Berondong Manisku

Berondong Manisku
I Love You Like Crazy


__ADS_3

Bukan hal besar yang Farrel berikan, hanya sentuhan lembut yang menghangatkan hatinya, lalu perlahan Farrel merengkuh tubuh Metta kedalam pelukannya,


1 menit


2 menit


3 menit


"Kata orang berpelukan selama 8 menit akan meningkatkan hormon endorfin dan hormon serotonin( Hormon bahagia dan nyaman) juga penurunan hormin korsitol(Peningkatan tekanan darah)"


Metta tak mengeluarkan suara namun dia memukul dada bidang milik Farrel. Membuat Farrel tergelak, dan semakin merengkuh tubuh mungil itu semakin dalam.


"Kau fikir aku marah-marah karena tekanan darah?"


"Jadi kakak beneran marah, astaga! kakak gak usah takut, aku gak suka sama ABG,"


"Masih rata, gak ada isinya," bisiknya di telinga Metta, membuat Metta memukul dada Farrel lebih keras dari tadi.


"Dasar mesum!!" Metta bangkit berdiri, namun Farrel tak melepaskan genggaman tangannya dan ikut bangkit,


"Jadi gimana lamaran ku barusan?"


"Gak tahu ah, aku masih kesel." Metta melepaskan tangannya dan masuk keluar menemui Ibu yang belum sama sekali lelah mengobrol.


Sementara Farrel hanya menggeleng kan kepalanya dan ikut duduk disampingnya dan juga Ibu Sri.


Tak lama kedua orang tua Farrel pun berpamitan untuk pulang, Sri mengantarkan nya sampai depan dengan saling mengaitkan lengan dengan bunda Ayu.


"Semoga lancar ya jeng sampai hari nya tiba," seloroh bunda Ayu.


"Iya jeng...."


Terlihat dia melambai-lambaikan tangan nya saat sepasang suami istri itu masuk kedalam mobil dan menghilang dipertigaan.


"Aku pulang dulu yaa," ujar Farrel bangkit dari duduk sesaat setelah ibu Sri masuk.


Namun genggaman tangan Farrel tak dia lepaskan juga,


"Kenapa!? kakak mau aku nginep?" Farrel terkekeh, sementara Metta hanya berdesis,


"Ish...Jangan nyebelin terus!"


"Enggak, ya udah aku pulang dulu yaa,"


Tanpa diminta, Metta mencium pipi Farrel sekilas lalu masuk kedalam rumah. Membuat bibir Farrel mengembang sempurna, dan akan dipastikan pulang dengan kebahagian tiada tara.


Metta langsung masuk kedalam kamar, melalui ibu Sri dan Nissa yang tengah duduk di meja makan,


"Bu, aku ke kamar dulu," ucapnya sambil berlalu.


"Kenapa kak Sha bu?" Ibu Sri hanya mengerdikkan bahu.


Farrel masuk hendak berpamitan, berjalan mendekati ibu dan Nissa, "Bu, Niss, aku pulang dulu," ucapnya menyalami Ibu Sri.

__ADS_1


"Tunggu bang, ada yang mau aku tanya?"


"Nanya apa Niss?"


"Kak Sha kenapa?"Farrel menautkan kedua alisnya tanda heran,


"Kenapa memang?"


"Ish, ditanya malah balik nanya! kalau Nissa tahu juga Nissa gak bakal nanya abang,"


"Nissa!" seru ibu Sri mengingatkan.


"Abang gak tahu, barusan udah baik-baik saja!"


"Ya sudah, abang pastiin dulu jangan dulu pulang, kak Sha kalau marah gitu, suka lama ngambeknya, iya kan bu!"


"Nissa udah... udah!"


"Gak apa-apa kok Nak El, kalau mau pulang sekrang pulang saja, ibu fikir Sha gak apa-apa,"


"Iya bu, aku pulang."


Sementara Metta didalam kamar tengah duduk ditepi ranjang,


Kenapa aku harus terus kesel, marah-marah gak jelas seperti ini. Sangat melelahkan, ayolah Sha ini bukan kamu banget, gak gini Sha! norak tahu gak, tapi aku bener-bener gak habis fikir udah tahu udah bertunangan masih saja tebar-tebar pesona, mana sama anak ABG kan, Ish nyebelin, udah mau nikah juga, batin Metta


Trek


Trek


"Ish... kakak malah ngumpet! lucuu..." ujar Farrel dibalik kaca yang hanya terpasang tirai putih.


Dia terus mengetuk dengan sesekali menampik nyamuk yang menggigitnya. Mac yang tengah duduk pun hanya bergeleng,


"Mas kenapa gak ditelepon saja? mungkin mbak Sha berfikir Mas hantu,"


"Mac kenapa gak bilang dari tadi,"


Harusnya juga masuk saja dari dalam, bisa langsung masuk ke kamar nya, dari pada menyiksa diri, ada-ada sih. Perasaan dulu aku gak bodoh-bodoh amat sebelum menikah. Batin Mac.


Farrel mendial nomor Metta sembari menatap nya dari kaca jendela. Terlihat Metta yang sudah berada didalam selimutpun meraba-raba ponsel yang menggelepar. Lalu terlihat dia membuka selimut dan mengernyit.


"El...? ngapain," ucapnya dengan menempelkan ponsel di telinganya.


"Hai.... aku di jendela!"


Metta menoleh ke arah jendela yang baru dia sadari hanya tertutup tirai putih, sementara tirai yang biasanya belum terpasang. "Astaga...."


Metta bangkit dari ranjang dan mendekat kearah jendela, "Astaga, kamu ngapain ih?" membuka kunci jendela dan membuka daun jendelanya, dan menyimpan ponselnya kembali diatas meja.


"Hai...." ucap Farrel sambil menepuk nyamuk di lengan nya, dengan ponsel yang dia masukkan kedalam saku.


"Ngapain, bukannya pulang? Disitu jelas banyak nyamuk tahu!" ucap Metta.

__ADS_1


Dengan tangan yang bersidekap di daun jendela, Farrel hanya tersenyum, membuat Metta yang heran kini mengukir seutas senyum tipis di bibirnya.


"Ih ... nyebelin! apa sih, senyum-senyum terus."


"Cuma mau bilang makasih!"


"Buat?"


"Udah sun pipi aku tadi." dengan senyum yang tidak lepas di bibirnya.


"Ih kamu ngapain sih bahas itu, udah ah! Aku mau tidur!"


"Aku juga mau mastiin kakak baik-baik aja kan?" Metta mengangguk. "Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?"


"Kakak udah gak marah lagi kan?"


"Udah enggak, ngapain marah-marah!" Metta mengerdikkan bahunya.


"Maafin aku yaa!" ucap Farrel dengan menggenggam tangan Metta.


"Bikin kakak kesel!"


"Harus nya aku yang minta maaf, aku marah-marah gak jelas kayak tadi."


"Itu karena kakak makin sayang kan sama aku, makin cinta kan? iya kan...."


i love you like crazy. ucap Metta dalam hati.


"Ish apaan sih udah sana pulang."


Namun Farrel malah menarik tangan Metta hingga tubuhnya ikut condong kedepan. Dia menangkup kepala Metta dengan kedua ibu jari berada di kedua pipi dan empat jari disela telinganya.


Farrel tersenyum saat wajah mereka beradu, lalu tanpa kata dia menyambar bibir Metta, memasuki rongga dan menyisir lembut setiap inci tanpa terlewati sedikit pun. Semakin lama semakin lembut membuat nafas nya semakin menderu, lalu melepaskan dan mencium kening Metta sangat lama.


" I love you like crazy." bisik Farrel.


Membuat Metta terperangah, Kita bisa sehati gini ternyata, hihihi.


Namun Metta hanya mengangguk, Sementara hatinya bersorak sorai dengan segala kupu-kupu yang beterbangan, kembang api yang meledak di angkasa, serta para kelinci berlarian kesana kemari.


Bunga-bunga seketika bermekaran, kicauan burung teramat merdu. Dengan semilir angin menyejukkan. Sementara dirinya dan dia berlarian sambil berpegangan erat.


Seperti ini rasanya dicintai begitu dalam,


Seperti ini rasanya diinginkan begitu hebat,


Ah... El, I love you more,


.


.


Terima kasih semua dukungannya, yang like, yang komen, yang vote, gift, rate karya ini. makasih banget. Maaf juga jika author suka telat atau gak sempet balas komen, maaf banget karena author sok sibuk.😂nyariin upin ipin di kebon atuk.

__ADS_1


jangan lupa yang belum mampir ke karya ke dua aku


Assistant Love.


__ADS_2