
"Bisa melihat lagi yang lain tidak Tan," Tante Syara tersenyum lalu mengangguk.
"Boleh dong."
Lalu dia beringsut dari duduknya dan melihat kotak demi kotak, hingga akhirnya dia menemukan wedding ring yang dia rasa cocok, simple namun terlihat mewah dengan permata di tengahnya dari emas murni jenis palladium( emas putih) hingga para pria pun tidak jadi masalah jika mengenakannya.
"Udah nemu?" ucap Farrel dari belakang, Menempelkan dagu dibahunya dan tangan yang menyelip dipinggangnya. Membuat nafas hangat Farrel menelisik diantara telinganya membuat aliran darahnya mendesir.
"Hmm...udah, tapi belum bisa diambil karena yang tadi hanya sample ring, pihak jewelry akan mengirimkan nya dalam waktu 2 minggu, ke alamat kamu. Begitu tadi kata Tante Syara."
"Hem baiklah, apa kakak suka?"
"Suka, kamu mau melihatnya?"
"Tidak usah, pilihan kakak pasti yang terbaik." mengecup sekilas pipinya.
Membuat wajahnya merona apalagi para pegawai yang melihat kearah nya sedari tadi.
"El...Ih!"
Farrel hanya tergelak, lalu setelah berpamitan pada tante Syara mereka keluar dari sana.
Lucu banget gak sih mereka, membuatku iri mau menikah muda juga.
Makanya jangan pacaran mulu, nikah ayo nikah.
Serasi yaa Mereka itu, Cantik dan tampan.
Lihat T-shirt nya aja lucu banget, gemes gak sih.
Iya gemes banget, Dia calon Istriku, Dia calon suami ku jangan diganggu, gitu kan artinya.
Hahaha. iya lucu banget.
Sementara Farrel terus menggenggam tangan Metta hingga mereka keluar.
"Kita makan dulu yah," ujar Farrel yang kini melingkarkan tangannya dibahu Metta.
Mereka berjalan ke area food court yang berada di ujung area mall terbesar di kota itu.
"Capek...? Metta menggeleng.
"Enggak, cuma aku memang gak terlalu suka jalan ke mall, banyak orang dan juga berisik, membuatku pusing." jelas Metta.
"Baiklah, kita tidak akan sering ke mall, bagaimana kalau kita bikin mall dirumah saja, jadi kakak tidak akan pusing kalau ke mall." kelakar Farrel.
"Ish...kau ini sudah seperti sultan siapa itu yang artis itu?"
"Hahaha iya ya, gak jadi deh kalau begitu!"
"Kenapa?"
"Sudah lupakan, kita juga tidak mengenalnya!" kembali merengkuh bahu Metta.
Membuat Metta kembali tergelak.
Maafkan aku yang selalu meragu. Padahal tak hentinya kamu meyakinkanku El.
Hingga beberapa orang pengunjung pun memperhatikan sepasang calon suami istri itu dengan tatapan yang jelas berbeda-beda.
"Sayang, sepertinya kita jadi pusat perhatian!"
"Hmm, itu karena kamu yang tampan," ujar Metta dengan menoleh padanya.
"Bukan, pasti karena kakak juga cantik. Kita tampan dan cantik,"
Metta menjumput hidung mancung Farrel, "Ada aja jawabannya," Farrel hanya meringis gemas lalu mendaratkan ciuman di pucuk kepala Metta.
"Sepertinya aura pengantin kita sudah keluar," ucap Farrel mengecup kembali pucuk kepala nya.
Membuat Metta tergelak, " Kau ini bicara apa? Sudah seperti ibu-ibu kompleks saja!"
__ADS_1
Farrel terkekeh, "Sayang makan itu yuk," menunjuk stand soto ayam.
"Kalau makan soto sih mending di langgananku,"
Farrel mencubit pelan pipi Mwtta, "Calon istri yang irit, katanya mau menghabiskan uang ku,"
Metta melingkarkan tangannya dilengan Farrel. "Itu kan nanti...."
"Latihan aja dari sekarang," Mencium pipi Metta sekilas.
Metta memukul lengannya, "Ih, lihat kau membuat mereka semakin melihat kearah kita,"
"Memangnya kenapa,aku malah semakin ingin mereka tahu," menunjukan tulisan di T-shirt itu dengan menarik bagian ujung bawah T-Shirt nya.
"Calon istri, Calon suami" ucapnya menunjuk Metta dan diri nya bergantian.
Metta menggelengkan kepalanya. Manis banget sih kamu.
.
.
Setelah selesai mengisi perut kini mereka berjalan ke
Salah satu butik yang jadi langganan bunda juga, semua atas rekomendasi bunda, semuanya. Cukup datang dan pastikan dengan semua keinginan.
Bunda memang terbaik.
Metta mencoba gaun pertama, Farrel yang duduk di ruang tunggu menggelengkan kepalanya, Terlalu biasa.
Lalu menggantinya dengan gaun yang kedua, dengan belahan dada yang nyaris membuat dua benda bulat itu keluar dan kedua mata Farrel terbelalak. Cepat ganti!
Gaun ketiga, Gaun berwarna putih tulang dengan punggung terpangpang nyata membuat Metta meringis, Terlalu.
Akhirnya Metta menyerah, "Sayang aku capek,"
"Kita istirahat dulu, sini duduk."
Namun saat Metta hendak mendaratkan tubuhnya, Farrel bergeser hingga Metta kini malah terduduk di pangkuan nya.
"Iihh...,kamu!"
Memukul bahu Farrel dengan keras. Farrel tergelak, namun juga tak melepaskannya, dia justru melingkarkan tangan dipinggangnya.
"Kamu semakin cantik sayang," bisiknya lembut.
"Hmm...udah berapa ratus kamu bilang seperti itu hari ini?"
"Memangnya kenapa,? menjumput hidungnya lembut.
"Mau aku kasih hadiah,"
"Dengan senang hati," Farrel memiringkan kepalanya, agar Metta mudah mencium pipinya.
Metta tergelak dengan mengalungkan tangannya dileher Farrel, "Memang nya aku bilang hadiahnya itu ciuman hem?"
"Lantas apa?"
"Payung cantik! Metta mencubit pipi Farrel dengan gemas.
"Payung buat orang mesum kayak kamu! Niih...nih, ini juga," ucapnya dengan cubitan-cubitan kecil dia daratkan di pipi dan bahu Farrel.
Membuat pegawai yang melihatnya ikut tertawa karena kekonyolan dan keisengan dari mereka berdua.
"Udah ih malu dilihatin,"
"Iya kamu yang cari gara-gara duluan."
"Jadi bagaimana udah nemu belum gaunnya?" Metta menggeleng.
"Kamu aja deh yang pilih,"
__ADS_1
"Masa aku, kan gaunnya kakak yang pakai? Nanti tidak sesuai dengan yang kakak mau," Farrel merapikan anak rambut Metta yang berantakan.
"Gak apa-apa kamu yang pilihin, pasti bagus! Aku pasti suka,"
"Serius...,Kakak akan suka pilihanku!"
"Hem... pilihanmu pasti oke!"
"Gak marah?"
"Iihh...apaan!"
Farrel kembali mengecup sekilas pipinya,
"Aku pilihin yang pasti kakak akan suka," lalu bangkit dari duduknya.
"Gaun untuk resepsi El, karena buat akad. Bunda dan ibu yang pilih."
"Oke sayang, I will be back."
"Kalian pasangan yang cocok, serasi... cantik dan tampan, tadi bunda juga sudah telepon, kalau kalian kesulitan memilih, bunda dan juga tante sudah menyiapkan opsi buat kalian pilih."
"Tapi sepertinya calon suami kamu paling tahu apa yang di inginkan dan cocok untukmu."
Metta tersenyum saat tante Irene berkata seperti itu, "Terima kasih tante,"
"Tak perlu sungkan, bunda nya Farrel itu sahabat nya tante,"
"Dan kamu tahu, Farrel itu persis seperti ayahnya, lembut dan penyayang, padahal bunda Ayu juga sama-sama dapet yang lebih muda juga kan. Sekarang Farrel juga begitu,"
Metta terkekeh dengan rona merah mulai bermunculan di pipinya. "Iya Tante...."
"Kalau gitu tante tinggal dulu ya, nanti kalau perlu sesuatu panggil saja, atau suruh panggil ke pegawai yang nemenin kamu ya,"
Metta mengangguk, "Terima kasih tante."
Sementara Farrel menghilang diantara banyak nya gaun-gaun pengantin yang super-super mewah dengan segala pernak-perniknya.
"Ini dia.... Pasti lucu banget!"
"Sayang tema wedding kita outdoor kan?" teriaknya dari balik ruangan sebelah.
"Iyaa...." ucap Metta yang kini tengah melihat-lihat catalog in the year dengan salah seorang yang menemani mereka.
Farrel datang membawa sebuah gaun yang membuat kedua mata Metta terbelalak.
"El...."
"Gimana suka gak?"
"Suka banget, tapi memangnya boleh?"
"Boleh saja, itu kan pesta kita. Jadi terserah kita mau seperti apa."
Metta berdiri dan menghampiri Farrel, "Lucu banget....aku suka!"
"Beneran kakak suka?" Metta mengangguk dengan mata yang berbinar.
"Kalau gitu minta cium sebagai hadiahnya,"
"El...ih!" membulatkan matanya sempurna.
Namun Farrel tergelak, "Cobalah, Kakak pasti akan lebih cantik,"
Metta mengangguk, dia meraih hanger gaun tersebut dari tangan Farrel. Dan bangkit dari duduknya.
Cup
Metta mencium sekilas pipi Farrel sebelum dia menghilang dibalik fitting room.
Ciuman tiba-tiba dan tanpa diminta itu bagai senyawa elektromagnet, yang tiba-tiba menyengatnya. Mengairi desiran darah yang mengering.
__ADS_1
"El... bagaimana?" ucapnya saat keluar dari fitting room.