Berondong Manisku

Berondong Manisku
Gak minta tapi gak nolak


__ADS_3

Metta menarik kedua tangannya perlahan, menundukan pandangannya karena dia tidak sanggup menatap lawan bicara dihadapannya. Hatinya meremang, rasa haru dan bahagia yang mengikat hatinya kini.


Perasaan yang seketika buyar karena sekelebat bayangan penolakan dari orang yang disebut bunda olah pria tanggung yang menjadi obat luka bagi hatinya.


"Berhentilah Farrel, kita sedang tidak main main... Pulanglah"


Metta beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki hendak masuk kembali kedalam rumah. Namun Farrel ikut melonjak, dengan satu tarikan membuat langkah Metta terhenti.


Farrel melingkarkan tangannya dibahu Metta dari belakang, merekatkan kedua tangannya hingga melingkari ceruk leher perempuan mungil itu. Hingga dia bisa mencium aroma shampo dari rambut Metta.


"Kak, aku mohon.." bisik Farrel tepat ditelinganya.


"Farrel.."


"Aku hanya minta kakak percaya padaku, apa terlalu sulit?"


Cairan bening itu tak mampu ditahannya, dengan leluasa terjun begitu saja tanpa ijin.


"Kenapa hatiku terasa sesak, jika orang lain selain Farrel yang mengatakannya..sudah pasti aku bahagia"


Rasa percaya? rasa itu yang mulai tumbuh setelah luka dihati Metta berangsur pulih, perlahan lahan kering seiring pertahanannya yang sudah mulai runtuh. Namun ternyata harus terbentur dengan restu yang menjadi pilar utama. Membuat nyalinya kembali menciut, dan menghentikan harapan yang mulai berkuncup.


"Apa kakak tidak pernah mengingat apa yang aku katakan?"


Farrel memutar bahu Metta hingga mereka saling berhadapan. Mengelap bulir bening yang membasahi wajahnya, dan merapikan kuncir rambut Metta yang berantakan,


" Hem..." Farrel bergumam.


"Apa kakak mengingatnya?"


Metta terdiam, bibir tipis tanpa lipstik itu terkatup, kepalanya tertunduk dengan pandangan kebawah, seolah pemandangan dilantai yang dia pijak lebih indah daripada mahluk keturunan Adam dihadapannya.


Hening..


"Tuhan memberi kakak mulut untuk berbicara, maka berbicaralah"


Hening sesaat.


"Kamu akan terus berusaha, jadi aku harus terus menunggu kamu" Metta bergumam pelan.


Farrel menaikkan bibir ke atas, ada sesuatu yang harus ditahan nya ketika mendengar gumaman dari Metta. Dia melanjutkan kembali ucapan nya.


"Tuhan juga memberi kakak mata untuk melihat, maka lihatlah aku"


"Astaga, kenapa bocah ini begitu manis, aku bahkan merasa seusia dengannya."


Metta memejamkan mata dengan kepala yang masih tertunduk.


"Kak..bicaralah dan lihat aku" Farrel mengeratkan tangannya di bahu Metta.


Metta mengangkat kepala perlahan, sesaat kemudian mereka beradu manik. Saling memandang dan menelisik rupa masing masing.


Farrel kembali menarik bibirnya hingga melengkung. Yang membuat debaran dihati Metta naik drastis.


"Dan satu lagi.."

__ADS_1


Farrel menjeda ucapannya sendiri, menunggu Metta memberikan reaksi. Metta pun mengernyit, entah apa yang ada difikirannya saat ini.


"Apa.."


Farrel kembali tersenyum, kali ini terlihat lebih melengkung dan begitu manis. Tak akan ada gadis yang tidak akan luluh saat melihatnya. Wajah tampan yang mendominasi dengan postur tubuh yang atletis, dan pasti masih akan bertambah tegap seiring usianya yang bertambah dewasa.


"Tuhan memberi kakak cinta...." Farrel menggantung ucapannya.


"Lantas apa.." Metta mengerdikkan bahu, membalik tubuhnya hingga menyamping. Dia memang mencintai farrel namun terlalu kaku untuk mengakui.


Farrel mencondongkan tubuhnya, mendekatkan kepala hingga tepat di telinga Metta,


"Mari bercinta..." Farrel menarik tubuhnya kemudian tertawa. "Hahahaa.."


Metta terbelalak, matanya membulat ke arah Farrel yang tengah tertawa.


"Ih, apa....nyebelin banget.." mendorong Farrel hingga tubuhnya terjerembab jatuh,


"Aawwss...hahaha."Farrel meringis namun tertawa bahkan semakin keras, memegangi perutnya.


"Iiihh...kamu tuh nyebelin banget, kamu sengaja yaa, so manis manis segala puitis diomong-omongin." Metta membungkukan tubuhnya memukul, meninju bahkan menjambak rambut Farrel dengan membabi buta yang masih tidak berhenti tertawa juga.


Farrel menyilangkan tangannya dan menyampingkan tubuhnya hingga melingkar, melindungi diri dari amukan Metta dengan tawa yang masih membahana.


"Yaa..yaa udah ampun kak..ampun..hahahha"


"Masih ngetawain..heh..nih nih rasain" Metta memukul tubuh Farrel bertubi tubi kesegala sisi.


Meski meringis kesakitan, namun Farrel bahagia. Melihat kembali sisi Metta yang acuh, dan tak mudah luluh.


Rasa sakit dari pukulan, cubitan, serta jambakan yang kerap dia terima lebih baik daripada pengabaian yang dilakukan Metta terhadapnya belum lama ini.


Dengan sekejap Farrel membalikkan tubuhnya, menarik tangan Metta hingga sontak kaget dan ikut terjerembab dengan posisi duduk.


Dug..


"Aw..." Kepala mereka saling beradu dengan keras, Metta menggosok kepalanya pelan sedangkan Farrel dengan sigap membangunkan tubuhnya meraih Metta, namun belum juga duduk sempurna, punggungnya malah membentur meja.


"Aaw..."Farrel meringis.


"Hahahah..."


Kali ini Metta yang tertawa dengan tangan yang masih menggosok keningnya.


"Rasain itu karma buat kamu" dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kakak pendendam ternyata."


Farrel meraih tubuh kecil Metta dan mulai mengelitikinya hingga Metta menggelinjang kesegala arah.


" Sudah hentikan Farrel, eeh..hahahah, udah udah udahan aku menyerah, jangan main main lagi cape"


Metta terlihat kehabisan nafas, dengan dada yang naik turun terengah engah. Sampai terlihat air muka menetes dipelupuk matanya.


Sementara Farrel mencondongkan tubuhnya kehadapan Metta. bertumpu pada telapak tangannya.

__ADS_1


"Apa kakak suka keromantisanku?"


"Pffftt..keromantisan apa, yang ada itu hanya bualan kamu saja."


"Tidak itu memang benar adanya, aku bahkan akan selalu mengingatkan kakak tentang apa yang sebelum nya aku katakan"


Metta yang kini duduk disamping Farrel menolehkan kepalanya. Melihat Farrel yang kini terlihat serius kembali.


"Apa yang kukatakan tadi semua benar, itu yang aku rasain sama kakak, aku hanya tidak tahan melihat ekspresi kakak" Farrel terkekeh. Menyapu lengan bajunya yang kotor.


"Tapi semua itu tidak akan merubah keadaan Farrel, dan aku gak pernah minta kamu berusaha"


Jawaban Metta terlihat menohok bagi Farrel, dia membentuk bibirnya melengkung.


"Iya kakak emang gak minta, Tapi kakak juga tidak nolak kan?"


Metta bergeming, itu benar adanya dia tak pernah meminta tapi juga tak menolak.


"Apa kakak percaya takdir bisa dirubah?"


"Kau tau apa tentang takdir?" Metta berdiri dan menepuk bokongnya yang kotor.


"Aku tau, tapi sedikit" Farrel merekatkan telunjuk dan ibujarinya ke atas.


"Takdir bisa dirubah dengan doa dan usaha, benarkan?"


Metta mengangguk.


Farrel ikut berdiri, memasukan satu tangan di sakunya.


"Dan kewaspadaan kakak yang akan bertarung melawan doa doa aku" Farrel mengedipkan sebelah matanya. "Kita akan lihat siapa yang menang"


"Sok tau,.." Metta menepuk bahu Farrel.


"Aishh..kakak badan ku sakit semua gara gara kakak"


"Syukurin.." Metta melenggang masuk kembali kedalam rumah.


Farrel mencekal tangan Metta, "Jadi kakak tidak akan menjauh lagi dariku kan?"


"Terserah"


Metta melangkah kembali dengan senyuman yang terbit di bibirnya.


"Wanita memang sulit dimengerti."


.


.


.


Kalian suka tife cowo yang romantis atau yang cuex. yang harus di kode kode itupun gak paham paham?🤣🤣 giliran udah paham kitanya keburu enek duluan😭🤣


Kayak Alan atau kayak Farrel.

__ADS_1


Dukung aku terus yaa dengan like dan komen supaya aku tambah semangat..


Makasii😘


__ADS_2