
POV Farrel
Saat aku melihatmu pertama kali, aku yakinkan hatiku sebelum aku meyakinkan hatimu,
"Semua tidaklah akan mudah." ucapmu padaku saat itu.
Namun kugantungkan harapan diatas segalanya, saat kamu berlari menjauh, maka aku akan mengejarmu, saat kamu tak melihatku, aku terus akan memandangmu.
Saat kamu genggam tanganku, aku akan membalasnya dengan erat, aku sudah memilihmu, dan aku patrikan namamu dihati ini.
Kamu lalu menangis saat aku utarakan cinta, dengan menggenggam tanganku kamu bilang, "Aku juga cinta." lalu kamu membalas pelukanku.
Kamu tahu rasanya?
Bagai dunia berada digenggamanku, Ku berikan semuanya untukmu. Kupastikan kebahagiaanmu, dan kuberikan seluruh kesempurnaan dihadapanmu.
"Aku merindukanmu sepanjang hari." kamu hanya tertawa.
Lalu kamu bilang, "Kamu terlalu berlebihan El."
Lalu aku harus bagaimana?
Lalu kamu datang sepagi itu, dengan kemarahan jelas di matamu, pagi yang seharusnya aku memelukmu setelah kerinduan yang aku tahan semalaman. Bahkan sepanjang hari tak hentinya aku merindu.
Tanpa kata kamu menghampiriku, masih dengan kemarahan yang tidak aku pahami. Lalu kamu tampar aku dengan tanganmu.
Tangan yang ingin aku genggam sepanjang waktu, tangan yang aku percayakan memegang teguh setiaku.
Dengan tatapan menyalang kamu menatapku, kamu bilang, "Aku tidak berhak apapun!"
Saat itu juga hatiku runtuh, aku menangis dalam diam. Cinta membuatku lupa, bahwa aku memang tak berhak apa-apa.
Kamu masih berdiri menatapku dengan kesal, manik yang aku harap dapat melihat kehadiranku, melihatku dengan penuh cinta, yang selalu ku yakini suatu hari nanti.
Apa aku terlalu egois? Aku yang selalu ingin meyakinkan kamu.
Saat itu juga aku berlalu, walau hatiku berkata jangan, aku hanya ingin kamu menyadari apa artinya aku di hatimu.
Kamu diam, aku pun diam.
Sampai kapan kamu menyadari semua yang aku lakukan hanya untukmu?
Aku yang ingin mengganti air mata yang selama ini kamu keluarkan.
.
.
Doni menyikut lengan Farrel, lalu dengan delikan mata mengarah pada meja seberang. Farrel enggan menoleh, karena dia tahu sosok yang begitu dia damba ada disana, tengah menatapnya.
Hingga meeting telah usai, Farrel berdiri menyalami klien. " Terima kasih, senang bekerja sama dengan anda,"
"Sama-sama Pak Farrel, saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda yang luar biasa ini! Ucap klien tersebut lalu mengangguk dan pergi.
"Rel ..." Doni menunjuk ke arah Metta dengan dagunya.
"Selesaikan masalahmu, jangan berlarut-larut. kalau tidak, aku yang akan menggantikanmu." ucap Doni terkikik.
Farrel membulatkan kedua matanya, "Jangan kurang ajar!"
Farrel membereskan berkas diatas meja, namun masih enggan menoleh pada Metta yang sudah beranjak dari duduknya.
"Aku harus pergi, kau kembali saja ke kantor, bawa Kekasih ku juga!"
Doni terhenyak, "Apa maksudmu? kau tidak akan menyelesaikan masalahmu?"
Farrel menggelengkan kepalanya, " Ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu."
Metta melangkah dengan ragu, dia menghampiri Farrel yang sudsh berdiri dari duduknya.
"El ..." lirihnya pelan.
__ADS_1
Farrel tidak menoleh sedikitpun, dia hanya diam saat Metta memanggilnya.
"Maaf kak, aku tidak akan kuat jika melihat wajahmu."
Farrel berbalik namun tak berani melihat wajah kekasihnya yang terlihat sendu,
"Maaf aku harus pergi,"
Farrel berjalan melewati Metta yang berdiri mematung, kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan Metta.
"Apa begini sikap mu sebenarnya Farrel?" Teriak Metta.
Dia tak peduli orang-orang disana mulai melihat kearahnya. Farrel berhenti sejenak, namun dia tidak menoleh sedikitpun.
"Apa ini yang kamu bilang akan terus meyakinkanku?"
"Aku minta maaf!" lirihnya lagi.
Farrel menghela nafas, lalu dia kembali melangkah keluar. Membuat Doni menggelengkan kepalanya,
"Keras kepala!" gumam Doni.
Seketika bulir bening jatuh memenuhi wajah Metta, hatinya terasa sakit melihat punggung kekasihnya itu semakin menjauh, dia menangis sejadinya.
"Aku memang egois, tapi kamu lebih egois!"
Doni memegang bahunya, "Ayo kita pergi dari sini,"
Metta menepis tangan Doni dibahunya, "Lepas!"
"Kita harus pergi kak, semua orang melihat kearah kita!" Ucap Doni lagi.
Metta menggelengkan kepalanya, "Kau sama saja, apa peduli mu?"
Doni menggelengkan kepalanya, "Sama-sama keras kepala!"
Metta kemudian berlari keluar, mengejar Farrel yang sudah tidak ada disana. Dia berkeliling mencarinya namun Farrel sudah pergi entah kemana.
"Ayo kita kembali ke kantor!" Ucap Doni membuka pintu mobil.
"Kita kembali ke kantor Mac, kenapa hanya diam saja!" Ucap Doni yang pada Mac yang tengah memperhatikan Metta dari spion.
"Apa yang terjadi nona?" tanya Mac,
"Dilarang bertanya Mac!"
"Aku tidak bertanya padamu!"
"Tapi aku mendengarnya, sudah kau fokus saja menyetir." seru Doni.
"Kau bukan bos ku Don!"
"Aku ini tangan kanannya bos mu!"
"Oh ya!"
"Hentikanlah," Seru Metta jengah,
Doni dan Mac saling menyorot melalui spion dalam mobilnya dengan mulut yang saling mengerucut.
Metta kembali diam, dia menyandarkan kepalanya disandarkan kursi, dengan pandangan yang mengarah pada ruas jalan.
"Tunggu, itu Tiwi bukan? hentikan mobilnya
Namun Mac tetap melajukan mobilnya melewati Tiwi yang tengah berdiri di ruas jalan.
"Mac kenapa tidak berhenti, itu tadi Tiwi kan?" Metta mengguncangkan kursi kemudi yang diduduki Mac.
"Doni, jawab aku! itu Tiwi, kenapa dia dijalan sendirian, bukankah tadi kalian pergi bersama?"
Doni sama diamnya seperti Mac, dia hanya mendengus kasar.
__ADS_1
"Astaga, turunkan aku! Tiwi tidak membawa apa-apa dari kantor, bahkan ponselnya pun tertinggal."
Mac tetap melajukan mobilnya, dengan diam. Doni menyandarkan kepalanya dan memijat pelan keningnya.
"Turunkan aku disini Mac!" bentak Metta.
"Maaf saya tidak bisa nona," jawab Mac datar.
"Kalian sama saja!" Metta mendengus.
"Kakak kekasihnya Farrel, aku mohon kerja samanya kali ini saja!" lirih Doni.
Metta menolehkan kepalanya kearah Doni, " Kau sama saja dengannya,"
"Jangan membuat Farrel semakin marah, dia juga akan semakin marah pada kami!" Ucap Doni kemudian.
"Yang seharusnya marah itu aku, dia yang egois!" Doni menggelengkan kepalanya.
"Sama-sama egois!" gumam Doni.
Metta melihat Tiwi semakin jauh, Tiwi yang tengah terduduk dengan bingung.
"Astaga, apa kalian tidak punya hati, membiarkan Tiwi disana! dia pasti bingung harus kembali ke kantor!"
"Farrel tidak suka dengannya, makanya dia begitu!" Ucap Doni masih dengan menyenderkan kepalanya.
Metta mengernyit, " Memangnya kenapa?"
Doni menghela nafas, dia menolehkan kepalanya pada Metta,
"Aku tidak tahu masalah apa yang terjadi pada kalian yang sama-sama egois ini!"
"Tapi dalam keadaan marah pun Farrel masih bisa memikirkan kamu!" Ucapnya menggantung.
.
.
"Maaf Pak Farrel, bukankah seharusnya aku yang mempelajarinya? kenapa harus Doni?" ucap Tiwi saat Farrel memberikan berkas itu pada Doni.
Farrel diam tak menjawab, "Dan aku harusnya yang harusnya pergi setiap kali meeting bukan."
"Mettasha itu tidak kompeten, dia juga angkuh. Bagaimana bisa dia meyakinkan klien dengan sikapnya seperti itu,"
Farrel menoleh pada Tiwi, " Benarkah?"
Tiwi mengangguk, "Tanya saja orang sekantor, meraka sudah tahu bagaimana sikapnya yang angkuh itu, dia juga ketus setiap kali ditanya,"
"Jadi dia tidak pantas?" Ucap Farrel kemudian.
"Tentu saja, dia bahkan banyak menggagalkan kerja sama dengan beberapa klien karena keangkuhannya!"
"Benarkah itu Don?"
Doni menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Tiwi menjelekkan temannya sendiri secara terang-terangan.
Doni diam tak percaya saat Farrel lebih mendengarkan Tiwi, Begitu juga Mac.
"Mac ..." ucap Farrel melihat Mac dari spion.
"Hentikan mobilnya!"
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi𤣠karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.
Hayo siapa yang belum likeš¤ sana ulangi lagi.š¤£
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..
__ADS_1
Semoga kita saling bersinergi ⤠dalam kehaluan ini.
Terima kasihš