
"Brengsek.."
Alan melonjak kaget, saking kagetnya dia mendorong perempuan yang tengah berada diatas tubuhnya dengan kasar, menghempaskan selimut tepat di wajahnya.
" Pergilah " perempuan itu berdecak kemudian beranjak setelah Alan membentaknya dengan sorot mata menajam ke arah Farrel yang berdiri di kegelapan.
" Tasya.?, benarkah itu dia..?"
Kesadaran diri yang masih lemah ditambah cahaya lampu kamar yang gelap membuat penglihatan Tasya ikut meredup, dia bahkan tidak melihat dengan jelas bahwa laki laki yang kini tengah menatapnya adalah Farrel.
Tasya berjalan terseok seok ke kamar mandi dengan balutan selimut yang dihempaskan Alan dengan kasar.
" Cx, lo bisa gak tunggu gue selesai, jangan maen dobrak begitu" Alan menyambar badhrobe yang menggantung dilemari pakaiannya.
" Cih, lo ternyata munafik juga, bagaimana kalau bunda tau. Nasib lo bakal lebih parah dari gue"
" Never, gue gak bodoh kayak lo,"
Sejenak Farrel berfikir, bahkan dia lupa alasan dia datang menemui Alan. "Bodoh..?" Farrel menyeringai, mengulang penyataan Alan.
" Hahaha,." Alan tertawa, "Cinta yang membuat lo menjadi bodoh", Alan berjalan memutar lalu berbalik.
" jadi ada apa lo kesini tanpa pemberitahuan?"
Farrel mengikuti Alan yang berjalan keluar dari kamar. "Gue kesini untuk minta bantuan mu, tapi ternyata lo bahkan sedang membuat masalah"
" Bukan urusanmu" Bentak Alan.
Farrel melirik pintu kamar Alan "Lo tau siapa dia?"
"Hmm gue tau, lalu..?"
Farrel bersandar pada dinding dibalik ruang makan yang terhubung kearea dapur."Entahlah mungkin sebaiknya lo hati hati"
Alan mengambil minuman kaleng dari lemari es, melemparkan satu kaleng tepat kehadapan Farrel yang berdiri mematung.
Hap..
Farrel menangkap kaleng soft drink itu dengan gesit, kemudian membuka dan langsung menenggaknya.
Sementara Alan mengambil botol wine beserta gelas kecil ditangannya.
" Lo gak usah ngurusin gue, urus saja masalah lo yang gak kelar kelar itu"
Alan berjalan melewati Farrel, menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
"Kakak tidak mengangkat dan membalas pesan dariku"ucap Farrel menyusul dengan membantingkan tubuhnya disamping Alan.
Alan terlihat menuangkan wine ke dalam gelas."Lantas..?"
Kedua mata Farrel mengikuti pergerakan tangan Alan yang tengah menggoyang goyangkan gelas berisi wine yang telah ia beri beberapa es cube "Bantu aku mencarinya"
" Sudah kuduga!" ucap Alan menenggak isi gelas itu dengan sekali tenggakan. Membuat Farrel ikut menelan ludah melihatnya.
__ADS_1
"Gue sudah kirim orang mencarinya, lo tenang saja dia berada di tempat yang aman." kini Alan mengambil benda kecil berwarna putih, kemudian menyalakannnya. Kini dia bergelung dengan asap.
Farrel terhenyak,"Lo mengetahuinya dan lo gak bilang apa apa ke gue?"
Alan dengan sikap dinginnya menghembuskan asap ke udara," Gue hanya sedang memberi dia waktu, termasuk lo El"
Farrel berdiri kemudian mendorong bahu Alan hingga tersandar ke belakang,
"Lo tau gimana paniknya gue nyariin dia, gimana frustasinya gue?" ucapnya menunjuk dadanya sendiri.
"Lo gak akan pernah bisa ngerti gue Lan"Farrel meninggikan suaranya.
" Gue emang gak mengerti masalah cinta dengan kerumitannya El, tapi gue lah orang yang paling ngerti tentang diri lo" batin Alan.
"Cx Aaahkk..." Farrel kembali menghempaskan tubuhnya di sofa, merampas gelas wine yang tengah dipegang Alan, kemudian menenggaknya sekaligus.
" ****...lo gila" Alan merebut kembali gelasnya, namun gelasnya sudah tak berisi.
" Gue cinta lan, gue gak mau kehilangan dia, sakit Lan sakit.." Farrel menangkup wajah dengan kedua tangannya.
Sementara Alan terus menenggak cairan memabukkan itu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
" Pengorbanan gue gak akan sia sia El" batin Alan.
keributan mereka terdengar sayup oleh seseorang dari balik kamar, Tasya. Setelah membersihkan diri dalam guyuran Shower yang membuat dirinya tersadar sepenuhnya.
Tasya menempelkan tubuhnya dibalik pintu kamar Alan, mendengarkan apa yang tengah Farrel dan Alan bicarakan meski tidak terlalu jelas. Namun Tasya paham apa yang tengah mereka perdebatkan.
Perlahan tubuhnya bergetar menahan tangis, hingga beringsut merosot kebawah, menggigit bibirnya agar tangis nya tidak terdengar.
Flashback On
Tasya sengaja menemui Ayu dirumahnya dengan alasan mengembalikan buku milik Farrel yang dia pinjam, Ayu menyukai Tasya karena kelembutannya dan juga pintar. Mulai menarik hati Ayu, membawa makanan kesukaan, bahkan menawarkan diri untuk sekedar menemani Ayu bercerita.
Mereka pun akhirnya mengobrol, Tasya yang memang sengaja menarik perhatian Ayu berhasil memprovokasi Ayu hingga menyulut amarahnya terhadap Metta.
" Maaf lho tante, setau aku perempuan itu gak bener, sering gonta ganti pasangan dan yaa begitulah..tante pasti paham" ucap Tasya.
Tanpa sepengetahuan Ayu, Tasya mengirim pesan pada seseorang untuk menguntit Metta. Yang beberapa jam lalu melihatnya saat tengah masuk mall.
" Target sudah ditemukan"
Namun rencananya gagal saat mendapat laporan lagi kalau Farrel datang ke tempat Metta berada, hingga Tasya merubah rencana, dia mempengaruhi Ayu untuk melabrak langsung Metta sebelum terlambat.
Akhirnya mereka berdua pergi ke mall tersebut, yang menjadi keuntungan terbesar Tasya adalah saat Farrel dan Metta ketahuan berbuat tidak pantas didalam lift, dan Tasya pula lah yang mengirimkan 2 orang wanita yang sengaja menyulut amarah Metta. Namun gerak geriknya ternyata tak luput dari pengawasan Alan, hingga berada dikamar inilah sekarang dia berada, membayar perbuatan jahatnya, selama 3 hari pula dia terkurung dalam apartemen dan membuat dirinya sendiri hancur.
"Mau apa kau?" tanya Tasya pada seorang pria yang mencengkram lengannya.
" Ternyata kau penyebab semua masalah, kau pantas dihukum" ucap pria dingin itu menyeret Tasya kedalam mobilnya.
Rencana Tasya awalnya akan memberikan obat perangsang untuk Metta, membuat seakan Metta seorang perempuan penggoda gagal, Alan mengobrak abrik tasnya dan menemukan obat itu didalamnya, hingga dia sengaja mencampurkan obat itu dan menyuruhnya meminumnya.
.
__ADS_1
.
FLashback Off
" Ayolah, lebih baik kita bersenang senang malam ini Sha," Ucap Dinda yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Metta membisu, fikirannya melanglangbuana entah kemana. Meratapi takdir yang dianggap tak pernah berpihak padanya. Inilah mungkin yang selalu disebut sakit namun tak berdarah itu?.
Metta akhirnya mengikuti langkah sahabatnya, akhirnya dia keluar dari tempat persembunyian nya selama 3 hari kebelakang.
" Sha, kita ngopi cantik apa ke club? Tanya Dinda dibelakang kemudi.
" Mana aja" gumam Metta.
" Kita cari makan dulu aja ya?"
" Hm"
" Tapi kalo kita makan dulu entar kelamaan, kita cari deket deket sini yaa."
"Boleh "
Dinda melirik Metta yang tidak seperti biasanya, berdecak kasar saat sahabatnya itu menjawab pertanyaannya sekenanya. Mobil akhirnya terasa senyap karena setelah itu tidak ada pembicaraan dari keduanya.
Dinda yang melajukan mobil seketika menginjam rem dengan tiba tiba.
Ciiitttt..
" Din, awas.." Metta melonjak kaget saat Dinda tiba tiba menginjak rem mobilnya hingga kepalanya nyaris terbentur, untung saja Metta maupan Dinda memasang seat belt nya dengan benar.
Pandangan Dinda berfokus pada pria yang dia kenali dan dia pastikan itu Farrel.
" Ada apa si,? lo bosen hidup.."
Dinda gelagapan hingga gak mampu menjawab pertanyaan dari Metta " Ah..hm ..gak ad apa apa yuk lanjut lagi"
Namun Metta ternyata mengikuti pergerakan mata Dinda, dia tersentak saat melihat Farrel tengah berjalan dengan merangkul seorang perempuan dan baru saja keluar dari gedung apartemen mewah.
"Tunggu itu kan Farrel,"gumamnya.
"Gak apa apa ayo kita lanjut" ucap Dinda menginjak pedal.
" Tunggu Din, gue gak salah lihat kan?" Metta
"Hayo kita lanjut lagi Sha," Dinda pura pura tidak mendengar apa yang dikatakan metta.
" Tunggu." Metta membulatkan mata memastikan pandangannya tidak salah, "Benar itu Farrel, mereka habis ngapain dari apartemen.
.
.
Jangan lupa like, komen, rate 5nya yaa.
__ADS_1
Terus dukung aku dengan menjadikan karya ini Fav kalian.
Makasih😘