
"Kita teruskan nanti ...."
Farrel tiba-tiba bangkit dari tubuh Metta yang masih bergetar hebat dengan dada yang naik turun. Dia berbalik dan merapikan celananya yang terasa sesak.
Sementara Metta terbahak, namun enggan pula bangkit dari ranjangnya. Dia tahu Farrel tengah melakukan sesuatu meskipun membelakanginya.
"Jangan tertawa, kakak ingin aku hukum beneran!"
"Ayo hukum aku kalau begitu!" pancing Metta dengan sengaja.
"Sialan, kakak sengaja memancingku!" Farrel kembali berbalik menghadap kekasihnya.
"Kenapa? kau tidak akan berani karena ini di rumahku?"
Metta merubah posisinya, dengan satu tangan menahan kepalanya.
Farrel naik keranjang, menindih kembali tubuh Metta, lalu membelai rambut hingga turun kedahi, menyusuri hidung dan juga bibirnya dengan perlahan. Membuat Metta gemas dan ingin menggigit jari telunjuk itu. Namun dia urungkan demi harga dirinya.
"Bukan itu, tapi aku tidak seperti yang Andra katakan! aku menghormatimu dan akan selalu menjagamu. Aku akan mengambilnya nanti!" Farrel terkekeh.
"Anak baik ...." Metta menepuk-nepuk kepala Farrel.
"Jangan begitu, aku ini sudah dewasa!" sungut Farrel, dan Metta kembali tergelak.
Dreet
Dreet
Farrel merogoh ponselnya dari balik celananya, melihat benda pipih yang masih berdering itu, lalu mengernyit.
"Sayang keluarlah dari sana sekarang, jangan menunggu bunda yang menerobos ya!"
Farrel menatap Metta yang masih terbaring dengan heran, "bunda tahu aku di kamarmu kak ...." memperlihatkan ponsel yang sudah senyap.
Seketika Metta bangkit, " Aku keluar dulu, kau istirahat lah!"
"Tidak ...tidak!? kita keluar bersama saja."
"Kamu beneran tidak pusing lagi?"
"Aku semakin pusing karena itu tadi." mencondongkan tubuhnya.
Cup
Mengecup kilat bibir Metta, "Didepan sana aku tidak akan bisa mencium kakak seperti ini."
"El, jangan-jangan bunda ada disini?"
__ADS_1
Cup
Kecupan dua kali, ditempat yang sama. "Biarin saja, kalaupun ada bisa ngobrol dulu sama ibu,"
"El, ih...." tersipu.
Cup
Kecupan ketiga kali, Farrel kembali menarik pinggang Metta, hingga menghimpit tubuhnya menempel dibelakang pintu, kecupan kilat itu kini berubah menjadi panas, Metta mengalungkan satu tangannya pada leher Farrel, sementara tangan lainnya merayap diwajah dan ceruk Farrel berakhir mere'mas rambutnya.
"Kakak nakal ...." Bisiknya dengan suara berat.
"Kamu yang membuatku menjadi nakal!"
Farrel semakin merekatkan tangannya dipinggang Metta, hingga sesuatu dibawah sana kembali mengeras. Dan Metta dapat merasakan tekanannya.
"Sa-sa-yang ...." ungkap Farrel disela de'sah yang tertahan di kerongkongan Metta.
Mereka menempelkan dahi, saling berburu udara.
"Kak, aku...." belum sempat menyelesaikan ucapannya Farrel berhambur keluar, melewati orang-orang yang tengah mengobrol begitu saja, dia berlari menuju kamar mandi.
Sementara Metta terkikik dengan menutup mulutnya. Lalu keluar dari kamar setelah beberapa saat.
Metta menghampiri Ayu juga Arya yang ternyata benar sudah berada disana.
"Kenapa dia Sha?
Metta menggaruk kepalanya. Dia menarik tipis bibirnya keatas, "Tidak tahu bun."
.
.
"Maaf ya, kami hanya ingin ikut merayakan keberhasilan Andra, tapi malah mengagetkan kalian."
Ucap Ayu saat Sri menceritakan semuanya, termasuk sosok chef yang gemulai yang datang tadi sore.
"Tidak apa Jeng, kami hanya kaget saja, kami juga sudah membagikan sebagian pada tetangga-tetangga dekat sini, tidak apa kan?"
"Lho, memangnya kenapa? Kami kan sudah menyerahkan semua jeng, selebihnya terserah jeng Sri saja."
Metta yang duduk disamping ibunya hanya tersenyum, rasanya masih tidak percaya kalau dia bisa diterima baik oleh keluarga Adhinata, bahkan diperlakukan sangat baik.
"Selamat ya Nak Andra, bunda ikut senang ... terima lah ini sebagai hadiah dari kami karena kerja kerasmu," Ucap Ayu menyerahkan paper bag pada Andra.
"Terima kasih tan-- , Eeeehh bun." ucapnya menerima pemberian Ayu.
__ADS_1
"Bukalah," Ucap Arya.
Andra mengangguk, dia lantas membuka paper bag itu, "Ini ...." membuka boks perlahan-lahan.
Andra terbelalak, ternyata hadiah yang dia terima itu adalah sebuah ponsel keluaran terbaru, dan yang pasti harganya berkali lipat dari hadiah yang dia dapat dari turnamen itu.
"Ini ... ponsel bun!? buat aku?"
Arya mengangguk, dan Ayu menitikkan air mata nya, pasalnya kebahagian sederhana ini membuat dia kembali mengingat masa lalunya.
Mengingat saat dia harus berjuang dari nol hingga seperti sekarang. Berjuang bersama-sama dengan sang adik karena mereka bukan dari keluarga berada seperti Arya.
"Bunda, selalu saja berlebihan!" Farrel menghampiri Ayu dan terduduk disampingnya.
"Kau dari mana saja sayang?"
Farrel melirik sekilas pada Metta yang tengah menatapnya dengan nanar, lalu dia tersenyum dengan sebuah kerlingan dimatanya, membuat Metta membelalak.
"Metta kembali mendelik, "Jangan katakan apapun."
"Aku akan mengatakan kalau kakak itu sebenarnya nakal," kembali mengerling.
Sepasang mata itu seolah saling berbicara tanpa kata, namun keduanya tersirat mewakili mulut yang terkunci rapat, membuat orang-orang yang disana menatap bergantian dengan keheranan.
"Bagaimana ini Jeng?" Ucap Ayu dengan suara pelan.
"Bagaimana kalau mereka secepatnya saja kita resmikan! Tidak perlu langsung menikah, Bertunangan saja dulu bagaimana?" bisik Ayu.
"Kalau aku sih...." jawab Sri dengan menatap Metta yang tengah menatap Farrel. begitupun sebaliknya.
"Biarkan mereka yang memutuskan! Bunda dan juga bu Sri jangan berbuat seperti kemarin!"
"Apa Ayah sedang bercanda, siapa yang akan berbuat hal seperti kemarin."
Sementara Metta dan Farrel kembali saling menatap.
"Semuanya aku permisi kebelakang," Ucap Metta tiba-tiba.
Dia segera pergi dari ruang tamu menuju taman di samping rumah, menghembuskan nafasnya perlahan.
Namun ternyata Farrel menyusulnya, "Kakak kenapa? Kakak tidak mau bertunangan denganku?"
Metta menoleh, "Aku..., aku hanya ...."
"Tiga hari lagi usiaku 20!"
.
__ADS_1
.