Berondong Manisku

Berondong Manisku
Mauku kamu


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kehidupan berjalan semestinya. Namun kesibukan Farrel mulai menyita waktunya, fikirannya pada Metta terpecah dengan kewajiban yang harus ditunaikannya.


Disela kesibukannya Farrel hanya bisa mengirimkan pesan chat yang tak pernah sekalipun dibalasnya. Hingga ketika Melewati gedung divisi umum berharap bisa sekedar melihatnya. Namun ternyata alam pun belum mengizinkannya.


Metta sudah kembali pulang kerumah, bekerja seperti biasa dan mengabaikan apapun yang berkaitan dengan Farrel. Mengabaikan chat dan dering panggilan darinya.


Berusaha melupakan? tidak, kali ini Metta memilih berdamai dengan takdir. Karena kegagalan nya kali ini adalah pengorbanan nya atas nama Cinta.


.


.


Kan ku abaikan


Sgala hasratku


Agar kamu tenang dengan nya


Ku pertaruhkan


Semua ragaku


Demi dirimu bintang


Biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


Tidurlah kau di pelukku


Di pelukku


Biar ku tunda


Segala hasratku


Tuk miliki dirimu


Karna semua


Tlah tersiratkan


Dirimu kan milikku


biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmuy


Tidurlah kau di pelukku


Di pelukku


Di pelukku


Biarkan ku menggapaimu


Memelukmu


Memanjakanmu


Tidurlah kau di pelukku


Di pelukku


Di pelukku


Hingga kau mimpikan aku,

__ADS_1


Mimpikan kita,


Mimpikan kita


Jangan pernah kau terjaga,


Dari tidurmu,


Di pelukanku


Bintang ( Anima)


Pendengaran Metta samar samar mendengar suara orang tengah bernyanyi. Petikan dari sebuah gitar akustik mengiringi lembutnya vokal siempunya.


Metta yang sejak pulang kerja mengurung diri hingga akhirnya terlelap itu menggapai ponsel yang dia letakkan di atas meja.


"Andra..bisa nyanyi juga anak itu" Matanya dia tujukan pada benda pipih yang sudah menyala ditangannya, memastikan dia sedang tidak bermimpi.


Jam memang menunjukan masih belum terlalu larut, hingga Metta mengambil posisi duduk dengan menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran ranjang, mengotak ngatik ponsel dan berselancar di dunia maya. Bibirnya ikut bergumam mengikuti vokalis yang tengah bernyanyi.


Rasa penasaran mulai menelisik ketika suara Andra lama lama terdengar begitu merdu.


"Perasaan tuh bocah gak..." suaranya tercekat seketika, seiring ingatan nya baru bisa terkumpul.


"Andra gak begitu suka nyanyi, bocah itu kan suka nya main game" gumam Metta.


Dia lalu beranjak turun dari ranjang,berjalan kerarah pintu kemudian memegang handle pintu hendak keluar. Namun Metta belum juga menariknya pintu itu sudah terbuka, dan dia terdorong beberapa langkah ke belakang.


"Aaawss.." Metta menggosok keningnya yang terbentur. Kemudian dia beralih pada seseorang yang mendongkakkan kepalanya dibalik pintu.


" Andra, lo gila apa..?"


"Cx, cepet deh mendingan kakak keluar, tuh laki berisik. Jangan bilang lo sengaja mau nunggu sealbum dulu, lo baru mau keluar, iyaa?" tukas Andra dengan kesal.


Metta yang tak paham hanya mengernyit, "Sengaja apanya sih.."


"Tuh...lihat sendiri" Andra menunjuk kearah luar, Metta pun spontan mengikuti arah yang ditunjukan adiknya itu.


Deg..


"Farrel.."


Farrel yang merasa namanya dipanggil mendongkakkan kepalanya, mengukir senyum semanis mungkin diwajahnya, melihat kearah perempuan yang begitu dirindukannya, ingin berlari memeluknya, mendekapnya, bahkan menciumnya saat itu juga.


Namun perasaan itu mampu ditahan nya, mengingat pesan pesan dan petuah dari sang bunda yang menguatkan langkahnya. Farrel mendekat setelah dia menyimpan gitarnya diatas sofa. Perlahan namun pasti dia melangkah, mata nya hanya tertuju pada perempuan yang mengenakan setelan piyama bergambar Doraemon sebatas lutut, dengan rambut yang di ikat kuncir kuda. Dan tentu saja tanpa riasan bahkan kini bermuka bantal karena baru saja bangun.


Metta mengerjap ngerjap, bulu mata lentiknya bergerak naik turun seiring tatapan penuh damba yang di tujukan padanya. Wajahnya panas serta merona bak bercermin di atas bara.


Ingin sekali berlari menyambutnya dengan tangan terbuka, menyelusupkan kepala ke ceruk lehernya dan melepas kerinduan yang bersemayam selama ini.


Lagi lagi mereka menahan diri, agar tidak terperosok dikubangan yang sama, saling menjaga menjadi pengingat diri.


"Kakak.." Suara panggilan yang selama ini begitu dirindukannya.


Metta menjawab dengan hati hati "Hem.."


"Kakak baik baik saja?"


Hal pertama yang selalu diucapkan Farrel ketika bertemu. "Ya aku baik baik saja"


"Tidak..tidak..aku sedang tidak baik saja, bahkan ingin marah saat lihat kamu merangkul perempuan lain"batin Metta berbicara.


"Gampangan sekali,"


"Ah..sial"


Kata kata itu hanya menjadi monolog, Metta tercekat bak menelan duri.


"Apa aku terlihat tidak baik baik saja," Metta merentangkan tangannya,


"Aku masih hidup, masih bisa bernafas dan aku semakin cantik..hahha" Ucapnya penuh percaya diri.

__ADS_1


"Astaga, ngomong apa sih gue.."


Farrel menarik sudut bibirnya keatas,"Kakak semakin menggemaskan yaa, aku ingin sekali memeluk kakak"


Metta terbelalak kaget dengan ucapan to the point dari Farrel.


"Bagaimana dia bisa berkata begitu mudahnya"


"Sudahlah mau apa kamu kesini, pulang sana, aku tidak mau mencari masalah lagi"


"Kakak yakin menyuruhku pulang?"


"Sudah sana" Metta mendorong tubuh Farrel hingga ke ambang pintu.


"Tapi ada yang harus aku bicarakan kak"


"Aku tidak mau, sudaah sanaaa..."


"Tapi aku belum selesai bicara kak"


"Sudah tidak ada yang mesti kita bicarakan Farrel"


"Kakak bahkan belum mendengarkan aku"


"Aku tidak mau mendengar apapun"


Mereka saling dorong mendorong satu sama lain, mempertahankan ego masing masing. Hingga suara deheman terdengar, dan mereka menoleh kearah suara.


"Ibu.."


"Kalau ada masalah itu dibicarakan baik baik, cari lah jalan keluarnya kalian itu kenapa, kayak bocah. malah saling mendorong, memangnya masalah akan selesai sendiri."


Farrel dan Metta menunduk, bak seorang murid yang kedapatan bolos sekolah, Metta melangkah mendekati sang ibu.


"Tapi aku tidak punya masalah dengan dia bu"


"Kakak sepertinya marah padaku bu" Metta mendelikkan matanya pada Farrel yang berada dibelakangnya. Memberi kode agar Farrel menutup mulut.


"Apa ibu mau membantu calon mantu ibu ini" Ucap Farrel dengan menatap sendu pada Sri, seolah mencari dukungan.


"Apa maumu kali ini Farrel?" sentak Metta.


Farrel terkekeh "Aku maunya kakak"


"Kalian duduklah, dan bicara baik baik. Jangan memberi contoh yang tidak baik untuk adik adikmu Sha"


"Iya bu.." Metta akhirnya mengalah, memejamkan matanya sesaat, kemudian menghembuskan nafas dengan kasar.


"Kita bicara diluar" Metta melangkah menuju sebuah kursi didepan rumah, dan Farrel mengekor dibelakang.


Hening..


"Apa kamu tidak juga mengerti apa yang ibumu bilang Farrel?" suara Metta terdengar pelan, dia takut terdengar oleh semua anggota keluarganya.


"Aku hanya mengikuti kata hatiku"


"Sudah kubilang ini tidak akan berhasil"


"Berhasil, kalau kakak mau,"


Metta menoleh ke arah Farrel yang tengah menatapnya.


"Apa yang kau fikiran farrel, kenapa tidak juga mengerti"


Farrel meraih tangan Metta dan menggenggamnya, menarik tangan itu lalu menciumnya dengan lembut. Dengan sorot mata yang begitu meneduhkan.


"Aku hanya memikirkan kakak"


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, dan komennya yaa. karena ini hari senin, vote nya juga ya boleh yaa boleh dong🤭


Makasih😘


__ADS_2