Berondong Manisku

Berondong Manisku
Masalah diantara rencana bahagia


__ADS_3

Farrel membuka kaleng soft drink itu dan meminumnya."Karena itu lah aku kesini, apa kau yang membuatnya hamil? Katakan saja...."


"Kau gila!!!"


"Tinggal jawab iya atau tidak,"


Alan kembali menuang wine kedalam gelasnya, " Aku tidak ingat." lalu dia angkat gelasnya dan menenggak nya sekaligus.


"Oh...God ayolah! apa kau tidak ingat pernah melakukan sesuatu dengannya." Namun Alan tidak menjawabnya.


Fikiran nya menerawang pada malam itu, malam yang dia habiskan bersama Tasya. Memang bisa hamil yaa.


Memikirkannya saja membuat dia frustasi, Alan terus menenggak wine, kali ini dia menenggak nya dari botolnya langsung. Membuat Farrel menggelengkan kepalanya.


"Kau benar-benar gila AL, lebih gila dari pada aku dulu. Yang hanya ketahuan bunda saat berduaan di lift, sementara kau...."


Alan tak menggubris, fikirannya masih penuh pertanyaan yang dia sendiri tidak bisa menjawabnya.


Dan jawabannya hanya menemui Tasya dan bertanya langsung. Haisss, bodoh.


"Tapi bagaimana mungkin?" gumamnya pelan.


"Mungkin saja kalau kau bodoh, kecebong mu itu bisa bergerak cepat melebihi roket untuk sampai ke bulan. Benar-benar bodoh."


Mac tertawa tanpa suara. Kecebong, roket astaga...Mas.


"Diam kau Mac, aku tahu kau menertawakanku kan?"


Mac terkesiap, "Tidak Mas..., sama sekali tidak!"


Alan mendecih, "Cih...Sudah, enyah dari sini! Kalian hanya membuatku sakit kepala."


"Dan kau jangan sembarangan bicara, aku akan menyelidikinya terlebih dahulu." tunjuknya pada Farrel.


"Menyelidiki apa? Kau akan bertanya itu kecebong mu atau bukan... Begitu!"


Alan mendengus, "Aku tidak tahu kecebong itu bisa keluar begitu saja."


"Haisss, bisa saja. Dia itu punya ekor panjang! Licin dan gesit, bukan begitu Mac."


Astaga, aku gak menyangka bos dingin dan pintar berstrategi bisa sebodoh ini, kecebong juga katanya, Jangan sampai semua tahu. Batin Mac, dengan menahan tawa.


Farrel menoleh padanya, "Mac jelaskan pada sibodoh ini, bagaimana itu kecebong bisa terbang."


"Cih ... Kau sudah pintar sekarang dengan hal begituan,"


Farrel membusungkan dada, lalu ditepuknya sekali. "Calon suami, jangan kau anggap aku sepele. Maka dari itu aku memberitahu ilmunya."


"Sekali saja kau memompanya, tuh kecebong terbang nembus bahkan sampai ke langit-langit rumah." Ucap nya lagi.


"Pppfftt, ilmu kecebong terbang...." Gumam Mac.


"Iya kan Mac?" tanya Farrel, yang bahkan dia juga tidak terlalu faham.


"Ayo Mac jawab, kau kan sudah menikah, jadi tahu bagaimana caranya itu kecebong bisa membuat hamil, padahal aku saja tidak tahu kapan terbangnya." Ungkap Alan.

__ADS_1


Mac menggelengkan kepalanya. "Bagaimana aku menjelaskannya ya, susah juga." menggaruk belakang kepalanya.


"Kau ini juga ternyata bodoh, sungguh kasian istrimu."


"Setidaknya kecebongku sudah tumbuh besar sekarang," Mac tergelak dengan ucapannya sendiri.


Alan menggelengkan kepalanya, "Aku harus menemuinya,"


"Kau akan bertanya padanya langsung?"


"Tentu saja, lalu jika benar itu kecebongku, kenapa dia tidak menemuiku? Maksudku tidak mengatakannya padaku."


Tapi aku pernah melihat dia saat keluar dari apartemen ini, apa dia mau menemuiku?


Farrel mengerdik, "Mana aku tahu ... Mungkin dia malu, atau keburu mood nya memburuk saat melihatmu, bisa saja kan. Ibu hamil katanya mengalami mood swing, benarkah Mac?"


"Benar Mas, kadang mereka marah tiba-tiba, tidak mau dekat-dekat, tapi kadang tidak mau ditinggal, meski hanya ke kamar mandi saja. Menjengkelkan," jelas Mac.


Alis Farrel terangkat satu. "Memang separah itu?"


Bagaimana nanti jika kakak yang hamil. Apa akan seperti itu, bagaimana kecebongku nanti yaa.


Mac mengangguk, "Bahkan menyuruhku tidur diluar!" rungutnya.


Kali ini Alan yang menoleh, "Benarkah? Kau melakukannya?"


"Terpaksa...Kekejamannya bahkan mengalahkan nyaliku." ujarnya dengan menenggak soft drinknya.


Sampai-sampai Alan dan Farrel ikut menelan air liur saat Mac menenggak minumannya.


"Kata siapa?" Ucap Alan dan Farrel berbarengan.


Mac menatap keduanya bergantian, "Istriku sendiri yang bilang."


Mereka berdua mengangguk-ngangguk.


"Aku harus menemuinya!!" Alan bangkit dari duduknya namun tubuhnya limbung.


Mac dengan sigap menopangnya, " Dia kebanyakan minum."


Farrel mendecak, "Bodoh..., dia tak pernah minum sebanyak ini juga Mac."


Alan menghabiskan 3 botol wine dengan alkohol paling tinggi, sampai dia tidak sadarkan diri. Mac membaringkan Alan disofa, sementara Farrel yang merogoh kunci kamar miliknya, sudah berada diatas untuk membuka pintu kamar.


"Mac bawa sibodoh itu kesini...." seru Farrel dari dalam kamar.


Mac memapah Alan untuk naik ke tangga menuju kamar tidurnya. "Berat sekali bos,"


"Itu karena aku terlalu banyak dosa Mac, oh iya kau...kenapa ada di sini? sedang apa kau disini."


"Aku tidak ingat sama sekali pernah membuat kecebongku terbang Mac. Hahaha, bukankah itu sangat lucu kalau itu adalah anakku Mac."


Alan mulai meracau, dengan berjalan sempoyongan. Dan Mac harus mengeluarkan tenaga extra untuk menahan tubuhnya.


Brakk

__ADS_1


Mac menjatuhkan tubuh Alan diatas ranjang begitu saja. Sampai Farrel yang tengah berusaha membuka lemari menoleh padanya.


"Dia sangat berat!!" ucapnya dengan menghembuskan nafas.


Mac menatap Farrel yang dipastikan tengah penasaran dengan senjata api milik Alan. Dan Farrel melihatnya.


"Aku hanya ingin lihat sebentar Mac," ucapnya saat melihat tatapan Mac seolah bertanya padanya.


Perlahan Farrel membuka laci dimana senjata itu diletakkan, terbungkus kain berwarna hitam dan cukup lumayan berat. Berjenis FN 5 7 yang hanya dia tahu ada didalam game yang sering dia mainkan bersama Andra.


Ah bocah itu kapan dia pulang, rasanya lama sekali.


"Mas..." gumam Mac saat Farrel hendak memegangnya penasaran.


Farrel menoleh, melihat Mac yang menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Jangan coba-coba menyentuhnya.


Farrel menghembuskan nafas dan menarik kembali tangannya, hampir menyentuhnya karena penasaran namun dia urungkan karena nyalinya tidak sebesar itu untuk memegang senjata. Jangan macam-macam sayang.


Kata-kata itu sekelebat lewat dikepalanya. Mac yang terus menatap nya tanpa berkedip, bahkan semakin menajam. Aku memang belum seberani itu Mac.


"Ayo kita pulang Mac...." Ujarnya sambil menutup kembali lemari milik Alan.


.


.


Farrel kembali pulang dengan jawaban yang tidak dia dapatkan dari Alan,


"Mac kau dengar apa yang dia katakan tadi? Bagaimana mungkin dia tidak mengingatnya sedikitpun." Ucapnya saat keluar dari lift.


Mac hanya mengangguk, dia juga tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Hanya Alan dan Tasya sendiri dan tentu saja Tuhan yang tahu.


"Masalah ini membuat otakku bercabang-cabang." gumam Farrel.


Setelah mereka keluar dari Apartemen milik Alan, Mac melajukan kendaraan roda 4nya menyusuri jalanan yang sudah padat, ditambah hujan yang mulai bergemiricik.


"Mac apa yang kau rasakan saat akan menikah?"


Mac mengernyit, lalu tersenyum, "Kami dijodohkan Mas, jadi saya tidak merasakan apa-apa saat menikah!"


Farrel mengangguk, "Masih ada juga yang dijodoh-jodohkan gitu Mac?"


"Ada Mas, banyak. Bahkan sebagai penebus hutang juga ada,"


" Penebus hutang?"


"Maksudnya dinikahi sebagai alat pembayaran hutang orang tuanya, jadi dianggap lunas Mas." jelas Mac tanpa mengalihkan pandangannya.


"Memang ada Mac?"


Mac mengangguk, "Mungkin juga Mas." Mac terkekeh.


"Tapi Mas beruntung bisa menikah dengan gadis yang juga mencintai Mas, saling mencintai. Dan tidak ada lagi masalah yang menghalangi, tinggal menunggu hari itu tiba saja kan Mas."


"Hmm...Tinggal menunggu Andra!"

__ADS_1


__ADS_2