Berondong Manisku

Berondong Manisku
Terungkap


__ADS_3

Metta berjalan tanpa arah, tubuhnya merasa lemah tak berdaya, apalagi hatinya, terasa seperti ada sebuah belati yang menusuk didalamnya. Entahlah dia harus bagaimana.


Metta berjalan memutar, memasuki lobby digedung utama PT Adhinata. menyusuri lorong demi lorong untuk melihat foto yang tempo hari dia lihat bersama sahabatnya.


Beberapa saat kemudian dia menemukan foto yang dia maksud, lalu berdiri mematung menatap foto yang terpangpang jelas di benaknya.


Metta ingin memastikan perkataan Faiz sebelumnya, benarkah dia CEO sebenarnya?Metta memandangi Foto pria yang dicintainya itu. Jika benar kenapa dia tidak mengatakannya.


"Apa yang dikatakannya benar?"


"Apa benar kamu menyembunyikan semua dariku?"


"Kenapa kamu tidak jujur padaku?"


"Kenapa?


Pertanyaan pertanyaan silih berputar dikepalanya saat memandangi wajah kekasihnya itu, dia harus memastikannya sendiri.


.


.


"Sha, apa yang terjadi?" Dinda berhambur saat melihat Metta yang baru saja kembali,


"Gak terjadi apa apa Din"


"Terus kenapa muka lo?kusut amat"


"Gue hanya lelah"


"Ya udah kita ke kantin yuk, lo udah makan belum?"


Metta menggelengkan kepalanya," Gue gak laper"


Metta menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan malas, kemudian dengan gontai dia menuju meja kerjanya.


"Lo tuh kenapa sih?Jangan bikin gue khawatir"


Metta menatap Dinda dengan nanar "Menurut lo gue harus percaya siapa?"


Dinda mengernyit dan menarik sebuah kursi didepan lalu mendudukkan bokongnya berhadapan dengan Metta.


"Maksudmu?"


"Lo ingat foto yang gue tunjuk di lobby gedung utama?"


Dinda mengangguk. "Iya"


"Anak kecil disamping Tuan Adhinata?"


Dinda mengangguk lagi "Iya, terus"


"Lo percaya kalau dia Farrel, Farrel Adhinata"

__ADS_1


Dinda membelalakkan kedua bola matanya, lalu menutup mulut dengan tangannya.


"Are you seriuse?" kali ini Metta yang mengangguk.


Tanpa diduga Dinda berhambur memeluk tubuh Metta, hingga mereka hampir terjungkal dari kursi karena ketidak siapan Metta.


"Apaan sih lo"


Metta berusaha mendorong Dinda namun pelukannya itu begitu erat, membuat dirinya sulut bernafas.


"Gue udah duga, suatu hari lo dapet jodoh orang kaya" Dinda mengguncang tubuhnya hingga Metta ikut berguncang.


"Lepas, Gue gak bisa nafas peak"


"Gue seneng banget Sha"


"Ngaco lo, udah lepas ah"


Dinda mengurai pelukannya, terlihat wajahnya berseri seri karena bahagia. Sementara Metta merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan mencebikkan bibirnya.


"Akhirnya doaku terkabul juga kan"


"Apaan sih"


"Lo seharusnya seneng Sha, kalau dia ternyata orang kaya, jadi hidup lo gak bakal susah susah amat"


Metta sontak menendang kursi yang diduduki sahabatnya itu hingga berputar.


"Sialan emang lo"


Metta berlalu meninggalkan Dinda yang masih tertawa, entah harus bahagia atau sedih. Yang pasti banyak pertanyaan yang akan dia tanyakan pada kekasihnya itu.


.


.


Setelah beberapa hari mangkir. Akhirnya Farrel harus kekampus, Bagaimanapun juga dia harus melakukan tugasnya sebagai mahasiswa.


Doni menepuk bahu Farrel yang baru saja turun dari mobilnya.


"Akhirnya lo masuk juga Rel ta api"


"Sialan lo, ngagetin gue"


"By the way, gimana kabar lo?"


"Yaa gini lah gue, anak kost dengan kiriman uang yang paspasan"


"Lo mau kerja sampingan?"


"Kerja apaan?"


"Entar lo ikut sama gue, gue lagi butuh orang. Dan gue rasa lo cocok"

__ADS_1


"Benarkah, lo mau ngajak gue kerja apaan?"


"Kita bicarakan ini nanti, lo tunggu gue. Gue mau ke ruangan dosen dulu"


"Ok, Gue tunggu lo dikantin seperti biasa"


Farrel mangangguk, dia kemudian berbelok meninggalkan Doni yang masih belum paham tentang apa yang di bicarakannya.


"Yang penting gue kerja" gumam Doni sambil berjalan.


Farrel mengetuk pintu ruangan dosen pembimbingnya, setelah ada suara yang menyuruhnya masuk, Farrel perlahan masuk.


"Maaf Pak, saya mau..."


Farrel sontak terkaget, ketika beradu tatapan dengan orang yang tengah duduk di kursi, dengan senyum yang mengambang ke arahnya.


"Kau kaget Tuan Farrel yang terhormat?"


"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan anda disini"


"Sedang apa kau disini brengsex"


"Jaga bicaramu Tuan Farrel yang terhormat, kau sedang tidak berada di perusahaan.


"Oh ya, lantas kau akan mengeluarkanku dari sini?"


Orang itu bertepuk tangan,"Kau sungguh luar biasa"


"Hahaha, tapi sayang kau belum ada apa apanya buatku"


"Apalagi soal wanitaku, hahahah"


Farrel melangkah maju dan mencekal kerah kemejanya dengan mendorongnya kebelakang.


"Jangan pernah menyebut dia dengan mulut kotormu"


Farrel menghempaskan cengkramannya lalu berlalu pergi dari sana, dengan amarah yang membuncah, bahkan dia melupakan Doni yang tengah menunggunya di kantin.


Dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata. Membelah jalanan dengan emosi yang menyelimuti dirinya.


"Sial, masalah ini tak ada habisnya"


.


.


.


Jangan lupa like ,komen, dan terus dukung karya receh aku ini yaa..


Maaf beberapa hari ini, kalian terus emosi karena masalah babang El dan Metta tidak kelar kelar..😂


Semoga tidak membuat kalian bosan yaa..

__ADS_1


Makasih😘


__ADS_2