
"Keluarga saudari Tiwi?" ujar seorang perawat yang muncul saat pintu UGD terbuka.
"Saya Sus, saya calon suaminya." ujar Doni tanpa sadar.
"Masuklah, dokter mau bicara dengan anda."
Doni berhambur masuk saat perawat itu mempersilahkannya, Dokter terlihat menghela nafas dengan memandang hasil observasi nya.
"Silahkan duduk! ujarnya dengan tangan mempersilakan Doni yang masih terpaku ditempatnya.
"Bagaimana Dok, keadaan pasien dan bayi yang sedang dikandungnya?" ujarnya tanpa basa-basi.
Dokter kembali menghela nafas dengan berat, "Itulah sebabnya, saya ingin memberitahukan kabar buruk ini, kami tidak bisa menyelamatkan kandungannya, dan keadaan saudari Tiwi saat ini kritis, ada pembekuan darah di kepalanya, akibat benturan yang cukup keras, dan pasien belum juga sadar."
Doni tersentak, dengan membasuh mukanya, "Lakukan apa saja dok untuk menyelamatkan nya,"
"Kami akan melakukan yang terbaik, namun kami juga hanyalah manusia biasa! Semoga ada keajaiban."
Doni menundukkan kepalanya, harusnya dia senang karena bayi itu sudah tidak ada, dan dia tidak perlu lagi bertanggung jawab, namun entah kenapa, hati nya merasa sakit, merasa sesak dan juga merasa kehilangan, ditambah kondisi Tiwi itu karena menyelamatkannya.
"Kami butuh tanda tangan keluarganya, dia akan dipindahkan sementara ke ruangan ICU secepatnya. Semoga keadaan nya membaik."
"Lakukan yang terbaik dok, saya yang akan bertanggung jawab!" ujarnya kemudian.
.
.
Doni melihat ke arah Tiwi yang belum sadar juga itu dari balik kaca pembatas, tidak ada yang diperbolehkan masuk selain dokter dan juga suster. Dengan tubuh yang penuh dengan kabel yang terhubung mesin, yang sesekali berbunyi.
Doni menghela nafas, menatap ke arahnya dengan nanar. Dia juga sudah memberi tahukan keadaannya pada Tasya,
"Bagaimana keadaan nya Don?"
"Rel? Kau disini?" tanya nya pada Farrel yang datang bersama Metta dan juga bunda Ayu.
"Aku melihatmu saat berjalan pulang, tapi aku tidak yakin, tapi saat melihat mobilmu ada si depan, Aku yakin jika yang kecelakaan didepan itu....!"
Doni menundukkan kepalanya, dengan mendudukkan dirinya di kursi panjang didepan ruangan ICU.
"Bayinya tidak bisa diselamatkan Rel, dan keadaan Tiwi masih kritis."
Farrel menghela nafas, sedangkan Metta menatap menutup mulutnya tak percaya,
"Yang sabar Don!" ujar Farrel dengan memegang bahu nya.
"Padahal aku baru saja melakukan tes DNA, memaksanya melakukannya, meskipun berkali-kali Tiwi menolaknya."
"Yang kuat ya Nak, semoga Tiwi bisa segera sadar." timpal Ayu.
Metta menatap lirih pada Tiwi dari gelak kaca di pintu masuk ruangan ICU.
Meskipun dia sering membuat ulah, tapi kasihan melihatnya tidak berdaya seperti ini, apalagi setelah tahu anaknya sudah tidak ada. Batin Metta seraya memegang perut ratanya.
Sama-sama sedang mengandung, Metta dapat ikut merasakan bagaimana jadinya saat Tiwi tahu janin yang dia pertahankan telah tiada. Dia tak hentinya melihat ke arah Tiwi. Ingin rasanya masuk ke dalam dan menguatkannya.
Namun karena kondisinya yang masih kritis, dia atau siapapun juga tidak bisa masuk ke dalam.
.
.
__ADS_1
Tasya yang datang bersama Erik menghampiri mereka, Erik merangsek kerah kemeja yang dikenakan Doni, dan menariknya hingga Doni bangkit dari duduk nya.
"Kau melakukan apa padanya? Hah...."
Farrel yang berada disamping Doni menepiskan tangan Erik, "Tolong jaga sikapmu, ini rumah sakit!"
Erik menghempaskannya begitu saja, Doni juga enggan melakukan apapun untuk membalasnya. Sementara Tasya merasa kecewa karena sikap Erik yang maaih terlihat menyimpan rasa pada sepupunya.
"Erik, sabarlah ... Kau tidak juga membuatnya bangun dengan bersikap seperti ini!" tukas Tasya.
Erik terhenyak, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bersikap emosional, dia bahkan tak sadar Tasya melihatnya.
"Maaf... aku hanya mengkhawatirkannya, itu saja!" ucapnya kemudian mendudukan dirinya dikursi.
Doni terdiam, begitu juga semua orang yang ada disana.
"Sya, maafkan aku!" gumam Erik pada Tasya yang kini duduk disampingnya.
"Tidak apa-apa, aku paham kok!" ujarnya.
Sekilas Tasya juga melihat Farrel yang duduk disamping Metta istrinya, dan juga Ayu.
"Tante...." sapanya pada Ayu, sementara Ayu hanya menganggukan kepalanya,
Semua orang tampak kembali diam,
"Tasya, maafkan aku, aku tidak bisa mencegahnya! Dia menyelamatkan aku dengan mengorbankan dirinya, hingga anak yang berada di kandungannya tidak bisa diselamatkan." lirih Doni.
Tasya dan Erik terhenyak, pasalnya meraka baru mengetahui kehamilan Tiwi, justru saat kehamilan nya itu sudah tidak ada lagi.
"Tiwi hamil?" gumam Tasya.
"Aku sudah lama tidak berhubungan dengan Tiwi, jauh sebelum kita menikah, dia yang selalu menghindari ku, kau ingat?"
"Aku tidak menuduhmu!" gumam Tasya.
"Tatapanmu yang menuduhku." gumam Erik.
Akhirnya Farrel, Metta dan bunda Ayu undur diri dari sana, karena pasien belum bisa dikunjungi, apalagi mereka terlalu banyak,
"Kabari aku jika kau butuh sesuatu Don," ujar Farrel saat berpamitan.
Doni mengangguk, "Terima kasih!"
Farrel dan Metta juga bunda Sri akhirnya pulang kerumahnya, sementara Tasya dan Erik masih menunggu disana, Doni yang baru saja mengantar kan Farrel pun kembali masuk.
Seorang perawat yang berada di Nurses station tiba-tiba memanggilnya.
"Keluarga Tiwi?"
Doni menolehkan kepalanya, "Iya betul, ada apa sus?"
Perawat itu menyerahkan tas milik Tiwi padanya, "Kami rasa ini milik nona Tiwi, baru saja seseorang mengantarkannya."
Doni mengambilnya dari tangan perawat perempuan itu, "Benar ini miliknya, apa boleh saya yang membawanya?"
Perawat itu mengangguk, "Tentu saja...."
"Terima kasih!" ujar Doni kemudian.
Dia pun membawa tas milik Tiwi, dan berjalan kembali ke ruangan ICU, keadaan Tiwi masih belum ada perubahan, Perawat dan dokter yang baru saja keluar dari sana tidak mengatakan apa-apa, selain hanya mengatakan, "Bersabarlah, semoga ada keajaiban."
__ADS_1
dan berlalu begitu saja. Tasya yang sedang hamil besar pun ikut pamit pulang, begitupun dengan Erik.
"Kabari jika ada sesuatu!" ujar Tasya dengan memegang bahunya.
"Pasti...." lirih Doni.
.
.
Kini hanya Doni sendiri yang duduk terbantu dikursi tunggu, koridor ruangan ICU memang terasa lebih sepi dari ruangan inap dirumah sakit itu. Doni melirik tas milik Tiwi yang teronggok di kursi di sampingnya.
Dia lantas mengambilnya, membuka tasnya perlahan.
Dia melihat amplop kuning yang tadi pagi dilihatnya saat Tas itu terjatuh, entah kenapa rasa penasaran Doni ingin membukanya.
"Amplop apa ini?" gumamnya.
Doni lantas mengambilnya, sekilas melihat amplop tipis itu dengan membulak-balikan, tidak ada tulisan apapun di depannya, diapun membalikkan lagi.
Namun selembar kertas putih terjatuh tepat di kakinya. Doni mengernyit, selembar kertas itu keluar dari amplop saat Doni membulak-balikannya.
Dia lantas mengambilnya, dan terhenyak saat melihatnya, seperti surat yang ditulis tangan oleh Tiwi.
Dear Doni
*Aku minta maaf jika terus mendesakmu, aku juga minta maaf karena aku, kau frustasi, kau memang benar, aku ini licik, hingga aku ingin memilikimu dengan melakukan segala cara, bukankah itu bisa disebut perjuangan dslam cinta? Ah tidak tahu jiga ya, aku tidak tahu cinta, aku bahkan bisa melakukan hal itu tanpa cinta. Tapi s**aat aku melihatmu pertama kali diruangan itu, aku terkesima melihat wajahmu, dengan sikap mu yang menyebalkan aku ingin selalu menghindarimu, namun entah kenapa, semakin aku menghindar, semakin aku tertarik padamu, kau berbeda, Sikapmu yang selalu ketus padaku membuatku semakin penasaran, tapi aku tidak berani karena kau menyebalkan, dan juga galak, kau tidak bisa aku taklukan hanya dengan tubuhku seperti yang lain. Hehe*.
Dan malam itu, saat kita bertemu tidak sengaja di klub, saat itu aku semakin ingin menghindarimu, namun lagi-lagi pesonamu membuatku hilang akal, bak gayung bersambut, kau seolah menginginkanku, atau apalah terserah. Yang pasti aku senang, aku ingin terus melihatmu, aku ingin memilikimu, aku fikir setelah kita melakukan hal itu, aku dan kamu bisa jadi kita! Tapi lagi-lagi aku salah, kau tidak menginginkanku.
Aku sudah terbiasa dicampakkan, sudah terbiasa pula di sepelekan oleh orang lain, Kau tahu lah yaa, track recordku...wkwkwk..
Tapi entah kenapa aku berharap banyak padamu, apalagi saat aku tahu aku hamil, mungkin kehamilanku akan membuatmu luluh, walau aku ragu, kau Ayah nya atau bukan.
Tidak apa, aku akan gunakan kehamilan ini untuk mengikatmu. Jadi suamiku...hehe jahat bukan, yaa tentu saja, aku memang jahat, untuk itulah aku dilahirkan( Emotion setan bertanduk)
Tapi aku lagi-lagi salah, kau bahkan tidak menginginkan anak ini, kau meragukan nya, hingga aku benar-benar frustasi.
Mungkin karena aku bukan wanita baik-baik hingga aku tidak punya kesempatan untuk berubah, tapi tidak kah kau tahu, aku sudah berusaha menjadi baik walaupun dunia terus berlaku jahat padaku.
Kau ingin tahu rahasiaku? Aku iri pada Tasya, karena Erik akhirnya bertanggung jawab, mau taruhan dengan ku? mereka akan bahagia, aku juga iri pada Mettasha, wanita super jutek dikantor yang mendapatkan cinta begitu besar dari Farrel, yang bahkan dia lebih muda darinya. Aku juga ingin merasakan dicintai, di inginkan oleh seseorang begitu besar. Tapi ya sudahlah, mungkin jodohku akan datang di kehidupan berikutnya, dan aku berharap aku akan menjadi seseorang yang lebih baik di kehidupan yang akan datang.
Hingga aku berada difase jenuh dengan mengejarmu, aku lelah, hingga aku memutuskan apapun yang terjadi dengan hasilnya, aku akan tetap merawat anak ini sendirian.
Aku akan pergi setelah hasil tes DNA itu keluar. Aku tidak lagi menginginkanmu, aku akan bahagia dengan caraku.
Kau tahu, entah surat ini akan sampai atau tidak padamu, tidak terlalu penting juga. Ini hanya curahan hati ku semata, mungkin surat ini akan aku buang, atau aku bakar, entahlah aku tidak tahu, kalau pun kau membacanya, berarti aku sudah tidak ada, aku sudah pergi jauh, membawa anak yang aku harap ini anakmu.
Semoga kamu bahagia selalu.
Doni terhenyak saat membacanya, ujung matanya mulai menganak, rasanya hatinya teras sakit sekali. Dia menoleh pada Tiwi dari balik kaca yang menghalangi.
.
.
Terima kasih untuk yang sudah kasih aku dukungan terus, gift, rate 5 dan vote nya juga. Baik di sini ataupun Di Aladin...
Lope-lope deh pokoknya.
Maaf juga kalau komennya tidak sempat dibalas.
__ADS_1