Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kunjungan mendadak 3(Kekhawatiran Ibu)


__ADS_3

"Apa sekarang kau takut Akira?"


"Aa- aapa maksudmu?"


"Gadis penguntit!" Alan terus melangkah hingga Dinda sudah tidak dapat mundur lagi, dia sudah menempel pada dinding disamping rumah.


"Hahaha ... Namaku Dinda bukan Akira," ucap Dinda gelagapan.


"Akira Dinda Pramudiya," ujar Alan datar.


Dengan gaya khasnya Alan berdiri tegak, memasukkan tangan kedalam saku celananya, menatap lekat Dinda yang salah tingkah.


"Berhenti mengikutiku!"


Alan berbalik dan melangkah kembali masuk, meninggalkan Dinda yang terpaku di tempatnya.


"Ta-tapi ... tapi kan, ah aku terlihat bego kan didepannya," Dinda mengacak rambutnya.


Dinda bergegas melangkah masuk namun Alan tiba-tiba menghentikan langkahnya, hingga Dinda yang berada dibelakangnya pun menabrak punggungnya.


Bruk


"Aw ... Sakit sekali!" Dinda menggosok keningnya,


"Punggungnya itu terbuat dari apa heh," gumam Dinda.


Alan berbalik dan menyalang kearahnya, "Kau tak paham apa yang aku katakan!"


Alan kembali berbalik dan berlalu dengan cepat.


"Sialan, tiba-tiba jantungku sakit begini!"


Dinda hanya diam penuh heran, melihat Alan yang melangkah semakin menjauh.


.


.


Hari sudah menjelang siang, entah sudah berapa topik pembahasan yang para orang tua itu bahas. Semua larut dalam tawa, terutama Ayu yang memang selalu berlebihan.


"Aku memang menginginkan anak perempuan, apa Metta atau Nissa boleh tinggal bersamaku?" ujarnya pada Sri.


"Aku kesepian sekali dirumah, suamiku dan kedua anakku sudah sibuk sendiri!" mendelik pada Arya.


"Bunda, selalu bilang begitu! Bunda juga biasanya menghabiskan waktu di salon." jawab Arya dengan bergeleng kepala.


"Ayah, tapi kan aku tidak punya teman mengobrol!"


Sri hanya terkekeh mendengarnya.


"Gimana Sha sayang, mau ya tinggal sama Bunda, kalau perlu kamu tidak usah bekerja! Temani saja Bunda dirumah ya sayang,"


"Bagaimana dengan Nissa? mau yaa ...?"


"Bunda, mana bisa begitu, mereka menikah saja belum!" seru Alan yang baru datang.

__ADS_1


Metta hanya bisa memasang seutas senyum di bibirnya, "Astaga anak sama ibu sama persis,"


"Bunda tahu aja keinginanku!" Farrel merangkul bahu sang Bunda.


Semua orang melotot melihat kearahnya, terutama Metta, namun Farrel hanya terkekeh.


"Aku bercanda kak, hanya bercanda,"menghampiri Metta yang tengah duduk di samping ibunya, lalu menggusel pipi Metta.


Metta membulatkan matanya, "El, malu ...diliatin,"


Sontak mereka tertawa melihatnya. " Mereka menggemaskan ya Yah," gumam Ayu pada Arya.


Hanya Alan yang terdiam tanpa ekspresi, hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kehangatan keluarganya dan juga keluarga Metta.


"Bagaimana jeng, apa kita nikahkan saja mereka?" ucap Ayu tersenyum


Metta dan Farrel terbelalak, bersamaan menoleh kearah Ayu,


"Apa tidak terlalu cepat Bun?" Arya juga terkaget dengan apa yang diutarakan istrinya.


Ayu menepuk pelan paha suaminya, "Memangnya mau tunggu apa lagi? Bunda rasa sudah cukup kok!"


"Astaga baru saja semalam nangis-nangis karena merasa terlupakan," gumam Arya pelan.


Ayu mencubit pinggang suaminya, seraya membulatkan bola matanya. "Sudah Ayah diam saja, biar jadi urusan Bunda!"


"Bagaimana jeng?"


Dengan tenang Sri membenarkan posisi duduknya.


Metta seketika tertunduk, benar apa yang dikatakan Ibunya, bagaimanapun juga mereka terpaut usia yang cukup jauh,


"Saya hanya tidak ingin kedepannya menjadi masalah! karena terus terang saya khawatir akan hal ini," Ucap Sri kemudian menyentuh tangan Metta.


"Sha juga anak pertama di keluarga ini, beban dipundaknya pun tidaklah ringan, dia juga sudah banyak mengorbankan mimpi dalam hidupnya." tak terasa bulir bening turun tanpa dia minta. Begitupun dengan Metta.


"Saya hanya tidak ingin nantinya menjadi beban untuk Nak Farrel!"lanjutnya lagi.


"Kami hanya orang biasa, saya takut kalian akan kecewa."


Farrel menggeser posisi duduknya, "Ibu bicara apa? sudah aku bilang aku akan menjaga kakak? Apa ibu tidak percaya?"


Ayu dan Arya silih menatap, lalu kembali menatap Sri,


"Semua ketakutan itu wajar El untuk seorang ibu! ya kan bu Sri? ucap Arya.


"Tapi, dari lubuk hati kami, Semua kekhawatiran yang ibu rasakan itu tidak beralasan. kami tidak keberatan sama sekali! bukan begitu Bun?"


"Betul jeng Sri, kenapa khawatir terhadap hal-hal yang tidaklah penting. Kami tidak akan keberatan sama sekali dengan usia mereka, iya kan Yah?"


Mereka saling tersenyum satu sama lain, kemudian kembali menatap Sri.


"Seperti Ayah dan Bunda, iya kan!" Ucap Farrel kemudian.


Membuat Sri dan Metta terperangah, melihat kearah Ayu dan juga Arya yang bahkan tidak terlihat sama sekali berbeda usia.

__ADS_1


"Eh anak nakal, selalu saja to the point! padahal Bunda ingin jeng Ayu dan Sha menembaknya sendiri!" menepuk Bahu Farrel yang kini terkekeh.


"Benarkah?" gumam Metta pelan,


Ayu mengangguk, "Benar sayang, kami juga terpaut usia cukup jauh, namun kami bisa bertahan sampai detik ini dan semoga selamanya ya sayang,"ucapnya mengelus tangan Arya.


"Iya sayang!" jawab Arya kemudian.


"Baiklah kalau begitu saya lega, dan saya kembalikan lagi pada anak-anak! Biarkan mereka yang memutuskan, saya hanya akan mendukung dan memberi restu untuk kalian."


"Terima kasih bu," ucap Farrel mencium tangan Sri.


Sementara Alan memutar matanya malas, "Kalian menjijikan! kenapa cinta selalu membuat orang-orang menjadi aneh! anak dan orang tua sama saja!" ucapnya dengan menggelengkan kepala.


Farrel menghantam bahu Alan dengan kencang, "Heh, kau ini ... tunggu sampai kamu ngerasain apa itu jatuh cinta! dan dan rasakan nanti hal yang menurutmu menjijikan itu."


"Atau Bunda akan mencarikanmu jodoh!" Seru Ayu.


"Uhuk..."


Dinda yang sedari tadi diam- diam mendengarkan di ruang makan itu tersedak, saat mendengar tentang perjodohan.


Semua mata memandang kearah nya, karena jarak ruang tamu dan ruang makan tidak lah jauh, hanya dibatasi saja oleh dinding pemisah antara ruang.


"Dinda, Sha?"


"Iya, bu aku kira dia masih dikamar tadi!" Ucap Metta, padahal dia pun tahu Dinda sejak tadi sudah bangun bahkan melihatnya saat berada di dapur meski itu sadar atau tidak.


"Maaf semua, silahkan dilanjutkan kembali! Anggap tidak terjadi apa-apa, aku hanya ingin mengambil minum saja, dan tidak sengaja tersedak. Bukan menguping pembicaraan kalian kok!" penjelasan Dinda dengan panjang lebar.


Alan tak bergeming sedikitpun, tak juga menoleh pada Dinda yang berpura-pura mengambil minumnya, dan bahkan memberikan penjelasan yang seharusnya tidaklah penting juga.


"Jadi bagaimana mau aku dulu menikah, atau dia saja duluan yang dijodohkan! sama anak teman Bunda yang tempo hari datang kerumah, dia sangat cantik bukan?" Farrel terkekeh, dia sengaja menggoda Alan yang selalu tanpa ekspresi itu.


Alan menyorot tajam pada Farrel dengan hidung yang sedikit mengembang. "Kurang ajar!" gumamnya pelan.


Farrel semakin terkekeh dan menutup mulut dengan tangannya, menahan tawa karena perubahan dari air muka Alan.


"Sudah kita kan lagi membahas kamu El, urusan Alan kita bicarakan lagi dirumah, lagi pula dia tidak punya kekasih. Jadi akan lebih leluasa menjodohkannya nanti. Iya kan Yah?" menoleh pada Arya bak meminta dukungan.


"Betul...! kita urus masalah El dulu ya Lan!" Arya terkekeh juga, membuat Farrel semakin terpingkal.


Sementara Metta tak percaya Alan yang begitu dingin dan datar di kantor nya, menjadi bulan-bulanan keluarganya sendiri. Namun dia tidak tersinggung sama sekali, hanya perdebatan kecil dengan Farrel dan itu hal yang biasa dilakukan saudara.


"Astaga, My Sweety ice akan semakin sulit untu aku gapai." Dinda menenggak air didalam gelas yang dia pegang, namun ternyata kosong.


"Astaga aku bahkan lupa mengisi airnya lagi!"


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi🤣 karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..

__ADS_1


Semoga kita saling bersinergi ā¤ dalam kehaluan ini..


__ADS_2