Berondong Manisku

Berondong Manisku
Peringatan kematian(Tabur bunga)


__ADS_3

Aku tak pernah minta keberadaan ku


Apalagi hanya sekedar pelukanmu,


Saat nafas tak lagi menderu,


Hanya nisan penyampai rindu.


^Alan Alfiansyah^


.


.


Alan berdiri diatas balkon kamarnya, bergumul dengan asap yang berasal dari sebatang benda kecil disela jarinya yang dihembuskannya ke udara.


Meratapi kesendiriannya, kisah pilu dihidupnya, derita hati yang tak pernah dia bagi kepada siapapun. Menyimpan lara berjuta pilu. Kerinduan yang melebihi batas hingga tak lagi mampu terungkapkan.


Sampai dia bisa berdiri tegak seperti sekarang. Entah berapa batang dia habiskan dari benda yang dia jadikan


penenang dikala resahnya itu. Menjadi teman yang setia tanpa kata. Pelariannya dalam kegundahan.


Dengan segelas wine sebagai pelengkap dia simpan diatas pembatas balkon, sesekali mencecap namun tak begitu berarti. satu hari di setiap tahun selama 15 tahun kebelakang, Alan akan menghabiskan waktu dengan kesendiriannya.


Besok adalah hari peringatan kematian kedua orang tua Alan, Rico Alfiansyah dan Vivian chan, juga calon adiknya Alan yang meninggal karena kecelakaan pesawat 20 tahun yang lalu. Yang membuat Alan semakin terpukul adalah tiada nisan tempat peristirahatan terakhir. Entah dimana dan sampai saat ini jasadnya pun tak pernah ditemukan.


Dari tanah kembali ke tanah, melebur dengan deru air lautan,


Dering ponsel memecah keheningan di ruangan apartemennya. Namun tak ada niat sedikitpun Alan untuk mengangkatnya.


"Bunda seperti tidak tau anak itu saja, dia tidak akan mengangkatnya bun" ujar Arya saat dirinya dan juga istrinya baru saja turun dari pesawat.


"Anak itu, kenapa selalu seperti ini yah, tidak kah cukup kita sebagai pengganti orang tuanya." suara Ayu tampak bergetar.


Arya mengusap pelan punggung sang istri


"Dia sudah dewasa, bukan anak kecil yang bisa di bohongi lagi bunda"


Mereka menghampiri mobil yang sudah siap menjemputnya, dan supir dengan segera membuka pintu belakang untuk Arya.


"Apakabar tuan, nyonya"


Arya mengangguk dan masuk kedalam mobil diikuti Ayu disebelahnya.


"Baik, bagaimana keadaan rumah?"


"Baik baik saja tuan, hanya saja selama tuan dan nyonya tidak dirumah, mas Alan hanya sesekali datang tapi tidak menginap."


Arya mengangguk lagi "Baiklah tidak apa, yang penting mereka selalu berkomunikasi dengan baik"


"Bagaimana persiapan untuk besok?"


"Sudah selesai tuan, tinggal menunggu mas Farrel pulang saja"


"Yah, hubungi El. kapan dia akan pulang"

__ADS_1


"Kalau sudah selesai, dia pasti pulang bun"


"Pokonya bunda gak mau tau, El harus sudah pulang besok" Ayu mendekap kedua tangannya di dadanya.


"Aku sudah bilang, kita kasih adik buat mereka supaya bunda tidak kesepian lagi" Arya menaik turun kan alis tebalnya.


"Ayah,..." Pekik Ayu.


"Astaga..jangan sampai El ataupun Alan mempunyai sifat mesum seperti Ayahnya" sambungnya lagi.


Arya hanya terkekeh dan merangkul istrinya yang merajuk itu.


"Tapi bunda suka kan?"


Ayu mendelik namun juga tersipu.


.


.


Keesokan hari nya seluruh pekerja dirumah utama berkumpul, tak terkecuali Arya dan juga Ayu. Sedangkan Alan sudah dipastikan tengah menikmati kesendiriannya hingga waktu nya tiba mereka akan sama sama menabur bunga di laut lepas.


Setelah berdoa bersama semua penghuni rumah hanya akan bekerja setengah hari saja, mereka dibebas tugas kan di hari itu sebagai bentuk penghormatan bagi kedua orang tua Alan.


"Mba Mimah hari ini kita mau kemana?" Ucap ujang.


"Ayo kita pergi keluar, rasanya kita keluar hanya untuk membuang sampah dan menyapu halaman saja." Ucap seorang pegawai pada mimah.


Mimah menggeleng, " Aku tidak mau" jawabnya lesu


Wajah mimah menekuk, "Mas Alan pasti sendiri, dan juga merasa kesepian saat ini!"


Tak.


Tak..


Gerak langkah sepatu terdengar lantang dari atas lantai marmer.


"Itu pasti mas Alan," ucap Mimah


"Iya tapi aku takut kalau menyapanya sekarang"


"Tidak apa apa, ayo"


Dua perempuan beda generasi itu berjalan beriringan dengan ragu. Sikap Alan yang sulit ditebak itu penyebabnya. Namun Mimah sebagai orang yang sudah lama bekerja di keluarga Adhinata tidaklah heran.


"Bunda,.."Ucap Alan dengan lirih.


Ayu mendekat dan memeluk Alan dengan erat,


"Bunda disini nak, kamu tidak sendiri, ada bunda yang selalu ada buat kamu"


Alan menangis sejadi jadinya, tangisan yang tak pernah dia keluarkan untuk siapapun. Raga yang kuat menandakan kelemahan yang disembunyikan. Keegoisan dan kerasnya sifat hanya kulit luar nya saja, tak banyak yang tau sisi lemah seorang Alan. kecuali Author.


.

__ADS_1


.


Mereka melakukan perjalanan dari rumah utama menuju sebuah dermaga, ada kapal laut yang sudah menunggu mereka. Hanya keluarga Adhinata yang selama ini menemani Alan, mereka semua lalu masuk kedalam kapal.


"Yah, dimana Farrel apa dia akan pulang hari ini?"


Arya menggelengkan kepalanya "Dia batal pulang hari ini karena cuaca buruk bun"


Ayu berdecak "Anak itu..Sudah tau hari ini hari penting, bukan nya pulang lebih awal"


"Gak apa apa kok bun, disini juga kan ada kalian yang ikut hadir. itu sudah cukup kok!"


Ayu memeluk Alan, "Kami akan selalu ada untukmu"


Jangkar pun ditarik, kapal akan segera berlayar, mengarungi ombak dan air laut yang menderu hebat, deru mesin sudah terdengar, para awak kapal bersiap di tempatnya masing masing.


Beberapa saat kemudian mereka sudah berada ditengah laut, masing masing orang memegang keranjang bunga, berdoa sesaat dengan khusyu yang dipimpin seorang ahli agama.


Alan menitikkan air mata, berada paling ujung diantara orang orang yang sudah berkerumun di tepi kapal, bersiap untuk menabur bunga dilaut lepas.


Ayah, ibu,


Aku bukan anak baik,


Bukan pula orang baik, namun


Selalu kuselipkan doaku


Diantara dosa dosaku.


Mereka serentak menaburkan bunga itu, diiringi isak tangis Ayu dan beberapa pelayan yang ikut hadir hari itu. Arya larut dalam kesedihan mengenang sahabat baiknya, dengan Ayu dalam rangkulannya.


Sementara Farrel tengah uring uringan karena pesawat nya delay dalam waktu yang tidak ditentukan akibat cuaca memburuk di kalimantan.


"Maaf aku terlambat."


Sontak mereka bertiga menoleh kearah suara.


.


.


.


Hai..Hai.. jangan lupa like komen dan terus dukung aku yang lemah ini🤣 yaa.


Maaf kalo ceritanya kurang berkenan dan acak acakan seperti ceker ayam dalam kuah pedas dihati reader 🙄😂..ea ea..harap maklum karena author lemah ini pemula pake banget yang nekat dengan segala kekurangannya.


Dan Tanpa malunya ijin kan aku meminta dukungan kalian di hari senin ini dengan vote karya remahan ini🤭😂 ( Gak tau malu ini disponsori PT Adhinata yaa catet)


Beribu terima kasih untuk reader yang selalu kasih aku dukungan, kata kata semangat, komen nya yang membuat aku mengharu biru,


Selamat hari senin, selamat beraktifitas den selamat menghalu.


Makasih😘

__ADS_1


__ADS_2