Berondong Manisku

Berondong Manisku
Perpisahan VS Pertemuan


__ADS_3

PT CEMERLANG GRUP


.


.


"Erik.. Lo ke ruangan gue sekarang"


"Siap bos.."


"Buruan.."


"Elah...gak sabaran amat bos, bentar"


Erik masuk ke ruangan Faiz setelah mengetuk pintu.


"Bos..."


"Bisa gak lo masuk ketuk pintu dulu..?"


"Gue udah ngetuk pintu bos, gak ada jawaban. Jadi ya udah gue masuk, lagian lo yang suruh gue kesini kan tadi." ucap Erik menjelaskan.


"Emang ada apa sih, serius banget kayaknya."


Wajah Faiz terlihat sangat serius, dan itu tandanya dia tengah meminta Erik bersikap layaknya sekretarisnya, bukan sebagai sahabatnya.


"Mana berkas perjanjian perusahaan kita dengan PT Adhinata?"


"Sebentar saya siapkan dulu Pak, tapi kenapa Pak? kerja sama itu sudah 20% berjalan, sekarang sedang tahap pembangunan." ucap Erik menyadari sikap dari Faiz terhadapnya.


"Gue rasa gue harus terjun langsung rik,"


Erik mengernyit, sikap berubah rubah inilah yang tidak disukainya.


Erik sekretaris sekaligus sahabat baik Faiz sejak dulu saat mereka disekolah, Erik juga mengetahui rencana Faiz untuk mendekati Mettasha lagi, berkali kali mengingatkan namun juga Faiz bersikap tidak perduli.


Air muka Erik seketika berubah, "Untuk bisa dekat lagi dengan mantan mu itu?"


Faiz tak menjawab, dia memutar mutar pulpen yang berada di tangannya.


"Apa yang lo pikirin, lo akan kehilangan semua kalau lo bertindak sembarangan"


"Lo gak tau rasanya jadi gue rix"


"Sudah lah dia hanya masalalu, mending lo fokus pada proyek yang ini"Erik menyerahkan berkasnya pada Faiz, namun Faiz tak perduli.


"Lo akan nyesel nantinya"


"Dia harus kembali ke sisi gue"


"Gue sudah ingatkan, terserah lo kalau begitu"


"Lo urus saja apa yang gue perintahkan!"


"Cx kalau begitu, saya permisi pak"


Erik mundur dengan kesal, bekerja dengan bos sekaligus sahabatnya itu membuatnya tertekan, melakukan perintah sebagai atasannya namun juga tak bisa menolak, dia lalu keluar dari ruangan Faiz, "Apa yang lo harapkan Iz, lo bahkan sudah menaruh luka yang teramat dalam,"


Faiz memperhatikan kembali berkas perjanjian yang telah disepakati dan ditanda tangani dirinya dan juga Farrel.


Faiz tersenyum sinis, mengetuk ngetuk kertas itu dengan jarinya, "Lo gak ada apa apanya buat gue"


"Dan kehadiran kamu disisinya, mempermudah rencanaku, setelah itu kita akan kembali bersama sayang" ucapnya pada selembar foto.


.


.


.

__ADS_1


Farrel harus kembali ke kantor setelah dia pulang kuliah, Alan menghubunginya dan mengatakan sesuatu yang penting yang harus segera di urusnya.


"Gimana Lan?"


"Gawat El, kita harus segera kesana untuk memastikannya sendiri."


"Apa maksudmu?"


" Sepertinya perusahaan yang berada di kalimantan sedang ada masalah besar, dan pembangunan proyek terhenti"


"Kenapa?"


"Entahlah kita harus menyelidikinya"


"Jadi kita akan kesana?"


"Bukan kita tapi lo El, gue harus urus perusahaan disini"


"Disini ada ayah Lan?"


"Lo lupa apa gimana, Ayah dan Bunda sore ini pergi ke Paris"


"Astaga gue sampai lupa" Farrel memijit keningnya pelan. Dengan terpaksa dia harus pergi ke kalimantan.


"Kapan gue pergi"


"Hari ini juga"


"S'hit...."


.


.


Dengan langkah tergesa Farrel keluar dari kantor, menuju parkiran dan masuk kedalam mobilnya, namun Farrel tak langsung menjalankannya. Dia tengah berfikir apa yang harus dilakukannya, sementara dia tidak mungkin langsung menemui Metta ke dalam.


"Ah..rumit sekali," Farrel memukul stir kemudi.


"Kak ayo angkat" Farrel mendial nomor Metta berkali kali.


"Kakak ini kerja apa gimana?"


"Astaga..."


Berkali kali melakukan panggilan telepon namun tidak diangkatnya, hingga ponselnya mati karena kehabisan batere. Dengan terpaksa dia menjalankan mobilnya lalu melaju dari sana.


Sementara Mettamasih larut dalam monitor di depannya, terus memandangi kursor yang bergerak seiring pergerakan jari jarinya di keyboard.


"Sha, gue mau bikin kopi ke pantry, lo mau gak?"


"Gak..gak gue ikut aja Din, sekalian gue mau ke toilet dulu"


"Oke ayo.."


Mereka berjalan beriringan menuju pantry, Dinda menggandeng lengan Metta sahabatnya itu,


"Eh, Sha lo masih punya utang cerita sama gue"


Metta terkekeh "Perasaan gue punya utang mulu sama lo"


"Eh..eh..bentar sini lo.." Dinda menarik bahu Metta


hingga menghadap dirinya.


"Wah kalung lo bagus banget Sha," Dinda menarik pelan kalung yang melingkar di leher Metta.


"Apaan sih lo,"


"Nah utang lo tambah banyak" Metta mengernyit.

__ADS_1


"Lo gak mungkin ngehabisin duit lo buat barang mahal kayak gitu Sha"


"Lo gak percaya gue bisa beli kalung mahal kayak gini?"


"Enggak"


"Wah parah lo, gue juga gak enggak mungkin hahaha"


Metta dan Dinda tertawa. "Gue keliatan susah banget yaa Din"


Dinda kembali merangkul lengan Metta " Lo bukannya susah, lo cuma terlalu sayang sama duit lo"


"Sialan lo...emang bener"


Mereka kembali tertawa, tanpa menyadari sepasang mata elang tengah melihat mereka dari jauh. Menaikkan bibirnya ke atas seolah tengah menandai incaran mangsanya.


"Jadi kalung itu dari pacar lo yang bocah itu?" Dinda setengah berteriak saat mendengar cerita dari Metta.


Metta memukul lengan sahabatnya "Suuutt...Lo bisa gak pelanin suara cempreng lo itu"


"Heh, gue itu masih belum percaya, dia bisa ngasih lo barang mahal gitu, kata lo kan dia masih kuliah"


"Gue juga gak tau, tapi buktinya dia ngasih gue ini"


"terus lo percaya?jangan jangan dia..."


"Apa lo mau bilang apa hah" Metta menepuk bahu Dinda yang tengah berfikir.


"Tapi dia kasih lo kalung sama suratnya gak?"


"Astaga Dinda, mana gue berani tanya surat surat begitu, malu maluin lo" Metta menggeleng gelengkan kepalanya.


"Jangan jangan dia saudagar kaya, atau anak orang kaya, atau bisa jadi dia itu pewaris tahta."


Metta memejamkan matanya "Dia anak Presiden.."


"Hah..." Dinda melongo dibuatnya.


Metta berlalu keluar dari pantry dengan segelas kopi di tangannya, dengan bibir tersungut.


"Kebanyakan halu tuh orang, heran. Gak ada yang lebih bermanfaat gitu dari pada ngehalu."


"Dasar otak geser"


Bruk..


Tiba tiba Metta menabrak seseorang, kopi yang masih panas itu mengenai tangannya.


"Awww...Awwwsss...Hah.. haah..haaah" Metta meniup hidup tangan nya yang terkena air panas.


Seketika dia merasa ditarik menuju wastapel yang tidak jauh dari sana, dan meletakkan tangan nya pada kucuran air.


"Masih saja ceroboh,"


Seketika Metta mendongkakkan kepalanya, melihat sosok yang menarik dirinya, dan sosok itu pula yang ditabraknya barusan.


"Kamu...."


.


.


.


Jangan lupa like, komen disetiap babnya, beri dukungan terus pada karya remahan aku ini yaa,


Sentuhan jempol kalian sangat berarti buat author remahan ini..😊


Btw, kasih juga masukan kalian tentang visual Metta yah. kalo ada beberapa pilihan bisa buat referensi.

__ADS_1


makasih lope lope buat kalian❤😘


__ADS_2