Berondong Manisku

Berondong Manisku
Jewelry eternity


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Doni sudah muncul didepan Apartemen milik Farrel.


"Kamu yakin Don ini berhasil!? kalau malah tambah marah bagaimana?"


"Aku jamin, gak bakal deh. Percaya! bakal makin percaya diri dia nanti,"


"Yakin?"


Doni mengacungkan ibu jarinya, " Yakin..."


Farrel membuka paper bag yang dibawa Doni, dan berdecak setelahnya.


"Memang harus yaa, apaan sih ada ini segala!"


"Pokoknya kamu berikan semua tapi nanti, hari ini cukup berikan yang ini saja," Doni memberikan paper bag yang lebih kecil.


"Jangan sampai gak dipake, aku bikin itu semalaman, belum nyari tempat yang buka waktu malam, you know sampai gedor-gedor pintu."


"Apa nih, memangnya ini penting? Harus...?" Doni mengangguk.


"Norak!!" Farrel melemparkan barang itu sofa, kau dia duduk.


"Kurang gaul sih, waktumu habis di kantor dan kampus. Kerja-kerja-kerja terus, gak pernah hang Out kemana-mana, dating, menjelajah, icip yang lain kek, ini nemu satu langsung mau nikah aja,"


"Sialan emang, gak gitu juga!" menoyor kepala Doni, Sementara Doni hanya terkekeh,


"Memang nya kalau dipake disebut gaul? pernyataan macam apa?"


"Sudah sana pergi, katanya mau cari wedding ring, udah pake, awas kalau gak dipake. Lu... gue pecat jadi bos!"


"Cih...kebalik!!"


Akhirnya Farrel membawa paper bag yang lebih kecil itu, dia keluar dan menuju mobilnya sementara Doni berjalan menuju mobil kantor yang selama bekerja ini dia pakai.


"Awas kalau gak dipake," Seru Doni.


"Apa lo...." ucapnya pada Mac yang menatap nya dari dalam mobil dengan tajam.


Farrel menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam kursi penumpang, Melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, jam tangan digital pemberian Metta itu menunjukan waktu 06.40 pagi


"Masih pagi ternyata, tak apa lah!"


"Sekarang Mas? tanya Mac.


"Iya Mac sekarang saja,"


Mac pun melajukan mobilnya menuju rumah Metta, jalanan yang masih terlihat sepi itu memudahkan Mac berkendara, dalam waktu singkat mereka tiba di depan rumah Metta.


Farrel turun dari mobil dengan menjinjing paper bag dan beberapa kantong lainnya. Dan langsung disambut hangat oleh ibu sri dan juga Nissa. Sementara Metta baru saja masuk kamar dan tengah bersiap- siap.


"Bu ini aku bawa bubur ayam special dan kue-kue, buat sarapan," ucapnya sambil menyerahkan kantong-kantong itu pada ibu Sri.


"Duh kok malah repot-repot,"


"Gak apa-apa bu, tadi sekalian lewat,"


"Memangnya bang El beli sendiri, bukan om Mac yang beli kan?" Nissa terkekeh.


"Iya enggak lah, abang yang turun,"


Nissa memicingkan matanya, "Masa sih?"


"Iya lah, kenapa harus Mac coba?"


"Iya kali aja, kan biasanya gitu kalau orang kaya, gak heboh emang itu bang dijalan pas abang turun kayak disekolahan Nissa?"


Sri hanya menggelengkan kepalanya, sementara Farrel mengulum senyum, lalu tak lama Metta keluar dari kamar, Farrel menghampirinya.


"Hari ini kita pake ini, yah!"


"Apa?"


"Buka saja, sekalian ganti didalam kamar, aku juga sudah memakainya." ucap Farrel menunjukan bagian bawahnya.

__ADS_1


"Apaan sih ini? T- shirt...?" ucapnya saat mengambil sesuatu dari paper bag.


"Hmm... hari ini kita pake ini yah," ucap nya dengan mengulum senyum.


"Apa sih norak tahu gak! gak ah...."


"Ayolah kak, biar seru!"


"Ish...pasti ada yang ngajarin kamu yah, hem?" Farrel menggaruk kepala.


"Katanya itu gaul, biasanya suka dipakai couple."


"Katanya-katanya," sungut Metta seraya menggelengkan kepalanya tapi dia juga masuk kedalam kamar untuk memakainya.


Farrel kembali duduk dan tak lepas mengulum senyum, lalu Nissa duduk disebelahnya.


"Bang, kak Sha udah gak marah kan?"


Farrel menggeleng, "Enggak, kenapa?"


Nissa menghembuskan nafas, "Syukurlah."


Tak lama kemudian Metta keluar dari kamar dengan T-shirt yang baru saja dia pakai, Nissa menatapnya tak jemu, saat menyadari T-shirt yang dikenakan Farrel dan Metta ternyata sama namun dengan tulisan yang berbeda.


...He is my future husband...


...Do not disturb...


Sablon plastisol 3D glow in the dark (akan menyala jika dalam keadaan gelap) terpangpang jelas di T-shirt Metta. Begitupun dengan T-shirt yang dikenakan oleh Farrel.


...She is my future wife...


...Do not disturb...


"Ya ampun kalian, lucuuu banget," ujar Nissa dengan menarik tangan kakak nya dan memutar kan tubuhnya,


"Nissa ih ngapain?"


"Kak Sha lucu banget tahu gak,"


Farrel tak kalah dengan Nissa, dia juga tengah mengulum senyum melihat Metta tertawa sampai terpingkal saat Nissa menggodanya, T-shirt yang dipadukan dengan rok sebatas lutut dan plat shoes berwarna putih, sedangkan Farrel mengenakan jeans chino yang tampak serasi.


"Yuk berangkat," Ucapnya kemudian.


"Nissa bilang ibu ya kakak pergi dulu,"


"Siap bos," tukas Nissa yang menggerakkan tangannya seperti memberi hormat.


Mereka keluar dan berjalan bergandengan tangan.


"Kakak lucu banget sih, makin cantik aja! Aku jadi gak sabar nunggu Andra balik kesini."


"Ih...kamu!" Metta mencubit pinggangnya.


Meskipun meringis tak mengapa, yang dia lihat memang kenyataan, Metta tampak berseri dan semakin cantik, bahkan tak terlihat perbedaan usia diantara mereka. Antara Farrel yang terbawa dewasa ataupun Metta yang terbawa lebih muda.


"Tuh kan lihat deh, kita itu seumuran kak, jadi gak usah risau karena kakak sama sekali tidak terlihat, bahkan sepertinya aku seumuran kakak deh," jelas Farrel saat mereka berdiri disamping pintu mobil dan melihat pantulan diri mereka di mobil.


"Ih... kebiasaan!" ucap Metta mengulum senyum, lalu masuk Ke dalam mobil.


Farrel tak hentinya memandang wajah Metta, semakin lama, lama dan begitu dalam. Menyiratkan seluruh perasaan yang dia rasa, entah kenapa dia sebegitu dalamnya mencintai gadis yang sekarang tengah menatap layar pipih dan sesekali tersenyum dengan layar yang menyala itu.


"Lagi balas pesan siapa hem?" Farrel menempelkan dagunya dibahu Metta.


"Dinda...."


"Ooh..., gadis penguntit,"


"El...apa sih! kenapa selalu mengatakan begitu."


"Alan yang mengatakannya padaku! terus dan terus membahas gadis itu tapi saat aku suruh dia menghabisinya, dia diam saja!"


Metta membelalakan matanya, "Menghabisinya bagaimana?"

__ADS_1


Farrel menangkup kedua pipi Metta yang tengah kaget dengan kata yang dia ucapkan, "Bukan menghabisi dalam artian sebenarnya, itu hanya kiasan saja,"


"Jadi maksudnya apa?"


"Hanya aku dan Alan yang tahu! hehe...."


"Ih...nyebelin," menepis tangan Farrel dengan sebal.


"Urusan pria," ucapnya kemudian.


Tak lama mereka sampai ditempat Queen jewelry, langganan bunda dan seluruh perempuan penyuka perhiasan di kota itu yang nilai keabsahannya tidak bisa diragukan lagi.


Farrel menggenggam Metta masuk kedalam outlet besar itu. Seorang pegawai jewelry menghampiri mereka,


"Permisi, mau cari perhiasan jenis apa?"


Farrel maupun Metta tampak silih pandang, mereka sama sekali tidak mengerti hal itu. Hingga pegawai itu,


"Pernikahan, tunangan atau apa?"


"Pernikahan," dengan cepat Farrel menjawab.


"Emas murni, palladium, atau platinum?"


Mereka berdua silih memandang kembali. Tak juga mengerti jenis-jenis yang pegawai wanita itu katakan.


Hingga seorang ibu separuh baya menghampiri nya. Terlihat berbicara dengan pegawai itu, lalu tersenyum. Tak lama pegawai itu pergi dan perempuan paruh baya menghampiri nya.


"Mari ikut saya, ibu mu sudah menelepon."


Dia membawa mereka naik keatas, melewati jajaran kotak berkilauan, yang tentu saja membuat perempuan menggila,


Leganya, jadi mereka tidak perlu sebingung tadi lagi.


"Perkenalkan nama saya Syara, teman ibu mu," ucapnya saat mereka sampai di lantai 2.


"Ibumu sudah bercerita, kamu yang akan menikah bukan? Tante sempat tidak percaya lho kamu udah mau nikah saja, eh ternyata benar,"


"Iya, Tante...."


"Wah cantiknya calon istrimu ini."


"Iya Tante..." jawab Farrel singkat, Metta hanya tersenyum.


"Baiklah, kita mulai ... kalian pilih dulu yang cocok, baru nanti kasih tahu tante."


Sepasang kekasih itu kini menatap satu persatu, mencari sesuatu yang membuat mereka tertarik,


"Sayang ini lucu," ucap Farrel.


"Ini saja," sungut Metta.


"Baiklah urusan Wedding ring aku serahkan padamu sayang," ucap Farrel seraya mengecup pucuk kepalan Metta dan memilih duduk disofa setelah hampir 1 jam mereka belum menemukan apapun.


Hingga Tante Syara menghampiri Metta, "Perlu bantuan?"


"Iya Tante...Sepertinya kita malah bingung,"


"Gak apa-apa, itu wajar kok, semakin melihat banyak jenis dan ragamnya malah bingung, tapi biasanya tetap memilih yang pertama kali di lihat."


"Hehe... iya benar Tan,"


"Ini..." Tante menyodorkan cincin jenis palladium( emas putih) dan platinum( logam mulia)


"Ini edisi khusus,"


Metta menunjuk sepasang cincin dengan ukiran sederhana namun sangat mewah, dengan berlian menghiasi ditengahnya,"Yang ini bagus banget Tan,"


"Wah matamu sangat jeli," Tante Syara mengambil cincin itu dari kotaknya.


"Ini cincin platinum, dengan berlian jenis Heart of eternity di tengahnya, kau tau artinya?" Metta menggelengkan kepalanya.


"Platinum itu kuat, tangguh dalam kondisi apapun, sementara Heart of eternity adalah hati keabadian. Dan sangat langka, tidak semua outlet jewelry memilikinya.

__ADS_1


Harganya pasti mahal banget, belum lagi langkanya pasti tambah mahal ini, jangan berlebihan Sha, cari yang biasa saja. Padalah cincin pertunangan saja sudah cukup, kenapa harus pake lagi cincin pernikahan. batin Metta.


"Bisa melihat lagi yang lain tidak Tan."


__ADS_2