
Tak lama seseorang masuk dengan tergesa, menghampiri mereka dengan langsung menarik kursi.
"Begitu pun dengan ku...."
"Tiwi...?" seru Tasya dengan bangkit dari kursinya.
"Tidak usah berdiri, duduk saja Sya. Kau ini kenapa menyambutku segala." ujar Tiwi.
Doni menatap jengah pada perempuan yang berbeda 7 tahun dengannya itu. Dia tampak gusar dengan mengacak rambutnya kasar.
"Santai saja sayang, aku gak buru-buru kok!" ujar Tiwi padanya.
"Ah, sudah lebih baik kalian selesai kan masalah kalian, aku mau pulang saja!" ucap Tasya dengan kembali bangkit.
"Biar aku antar Sya."
"Tidak usah, aku kesini dengan supir kok, jadi aman!" ucapnya kemudian.
Celaka, aku tidak mau terpancing dengan ucapannya lagi, cukup sekali aku melakukan kesalahan, aku tidak mau lagi terlibat apa-apa dengannya.
Tasya akhirnya keluar dari kafe itu, meninggalkan Doni yang tak berkutik dan Tiwi yang selalu percaya diri.
"Jadi bagaimana?" ujar Tiwi menyenggol lengan Doni.
"Jangan mimpi." ketus Doni.
"Bukankah kau tidak menyukai anak kecil, dan tidak punya waktu bermain-main dengan anak kecil sepertiku?" imbuhnya lagi.
"Oh ayolah waktu itu kan suasana hati ku sedang kacau, kau tidak usah memikirkan ucapanku." Tiwi melingkarkan tangannya pada lengan Doni.
Doni menepisnya, "Aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi, maaf aku harus pergi!"
Doni bangkit dari duduknya dan keluar dari kafe, namun tiba-tiba seorang pria menghadangnya, "Kau lagi- kau lagi!"
Doni terperangah, melihat sosok pria yang jelas lebih tegap jika dibandingkan dengannya, begitupun Tiwi.
"Eric ..."
Tiwi bangkit dan menghampiri keduanya, "Ngapain kamu disini?"
"Jadi gara-gara dia kamu menghindari ku Tiwi? Gara-gara bocah ini?! Apa kau sudah gila." sentak Eric.
"Eric sudahlah, kita sudah berakhir. Dan kamu tahu alasannya!"
"Tidak, kau tidak mengatakan alasan yang cukup masuk akal untukku!"
"Sudah lah aku tidak mau terlibat dengan kalian!!" sela Doni yang melangkahkan kaki namun Eric mencekal lengannya.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja!" ucap Eric ditelinga Doni.
"Lepas!" hardik Doni menepis tangan Eric.
Eric berseringai, lalu melepaskan tangannya,
__ADS_1
"Bocah seperti kau memang bisa apa?"
"Eric, jangan mencari ribut disini!" ujar Tiwi.
"Kenapa kau takut aku menyakiti pacar kecilmu ini?" Eric mendelik pada Doni.
"Eric hentikan, lebih baik kau pergi dari sini! Atau aku yang akan pergi, ayo Doni kita pergi." Ujar Tiwi menarik tangan Doni dan menariknya keluar.
Eric mencekal Tiwi, "Tiwi, kita harus bicara, kau benar- benar meninggalkan ku hanya gara- gara pria yang bahkan kencing saja belum lurus?"
Buughhh
Tiba-tiba Doni melayangkan pukulan pada wajah Eric, hingga dia terhuyung. Namun dengan cepat dia menghampiri Doni dan juga mendaratkan pukulan di wajah Doni.
Buughhh
Perkelahian tidak dapat di dielakkan lagi, mereka saling menyerang dan mendesak hingga saling memukul, Doni tersungkur kebelakang lalu kembali menyerah dengan menendang perut Eric.
Keributan di kafe itu membuat para pengunjung panik, ada yang hanya menonton bahkan merekamnya, ada juga yang pergi karena mereka takut dan juga tidak ingin terlibat.
Beberapa orang mencoba melerai mereka, namun tetap saja, jiwa muda Doni yang tidak ingin diremehkan orang lain begitu saja, serta Eric yang dibutakan oleh amarah yang membuncah.
Tiwi histeris, dia ikut melerai dengan menarik tubuh Doni, dan menahannya,
"Doni hentikan, lebih baik kita pergi!" ujarnya.
"Minggir kau perempuan ja lang! Aku akan menghabisi pria yang tidak ada apa-apanya itu, Minggir!" Ujar Eric dengan menarik tubuh Tiwi yang tidak seberapa itu hingga terhuyung menabrak meja.
Dugh
Dia memegang kepalanya yang membentur meja, dan kembali berdiri setelah dibantu beberapa orang yang ada disana.
Sementara Eric dan juga Doni masih terus saling memukul dan menyerang, hingga mereka tidak menyadari Tiwi yang terluka.
Beberapa orang security yang datang melerai mereka hingga perkelahianpun berhenti.
"Tunggu saja, kau akan mendapat balasanmu!!"tunjuk Eric saat dia digiring keluar oleh beberapa security.
Sementara Doni menatap jengah kerarah Eric seraya menyapu ujung bibirnya yang berdarah.
"Doni, kau tidak apa-apa kan?" ujar Tiwi yang menangkup wajah penuh lebam.
Doni menatap dahi Tiwi yang kebiruan, namun dia juga enggan peduli, dengan segera dia membuang wajahnya kearah samping.
"Lepas, menjauhlah dari hidupku! Aku tidak ingin bermasalah dengan pacarmu!"
Lalu Doni pun pergi keluar dari kafe itu dengan beberapa luka di wajahnya. Meninggalkan Tiwi yang menatap punggungnya dengan hati yang teriris.
Kenapa semua orang tidak menginginkanku. Apa aku benar-benar tidak berharga? Batin Tiwi.
.
.
__ADS_1
Sementara di belahan dunia yang lain.
Setelah perjalanan pesawat yang cukup melelahkan, kini mereka tiba di bandara, menunggu koper mereka duduk di kursi yang berderet panjang.
"Cape yah," Tanya Farrel dengan menarik kepala Metta untuk disandarkan pada bahunya.
Metta mengangguk, "Aku juga pusing, ini kali pertama aku naik pesawat, harusnya aku minum obat anti mabok perjalanan tadi! Kau sih yang selalu pergi mendadak, apa- apa mendadak!"
Farrel mengernyit, " Memang ada obat semacam itu? Kenapa kakak tidak bilang padaku."
"Ada lah, tapi entahlah mungkin di apotek ada atau enggak. Aku sih beli nya di toko kelontong biasa, tapi entahlah." Metta mengerdikkan bahu.
"Baiklah, hari ini kita akan menghabiskan waktu di hotel saja, kita istirahat yang cukup sebelum melakukan Trip honeymoon." ujar Farrel mengelus pipi Metta.
Sama saja bohong, kita pasti akan lebih lelah jika hanya di hotel saja. batin Metta.
Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, koper mereka pun tiba, lalu Farrel menumpuknya jadi satu dan mendorongnya menggunakan troly bandara hingga ke pintu keluar.
Mobil sudah menunggu mereka sampai, supir yang membawa spanduk bertuliskan nama mereka menunggu nya dengan sesekali memanggil namanya.
...Welcome ...
...Mr & Mrs Farrel ...
...From Indonesia...
Farrel melihat spanduk nama tersebut dan mendekat padanya. Supir berkebangsaan asing dengan pakaian
rapi bak seorang eksekutif jika di indonesia.
"Dari pakaian saja sudah terlihat berbeda bukan?" ujar Farrel saat supir itu membuka pintu untuknya dan juga Metta.
"Hm...terlalu rapi untuk ukuran seorang supir begitu?"
"Tepat sekali, mereka disini sangat menghargai setiap pekerjaan mereka apapun pekerjaannya. Beda sekali bukan?" ujar Farrel menatap supir yang kini berjalan dengan membuka kancing jas dan masuk ke belakang kemudi.
"Jangan salah orang kita itu low profile, banyak pengusaha yang berpenampilan tidak layak disebut pengusaha, memaki celana pendek atau bahkan hanya menggunakan kaos oblong!"
"Dan banyak pula yang berpenampilan wow, tapi buktinya wew!" imbuhnya lagi.
Farrel tergelak, " Apa itu wow lalu wew? Dan seperti aku kan? Sampai kakak mengira aku ini driver online."
Metat mencubit pinggang Farrel, "Iih...masih saja dibahas!"
Mobil pun perlahan melaju dengan pelan, membuat Farrel maupun Metta nyaman karena tubuhnya saja kelelahan.
"Lagian juga kita honeymoon sayang, tapi malah bahas hal yang berat seperti ini, Biarkan yang berat jadi urusan mereka disana. Kita akan bersenang-senang disini, bukan begitu Mrs Farrel? Farrel mencubit lembut pipi istrinya.
"Dan jangan lupakan, janji mu menceritakan semuanya tanpa kecuali."
Semoga kakak melupakan hal itu nanti.
.
__ADS_1
.
Maaf kalau up nya tidak sesuai jadwal biasanya, author sedang dikejar RL... Semoga bisa mengaturnya dengan baik dan benar, karena otak gesreknya belum kambuh..wkwk