bunda sudah tidak tahan kalau begini terus"


"Bersabarlah, kita tinggal menunggu waktunya saja"


Ucap Arya melanjutkan suapannya yang tadi sempat terhenti.


"Tapi kapan?"


Arya mengalihkan pandangan nya pada Alan, dan Alan pun mengangguk.


Alan menyusul Farrel yang entah dimana, mencari keseluruh ruangan kabin pun tidak ada. Hingga Alan berjalan mendekati anjungan, Farrel terlihat tengah berdiri memandang lautan.

__ADS_1


"Lo disini rupanya?"


"Gue hanya harus menahan diri terhadap bunda, tapi gue juga tidak bisa diam saja"


"Lo benar,"


"Lo sudah tau apa penyebab masalah di proyek yang kemarin lo tangani."


Farrel mengangguk, "Dan lo pasti udah tau siapa?benar begitu?"


"Hem....gue udah tau"


"FAIZ" ucap mereka berbarengan.


"Dan lo tau dia bekerja sama dengan siapa?"


"Memang nya siapa?"


"Bastian"


"Sh,it...."


Flash back On


"Berani sekali kamu datang kesini? bagaimana jika ada yang curiga?" Ucap Bastian saat Faiz masuk begitu saja.


Bastian terdiam dan pura pura tidak tau saat Metta datang menyerahkan laporannya. Laporan yang akan dimanipulasi oleh Bastian dan juga Faiz.


"Bahkan kau berani menampakkan muka dihadapan wanita yang kau tinggalkan" lanjut Bastian saat Metta sudah keluar.


"Dia alat ku untuk meraup keuntungan besar kakak ipar"


"Dan kau juga yang membuat masalah dengan mengambil foto foto kamu saat sedang bersamanya dengan sengaja?"


"Berkat bantuanmu juga kak"


Dan membuat ALan tidak jadi masuk kedalam ruangan Bastian dan kembali keruangannya.


Siapkan rapat dadakan, seru Alan pada sekretarisnya.


Saat itulah Alan menyelidiki data data yang berkaitan dengan divisi umum. Dan benar saja banyak keganjalan yang terjadi selama hampir 6 bulan yang luput dari pengawasan nya.


Banyak data yang tumpang tindih dan selisih nya jauh diatas batas yang sebenarnya. Memanipulasi data yang diberikan oleh Metta.


Flash back Off


"Tidak mungkin kakak terlibat kan?" tanya Farrel dengan pandangan yang tidak dia alihkan dari luasnya hamparan air laut di depannya.


Alan mengeluarkan bungkusan putih dari saku celananya, mengeluarkannya lalu membakarnya perlahan dia resapi juga.


"Gue sudah selidiki, dan dia tidak terlibat apapun, ini semua murni kerjaan para Bede'bah itu" mengepulkan asap dari hidungnya.


"Lantas foto foto itu?" Ucap Alan lagi " Apa yang membuat lo percaya perempuan itu?"


"Mettasha namanya!" Farrel membalikkan badannya hingga bersandar pada pembatas anjungan.


Alan kembali meresap batang tembakau pilihan yang menjadi candunya "What ever..."


Farrel kemudian merampas batang tembakau itu dari sela tangan Alan.


"Benda sialan ini akan membunuhmu perlahan" Farrel melemparkan benda itu ke arah laut.


"Shi't..."


"Lo seperti bunda"

__ADS_1


Mereka berdua lalu tertawa


Tiba tiba hening seketika,


"Setelah ini persiapkan dirimu El."


Sontak Farrel menoleh kan kepalanya,


.


.


Suasana kantor divisi umum tiba tiba menjadi genting, seliweran kabar menyebar dengan cepat.


Tak terkecuali pada Metta, dia tak menyangka dengan semua yang terjadi. Namun juga tidak bisa dicegah. Tak ada asap tak ada api, pasti ada sesuatu hal besar yang terjadi.


"Sha, lo tau Pak Bastian dipecat secara tidak hormat?


"Iya gue tau"


"Lo tau juga, kirain lo gak tau, eh ngerasa ada yang aneh gak?"


"Apaan..?


"Ya apa gitu? lo kan sering bulak balik ke ruangannya, sering ikut meeting juga"


"Gak tau gue, Jiwa kepo gue minim, dibawah rata rata" Metta mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Sialan lo, sok suci"cibir Dinda.


Kedua nya lalu tertawa,


"Denger denger kemaren sempet diadakan meeting dadakan, gue kebayang pujaan hati gue yang cool bagai kulkas itu marah" Dinda menggidik dengan manik yang menerawang.


Metta menempelkan telapak tangan nya di dahi sahabatnya itu. "Sakit kayaknya lo, minum obat gih"


Dinda menghempaskan tangan Metta dari wajahnya.


"Sialan lo, mentang mentang udah punya pacar,"


"Malah bahas pacar, kita lagi bahas yang lain peak"


Ucap Metta sambil berfikir.


"Apa ada hubungan nya dengan Pak Alan yang tempo hari tidak jadi masuk kedalam ruangan Pak Bastian ya?"


"Apa ada hubungannya?"


"Tapi apa..?"


"Mana mungkin gak terjadi sesuatu, waktu di cafe pun mereka terlihat seperti orang yang tengah perang"


Metta bermonolog, "Ah malah pusing mikirinnya"


Pemecatan Bastian tidak luput dari campur tangan Alan, beberapa kali melakukan investigasi hingga keputusan akhir yang harus di lakukan.



Babang Alan yang cool 😍


.


.


Jangan lupa like , komen dan terus dukung karya remahan aku ini yaa.

__ADS_1


bahkan satu like disetiap babnya buat aku itu luar biasa pake banget,


Makasih 😘


__ADS_2