Berondong Manisku

Berondong Manisku
Jamuan makan 2


__ADS_3

Seseorang berjalan kearah mereka dengan berseru,


"Daddy...."


Farrel menoleh ke arah suara, begitu juga Doni yang menengadahkan kepalanya kearah yang sama.


"Kau?"


"Farrel, ternyata kau kesini rupanya."


Mereka saling menatap begitu juga Doni yang berada dibelakang nya.


"Kalian ternyata sudah saling mengenal." ujar Fernand.


"Sure, Dad... dia temanku," jawab Chaira yang tampak sumringah melihat Farrel.


"Wow, sebuah kebetulan yang luar biasa. Aku tidak menyangka dan sangat senang mendengarnya." ujar Fernand kemudian.


Farrel hanya mengangguk, dia enggan berkomentar apa-apa lagi, hanya ingin segera selesai dan pulang. Ingin segera menemui istri yang sudah begitu dia rindukan.


Kakak lagi apa ya sekarang?


Seusai keramah tamahan sang pemilik hotel yang tidak lain adalah Fernand itu, mereka kini membicarakan hal yang membuat Farrel semakin jengah, benar apa yang di katakan Doni sbelumnya, Fernand memnang tertarik dengan rancangan gedung pencakar langit miliknya.


"Aku akan membeli rancangan mu dengan harga tinggi," ujar Fernand dengan memotong daging steak miliknya.


Farrel mendesis pelan, Sudah ku duga.


"Atau kita akan bekerja sama? Kau menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Ini kesempatan besar lho, timpal Chaira.


"Kenapa bukan rancangan nona Chaira saja yang dipakai, bukankah rancangannya juga termasuk ke 10 besar paling bagus?" jawab Farrel acuh.


Tak disangka Fernand malah tergelak, "Ternyata kau sangat rendah hati Mr Farrel, aku sangat kagum padamu, di usiamu yang masih muda ini, kau sungguh luar biasa. Tapi kau masih tidak mengakui kehebatanmu yah."


"Terima kasih, kau terlalu berlebihan memuji Tuan Fernand." ucap Farrel dengan mengelap bibirnya.


"Kau benar Dad, he's a great man (Dia pria hebat)." timpal Chaira.


Farrel tergelak, "Kau berlebihan Aira, aku tidak sehebatmu maupun ayah mu, ini hanya faktor keberuntungan saja."

__ADS_1


Fernand semakin berdecak kagum, menatap Farrel dan memperhatikan semua yang melekat dalam dirinya, cara di bicara, tutur bahasa, gerakan tubuhnya, ketenangan, bahkan sorot mata yang ditangkapnya, semua membuat daya tarik nya semakin memukau.


Dalam beberapa tahun lagu, dia akan semakin hebat, calon menantu idaman. batin Fernand.


Namun tidak dengan Farrel, dia susah payah memaksakan diri nya menikmati jamuan makan itu, meskipun dia benar-benar jengah, apalagi mengetahui Fernand adalah ayahnya Chaira. Semakin besar keinginannya untuk segera pergi dari sana.


"Bagaimana jika aku menawarkan harga fantastis beserta bonus luar biasa padamu Mr Farrel, dan aku harap kau mau mempertimbangkannnya baik-baik!"


Doni yang hanya mendengarkan dan juga mencatat poin-poin penting pada sebuah note, kini tercengang, mendengar apa yang dikatakan oleh pria paruh baya yang berada di hadapannya.


Harga fantastis dengan bonus, aku tidak bis membayangkan seberapa banyak itu.


"Maaf pak, sepertinya saya belum tertarik dengan tawaran anda."


"Saya sama sekali tidak akan melepaskan rancangan saya pada siapa pun, sekalipun dengan harga fantastis, termasuk juga beberapa bonus yang anda tawarkan barusan!" ungkap Farrel kembali.


Fernand berdecak, "Kau belum memikirkannya, bagaimana mungkin tidak tertarik sama sekali?"


"Dad, cukup .... jangan lagi membuat Farrel tidak nyaman dengan undanganmu!" ujar Chaira dengan menyentuh lengan ayahnya.


"Aku akan berikan seluruh asetku yang berada di negara ini untuk rancangan milikmu, dan bonus nya kau boleh menikahi anakku Chaira." ujar Fernand semakin berani.


Chaira tersentak, "Dad, itu tidak mungkin, Farrel is married!"


"Saya benar-benar minta maaf Mr Fernand, saya rasa pembicaraan kita semakin melebar kemana-mana, dan sudah waktu nya saya undur diri." ujar Farrel dengan melirik Doni.


Dia bangkit dan berlalu begitu saja setelah berpamitan, Doni bangkit dari duduknya dan tahu apa yang di inginkan Farrel.


"Maaf Mr Fernand, nona Chaira, atas ketidak nyamanan ini, Mr Farrel ada pertemuan lain yang harus dia datangi." ujar Doni.


Doni pun segera pergi menyusul Farrel yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil. Sementara Chaira hanya berdecak karena apa yang di lakukan ayahnya.


"Dad ... kau membuat Farrel tidak nyaman, dia benar-benar tidak nyaman dengan ucapanmu, dia sudah menikah." rungut Chaira.


"Kau juga tertarik padanya kan sayang? I know that, and there is no problem if he is married (Aku tahu itu, dan tidak ada masalah jika dia sudah menikah)"


"Daddy....!? Apa yang kau fikirkan,"


Kenapa daddy berfikiran sama dengan denganku, tapi tidak secara terang-terangan begini, i will do it my own way. batin Chaira.

__ADS_1


"Yes Aira, my most beautiful child. Kau tidak keberatan sama sekali bukan."


"Daddy ingat, daddy datang kesini untuk pernikahan kakak, not me, bukan membicarakan pernikahanku dan hal semacam itu."


Fernand tergelak, "Kakak... aku tidak yakin!"


Chaira bangkit dari duduknya, "Daddy selalu begitu terhadapnya, dia anakmu juga kan?"


Kemudian Chaira berlalu meninggalkan ayahnya yang masih duduk termangu. Entah kenapa setiap mengingat anak laki-laki pertamanya, dia selalu keras sentimentil, dengan tangan yang mengepal dibawah meja.


Sementara Farrel tampak uring-uringan di dalam mobil yang dilajukan oleh Doni, dia tidak hanya sekedar kesal, namun juga marah.


"Seenaknya saja dia bicara tentang menikahi Chaira! Aku tidak habis fikir dengan isi kepala pria tua itu." gerutu Farrel.


"Mungkin dia tidak tahu kau sudah menikah, sudah santai sajalah! Kau kan tinggal menolaknya saja." jawab Doni dengan tangan yang tetap berada dikemudi, begitu pun pandangannya yang merangarh pada ruas jalan.


"Berbeda sekali jika tawaran itu untukku! Aku tidak perlu memikirkannya, I will say yes right then (Aku akan bilang iya saat itu juga)" lanjutnya dengan terkekeh.


"Kau serius ... kenapa tidak kau saja yang menawarkan diri kalau begitu!" timpal Farrel.


Doni menoleh, "Pria tua itu belum tahu saja tentang rancangan milikku, bahkan lebih bagus dari pada gedung pencakar langit milikmu."


Farrel mengernyit, "Rancangan mu? Aku tidak tahu kau punya juga, kenapa tidak kau tawarkan padanya, mungkin dia tertarik."


Doni terkekeh, "Rancangan ku beda Rel, beda daripada yang lain."


"Apa memangnya?" Tanya Farrel penasaran.


"Rancangan masa depan dengan bahagia." ujar Doni dengan merentangkan satu tangannya.


Farrel tertawa hingga terpingkal, kemudian menoyor kepala sahabat sekaligus asistennya itu.


"Emang otakmu sudah konslet parah." ujarnya kemudian.


Mereka tertawa bersama, sedikit melepaskan kepenatan yang dirasakan. Namun tiba-tiba Doni mendadak menginjak pedal rem dengan kakinya.


"Astaga, Rel ta api...." serunya dengan menoleh pada sahabatnya disampingnya.


Farrel menautkan kedua alis tebalnya, "Apa...?"

__ADS_1


"Motor ku tertinggal di Kafe, astaga mana jauh lagi dari sini." ujarnya dengan menghempaskan kepalanya disandaran jok mobil.


"Aku tidak mau tahu, aku mau pulang!"


__ADS_2