
"Panggil orang tuamu." ucapnya pada Nissa.
Nissa kembali histeris, membuat mereka menjadi perhatian orang-orang yang berada disana.
Petugas memberi waktu untuk mereka dengan meninggalkan Nissa dan Doni diruangan terpisah dengan yang lainnya.
"Nissa kak Doni mohon, berhentilah menangis! Nissa mau pulang kan? Sama kak Doni juga, jadi ayo kita selesaikan agar cepat pulang, jangan hanya menangis." kata Doni dengan ibu jari yang menyusut air yang membasahi pipi Nissa.
Dengan mata yang sembab, Nissa mengangguk, "Aku takut ibu marah, belum lagi kak Sha! Kalau tahu Nissa di sini kak, dibawa polisi,"
"Mereka tidak akan marah, kak Doni juga tadi sudah kasih tahu abangmu kalau mobil kita mogok dan kita menginap di hotel."
"Benar begitu? Mereka tidak akan marah sama Nissa?" tanyanya dengan masih penasaran.
"Kak Doni tidak akan membiarkan mereka marahin Nissa, tapi Nissa harus bilang apa adanya sama polisi, jika mereka bertanya lagi yaa!"
Nissa mengangguk lemah, "Nissa mau ketemu ibu."
"Iya nanti kita tunggu, mereka pasti sedang kesini." ujar Doni menghela nafas.
"Kak Doni sih, Nissa udah bilang gak mau ke hotel, kalau gak ke hotel pasti kita tidak akan dibawa ke sini." sungut Nissa
"Iya maaf yaa, kak Doni tahu kak Doni salah!"
Tak lama kemudian, seorang petugas polisi kembali masuk, "Sudah kau tenangkan pacarmu itu rupanya?"
Doni mengangguk lesu, Bodo amat lah, yang penting mengangguk dulu saja, aku sudah lelah dan mengantuk.
"Ikut saya!" perintah nya.
Nissa mencekal pergelangan tangan Doni, "Kak ... Nissa takut!"
"Nissa tenang saja, kita akan baik-baik saja!"
Mereka mengikuti petugas itu yang berjalan keluar.
Mereka masuk ke dalam ruangan, "Ponselmu dari tadi berdering, angkat lah sekalian kalian bilang kalau kalian ada disini." ucap petugas yang tengah duduk di kursinya,
"Angkat lah, jangan takut jika kamu memang tidak melakukan apa-apa." ucapnya lagi.
Nissa mengambil ponselnya dari tangan petugas itu, petugas yang lebih berbicara lembut dari pada yang lain, dan sesekali tersenyum itu. Tampak lebih ramah dari yang lainnya.
Nissa melihat nomor kontak kakak perempuan nya itu berkali-kali meneleponnya. Tidak menunggu waktu lama dia langsung menelepon kembali kakaknya.
'Halo kak, tolong Nissa." ujarnya dengan menangis.
'Nissa astaga, kamu kemana saja, kenapa baru mengabari kakak,'
'Kamu kenapa, sekarang dimana?'
'Nissa sekarang di--'
Nissa kembali menangis, dengan tangan yang bergetar memegang ponsel, hingga Doni mengambil ponsel dari tangannya.
'Halo kak, ini Doni.'
__ADS_1
'Doni Astaga, apa yang terjadi? Kenapa dengan kalian? Jangan macam-macam yaa, aku tidak akan memaafkan kamu jika berani macam- macam.'
'Kak ... dengarkan aku dulu, aku dan Nissa ada di kantor polisi sekarang.'
'Hah.....'
Terdengar dari ujung sana, suara Farrel yang tengah berusaha mengambil alih ponsel nya
'Kak, biar aku yang bicara,' ucap Farrel. Dan sesaat terdengar Perdebatan diantaranya.
Akhirnya Farrel mengambil alih ponselnya,
'Heh bodoh, kau melakuan apa? Sampai kalian dibawa ke kantor polisi?"
'Kita gak ngapa-ngapain, aku sudah bilang padamu, mobilku mogok dan terpaksa menginap di hotel terdekat, aku mana tahu ternyata hotel itu sering digunakan untuk 'Itu', sampai akhirnya polisi datang dan membawa kami ke kantor polisi.'
'Dasar kurang ajar, kau akan merasakan akibatnya jika melakukan sesuatu pada Nissa.'
Panggilan telepon terputus, Doni menghela nafasnya panjang, rasanya hari ini benar-benar terasa berat.
Belum lagi nanti akan menghadapi kemarahan keluarga Nissa, termasuk Farrel, yang sudah pasti akan marah.
Doni memberikan ponsel itu lagi pada Nissa, dan kembali duduk di kursi dihadapan petugas polisi itu. Dia menyodorkan botol air mineral pada Nissa, dan juga pada Doni.
"Minumlah, selagi menunggu keluarga kalian datang kemari!"
Doni pun membuka botol minumannya dan memberikannya pada Nissa, dia mengambilnya dan menenggaknya hingga tersisa setengah botol lagi.
Rasa lelah sudah menyerangnya, ditambah dengan terus saja menangis sedari tadi, membuat matanya semakin berat, bahkan suaranya sudah terdengar serak.
Tok
Tok
"Selamat malam komandan, mohon ijin. Untuk membawa mereka kembali ke ruang periksaan."
Pria yang disebut komandan itu mengangguk.
"Silahkan...." ujarnya dengan mempersilahkan.
Akhirnya Doni dan juga Nissa kembali keluar dari ruangan tersebut dan mengikuti petugas yang pertama membawa mereka dari hotel.
"Kalian tunggu disini!" ujarnya meninggalkan mereka berdua, sementara diruangan itu pun terlihat beberapa orang yang sama-sama tengah diperiksa.
"Kak Doni, aku lelah!" gumam Nissa.
"Tidurlah dulu nanti kak Doni bangunkan saat kakaknya Nissa menjemput ke sini."
Nissa mengangguk, dia lantas menempelkan kepalanya di bahu Doni, tiba- tiba petugas yang tadi kembali keruangan.
"Enak-enakan saja tidur yaa, ayo pemeriksaan belum selesai, tidak ada yang boleh pulang apalagi tidur! Tidak punya malu,"
Membuat Nissa terperanjat kaget, lantas kembali ingin menangis, namun Doni menggenggam tangannya, "Jangan nangis, kita tidak bersalah!"
Nissa mencoba berapa kali mengenadahkan kepalanya untuk menahan air yang mulai menganak itu turun kembali. Dan benar apa yang dikatakan Doni, mereka tidak melakukan apa-apa seperti mereka pikir.
__ADS_1
Nissa tidak bersalah dan Nissa ingin pulang.
Dia terus mengatakan hal tersebut di dalam hatinya dengan berulang-ulang.
Dan petugas itu kembali memanggil dirinya.
"Kau ... kemari!"
Nissa melirik ke arah Doni, dan dibalas dengan anggukan sebagai penyemangat.
"Jangan khawatir."
Nissa mengangguk, lalu bangkit dan duduk dihadapan petugas polisi itu.
"Kalian tahu, image polisi itu sudah buruk di mata masyarakat, jadi jangan membuat kami berlaku kasar pada kalian?" serunya.
"Tidak ada lagi efek jera bagi kalian yang sering keluar masuk ruangan ini hampir setiap kami melakukan operasi! Kalian akan dikurung, hingga datang menjamin kalian dari pihak keluarga." Tukas nya lagi.
Nissa menarik kursi dan duduk dihadapannya.
"Kau ... jawab pertanyaan yang aku berikan, dengan sejujurnya."
Dengan takut, Nissa kembali mendudukkan tubuhnya yang sudah merasa sangat lelah itu. di hadapan petugas yang akan memeriksa nya.
"Nama?"
"Nissa ... " lirih nya.
pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh petugas yang sama dengan petugas lainnya, waktu pun terus berputar, Nissa beberapa kali menutup mulutnya dengan punggung tangan saat menguap.
"Sebutkan apa hubunganmu dengan pria yang berada dibelakang mu?"
"Kak Doni itu teman sekaligus asisten dari suaminya kakak aku!" jawab Nissa pelan.
"Apa kau sudah menghubungi keluargamu untuk menjadi jaminan untuk kalian agar tidak ter-ciduk dan melakukan hal itu lagi?"
"Kami tidak melakukan hal itu pak! Kami hanya menginap karena mobil kami mogok!"
Polisi itu menggebrak meja, "Aku tidak bertanya hal itu padamu, jadi jawab saja yang aku tanyakan!"
"Kenapa kalian galak sekali padanya?" Ujar Farrel yang tiba-tiba sudah berada disana.
Nissa menolehkan kepalanya.
"Kak Sha ...." Nissa berlari ke arah kakak perempuannya dan menangis sejadinya.
Doni merasa lega, melihat Farrel dan Mac juga ada disana.
Farrel menggeplak kepala nya, "Bodoh kau ini!"
"Maafkan aku kak... Rel... maafkan, aku tahu aku salah." ujar Doni dengan kepala yang tertunduk.
"Tapi sumpah demi tuhan, aku tidak melakukan apa-apa pada Nissa."
Nissa yang tengah menangis pun menganggukan kepalanya,
__ADS_1
"Kak Doni hanya mencium ku, tapi itu waktu di rumah, bukan di hotel!"