Berondong Manisku

Berondong Manisku
Bandung (Hadiah dari Hati)


__ADS_3

"Apa ini?" Metta mengambil kotak berwarna merah dari tangan Farrel.


"Bukalah"


Dengan perlahan Metta membuka kotak itu, mata nya seketika membulat dengan mulut menganga, dengan satu tangan yang dia pakai menutup mulutnya ketika kotak itu terbuka.


"Farrel"


"Hem..gimana Kakak suka?"


"Ini aapa?"


"Aku mungkin bukan orang yang kakak cari selama ini, tapi selama kakak berada disisiku, aku lah orang yang akan membuat kakak bahagia"


Metta terperangah, entah apa yang harus dia katakan. Rasa haru meliputi dirinya, hatinya menghangat mendengar penuturan lelaki yang sempat diragukan nya, tapi mulut nya tetap tertahan, mengungkapkan kata hati adalah hal sulit baginya.


"Kamu punya uang dari mana untuk membeli kalung sebagus ini?"


"Kakak..!!"


"Apa.." sambil tersenyum.


Farrel berkacak pinggang "Kakak selalu merusak suasana romantis yang kubuat."


"Hahaha..iya iya maaf"


"Kakak tuh kebiasaan" mencubit hidung mancung Metta.


"Sakit El.."


"Hahaha..sini aku pakein"


Metta berbalik dengan posisi membelakangi Farrel, tangannya mengumpulkan rambutnya lalu ditarik keatas.


"Aku suka kakak panggil aku El," Ucap Farrel melingkarkan kalung pada leher Metta.


"Heh.."


"Jadi kamu mau aku panggil El,?"


"Panggil aku apa saja asal kakak merasa nyaman, gimana kakak suka?"


Metta meraba kalung yang sudah terpasang di lehernya, dan mengangguk.


"Selalu saja begitu mengangguk," membalikkan tubuh Metta kembali berhadapan.


"Apa..?"


"Tidak, apa kakak bahagia?"


Metta mengangguk lagi. "Makasih karena sudah menjadi warna di hidupku, terima kasih karena menjadi pengobat dihati ku, terima kasih karena kamu aku bahagia"


Kata kata itu dia ucapkan dalam hati, sungguh terlalu sulit baginya, mengatakan apa yang tengah dia rasakan.


Farrel menaikkan bibirnya keatas "Kakak tidak ingin mencium ku?"


"El..."


"Hahaha..aku bercanda"


"Gak, luuuc"


Cup..


Belum sempet menyelesaikan ucapannya Farrel sudah terlebih dulu mendaratkan ciuman di pipi Metta, membuat Metta membelalak namun juga menyinggung kan senyum di bibirnya.


"El..."gumam nya dengan jelas saat beberapa orang lewat di depannya.


Farrel tertawa,"Aku tidak tahan melihat kakak menggemaskan begitu"

__ADS_1


"Dasar kamu tuh tuan modus" Metta melangkah meninggalkan Farrel.


"Hei,,apa tuan modus,?" mensejajarkan langkahnya.


Mereka akhirnya duduk disebuah kursi yang menghadap tepat kearah bukit, udara dingin kota lembang yang mulai dipenuhi kabut putih.


"Aku bahagia bisa kesini bersama kakak" ucap Farrel menggenggam tangan Metta. Menautkan jari jari mungil disela jari jarinya.


"Aku juga, makasih yaa"


"Untuk...?"


"Semuanya.."


"Sama sama, aku akan mengantar kemana pun kakak mau,"


"Kamu supir?"


"Kakak eh, mau ku cium lagi?"


Farrel menggelitik Metta, "Enggak enggak maaf.."


"Tangan kakak kenapa kecil sekali"


"Astaga El, apa itu penting untuk dijawab?"


Farrel lagi lagi tertawa, hanya karena menggoda Metta.


"Dasar.." Lagi lagi sebuah pukulan mengenai dada Farrel.


.


.


Sesaat kemudian, dari arah belakang sayup sayup terdengar suara alunan musik yang terdengar tidak asing di telinga.


Pria berkemeja dan berkaca mata hitam, mengalunkan nada dan irama yang menghangatkan suasana, dalam permainan jari di senar gitarnya.


Bila menjadi aku


Sejuta rasa di hati


Lama telah kupendam


Tapi akan kucoba mengatakan


'Ku ingin kau menjadi milikku


Entah bagaimana caranya


Lihatlah mataku untuk memintamu


'Ku ingin jalani bersamamu


Coba dengan sepenuh hati


'Ku ingin jujur apa adanya


Dari hati


Kini engkau tahu


Aku menginginkanmu


Tapi takkan kupaksakan


Dan kupastikan


Kau belahan hati

__ADS_1


Bila milikku


'Ku ingin kau menjadi milikku


Entah bagaimana caranya


Lihatlah mataku untuk memintamu


'Ku ingin jalani bersamamu


Coba dengan sepenuh hati


'Ku ingin jujur apa adanya


Menarilah bersamaku


Dengan bintang-bintang


Sambutlah diriku


Untuk memelukmu


'Ku ingin kau menjadi milikku


Entah bagaimana caranya


Lihatlah mataku untuk memintamu


Aku ingin jalani bersamamu


Coba dengan sepenuh hati


'Ku ingin jujur apa adanya


Dari hati


Dari hati


Dari hati


Dari hati..


(Dari Hati ^Club eighties^)


Tiba tiba dua orang laki laki menghampiri Metta, seikat bunga lily diberikan pada gengamannya, tapi kata apapun, hingga Metta terperanjat kaget.


"Mas..in..ii" mengekor pandangan pada laki laki yang sudah berlalu begitu saja.


"Kenapa dia memberikan bunga ini lalu pergi" tanya nya pada Farrel.


Farrel mengeratkan genggaman nya pada tangan Metta,


"Kakak, aku tau ini tidak mudah untuk kakak, tapi aku selalu berharap kakak percaya sepenuhnya padaku."


"Apa yang kau bicarakan,?"



Permisi Bang El numpang lewat..


.


.


.


Jangan lupa like komen dan terus dukung karya remahan ini, karena udah tau kan yaa dukungan kalian berarti buat aku ini..


Makasih buat yang selalu setia, selalu hadir dari awal bab sampai sekarang. reader pertama aku likers pertama dan kalian lah penyemangat aku.

__ADS_1


lope lope buat kalian ❤❤😘


__ADS_2