
Pagi itu awan seolah merajuk pada matahari yang tak kunjung muncul.
Gumpalan kapas hitam bersanding bersama cakrawala, tatkala rintik jatuh membasahi ribuan kilometer lahan.
" Kaa..gue boleh gak kerja part time buat biaya nanti masuk kuliah, juga biar bantuin kakak" ujar Andra ragu ketika mereka tengah berkumpul dimeja makan menikmati sarapan.
Metta menatap lamat adik laki-lakinya itu, kemudian menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
" Tugas kamu itu sekolah, masalah biaya biar urusan kakak ".
" Tapi kak..gue itu laki-laki "
" Iyaa terus..yang bilang loe perempuan siapa" tukas Metta terkekeh.
" Lah loe mah gak dukung gue, gue kan pengen mandiri gak mau terus jadi beban loe" sahut Andra mencebikkan bibirnya.
" Disini gak ada yang jadi beban gue, loe , dan loe dek juga ibu" seru Metta menunjuk ketiga nya.
Nissa yang tengah mengunyah tiba tiba tersedak, mendengar perkataan kakaknya.
" Enggak koq kak, aku gak nyari kerja part time kayak abang, aku cuma ngerjain PR temen dan mereka yang memberiku uang" ujar Nissa polos kemudian menutup mulutnya sendiri.
" Upps.."
.........
Suara dering ponsel membuatnya terperanjak dari lamunan, bayangan percakapan tadi pagi yang membuatnya mantap menerima tawaran yang diberikan atasan nya, dengan gaji 5 kali lipat jika dia mau.
Metta segera menerima panggilan itu.
" Kakak"
" Ada apa"
" Apa kakak baik baik saja?"
" Cx..kalau aku tidak baik baik saja kau mau apa"
" Kakak galak sekali"
" Sudah ada apa?"
" Aku ingin bicara dengan kakak"
" Kamu kan sekarang sedang bicara"
" Magsudku bicara langsung dengan kakak, aku temui kakak kedalam atau kakak yang keluar"
Farrel terkekeh menunggu jawaban penuh kekesalan dari ujung telfon.
" Cx menyebalkan"
" Kalo gak menyebalkan kakak gak akan suka hahhaha" kini Farrel terdengar tertawa.
Β
" Ada apa.. cepat katakan " Seru Metta tanpa basa basi ketika melihat Farrel.
Farrel merogoh sesuatu dari sakunya.
" Ini obat buat kaki kakak"
Metta terperangah melihat obat yang disodorkannya itu, dia bahkan tak berniat mencari obat untuk kakinya.
" Kenapa malah diam aja"..tukas Farrel melihat Metta hanya berdiri mematung.
" Kakak ingin aku yang mengoleskannya?" deretan gigi putih kini ditampilkannya.
Seketika Metta merebut obat itu dari tangan Farrel dengan cepat, tak ingin nantinya malah jantungnya yang harus di obati.
" Tidak..tidak biar aku saja"
" Mmmpph..makasih yaa"
__ADS_1
" Cuma makasih doank nih, gak ada yang lain?"
tukas Farrel menyipitkan matanya.
" Lantas kau mau apa?minta cium" cibir Metta
Tak disangka candaan yang tak sengaja dia buat menjadi boomerang baginya sendiri. Farrel
terlihat sumringah bak seorang anak yang mendapat hadiah.
" Benarkah??kakak mau memberi ciuman"
" Maunya"..Metta memukul lengan Farrel dengan keras, kemudian berlalu. Namun baru beberapa langkah Farrel memanggilnya.
" Kaa temani aku makan, aku lapar"
" Kenapa gak sekalian minta ku suapi" Metta mulai memperlihatkan wajah kesalnya.
" ini anak bener bener bikin gue terus kesel, gak tau apa gimana gue nahan nih jantung yang mau copot" batin Metta.
" Ayoo kak, anggap ini bayaran karena aku kasih obat untuk kakak" Farrel mengedipkan sebelah matanya.
" Kau ini pamrih sekali" ujar Metta melanjutkan
langkahnya..
Β
Tak ada yang membuka suara diantara keduanya, hanya suara piring dan sendok yang berdenting. Diam-diam Farrel menatap Metta yang tengah menikmati makanannya. Yaa meski meski makanan yang tengah mereka nikmati adalah menu makanan hotel tempat mereka menginap tapi Metta tentu tidak akan menyia-nyiakannya.
" Kak.."
" Hem.." ujar Metta tak mengalihkan pandangan nya dari hidangan di piringnya.
" Apa kakak tidak ingin bertanya sesuatu padaku "
Metta kini mendongkak menatap ke arah Farrel.
" Kakak kenapa malah bertanya balik padaku"
" Kamu mau aku tanya apa??"
" Dimana rumahmu, berapa nomor sepatumu??"
ucap Metta dengan suara bernada.
" Kakak..." suara Farrel meninggi setengah oktav.
" Apa.. lagi"
" Kakak benar benar ingin ku kucium yaah"
" Apa..kau gila" ucap Metta gelagapan.
" Dasar tidak peka"
" Jangan tunjukan wajah menggemaskan itu padaku "
Metta mengernyit, dia sungguh tak mengerti fikiran Farrel.
" Magsudnya apa, wajah gue harus gimana" batinnya.
" Kakak denger aku kan"
" Hem"
" Muka nya jangan gitu.."
" Hem.."
" Kakak jangan hanya hem ..hem aja "
" Kau mau aku jawab apa, membuatku pusing saja, wajahku sudah begini dari lahir"
__ADS_1
" Astaga...gue kenapa?? gila ..bener bener gila, gue seabsurt ini hanya karena penasaran"
Farrel yang hanya berharap Metta bertanya tentang dirinya yang berada ditempat ini, berharap Metta bertanya apa yang dilakukannya disini?atau Metta akan marah karena keberadaan nya disini, tapi justru Metta terlihat tidak perduli, bahkan tidak bertanya sama sekali kenapa dia berada di ruang rapat tadi.
" Berharap kakak marah dan merajuk, kau gila el?" batinnya bertanya pada diri sendiri.
" Kakak tak mau bertanya kenapa aku ada disini??"
" Tidak..." bohong Metta dengan mengerdikan bahu.
" Kakak bener bener tidak mau tau?" tukas Farrel lagi.
" Cx kau ini repot sekali, kalau kau mau bilang , bilang saja langsung. Tidak usah menunghu aku tanya" seru Metta.
" Padahal toh aku juga sedikit penasaran kenapa dia ada disini, bahkan bisa ikut rapat dengan kita tadi pagi, tentang kasak kusuk yang kudengar itu, siapa dia sebenarnya"
" Tapi aku enggan bertanya semua itu, nanti dia bisa berfikir macam macam" Metta bermonolog sendiri.
" Aku..disini..." Farrel akhirnya membuka suara, ingin menjelaskan sebenarnya. Hingga suara seseorang memanggilnya membuat ucapan Farrel terhenti.
" Rel.."
Farrel menoleh kearah suara, ternyata ada beberapa rombongan baru saja masuk ke hotel itu. Hingga ada seseorang yang melambaikan tangannya kearah Farrel.
" Rel...loe disini juga " Ujar Doni
" Eh loe Don..."
Merekapun bertos ria.
"Tempat loe magang disini?"..
" Hooh.." ujar Doni..
Farrel tak menyangka akan bertamu sahabatnya disini, dan tentu saja membuat rencana Farrel yang akan mengatakan sebenarnya mesti tertunda lagi.
" Sama siapa rel" ujar Doni dengan menyikut lwngan Farrel. Namun tak menunggu Farrel.menjawab Doni sudah terlebih dahula mengulurkan tanganya pada Metta.
"Hai..aku Doni, sahabat gantengnya Farrel dikampus.
" Hai juga..aku Metta ." Jawab Metta dengan ramah.
"Sialan kakak jangan terlalu manis senyumnya" batin Farrel, terlihat mulai kesal.
Tanpa menunggu ajakan Doni duduk ditengah mereka.
" Ayoo duduk, kenapa kalian hanya berdiri saja" ujar Doni.
Farrel menggeplak kepala Doni yang tidak mau malu itu.
Terlihat Metta dan Doni mengobrol dengan akrab, senyum Metta terukir jelas ketika mendengarkan Doni bicara, tak jarang tertawa saat Doni mengatakan leluconnya. Sangat berbeda pada saat berbicara dengan Farrel.
" Kakak bahkan jarang tersenyum saat bersamaku" Batin Farrel.
Ingin rasanya menjambak rambut Doni dan menyeretnya keluar dari sana karena mengacaukan segalanya. Fikirnya.
" Ternyata dia disini karena sedang magang, ahk kenapa rasanya lega hati ini"
Hingga seuntai senyum terbit di bibirnya yang mungil, terlihat menanggapi lelucon yang diberikan Doni, sementara fikirannya bukan disana.
Brak....
Farrel menggebrak Meja, menatap tajam keduanya dan melangkah pergi meninggalkan keduanya begitu saja.
" Kenapa dia??"
ππ
Semoga kalian suka karya receh dari aku yang geje iniππ
π€π€.Support dari kalian yang membuat aku makin semangat, terus dukung aku dengan like, dan komen yaa kakak-kakak.
Salam gejeπ
__ADS_1