
"Kak ... memangnya boleh?" Nissa mengekor dibelakang Doni, mereka masuk kedalam hotel yamg tidak jauh dari sana.
"Mau bagaimana lagi! Kita tidak mungkin kembali malam ini," jawab Doni dengan menenteng tas miliknya.
"Kau bawa kartu pelajar kan?"
Nissa menggelengkan kepala, "Iya enggak lah-, rencananya kan liburan, ya kali masih bawa- bawa kartu belajar."
Doni menggelengkan kepalanya berulang kali, "Nissa, kartu pelajar itu bisa digunakan sebagai
ID card kita, apalagi kamu masih belum punya ID card."
"Oh ... Nissa gak tahu soalnya." jawabnya dengan datar dengan bahu yang dia herdikkan.
Setelah memdaftar di resepsionis hotel, Doni akhirnya mendapatkan kunci kamarnya. Mereka pun masuk ke dalam kotak besi yang akan membawa mereka ke dalam kamar.
Beberapa orang terlihat masuk juga kedalam kamar, kebanyakan dari mereka berpasang-pasangan.
"Tuh kak, mereka pria dan wanita kan?" gumam Nissa.
"Nissa istirahat saja dikasur, biar kak Doni tidur disofa." ucapnya saat mereka tiba di kamar.
Nissa yang sudah menguap pun mengangguk, lalu menghempaskan dirinya di ranjang, membuat Doni menghela nafas.
"Nissa ya ampun, sepatumu itu kotor!" ujarnya dengan melepaskan sepatu dari kakinya.
Aku benar-benar sedang mengasuh anak-anak.
Dia juga bisa langsung lelap begitu nempel di bantal. Dasar pe lor, dia bahkan tidak bersih- bersih dulu.
Setelah menyimpan sepatu milik Nissa, Doni masuk kedalam kamar mandi, dia membersihkan dirinya, setelah itu dia mengecek ponselnya.
Beberapa chat dari Farrel dan juga panggilan tidak terjawab darinya. Membuat Doni mendengus, "Gak dia, gak iparnya! Merepotkan saja."
"Mobilku mogok, malam ini aku membawa Nissa tidur di hotel, besok pagi baru kembali, Tidak ada pilihan lain."
"CARI MATI KAU DONI!!"
Doni menggelengkan kepalanya saat menerima balasan dari Farrel.
"Terserah lah aku tidak peduli, kau tidak tahu aku juga kerepotan!" gumamnya dengan melemparkan ponsel ke samping.
Doni menghela nafas, tak lama kemudian rasa kantuk menyerangnya, hingga dia akhirnya terlelap dengan posisi terduduk.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Samar-samar terdengar suara pintu di ketuk, tak lama kemudian ketukan berubah menjadi gedoran keras dan suara ribut- ribut.
Kami sudah memperingatkan, buka atau kami dobrak.
Doni tersentak, suara gedoran disertai suara keras berasal dari pintu, dia melihat Nissa yang kasih tidak terganggu.
"Ada apa?"
Lalu dia berjalan kearah pintu dan membuka pintunya, seketika matanya membola saat melihat beberapa orang berpakaian polisi merangsek tubuhnya hingga menbuatnya terkurap dengan kedua tangan yang ditarik kebelakang.
"Anak muda zaman sekarang."
"Ada apa ini pak?"
"Sudah jangan berkilah!"
"Tapi saya tidak melakukan apa-apa pak!"
"Ya, kamu bisa jelaskan nanti di kantor!"
Beberapa petugas lainnya yang masuk memeriksa barang-barang milik Doni dan juga Nissa.
"Kau membawa kabur anak gadis orang?"
"Bu--bukan, tidak pak!"
Nissa bangun dengan kedua mata yang masih merah, dia kaget dan langsung histeris karena banyaknya polisi, seorang polisi wanita menghampirinya.
"Nama kamu siapa?"
Nissa kembali menangis.
"Kamu pergi sama pacar kamu?"
Dia tetap menangis, tak ada satu pertanyaanpun yang dia jawab, dia hanya mengangis ketakutan.
"Kalian menakutinya!" ujar Doni yang kini terduduk namun dengan tangan yang sudah terborgol.
"Kami bisa jelaskan semuanya, kalian salah orang!" ujarnya.
"Diamlah, bawa saja mereka ke kantor.
Tak lama kemudian mereka benar-benar digiring keluar dari hotel tersebut, dengan beberapa pasangan yang sama-sama. Terlihat beberapa pria bahkan sudah berumur dengan gadis remaja. Beberapa gadis berpakaian mini pun terlihat naik ke dalam mobil.
Nissa teeus menangis, dia bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.
"Sudah jangan menangis lagi, kita akan baik-baik saja, kita tidak sama dengan mereka, petugas itu sudah salah tangkap dan mengira kita seperti mereka."
Nissa tidak menjawab, dia terus saja menangis. Hingga akhirnya mereka sampai di kantor polisi.
__ADS_1
Beberapa orang petugas menggiring mereka masuk, terlihat gadis-gadis itu terlihat biasa saja, tidak ada raut sedih ataupun kaget, sebagian dari mereka mungkin sering mengalami hal seperti ini.
Nissa tampak duduk paling ujung, dengan terua terisak memeluk tasnya. Membuat semua mata melihatnya.
Sementara Doni duduk tak jauh dari sana, hanya saja mereka memisahkan pria dan wanita, hingga Doni tidak dapat menghampiri Nissa.
Mereka melakukan pemeriksaan, mencatat nama dan keterangan lainnya, sementara Nissa hanya diam, isak tangisnya lah yang menjadi jawaban setiap pertanyaan yang diajukan petugas wanita tersebut.
Petugas wanita itupun tampak kebingungan, dia memanggil rekannya untuk membawa Doni.
"Kau apakan dia sampai dia histeris begini?" ujar petugas wanita itu.
"Dia pasti ketakutan! Apa ini pertama? Kau membawanya kabur?"
"Tidak sama sekali, kalianlah yang membuatnya ketakutan, dia Nissa adik ipar sahabat ku!" kilahnya.
"Jadi kau membawa kabur adik dari sahabatmu sendiri? begitu?" ucap petugas itu dengan mengetikan apa yang Doni katakan pads komputernya.
"Bukan begitu, kita tidak kabur! Kita baru saja akan kembali dari Villa, tapi mobilku mengalami pecah ban,"
"Ooh jadi kalian dari villa?" petugas itu menggelengkan kepalanya.
"Sebelum melakukannya kalian juga melakukan nya di villa?" petugas kembali mengetik.
Doni mendengus kesal, "Bukan begitu!!" Membuat petugas wanita itu menggebrak meja.
"Jangan melawan, sudah tahu salah masih bisa berkilah!"
Nissa ketakutan, dia terus menangis disaping Doni. Membuatnya Doni yang sudah kebingungan itu semakin khawatir.
"Nissa sudah berhenti menangis, mereka semakin mengira jika kita sama-sama seperti yang lainnya, jawab saja jika mereka bertanya, jangan takut ... kita tidak melakukan hal yang salah kok!"
"Ni--nissa ma--mau puulaaang!" lirihnya dengan isakan.
"Kalian boleh pulang jika orang tua kalian datang kemari, jika tidak maka kami tidak akan memulangkan kalian!" kata petugas wanita itu.
Celaka, bisa gawat jika ayah dan ibu yang kesini, mereka pasti mengira aku melakukan hal tersebut. Astaga seumur-umur aku mengalami hal begini.
Mereka juga memeriksa ponsel mereka, namun tidak menemukan apa-apa pada ponsel Nissa, yang ada hanya film-film korea yang di downloadnya, begitu juga dengan ponsel Doni, mereka tidak menemukan apa-apa selain foto USG yang masih Doni simpan di galerinya.
"Apa pacarmu ini sedang hamil?" tanya polisi yang memeriksa ponsel miliknya.
"Bukan ... bukan Nissa!"
"Jadi kau punya banyak pacar? Salah satunya sedang hamil?" tanya nya kembali.
Pertanyaan petugas itu membuat Doni semakin bingung, dia hanya mengehela nafas.
"Jawab ... atau kalian akan lebih lama lagi berada di sini!"
__ADS_1
Doni sudah enggan menjawab, karena mereka selalu tidak puas dengan jawabannya, dan kembali menyerangnya dengan pertanyaan lain.
"Panggil orang tuamu." ucapnya pada Nissa.