Berondong Manisku

Berondong Manisku
Ada apa dengan Andra


__ADS_3

Farrel perlahan meraih dagunya, dan menempelkan bibirnya dengan lembut, sangat lembut.


"Iya aku tahu."


Yaa udah, aku mau menemui Dinda dulu kalau gitu, iyaa ...yaa boleh yaa!"


Farrel mengangguk, "Boleh asal kakak cium aku dulu!"


"Ih...kebiasaan deh gitu terus!" Farrel tergelak, "Ya sudah kalau gak mau, biar aku yang cium kakak!"


"Iiihh...sama saja bohong! Astaga, makin nyebelin deh ih...." Farrel semakin tergelak.


"Iya udah, kakak boleh pergi. Nanti pulangnya sama bunda kan? Maaf aku belum bisa nganterin kakak pulang, sebentar lagi aku akan meninjau proyek pembangunan." ucap nya mengusap rambut Metta lembut.


Metta mendelik, "Gak apa-apa, bukankah aku harus membiasakan diri sebagai Nyonya Farrel,"


"Enggak dong, aku bakal ninggalin sayangku ini sendirian, akan aku bawa kemanapun. Kalau perlu aku kantongina." kelakar Farrel


"Iihhh...nyebelin," mencubit pelan pipinya, "Udah aku pulang sama Dinda aja yaa! Aku pergi dulu..."


Farrel mengangguk namun kembali memeluk Metta, seolah tidak rela melepasnya, "Aku masih kangen...."


Metta menangkup wajah Farrel dengan kedua tangannya, "Na-anntiii...!!"


Metta akhirnya berjalan kearah pintu, namun saat hendak membuka pintu,


"Kak...." seru Farrel dari belakang.


Metta menoleh, dan terkikik saat Farrel melemparkan kecupan jauh dengan tangan menyentuh bibir lalu mengenadah kearah nya kemudian ditiup perlahan.


"I love you...." Gumamnya tanpa suara,


Hanya gerakan bibir yang membuat Metta tergelak, konyol


Namun perlu diakui nya juga, kekonyolan itu lah yang membuat hidupnya kian berwarna, penuh tantangan dan berakhir bahagia, i hope so


Metta ke luar dari ruangan Farrel, dia berjalan sepanjang lorong hingga berbelok mengarah pada kotak besi yang akan membawanya turun. Metta merogoh ponsel didalam tasnya sembari menunggu lift itu terbuka.


"Ikutlah denganku."


Metta menolehkan kepalanya pada seseorang yang berada disampingnya.


Apa ...dia bicara pada siapa?


"Pak Alan bicara padaku?" ujarnya dengan telunjuk mengarah pada diri nya sendiri.


"Memang ada orang lain?" Ucapnya datar tanpa melihat kearahnya.


Metta mengedarkan kedua bola matanya dan benar saja, memang tidak ada orang lain disana kecuali dirinya, Alan dan office boy yang baru saja lewat.


"Kau akan turun kan?" Metta mengangguk.


Lalu Alan berjalan menuju lift khususnya, sementara Metta mematung heran dibelakang.


"Tunggu apa?" Ucap Alan dengan menoleh kearahnya.


Metta terkesiap, lalu mengikutinya dari belakang, dan benar saja dia mengajaknya masuk kedalam lift khusus yang juga digunakan oleh Farrel saat mengajak keruangannya dulu.


Alan menekan tombol turun pada lift lalu masuk saat pintu lift terbuka, sementara Metta mengekor dibelakangnya.


"Tidak perlu kaku begitu, sebentar lagi kau jadi adikku!"


Apa...tunggu! Yang kaku siapa hellow


Metta mengangguk tanpa ingin bersuara menjawabnya.


"Kau bisa memanggilku Alan ..."


Baiklah...Alan yang aneh!


"Aku memang begini, jadi tidak usah kaget!"


Iya baiklah

__ADS_1


"Jaga Farrel untukku dan untuk bunda."


Kali ini Metta menoleh padanya, wajah datar dengan rahang tegas itu tidak memperlihatkan ekspresi apapun, namun kedua matanya terlihat sayu. Seolah


menitipkan barang yang paling berharga dalam hidupnya, pada orang yang baru saja dia kenal.


"Pastikan dia hidup dengan bahagia!"


Sekali lagi Metta menatapnya, sosok keras sebagai seorang pelindung dan terlihat sangat menyayangi keluarganya, berusaha memberikan yang terbaik dengan caranya sendiri.


Bukankah itu lucu ...aku bisa menilainya hanya dari sorot mata dan ucapannya? Batin Metta.


Dan dengan gerakan alami Metta mengangguk, dan menarik tipis bibirnya. Dan dia pun mengangguk dengan tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.


Wait...dia tersenyum, padaku? wah Dinda, andai kamu melihatnya. Tapi tunggu... bukankah hal tersebut seharusnya diucapkan pihak perempuan?


Ting


Alan keluar disusul oleh Metta yang masih tampak ragu, "Terima kasih pak...maksudku Alan!" Alan tergelak,


"Aku bahkan tidak tahu pasti kenapa anak nakal itu bisa menyukaimu sedalam itu, tapi aku harap kalian selalu bahagia, dan memberiku keponakan yang lucu-lucu." ucap nya dengan berlalu begitu saja.


Sementara Metta masih terperangah dengan sikap Alan yang baru saja ia perlihatkan.


"Dia benar-benar aneh, lebih aneh dari ku." gumamnya.


.


.


"Shaun...."


Suara melengking dari arah belakang, membuat Metta melonjak karena kaget, dan menoleh.


"Astaga... Sardin itu pita suara gak takut pecah apa?" Ucap Metta.


Dinda berhambur memeluk dirinya, "Aku kangen pake banget-banget tahu gak!"


"Sama aku juga, udah lama gak jambak rambut mu! ujarnya dengan menarik rambut Dinda.


Mereka berjalan ke arah ruangan tempat mereka bekerja, "Apaan sih gak solider-solider...."


Dinda mendengus "Iya kamu gak solider tahu gak, dulu sekian lama aku temenin jomblo, sekarang udah mau nikah aja. Tapi gak ngajak-ngajak! Aku kan juga mau!"


"Ya udah sih, nikah aja!" Metta mengerdikkan bahunya.


"Memang udah ada calonnya?"


Dinda tergelak, "Itu dia belum ada... atau aku ajak duluan kali yaa!"


Metta menarik kursi dan mendudukkan dirinya, "Memangnya berani? Dia sedingin kulkas begitu!"


Dinda ikut menarik kursi, "Heh...dia siapa yang kau maksud? Manekin itu...?"


Tiba-tiba air muka nya berubah, "Dia bahkan tidak memberiku kesempatan,"


"Wah kayaknya aku ketinggalan banyak nih, emangnya kenapa sih?"


"Sangat rumit, saking rumitnya aku ingin memukulnya, menendangnya, kalau perlu aku tuker sama voucher makan," Dinda mencebikkan bibirnya.


Sementara Metta mengulum bibirnya, entah apa yang terjadi hingga Dinda terus menerus mengatakan rumit sementara dia tidak tahu apa-apa.


"Aku tidak bisa membantumu kalau begitu masalahnya,"


"Ih ...nyebelin banget sih! Iya...deh Iya lagi sibuk ngurus nikahan!" sungutnya.


Metta mengerdikkan bahu, "Orang aku gak tahu apa-apa! Gimana mau bantu,"


"Dan kau tahu, tadi aku melihatnya tersenyum! Bisa kebayangkan? Senyum lho ...astaga selama aku kerja gak pernah tuh melihatnya tersenyum."


"Udah pernah!! Gak aneh...."


"Hah...."

__ADS_1


"Lupakan aku malas membahasnya, kapan-kapan saja aku cerita tentang orang aneh itu, orang yang katanya melihat fakta dan data dengan matanya sendiri!"


"Maksudnya?"


Dinda mengerdikkan bahu sebanyak 2 kali, "Tau ah ...."


"Dih....gak jelas!"


Dreet


Dreet


"Bentar...."


Metta merogoh ponsel didalam tasnya, saat ponsel itu berdering. Nama Nissa tertera di layar putih yang menyalak itu.


"Telepon dari siapa?" tanya Dinda penasaran.


"Nissa...aku angkat dulu yaa!"


Metta menempelkan ponsel Di telinganya, dan suara melengking dari Nissa hampir membuatnya melemparkan ponsel.


"Kak Shaaaaaaa...."


"Kenapa Niss...?


"Kak Sha cepet pulang...sekarang juga!!"


"Kenapa...ada apa? Bicara yang bener...."


Terdengar suara ribut-ribut diujung sana, yang membuatnya semakin khawatir, " Nissa ada apa?"


Membuat Dinda ikut beranjak dan menempelkan kepalanya di telepon yang masih menempel di telinga Metta. "Ada apa?"


Metta menggelengkan kepala, "Nissa...ada apa?" dia mengulangi pertanyaan nya.


"Bang Andra kak bang Andra! Pokonya cepet pulang, kata ibu...cepetan."


Tut


Sambungan telepon terputus, membuat Metta menoleh pada Dinda dengan cemas, "Aku harus pulang,"


Metta khawatir, bahkan dia terlihat sangat pucat karena cemas, "Andra Din...Andra!!"


"Iya kenapa Andra, kamu tenang dulu. Cerita yang bener!" Metta memasukkan kembali ponsel kedalam tasnya.


Dinda meraih botol minum miliknya, "Minum dulu!"


Metta menggelengkan kepalanya, "Enggak aku harus pulang sekarang!"


"Memangnya ada apa dengan Andra?"


"Aku gak tahu... pokoknyaa aku harus pulang!"


"Ya udah aku antar kamu pulang ya, tapi kamu harus tenang, tenang Sha...."


"Gak bisa tenang, udah ayo anterin aku pulang sekarang!" Dinda mengangguk.


Dia lantas pergi untuk membawa tas dan kunci mobilnya, Lalu menghampiri rekan kerja yang berada di sudut ruangan. Dan kembali mengampiri Metta yang terlihat panik.


Mereka akhirnya berjalan bergegas menuju pelataran parkir dimana mobil Dinda terparkir. Dan segera masuk kedalamnya.


"Pake seat belt nya Sha...." ujar Dinda yang langsung menginjak pedal gas.


Dinda melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meskipun Metta sendiri merasa khawatir dengan cara Dinda menyetir namun dia tidak keberatan, justru sebaliknya, dia ingin segera sampai kerumah.


Bunyi klakson merembet, jalanan mulai macet dan mereka terjebak di tengah-tengah.


"Din...gimana ini?Kita cari jalan lain Din, ini pasti lama!!"


"Gak bisa Sha, kita terjepit, gak bisa mundur ini!" ujar Dinda dengan melihat arah belakang dari spion samping mobil nya.


"Jadi gimana dong!"

__ADS_1


"Tenang yaa... tenang!!" kata Dinda menenangkan, padahal dirinya sendiri pun merasakan kecemasan yang sama.


"Din...."


__ADS_2